
Siang hari tepat di kediaman keluarga Adhitama.Tanpa seorang pun menduganya seorang gadis cantik tiba setelah perjalanan yang cukup jauh.
Gadis berambut pirang itu pun turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu rumah tersebut.Setelah beberapa kali menekan bel nampak seseorang membukakan pintu.
"Sebentar, mohon di tunggu" ucap seseorang dari dalam.
"Maaf lama menunggu, silahkan ma ... " ucapan Bu Aisyah terhenti seiring rasa terkejutnya saat melihat seorang gadis yang entah mengapa mirip seseorang.
Begitupun gadis itu yang nampak tercenung saat melihat wajah Bu Aisyah yang nampak tak asing.
"Ibu siapa!? kenapa bisa di sini!?" ucapnya setelah lama terdiam.
"Saya!? kebetulan numpang di sini, kamu sendiri siapa kalau boleh tahu?" balas Bu Aisyah gugup.
"Sejak kapan rumah ini jadi tempat umum! sembarangan orang bisa masuk, Bi! Bi!" ucapnya begitu sinis, ia pun masuk tanpa perduli Bu Aisyah.
"Eh Mba!?" ucap Bu Aisyah lalu mengikutinya.
Tak lama beberapa ART berdatangan dengan perasaan takut.Mereka sama terkejut ketika tahu siapa yang datang.
"Non Alisa!?" ucap Bi Irah.
"Kenapa! kalian tak suka aku pulang!" ucap Alisa.
"Bukan begitu Non, hanya saja Bibi kaget.Tahu Non pulang Bibi pasti masak lebih banyak" balasnya.
Bu Aisyah sendiri hanya tertegun dan nampak berpikir, "Non!? apa ini putri Tn Harry yang lain!? sekilas ia memang mirip Alena" gumamnya.
"Saya mau tanya, siapa wanita ini!? kenapa bisa dia di sini!?" tanya Alisa dengan begitu serius.
"Non saya bisa jelaskan" ucap Bu Aisyah.
"Maaf, saya ingin mendengar dari orang lain, jadi Anda diam saja!" ucap Alisa begitu dingin.
"Non, ini Ibu Aisyah, Beliau kenalannya Tn Harry juga Ibunya teman Non Alena.Ibu Aisyah sudah biasa di sini kok Non, malah Non Alena yang selalu memintanya datang" Bi Irah mencoba menjelaskan sebisanya.
"Heh! seharusnya kalian tak begitu saja menerima orang asing di rumah ini" balas Alisa penuh penekanan membuat semua ART hanya bisa menundukan kepala.
"Maaf, apa Non putrinya Tn Harry, Alisa?" tiba-tiba Bu Aisyah memberanikan dirinya.
"Tak perlu tahu siapa saya, ingat! Anda bukan Nyonya rumah ini, seharusnya tahu diri!" balas Alena ketus.
"Maafkan kalau kehadiran Ibu menggangu kenyamanan Non, Ibu sadar hanya menumpang di sini, insyaallah Ibu pasti jaga sikap" ucap Ibu Aisyah mencoba bersabar.
"Bagus kalau sadar! semestinya tahu yang harus di lakukan bukan!?" balas Alisa terus menyindir.
"Saya akan ke kamar agar Non Alisa tidak terganggu oleh saya" ucap Bu Aisyah dengan sopan lalu beranjak ke kamarnya.
"Selama ada di dalam rumah ini Anda hanyalah seorang pengganggu! pahami itu!"
Para ART semakin tak enak dengan Ibu Aisyah namun mereka tak tahu harus berbuat apa.Sementara Ibu Aisyah sendiri sontak menghentikan langkahnya lalu menatap Alisa yang memandangnya penuh kebencian.
"Sebenarnya apa yang Non Alisa mau dari saya?" tanya Bu Aisyah.
"Serius Anda tanya saya!?" ucap Alisa lalu menghampirinya, "Jangan kira saya tak tahu! selama ini Anda deketin keluarga ini pasti punya niat lainkan!? ingat Anda gak akan jadi Nyonya Adhitama!" ucap Alisa begitu sinis.
"Astagfirullahaladzim.Non, saya tidak punya niat buruk apapun.Saya di sini benar-benar tulus untuk menemani Alena"
"Itu benar Non" ucap Bi Irah meyakinkan.
