Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
56.Malaikat Pelindung (Ibu)


__ADS_3

Selesai shalat Subuh Raffa nampak termenung memikirkan semuanya.Ia masih begitu tak menyangka dengan kenyataan yang di hadapinya.


"Kamu kenapa Nak?" tanya Ibu Aisyah merasa tak tega.


"Eh Ibu, Al masih bingung sama semua ini.Tolong Ibu jelasin bagaimana bisa Alena sama Ibu?" tanya Raffa tak sabar.


"Jujur Ibu juga masih terkejut, malam itu Alena datang dengan menangis.Ibu begitu tak tega melihatnya, hingga Ibu izinkan ia untuk tinggal" balas Ibu mencoba menjelasakan.


"Lalu mengapa Ibu begitu terlihat dekat dengan Alena? apa telah terjadi sesuatu yang Al nggak Tahu" tanya Raffa kembali.


"Jangan berpikir macam-macam, Alena begitu merasa kehilangan, ia hanya merindukan kasih sayang seorang Ibu dan Ibu bisa merasakan itu.Kamu tahu, Ibu tak perlu punya alasan hanya untuk memberikan kasih sayang, sama seperti saat ibu mengangkat Nita jadi bagian keluarga kita" balas Ibu sedikit membuka masa lalunya.


"Iya Bu Al paham, tapi dari sekian banyak kemungkinan kenapa mesti Ibu yang Alena pilih ya" ucap Raffa tak habis pikir seraya menopang dagunya.


"Kalo untuk itu Ibu pun tak tahu jawabannya sayang, mungkin ini sudah jadi rencana Allah, kita tak pernah tahu" balas Ibu.


"Hemmh, Ibu mesti tahu gimana Al di sini selalu di salahkan oleh papahnya Alena" ucap Raffa seraya mengusap wajahnya.


"Itu yang Ibu takutkan, sudah Ibu coba hubungi kamu tapi tak bisa.Membuat Ibu semakin yakin untuk datang ke sini" balas Ibu kembali memberi alasan.


"Apa Alena sudah cerita semuanya Bu?" tanya Raffa.


"Tentu saja, soal bagaimana kalian berpura-pura di depan papahnya Alena, bukan begitu?"


"Begitulah Bu, apa menurut Ibu yang Al lakukan salah?"


"Berbohong itu selalu memiliki resiko sekalipun itu untuk kebaikan sayang, wajar saja jika papah Alena marah.Sudah sepantasnya kita meminta maaf" ucap Ibu Aisyah.


"Semua sudah Al lakukan Bu, tapi Tn Harry bukan memaafkan malah terus menyudutkan.Sampai Al hilang kesabaran menghadapinya"


"Kali ini ada Ibu di sini, semoga masalahnya bisa selesai sesuai harapan kita ya" ucap Ibu seraya mengusap lembut pundak Raffa.


Cukup lama Alena berdiam diri dalam kamar akhirnya ia pun memberanikan diri keluar.Cepat atau lambat ia harus bisa menghadapi kenyataan kalau ibu Aisyah tetaplah ibunda Raffa.


"Mamah" ucap Alena memanggil.


"Iya sayang Mamah di sini" sahut Ibu Aisyah.


Entah mengapa bagi Raffa kondisi ini masih membuatnya tak nyaman.Bagaimana mungkin tiba-tiba ia harus berbagi sosok Ibu dengan Alena.


"Pagi Mah, pagi Al" ucap Alena mencoba membiasakan diri.


"Pagi Alena" sahut Raffa dengan canggung lalu saling melirik tanpa sanggup bertatapan.


"Nah mumpung semua di sini mamah mau tanya, kapan baiknya kita bertemu dengan papah Alena? bukan apa-apa, Mamah gak bisa lama-lama meninggalkan tugas mengajar" ucap Ibu Aisyah beralasan.


"Sebaiknya biar Raffa yang mutusin Mah, takutnya kalau Alena yang menghubungi, Raffa makin terus di salahkan" sahut Alena dengan terus menunduk.


"Gimana Al, kamu bisakan mengundang papahnya Alena?" tanya Ibu berharap.


"Bi, bisa Bu, sepulang kuliah nanti Al hubungi Tn Harry" sahut Raffa terlihat segan.


Alena sedikit mengerutkan keningnya, ia terheran dengan sikap Raffa yang berbeda,


"Apa sebenarnya yang sudah Papah lakukan, sampai Raffa terlihat enggan dan menyebutnya Tuan" guman Alena dalam hati.


"Al nanti pakai ponsel Ibu saja, bukannya punya kamu rusak, iyakan?" ucap Ibu menawarkan.


"Gak usah Bu nanti Al beli saja, kalo Al pakai, nanti Ibu sendiri pakai apa?" balas Raffa keberatan.


