
Pagi setelah Raffa shalat Subuh ia nampak termenung seraya memainkan kartu nama Rama.
"Apa maksudnya harus pagi-pagi ya? apa mungkin karena kerjaan, gue coba pergi aja deh" guman Raffa.
Dengan menggunakan ojek online, Raffa pun sampai di sebuah rumah dengan tembok tinggi di sekelilingnya.
Tak lama setelah menekan bell, seseorang pun membukakan pintu besi itu untuknya,
"Maaf apa saya bisa ketemu Mas Rama?" ucap Raffa
"Apa ini Raffa?" balas pria berpenampilan plontos dengan tubuh terlihat berotot.
"Eh iya saya Raffa" sahutnya sedikit sungkan.
"Silakan masuk, sudah di tunggu Bang Rama di lapang samping" ucapnya seraya menunjukan arah.
Raffa pun segera menuju lapang yang di maksud.Di lapang semi indoor tersebut nampak seseorang sedang berlatih bela diri.
"Mas Rama!" Raffa sedikit terkejut melihat siapa yang berlatih.
"Hey datang juga kamu, kirain gak bakalan berani kesini" canda Rama saat melihat siapa yang datang.
"Ini beneran Mas Rama kan? gak nyangka hebat banget ilmunya, beda banget sama di kantor" ucap Raffa takjub.Tak menyangka Rama yang kalem dan penurut di kantor ternyata punya sisi lain.
"Hehe kamu bisa saja, saya harus bisa melindungi Tn Harry, karena bisa saja ada yang berniat jahat sama beliau" jelas Rama memberi alasan.
"Iya juga, eh sebenarnya ada apa Mas Rama mengundang saya ke sini?" tanya Raffa penasaran.
"Terus terang saya perduli sama kamu.Saya tau kamu anak yang baik, tapi tak berarti kamu gak akan punya musuh atau orang yang gak suka sama kamu"
"Saya mengerti Mas, terus apa yang harus saya lakukan?" sahut Raffa.
"Jujur saya tak bisa seperti Tn Harry, tapi saya punya sesuatu yang mungkin berguna buat kamu" ucap Rama menatap Raffa dengan tajam.
"Apa itu Mas?" tanya Raffa makin penasaran.
"Ilmu bela diri" jawab Rama tegas.
"Apa bela diri!?" sahut Raffa terkejut bukan main.
"Kenapa, kamu tidak suka kekerasan? saya tau menghindari masalah juga termasuk bela diri.Tapi ada saat dimana kamu harus siap saat kamu terpaksa"
"Iya Mas, hanya saja itu hal yang jauh dari kebiasaan saya" balas Raffa nampak berpikir.
"Kamu pikirkan saja dulu apa yang saya katakan.Ingat ini bela diri bukan untuk jadi jagoan.Datanglah pagi sekali jika kamu berubah pikiran"
Raffa hanya membalas dengan anggukan.Rama tak ingin memaksa walau ia begitu ingin Raffa menerima sarannya.
Akhirnya setelah beberapa lama Rama pun mengantar Raffa sekaligus berangkat menuju kediaman Tn Harry.
Sesampainya di sana Rama di kagetkan oleh suasana panas antara Tn Harry dan putrinya.
"Pah! jangan seenaknya gitu dong, Alena tahu Alena salah tapi Papah gak bisa membatasi Alena seperti itu!" seru Alena begitu tak terima.
"Papah tidak mau tahu, pokoknya mulai sekarang selain kuliah kamu Papah larang kelayapan tak jelas, itu pun di antar supir juga pengawal!" balas Tn Harry tak kalah keras.
"Gak bisa gitu dong Pah! penjarain Alena aja sekalian kalau itu cara Papah" Alena terus bertahan dengan keinginannya.
"Kenapa?! kamu masih mau nemuin pemuda itu, apa kamu lupa dia sudah mempermainkan kita Alena!" Tn Harry makin terbawa emosi.
"Berapa kali harus Alena jelaskan, Raffa tidak salah, semua karena Alena yang memaksanya Pah!" balas Alena mencoba memberi pengertian.