"Diam! kalian jangan ikut campur, sana masuk!" ucap Alisa lalu kembali menatap Bu Aisyah, "Tolong ya! jangan manfaatkan kepolosan Alena untuk kepentingan pribadi Anda"
"Percayalah Nak saya gak berusaha memanfaatkan siapapun, tapi jika Non Alisa tidak berkenan Ibu di sini, sekarang juga Ibu akan pergi" ucap Ibu Aisyah tak ingin berdebat lebih lama.
__ADS_1
"Itu yang saya maksud dari tadi, sayang lama banget Anda menyadarinya"
"Maaf kalau begitu saya permisi mau beres-beres" ucap Bu Aisyah seraya tersenyum.
Selang beberapa lama Bu Aisyah nampak keluar dari kamarnya dengan membawa barang bawaannya.
"Bi, titip pesan kalau Alena tanya bilang saja saya pulang, gak enak kelamaan ninggalin Nita sendirian di rumah"
"Baik Bu, nanti saya sampaikan"
"Non Alisa Ibu pamit pulang, tolong di maafkan kalau Ibu ada salah, izin menunggu anak saya jemput di depan ya, mari Non Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam.Sepertinya Anda sudah tahu pintu keluar rumah inikan!?" balas Alisa dingin.
Bu Aisyah hanya tersenyum lalu beranjak menuju pintu depan.Belum juga sampai, pintu terbuka seiring kedatangan Alena juga Tn Harry.
"Asalamualaikum" ucap Alena namun ia sungguh terkejut melihat Bu Aisyah yang bersiap pergi, "Loh! Mamah mau kemana!? kok semua barangnya dibawa!?" tanya Alena mulai cemas.
"Bu! apa Ibu mau pergi!?" tanya Tn Harry sama terkejutnya.
Keterkejutan mereka bertambah seiring kemunculan Alisa dari ruang tengah,
"Sudahlah biarkan Ibu ini pergi! lagian dia bukan siapa-siapa kita kan!?" ucap Alisa seraya berkacak pinggang.
"Alisa!?" seru Tn Harry terkejut.
"Kakak!? begitu juga Alena.
"Kenapa!? tak senang Alisa pulang!?" ucapnya masih dengan nada yang sinis.
"Tentu saja kami senang Alisa tapi kenapa kamu tak mengabari kita semua?" balas Tn Harry seraya tersenyum.
"Alena juga senang Kakak pulang, kenalin ini Mamah Aisyah Kak yang selama ini pernah Alena ceritakan"
"Kakak! kenapa gitu sih ngomongnya!?"
"Sadar kamu Alena! lihat! dia bukan Mama kamu! hanya Mama Sofia Mama kita dan ia sudah meninggal!"
"Tiiddaaaakkk! Mama masih hidup! dan Alena melihat Mama ada di sini! iya kan Mah!?" teriak Alena seraya meraih lengan Bu Aisyah dengan air mata mulai menetes.
"Maafkan Mama sayang, Mama memang bukan Mama Sofia" ucap Ibu Aisyah seraya memeluk Alena dengan berurai air mata.
"Alisa!? tidak bisakah kita bicarakan baik-baik?" ucap Tn Harry mencoba meredakan suasana.
"Bisa! hanya keluarga kita, tanpa ada orang lain di sini"
"Tolong hentikan, saya tidak mau jadi penyebab masalah di keluarga ini, saya sadar tak seharusnya saya di sini" ucap Bu Aisyah merasa bersalah, "Tn Harry saya pamit dan Alena Mama pulang, jangan khawatir kamu bisa nemuin Mama kapanpun atau bisa juga telepon, Mama pergi dulu ya" setelah berpamitan Bu Aisyah pun berlalu.
"Kalau Mama pergi Alena lebih baik ikut Mama" balas Alena seraya mengejarnya.
"Alena! kamu mau kemana!" ucap Tn Harry mulai cemas.
"Kemana Mama pergi Alena juga pergi, kalau Kakak gak mau Mamah di sini, biar Alena yang mengalah!"
"Alena! kamu benar sudah buta, begitu cepat kamu melupakan Mama Sofia dan kamu tega menggantikannya secepat ini!" ucap Alisa terlihat kecewa.
"Kakak yang seharusnya buka mata, Mama juga pasti tak ingin melihat kita terus bersedih, apa salahnya kita melangkah dan menata hidup kita kedepannya"
"Dengan wanita ini maksud kamu!"
