
Situasi menegangkan terus berlangsung.Semua orang berharap dalam cemas untuk keselamatan mereka berdua.
Tn Hernand di buat kelabakan selain khawatir soal putrinya ia pun harus menghadapi istrinya yang semakin histeris melihat situasi yang semakin pelik.
"Tidaaakkk! Aureeel! tolong tuhan selamatkan anakku!" teriak Ny Ariana begitu memohon dalam tangisnya yang mulai pecah.
"Sabar Mih, anak kita pasti selamat.Sebaiknya istirahatlah di mobil agar lebih tenang"
"Nggak Pih, hiks apapun yang terjadi Mami gak akan ninggalin Aurel.Mami harap Raffa bisa membawa Aurel kembali"
Sementara semua petugas nampak semakin sibuk.Mereka benar-benar ingin melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan mereka.
Seperti tak mau kalah para awak media pun terus meliput semua kejadian tersebut.Membuat berita ini semakin hangat di perbincangkan.
Tanpa semua orang sadari kondisi Raffa semakin tak baik.Selain pegangannya yang mulai melemah, luka di perutnya kembali mengeluarkan darah.
"Sayang tak bisakah kamu naik? aku yakin kamu bisa" ucap Raffa memotivasi.
"A, aku ta, takut, aku gak bisa" balas Aurel tak kuasa seraya terus merangkul pinggang Raffa erat-erat.
"Baiklah sayang, maaf kalau aku gak bisa jagain kamu, maaf kalau aku gak bisa lebih kuat untuk membuatmu aman" ucap Raffa tersenyum seraya terus menahan tubuh Aurel lebih erat.
"Raffa, aku takut banget Fa" rengek Aurel begitu ketakutan hingga menutup matanya.
"Semua akan baik-baik saja.Aku cuma mau kamu tahu, apapun yang terjadi aku sayang kamu.Aku cinta kamu sampai kapanpun" ucap Raffa seakan memberikan kata terakhir.
"Raffa!? aku juga ... aku juga cinta kamu selamanya" ucap Aurel seraya membuka matanya lalu menatap dalam sang penakluk hatinya itu.
Sekuat tenaga Raffa bertahan akhirnya tubuhnya mencapai batas.Selain rasa pusing yang mulai muncul pegangannya semakin melemah.
"Cepat anak muda itu takan bertahan lebih lama!" seru satu petugas.
"Sebagian turun satu lantai dan cobalah melewati jendela jangan lupa tali pengaman jaga-jaga mereka jatuh!"
Raffa sendiri akhirnya benar-benar kehilangan pegangannya.Perlahan lahan mereka nampak semakin turun dan terlepas.
"Ya Allah!" pekik Raffa tercekat.
"Ahhhhhhhh!" jerit Aurel sejadinya.
Semua yang menyaksikan pun ikut terhenyak.Rasa ngeri yang terbayang membuat semua orang begitu tak kuasa.
"Ya Tuhan! tidaaakkkkk!" seru semua orang hampir senada.
Sepersekian detik tangan Raffa terlepas satu tangan menagkapnya di waktu yang tepat.
"Heephh! jangan kuatir anak muda saya akan menyelamatkan kalian berdua!" ucap salah satu petugas damkar seraya terus memegang tangan Raffa dengan erat.
Tak lama petugas lain pun membantu.Dengan menggunakan jaring pengaman petugas menutup tubuh mereka.
Detik-detik mencekam berakhir tatkala para petugas berhasil menarik Raffa dan Aurel ke tempat yang aman.
"Kalian baik-baik saja?" tanya petugas.
Keduanya mengangguk dengan tetap saling merangkul.Aurel yang nampak masih syok seakan tak ingin lepas dari Raffa.
"Kau berani juga Anak muda! berkat kau, semuanya baik-baik saja! Hei kamu terluka! perutmu berdarah!" salah satu petugas tersadar.
"Siapkan tim medis! kami akan membawa mereka turun!" ucap salah satu petugas lewat alat komunikasi.
__ADS_1
Di iringi riuh tepuk tangan Raffa dan Aurel di bantu para petugas keluar dari gedung tersebut.Saling berpelukan mereka terus berjalan mendekat.
"Aureeel! sayang kamu tak apa-apakan!? tolong jangan ulangi lagi ya! Mami tak sanggup jika harus kehilangan kamu!" ucap Ny Ariana terus menangis sendu seraya memeluknya.
