Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
79.Misi Dan Sisi Lain Rama


__ADS_3

"Sayang, maaf ya sepertinya aku gak berhasil bujuk papi kamu" ucap Raffa begitu menyesal.


"Udah aku duga sih sayang, papi memang keras kepala, pasti susah bicara padanya" balas Aurel tersenyum masam.


"Iya, seperti Nona yang dulu aku kenal waktu awal kuliah" goda Raffa seraya menatap ke arah lain.


"Idih mulai deh, bikin malu aja.Jangan di inget-inget ah aku sendiri sebel kalau inget sama Nona nyebelin itu" balas Aurel yang merona seraya merangkul lengan Raffa.


"Menurut kamu apa orang seperti aku ini tak pantas ya berada di lingkungan orang seperti papi kamu" tanya Raffa kembali serius.


"Kenapa kamu nanya gitu? kamu mulai terpengaruh omongan papi ya? aku minta kamu jangan dengerin omongan papi aku apapun itu" balas Aurel meminta.


"Nggak, hanya saja papi kamu menilai aku sebagai orang miskin pencari harta" ucap Raffa.


"Maafkan ucapan papi aku ya sayang, papi benar-benar belum mengenal kamu, aku gak akan lelah berusaha sampai papi mau nerima kamu" balas Aurel penuh keyakinan.


"Iya gak apa-apa makasih ya sayang.Masalah lain buat papi kamu itu karena aku cacat" ucap Raffa seraya mengibaskan lengan jaketnya.


"Hemmh! semua itu sudah papi bahas juga ketika aku berantem dengannya.Gemes aku ingin ngomong yang sebenarnya tapi aku gak mau mengecewakan janji aku sama kamu" ucap Aurel.


"Kamu memang bisa di andalkan sayang" ucap Raffa seraya mengusap lembut kepala Aurel.


"Hemmh, gak nyangka ya tangan ini bisa jadi masalah" lanjut Raffa lalu membuka jaketnya dan mengeluarkan tangan kirinya.


"Apa kamu gak nyoba jelasin sama papi sayang?" tanya Aurel.


"Tadinya mau tapi sepertinya gak berpengaruh banyak jadi biarlah papi kamu tahu sendiri suatu saat nanti" balas Raffa.


"Iya sayang aku sih nurut aja apa kata kamu" ucap Aurel seraya mengusap tangan kiri Raffa.


"Oh iya sayang, kamu apa gak kangen sama rumah? apa gak mau gitu pulang"


"Enggak! pokonya aku mau pulang kalau papi gak larang-larang aku buat deket sama kamu"


"Tapi kasihan mami kamu sayang, mami kamu sangat khawatir sama kamu"


"Iya sih, tapi aku gak bisa pulang.Aku yakin papi bakal ngelakuin hal yang lebih gila lagi untuk misahin kita"


"Sayang dengerin aku, bagaimanapun mereka orang tua kamu, kamu beruntung keduanya masih ada, gak seperti aku yang tinggal punya Ibu"


Aurel tak sanggup menjawabnya hanya terus memeluk Raffa dengan erat seraya membenamkan wajah di dadanya.


"Gini aja deh kamu tenangin diri kamu sekarang ini.Kalau kamu sudah siap pulang baru kita pulang dan aku temenin kamu untuk bicara lagi sama papi kamu, gimana?" ucap Raffa.


Aurel hanya mengangguk tanpa berkata apapun.Raffa kembali menenangkannya dengan terus mengusap lembut puncak kepala Aurel dengan sesekali mengecupnya.


Tiba-tiba kehangatan mereka teralihkan oleh suara ponsel Raffa.Satu panggilan masuk dari Rama segera ia terima.


"Assalamuallaikum Mas" ucap Raffa memberi salam.


"Waalaikumsallam Al, Mas minta malam ini kamu segera ke rumah sakit, Violet sudah di temukan" balas Rama to the point.


"Apaa! Violet sudah di temukan!?" balas Raffa terkejut sekaligus lega.


"Kita bagi tugas saja Al, biar blake jadi urusan Mas kamu tolong jaga Violet"


"Baik Mas, info saja dimana rumah sakitnya, saat ini juga saya segera berangkat" balas Raffa lalu menutup panggilannya.


"Ada masalah apa sayang? kenapa kamu panik begitu?" tanya Aurel.


"Aku harus ke rumah sakit, Violet di rawat dan aku harus menjaganya sayang" balas Raffa.


"Violet!? aku temani ya lagian aku bosan di sini" ucap Aurel beralasan.


"Ya sudah kalau begitu, kita siap-siap" balas Raffa lalu beranjak masuk bersama Aurel.


Tanpa mereka sadari sepasang mata terus memperhatikan keduanya.Gadis cantik yang tak lain Alena tersenyum penuh arti.


"Jadi Raffa baik-baik saja? syukurlah aku turut bahagia.Untukmu aku tak akan berhenti membantumu" guman Alena bersungguh-sungguh.


Sementara di suatu tempat tepatnya sebuah part and carwash Andre juga Rama tengah berada di salah satu garasi.


"Gak salah lo ke arena balap bawa mobil model begini" ucap Andre meledek saat melihat mobil jenis mobilio.

__ADS_1


"Sialan lo ngeledek gue, lo sendiri punya apaan!?" balas Rama sewot.


"Sorry Bro gue spesialis roda dua, roda empat bikin ribet kalau macet" ucap Andre tak mau kalah.


"Ngeles aja lo, ikutin gue lo pilih sendiri yang menurut lo sesuai" ucap Rama seraya berjalan lebih ke dalam.