"Sudah! Papah gak mau dengar lagi kamu terus membela dia, turutin Papah" sahut Tn Harry bersikeras.
"Sebenarnya Alena atau Papah sih yang kecewa karena Raffa tidak jadi bagian keluarga ini? melihat Papah yang seperti ini jujur Alena menyesal tak ikut Kak Alissa" selesai berucap Alena pun segera menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Melihat itu Rama pun akhirnya memberanikan diri menemui Tn Harry,
"Selamat pagi Pak" sapa Rama.
"Pagi Ram, bagaimana sudah kamu urus semuanya?" tanya Tn Harry.
"Semua sudah siap Pak, sopir juga pengawal pribadi untuk Non Alena sudah ada di depan" balas Rama.
"Bagus, lalu soal tagihan?" tanya Tn Harry lagi.
"Tak ada tagihan apapun Pak, sepertinya memang kartu tersebut belum pernah di pakai" jelas Rama pada Tn Harry.
Jawaban Rama cukup membuat Tn Harry terkejut, tak menyangka Raffa sedikitpun tidak mau memanfatkannya.
Sementara Raffa sendiri nampak baru tiba di kampusnya.Tanpa mobil tanpa motor sendiri, hanya ojek online yang mengantarnya.
Baru saja Raffa turun lalu membayar ongkos, nampak Leon cs sudah mendekatinya.
"Haha sepertinya dari miskin sekarang dah jadi gelandangan.Kemana nih mobil pribadinya" ucap Revan seraya senyum sinis.
"Gimana rasanya nih di pecat dari calon mantu, eh pura-pura haha makanya sampah jangan pernah mimpi ketinggian" tambah Leon begitu ingin di dengar orang sekitarnya.
Tatapan semua orang pun tertuju pada Raffa yang nampak diam terpaku.
"Bocah bangkrut kalo gue jadi lo, mending lo gak usah ngampus lagi deh.Kasian nih image kampus ini bisa rusak gara-gara lo" lanjut Leon begitu ingin menjatuhkan Raffa.
Kesabaran Raffa yang habis membuatnya tak bisa lagi menahan amarahnya.Dengan tatapan tajam Raffa menghampiri Leon.
"Udah pidatonya? gak ada yang lain kata hinaan lo? gue udah mulai geli dengernya 'bocah,miskin,sampah' heh basi" ucap Raffa begitu serius.
"Mau lo apa sekarang bajingan, ngajak ribut lo" balas Leon mulai terpancing.
"Lo harus tahu, berkat lo gue bisa jadi diri gue sendiri tanpa harus berpura-pura.Satu hal lagi, lebih baik lo jaga sikap, gue takut lo cedera dan jadikan sebagai alasan saat kalah di pertandingan" ucap Raffa tanpa ada takut sedikitpun.
"Heh, kita lihat saja nanti apa kemampuan lo sebesar mulut lo itu" balas Raffa tak mau kalah.
Ucapan Raffa benar-benar membuat Leon naik darah,namun tiba-tiba Aurel datang lalu menggandeng lengan Raffa begitu erat,
"Hai Al, ada apa lagi sih ini? aku gak mau ah lihat kamu buang-buang tenaga buat hal gak penting" ucap Aurel begitu terlihat mesra.
Sontak Leon yang melihatnya makin terbakar emosinya.Namun tak sanggup melakukan apapun.
"Eh Naurel, enggak kok ini lagi minta saran aja sama Kakak senior cara dapetin apa yang kita mau" balas Raffa yang seakan mendapat ide membuat Leon makin mati kutu.
"Ohh, buat apa sih? kan kamu udah dapat aku, emang kamu mau dapet yang lain lagi?" ucap Aurel bergaya cemburu juga manja.
Leon yang geram hanya bisa mengepalkan kedua tangannya, hatinya pun begitu panas melihat akting keduanya.
"Eh, enggak lah.Ya udah sayank kita pergi yuk, disini nyamuknya emosian loh" balas Raffa makin menjadi.