Tn Hernand sendiri terus menatap Raffa dengan tajam walau tak bisa di bohongi ia merasa lega.
"Anda tak perlu berkata apapun Tuan, saya tahu saya, akan, per ... gi"
Selesai berucap Raffa ambruk tepat ke dalam dekapan Tn Hernand.Dalam keterkejutannya Tn Hernand reflek menahan Raffa.
"Hei! dia kenapa!? seseorang tolong!" ucap Tn Hernand spontan.
"Sayang!" pekik Aurel yang tak perduli ada siapa disana.
Suasana kembali di buat panik saat melihat kondisi Raffa yang tak sadarkan diri dengan luka di perutnya.
Tak butuh waktu lama mereka segera di larikan ke rumah sakit.Beberapa lamanya Raffa mendapatkan tindakan akhirnya ia pun telah terbaring nyaman di ruang perawatan.
"Aurel sebaiknya kita pulang" ucap Tn Hernand.
"Iya sayang kamu perlu istirahat setelah hari berat ini, terlebih ini sudah mau malam juga" bujuk Ny Ariana.
"Pih, Mih, bagaimana Aurel bisa istirahat kalau melihat Raffa seperti ini.Aurel tetap di sini, akan lebih tenang jika bisa terus mengawasi kondisinya" balas Aurel tegas.
"Aurel! jangan memperburuk keadaan, Papi sudah merubah keputusan tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya" ucap Tn Hernand nampak kesal.
"Aurel sayang, kamu perlu mikirin diri kamu juga, apa Raffa akan senang jika nanti kamu sakit!?" Ny Ariana kembali membujuk.
"Apa Aurel harus nyerah karena itu Mih, Pih! sementara Raffa sendiri tak keberatan kehilangan nyawanya demi Aurel" balas Aurel penuh penekanan.
Sontak saja keduanya begitu terkesima dengan jawaban Aurel.Entah bagaimana semua itu sangat sesuai dengan kenyataan.
Kejutan lain datang saat seseorang yang mereka kenal tiba di sana.
"Malam Om, Tante"
Ucap Tn Harry juga Alena yang sengaja datang menjenguk Raffa.
"Selamat Malam Tn Harry, Alena" balas keduanya.
"Tn Hernand saya turut bersimpati dengan yang menimpa keluarga Anda, tapi saya sangat bersyukur semuanya baik-baik saja" ucap Tn Harry seraya melirik Aurel.
"Terima kasih Tn Harry, maaf apa yang membawa anda kemari?" ucap Tn Hernand penasaran.
"Oh itu, tentu saja untuk memastikan kondisi Raffa, bagaimana pun ia sudah seperti keluarga bagi saya.Saya juga bersyukur ternyata Anda pun ada di sini jadi sekalian bisa memastikan kondisi Aurel" balas Tn Harry yang membuat Tn Hernand begitu terkejut.
"Saya benar-benar tak tahu harus berbuat apalagi, setelah hari itu merepotkan Anda, sekarang Aurel nekad berbuat lebih" ucap Tn Hernand.
Tn Harry yang seakan paham nampak berpikir sejenak lalu kembali bersuara,
"Apa Anda punya waktu? ada sesuatu yang mau saya bicarakan terkait hal ini"
"Baiklah sepertinya saya ada waktu, kita bicara di cafetaria.Raira kamu temani Aurel disini, mari Tn Harry" ucap Tn Hernand.
"Baik Tuan" balas Raira.
Selang beberapa saat seseorang datang dan entah mengapa Raira begitu merasa terusik.
"Selamat malam Nona Raira, Nampaknya Anda sedang sendirian" tanya Rama dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
Raira tak menjawab ia membuang wajahnya seraya terus menatap ponselnya.
"Masih saja sedingin es, padahal senang sekali bertemu seseorang yang cantik.Ya sudahlah saya pun kesini untuk menjenguk saudara" ucap Rama beranjak menuju kamar Raffa.
Tanpa di duga Raira bergerak lebih cepat mendahului Rama untuk masuk ke ruangan Raffa, ada Aurel sebagai alasan.
"Kamu mau menjenguknya juga? kenapa tak sama-sama saja biar aku gandeng tanganmu" goda Rama.
"Jangan harap! aku masuk karena Nona muda ada di dalam!" balas Raira ketus.