"Biar Mamah pake punya aku aja, lagian ini ponsel cuma buat sembunyi dari papah" ucap Alena yang sebenarnya mencoba memberikannya pada Raffa.


"Tapi nanti kamu sendiri gimana sayang? jangan ya, mamah gak apa-apa kok"


"Alena serius Mah, setelah ketemu papah pasti di bawain ponsel juga dan ini pasti gak kepake, beneran deh" ucap Alena meyakinkan lalu beranjak untuk mengambil ponselnya.


"Nih Mah mohon jangan nolak ya" Alena begitu memohon.


"Aduh sayang, ini sih terlalu bagus buat Mamah.Kamu yang pakai aja Al, kecanggihan kalo buat Mamah" ucap Ibu tersenyum malu.


"Tapi Bu nanti saja Al cari ... " sahut Raffa tak enak hati sekaligus gengsi.

__ADS_1


"Udah kamu aja sayang, Mamah biasa yang simple" ucap Ibu memaksa.


"Raffa, mau Mamah atau kamu yang pake gak masalah kok.Ponselnya beneran gak akan aku pakai lagi" ucap Alena meyakinkan.


"Ya udah, sementara aku pinjam dulu ya Alena" sahut Raffa dengan sesekali melirik Alena.


"Gak perlu pinjam, untuk kamu aja, kalau kurang cocok nanti kamu kasih Mamah aja ya" sahut Alena sedikit menegaskan.


"Ya udah, aku pakai kalau memang Ibu gak akan pakai" ucap Raffa pendek.


"Iya pake aja, sudah Ibu bilang kurang cocok sama Ibu" ucap ibu seraya tersenyum.


Akhirnya obrolan mereka pun harus berakhir karena waktu yang cepat berlalu.Raffa sendiri nampak sudah berangkat menuju kampusnya.


Sejak kedatangannya ke kampus Raffa terlihat gundah.Hingga siang datang tak sedikit pun rasa itu berkurang.


"Behb kali ini lo kenapa lagi? bukannya Alena sudah di temukan?" ucap Ryo tak tega melihatnya gelisah.


"Gak semudah itu juga Yo, sorry ya duluan, ada urusan yang harus gue selesaikan" sahut Raffa lalu beranjak dengan tergesa-gesa.


Namun langkahnya tertahan oleh Aurel yang menyusulnya,


"Al, boleh aku temenin?" ucap Aurel penuh rasa cemas.


"Terima kasih sebelumnya tapi biarlah ini jadi masalahku, kamu do'ain semuanya cepat selesai ya" balas Raffa.


"Tapi Al, aku ... " ucapan Aurel terpotong Raffa.


"Naurel aku sedang tidak menolakmu justru aku sedang melindungimu.Aku cuma gak mau Tn Harry ikut melampiaskan amarahnya padamu, kamu mengerti kan?"


ucap Raffa seraya membelai lembut pipi Aurel.


Aurel yang merasa tenang pun lalu mengangguk,


"Ya sudah aku pamit ya" ucap Raffa lalu segera meninggalkan kampusnya.


Sementara di dalam ruang meeting nampak Tn Harry juga Rama dengan serius membahas rencana proyek kerjasama.Hingga getaran ponsel Rama sedikit mengalihkannya.


"Al!?" guman Rama tapi tak berani mengangkatnya.Ia hanya membalasnya dengan pesan singkat.


📨 "Ini soal Alena Mas, saya tahu dimana dia.Untuk lebih jelasnya saya tunggu di tempat saya" balas Raffa tanpa berlama-lama.


Jelas pesan itu begitu mengejutkan Rama.Tanpa menunggu waktu ia segera memperlihatkannya pada Tn Harry.


"Alena!" Seru Tn Harry tak tertahan.Membuat suasana meeting hening sejenak.


"Maaf, Stef kamu lanjutkan tanpa saya.Ada keperluan mendadak yang harus segera saya urus" ucap Tn Harry.


Tn Harry pun bergegas menuju tempat Raffa dengan membawa dua pengawal.


Sesampainya di tempat Raffa, Tn Harry begitu tak sabar dengan kasarnya membuka pintu,


"Braakkk"


Raffa yang juga belum lama sampai begitu terkejut dengan kedatangan Tn Harry,


"Hei anak sialan cukup sudah permainanmu, dimana kamu sembunyikan putri saya!" ucap Tn Harry seraya mendorong Raffa.


"Pak sabaiknya tahan emosi Anda, kita dengar dulu penjelasannya" ucap Rama berusaha menenangkan.