Aurel sempat di buat tersipu malu saat kata sayang terucap dari mulut Raffa.
"Ya udah deh, yuk sayank" ucap Aurel dengan degupan jatungnya yang semakin cepat.
Leon yang melihat kepergian mereka begitu ingin sekali menghajar Raffa,
"Sialan kalo gak ada Aurel gue abisin saat ini juga lo bajingan" guman Leon begitu kesal.
"Guys cabut" ucap Leon
Leon cs pun segera meninggalkan tempat itu karena jadwal kuliah yang akan mulai menyibukannya.
Setelah beberapa mata kuliah yang cukup menyita waktu, datangnya sang siang pun begitu tak terasa.
Selesai dari mesjid Raffa pun menuju kantin, nampak Ryo yang melihatnya lalu menyusulnya.
__ADS_1
"Hey Behb, kebiasaan kalo mau enak gak ngajak-ngajak, gimana kabar lo sama Alena?"
"Baik gak baik Yo" balas Raffa.
Setelah memilih tempat duduk keduanya pun kembali terlibat perbincangan yang cukup serius,
"Jadi lo gak pernah ketemu Alena lagi Behb?" tanya Ryo.
"Kemarin ketemu, cuma mungkin akan jadi pertemuan terakhir gue sama dia" sahut Raffa dengan perasaan berat.
"Loh, kenapa bisa begitu?" tanya Ryo makin penasaran.
"Disisi lain gue senang bisa jadi diri sendiri yang apa adanya.Di sisi lain Tn Harry minta gue jauhin dia dan keluarganya" jelas Raffa seraya menghela nafas.
"Appaaaaa!" seru Ryo tak percaya.
Membuat dua orang yang datang ikut terkejut juga,
"Kamu kenapa sayank?" ucap Luna seraya duduk di sebelah Ryo.
"Pada jahat ya gak ngajak kalo pada kesini" ucap Aurel lalu duduk di sebelah Raffa.
"Sayank, hey malah bengong.Kamu kenapa sih?" tanya Luna begitu penasaran.
"Ehh enggak sayank, ini si Al bikin kaget" balas Ryo seraya mengacak-acak rambut Luna.
"Gak ada apa-apa kok Lun cuma bercanda aja tadi hehe" ucap Raffa mencoba menutupi.
"Kamu gak perlu bohong gitu sayank" ucap Aurel seraya menatap Raffa.
"Sayyyaaankkk?" ucap Ryo dan Luna berbarengan lalu saling pandang tak percaya.
"Ehh, jadi ketularan lo berdua nih gue" ucap Aurel malu malu.
"Bebh kode tuh sepertinya hihi" ucap Ryo terkekeh.
"Udah deh jangan di bahas" ucap Aurel dengan pipi makin merona.
"Emang maunya Naurel di panggil sayank?" goda Raffa bermaksud mengalihkan.
"Naaauuurel?" ucap Ryo juga Luna kembali terbengong.
"Emang tadi di deket parkiran siapa yang manggil sayank duluan?" ucap Aurel menggoda lalu balas menatap Raffa.
Saat pandangan mata mereka bertemu, jantung keduanya pun berdetak semakin cepat.Hati mereka seakan saling berkata indah, begitu banyak perasaan yang tak dapat di lukiskan.
"Duh kayanya kita jadi ngontrak sekarang yank" ucap Ryo asal.
"Udah jadi milik mereka ya dunianya?" balas Luna seraya tertawa kecil.
Celetukan Ryo juga Luna membuat Aurel juga Raffa tersenyum geli
Namun selang beberapa saat Raffa nampak berpikir setelah tersadar akan sesuatu,
"Mas Rama benar bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi untuk orang di sekeliling kita yang mungkin khawatir pada kita"
Lalu Raffa segera meraih ponselnya dan mengirimkan pesan singkat,
📨"Mas Rama saya akan terima sarannya.Demi saya dan orang-orang di dekat saya"
[ Bersambung ]
Apakah keputusan Raffa akan menguntungkannya?
Wait n See 🤭
__ADS_1