"Oh begitu, padahal aku akan senang hati menemanimu" goda Rama makin jadi.
"Dalam mimpi!" balas Raira makin ketus.
Sementara di cafetaria tengah terjadi perbincangan serius antara Tn Hernand dan Tn Harry yang di temani Ny Ariana juga Alena.
"Maaf sebelumnya saya tidak bermaksud mencampuri urusan keluarga Anda Tn Hernand, ini hanya pengalaman saya, semoga bisa menjadi pertimbangan Anda" ucap Tn Harry.
"Baik akan saya dengarkan kalau itu bisa membuat saya lebih mudah dalam memutuskan" balas Tn Hernand.
"Jujur saya pernah di posisi Anda, hanya saja dengan alasan yang berbeda.Kesamaanya kita telah salah menilai dirinya" ucap Tn Harry terlihat serius.
Begitupun Ny Ariana dan Alena nampak mendengarkan dengan seksama.
"Maksud Anda Tn Harry saya salah menilai anak itu!?" balas Tn Hernand terkejut.
"Mungkin saat ini Anda belum menyadarinya.Begini, dulu saya pernah dekat, saya sangat suka dengan sifat Raffa hingga saya beri dia fasilitas mobil hingga kartu debit tapi Tn Hernand tahu apa yang terjadi? ia memilih mobil lama dan tak pernah memakai kartu itu sama sekali hingga akhirnya ia mengembalikan semuanya karena tak sanggup dengan pandangan orang lain" balas Tn Harry menjelaskan.
"Apa semua itu benar Tn Harry?" tanya Ny Ariana.
"Semua itu benar Ny Adrean" balas Tn Harry.
"Iya Tante, saat itu Raffa membantu saya ketika sakit untuk antar jemput, dan Tante tahu? ia sangat tersiksa hingga tak pernah berani parkir di kampusnya, ia menyembunyikannya di tempat lain" ucap Alena.
"Pih, sejak Mami pertama bertemu, Mami pun punya perasaan kalau Raffa anak yang baik" ucap Ny Ariana.
"Anggap semua itu benar Mih, tapi Papi tetap gak bisa nerima anak gak jelas statusnya seperti itu dekat dengan keluarga kita" balas Tn Hernand berterus terang.
Tn Harry tersenyum mendengarnya begitupun Alena.Namun tak lama Tn Harry kembali berbicara.
"Tn Hernand, terus terang saya iri sama Anda, kenapa? karena Raffa lebih memilih Aurel dari pada Alena.Andai Raffa memilih Alena saya akan jadi orang tua paling bahagia" ucap Tn Harry berusaha jujur.
"Maksud Anda?" tanya Tn Hernand begitu tak mengerti.Ny Ariana pun begitu penasaran.
"Tuan dan Ny Adrean, bagi saya Raffa anak yang spesial, baik, jujur, sedehana, pekerja keras, anak yang bisa kita percaya untuk menjadi pendamping anak kita" ucap Tn Harry terlihat menarik nafas dengan berat.
"Om, Tante yang Papah katakan itu benar, Alena pun selalu merasa nyaman dan punya pelindung bila bersama Raffa.Andai saja Raffa memilih Alena, Alena akan sangat menerimanya" ucap Alena terdengar sendu.
Sesaat Tn Harry membelai kepala Alena dengan lembut seakan merasakan hal yang sama lalu kembali buka suara.
"Itu saja yang mau saya sampaikan, sekali lagi saya tidak bermaksud mempengaruhi Anda, hanya berbagi dan semoga Anda membuat keputusan yang tepat" ucap Tn Harry.
Tn Hernand hanya saling memandang dengan istrinya.Sangat sulit untuk membantah bila ucapan itu datang dari seseorang yang memiliki kredibilitas seperti Tn Harry.
"Kami permisi dulu Tuan Hernand juga Nyonya, kami ingin melihat kondisi Raffa" ucap Tn Harry berpamitan.
"Mari Om, Tante, Alena duluan, selamat malam"
"Baik, terima kasih Tuan Harry dan selamat malam Alena" balas Ny Ariana
__ADS_1
Akhirnya mereka pun beranjak pergi meninggalkan Tn Hernand juga Ny Ariana yang nampak termenung memikirkan semua perkataan Tn Harry juga Alena.
[[ Bersambung ]]