"Sudah hentikan! Alisa, Alena kita satu keluarga Papa gak mau lagi dengar kalian berdebat"
"Assalamualaikum" ucap Raffa seraya membuka pintu dengan terburu-buru, "Bu apa Ibu baik-baik saja?" tanya Raffa saat melihat Ibunya.
__ADS_1
"Ibu Baik Nak, tolong antar Ibu pulang sayang" balas Ibu Aisyah seraya tersenyum.
"Baik Bu" balas Raffa pendek lalu kembali menatap seseorang yang belum pernah ia lihat tapi tak asing.
Alisa pun menatap Raffa penuh selidik lalu kembali berucap,
"Nah! sepertinya anaknya sudah menjemput, sudah bereskan masalahnya!?" ucap Alisa seraya terus menatap Raffa lekat.
"Saya permisi dulu semuanya, Assalamualaikum.Mari Nak" ucap Bu Aisyah lalu beranjak pergi bersama Raffa.
"Ibu Aisyah orang baik, Kakak gak sepantasnya berkata buruk.Bagaimanapun Alena tak akan bisa jauh darinya" Alena segera menyusulnya.
"Alena! kamu mau kemana!?"
"Sudahlah Pah! biarkan dia pergi, sampai kapan dia akan bertahan di luar sana" ucap Alisa seakan tak perduli.
"Kamu gak tahu apa-apa Alisa, sebaiknya kamu banyak belajar dari adikmu itu" ucap Tn Harry lalu mengejar Alena.
"Alena, Ibu Aisyah tunggu! " seru Tn Harry, "Maaf apa gak sebaiknya kita bicarakan dulu, saya harap Ibu tetap disini" pinta Tn Harry.
"Saya hargai semua niat baik Tuan, tapi ini bukan waktu yang tepat sepertinya.Jujur saya ingin mengenal Alisa tapi sebaiknya kita beri ia waktu" balas Ibu Aisyah.
"Alena pergi Pah, setidaknya Alena ingin memastikan Mamah baik-baik saja"
Akhirnya dengan berat hati Tn Harry hanya bisa menatap kepergian mereka tanpa bisa menahannya.
Sementara di tempat lain di sebuah kafe nampak Adrian yang tengah frustasi terus merutuki dirinya.
"Hei Bro! kusut banget Lo!?"
"Ngapain lo disini!?" balas Adrian benar-benar nampak kesal.
"Santai, gue cuma mencoba bernafas dari masalah gue dengan bocah brengsek itu?"
"Kalau saja lo bisa mengatasinya, mungkin gue gak akan bermasalah seperti sekarang ini!" ucap Adrian nampak kesal.
"Gue akui terlalu meremehkannya, gue gak nyangka dia punya backingan berandalan itu.Btw lalu apa hubungannya dengan masalah lo sekarang!?" Tanya Leon.
"Heh! yang pasti gue harus membalas bocah ingusan itu! bisa-bisanya bokap gue lebih peduli orang brengsek itu daripada anaknya sendiri!" ucap Adrian seraya mengepalkan tangannya.
"Kalau lo mau membalasnya gue akan senang hati membantu lo! sampai kapanpun tak akan gue biarin dia merasa menang lebih lama!" ucap Leon seraya menyeringai.
"Heh! cara genk lo dah gak mempan! lo lihat sendiri kemarinkan!? hampir semua anak-anak babak belur!" balas. Adrian.
"Heh! ya gue tahu itu.Kita gak bisa menghadapinya langsung.Kita harus memanfaatkan sisi lemah dia" dengus Leon masih tak terima.
"Maksud lo!" tanya Adrian.
"Sepertinya gue punya ide, tapi ini asal lo setuju!?" ucap Leon.
"Apa itu!" ucap Adrian peenasaran.
Leon segera berbisik pada Adrian beberapa saat.Namun selesainya berkata Adrian begitu nampak terket.
"Apa! lo gila! gue gak mungkin melibatkannya!" seru Adrian begitu tak terima.
"Bro! menculiknya akan membuatnya lemah, dan lo tenang saja kita hanya akan memanfaatkannya bukan menyakitinya.Ini takan ada hubungan dengannya, dia akan baik-baik saja"
Adrian nampak termenung memikirkan perkataan Leon.Ragu di hatinya makin menghilang saat teringat kebenciannya pada Raffa.
"Bagaimanapun caranya bocah ini memang pantas gue balas!" gumam Adrian dalam hati.
[[ Bersambung ]]
__ADS_1