Tanpa menghiraukan ucapan Rama Tn Harry kembali berlaku kasar padanya,


"Sudah saya duga kamu biang masalahnya sialan, mau Alasan apa lagi hah!" Tn Harry pun mencengkram baju Raffa lalu menghempaskannya.


Raffa yang terdorong hingga menabrak meja berusaha menahan emosinya,


"Buat dia bicara!"


"Pak! tolong jangan gegabah!" Seru Rama terlihat gusar.


"Diam kamu Ram! ini urusan saya"

__ADS_1


Satu orang pengawal dengan segera mendirikan Raffa lalu mengapit kedua lengannya dari belakang.


Tanpa ampun satu pengawal lain memukul Raffa di bagian perutnya.Namun Raffa segera menahan nafas, membuat efeknya tidak terlalu terasa.


"Cepat katakan di mana putri Tn Harry!"


Tiba-tiba tatapan Raffa menajam penuh aura kemarahan.


Saat pengawal itu kembali melayangkan pukulan, dengan cepat Raffa mengangkat kaki kirinya seraya menepisnya ke arah luar.Disusul hujaman kaki kakanannya, membuat pengawal itu terdorong beberapa langkah.


Tak berhenti di situ Raffa segera membungkuk lalu membenturkan kepalanya pada wajah pengawal di belakangnya,


Dengan cepat Raffa meraih kursi kayu dan melemparnya pada pengawal di depan.Saat pengawal itu berusaha menangkis, dengan cepat Raffa menyusul dengan pukulan telak ke atas perutnya.


Saat Raffa bersiap melakukan serangan lanjutan tiba-tiba gerakannya tertahan oleh seseorang yang telah menguncinya.


"Istighfar Al, Mas tidak melatihmu untuk jadi beringas seperti ini" ucap Rama seraya berbisik.


Sementara Alena yang mendengar kegaduhan segera memeriksanya,


"Papah! hentikan!" seru Alena begitu terkejut.


"Alena! Jerry bawa Alena kemari!" perintah Tn Harry pada pengawal yang masih memegangi wajahnya.


Melupakan sakit di wajahnya Jerry segera mencekal lengan Alena lalu membawanya.


"Lepasin! Pah bisa gak Papah gak usah main kasar begini!" seru Alena.


Tanpa perduli perkataan putrinya Tn Harry lalu mendekati Raffa yang masih tertahan Rama.


"Beraninya kamu melawan saya anak sialan!" ucap Tn Harry lalu menjambak Raffa dengan kasar.


"Masih berani kamu main-main dengan saya hah! apa maksud kamu menculik Alena dasar bocah kurang ajar!" bentak Tn Harry dengan emosi yang memuncak.


"Cukup Pah! Cukup! hentikaaan!" jerit Alena tak sanggup lagi menahan.


"Bocah sialan! kamu sepertinya memang perlu di hajar!" ancam Tn Harry seraya melepas jambakannya.Lalu memberikan kode pada kedua pengawalnya.


Rama begitu tercekat, batinnya pun berperang antara menuruti Tuannya atau melindungi Raffa.


"Hentikkaannnn, jangan berani lagi kalian sakiti anak-anakku!"


Ucapan seseorang itu sanggup membuat semua orang terpaku. Begitupun Tn Harry saat dengan jelas melihat sosok tersebut.


"Degghh!" jantung Tn Harry berdegup kencang tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"So, Sofia! tidak tidak, tidak mungkin, tidak mungkin Sofia, dia sudah tiada" guman Tn Harry dalam hatinya tak percaya.


Ibu Aisyah pun berjalan mendekat hingga dapat dengan jelas melihat setiap orang disana.


"Lepaskan anak saya!" ucap Ibu Aisyah dengan tegas pada Rama.


Tanpa di minta sebenarnya Rama pun pasti melepaskan Raffa namun ada tekanan lain dari tatapan Ibu Aisyah.


"Kamu juga, Lepaskan anak saya!" seru Ibu Aisyah pada Jerry.Ia pun melepaskan setelah mendapat kode dari Rama.


Ibu Aisyah lalu terlihat merentangkan tangan membuat Alena juga Raffa segera mendekatinya.


Dengan merangkul keduanya Ibu Aisyah kembali buka suara,


"Jika kalian datang ke sini hanya untuk menyakiti anak-anakku, lebih baik kalian pergi dari sini! pergi!"


Tn Harry makin tersentak di buatnya dunia seakan berputar membuat Ia hilang keseimbangan.


"Pak Harry!" seru Rama lalu segera menahan tubuhnya dan mendudukannya.


"Tn Harry!" seru dua pengawalnya.


[ Bersambung ]


Apa yang sebenarnya terjadi dengan Tn Harry?

__ADS_1


Bagaimanakah nasib Alena kedepannya?


Tunggu ya gess 😉


__ADS_2