"Asal jangan lo suruh pilih antara pickup sama angkot aja Bro"


Tak lama Rama menyuruh Andre membuka kain penutup pada tiga mobil yang menjadi salah satu koleksinya.


"Sialan nyuruh lagi" ucap Andre.


Saat kain penutup di buka nampak mobil Skyline gt-r black edition seakan menatap Andre dengan tajam.


"Brengsek ternyata lo sengaja ngumpetin monster disini!" seru Andre tak percaya.


Lalu mobil kedua dengan mata tak berkedip Andre menatap Toyota Supra mk5 merah darah.Keterkejutannya tak berhenti saat melihat mobil ke tiga jenis Lamborghini Aventador ungu gelap.


"Ini baru mobil!" seru Andre seraya membuka pintu mobil Lamborghini.


"Heh bocah! mau memenuhi undangan pangeran arab lo!" ledek Rama seraya membuka pintu mobil Skyline-nya.


"Lagian mainan lo roda dua gak akan gue biarin lo nyentuh mainan roda empat gue!" ledek Rama makin jadi.


"Bocah sombong, lo kira gue gak mampu beli ginian! dasar pelit" rutuk Andre seraya menutup pintu mobil itu kembali.


"Dah gak usah manyun, lo bisa bawa mobil merah itu! ingat satu hari biayanya 20juta!" canda Rama.


"Najis! dasar medit lo" ucap Andre lalu masuk ke mobil supra.


Tanpa berlama-lama mereka segera berangkat menuju lokasi yang telah Blake tentukan.


Di sebuah jalur jalan raya yang memang nyaris sepi.Membuat sangat potensial di jadikan ajang balap liar terutama malam.


Benar saja sepanjang jalur di penuhi berbagai mobil mewah dengan berbagai gaya dan modifikasi.


"Bro lo yakin si Blake gak ngerjain kita" ucap Andre masih curiga.


"Lo santai aja, dia sudah di jadikan umpan sama Boil, dia sudah merasa tak perlu lagi setia sama S.D" balas Rama yang berdandan layaknya berandalan berduit.


📨 "Cari SPBU lalu masuk dan ikuti jalan menuju basement di situ ada tempat biasa kumpul orang-orang speed demons"


Tak begitu sulit untuk mereka mencarinya karena hanya satu yang tersedia di sekitar tempat itu.


"Tak mungkin kita masuk langsung, mereka mungkin akan mengenali kita" ucap Rama terus menyelidik.


"Apa harus kita cari jalan pintas?" ucap Andre seraya memakai hoodie sweaternya.


Saat mereka nampak berpikir dua gadis muda menghampiri mereka,


"Hei pada bengong gitu, ajak kita jalan atau minum kek.Lagian sepertinya kalian gak bawa pasangankan?" ucapnya dengan nada menggoda.


"Sepertinya ide bagus, nama kamu siapa cantik?" ucap Rama seraya merangkul pinggang gadis di kuncir kuda.


"Aku Lisa itu temanku Winy, kalian siapa? kayanya kita baru lihat kalian di sini" balas Lisa.


"Gue Sean dan itu Parjo" ucap Rama seraya menahan geli.


"Giliran nama orang, lokal banget lo Parmin! sorry gue Ferro" ucap Andre sedikit kesal.


"Apa kalian bisa bawa kita ke sana?" ucap Rama lagi.


"Agak sulit kalau ke sana, tapi bisa di atur selama ada uang" balas Lisa tersenyum genit.


Tanpa basa-basi Rama mengambil uang 100ribu sepuluh lembar dan memberikannya.


"Apa ini cukup untuk masuk kesana!?" tanya Rama seraya menggoda Lisa dengan mencium lehernya.


Lisa mengangguk seraya tersenyum Riang.Tanpa kesulitan mereka bisa masuk kedalam, sepertinya Lisa menyogok penjaganya.


Di dalam yang mirip bar ini di dominasi anggota speed demons walaupun banyak juga dari anggota lain.


📨 "Orang yang kita cari nampaknya sedang tak disini, hati-hati tuan besar sedang berada di rumah.Gue out" tiba-tiba pesan masuk dari Blake membuat Rama kecewa.

__ADS_1


"Sepertinya gue belom pernah lihat lo disini!?" tanya seseorang dengan jaket kulit terbuka memamerkan kaus dalamnya.


"Sialan ternyata si Wolf disini!" guman Andre gelisah.


"Ya begitulah, kita hanya suka melihat balapan malam juga minum-minum, apa lagi cewek gue satu ini" ucap Rama seraya menarik Lisa ke pangkuan layaknya seorang badboy.


"Kamu bisa aja" balas Lisa seraya mengelus bibir Rama lalu menciumnya.


"Gila! ni orang ternyata bisa sekacau ini!" guman Andre tak percaya.


"Begitu ya!? lalu lo sendiri!?" tanya Wolf seraya menepuk meja tepat di hadapan Andre.


"Gue cuma orang suntuk yang butuh minum dan bertemu orang banyak, apa itu masalah!?" balas Andre balik bertanya.


"Tidak juga semua boleh datang selama dia bukan orang yang mencoba cari masalah!" ucap Wolf menekankan.


"Sepertinya lo bukan orang yang menyenangkan, kalo lo merasa terganggu biar gue pergi saja" ucap Andre mulai emosi.


Tanpa menunggu lama mereka pun meninggalkan tempat itu.Namun baru saja beberapa langkah keluar Wolf kembali membuka suaranya,


"Tunggu! sepertinya gue kenal suara lo" ucap Wolf seraya mendekati Andre.


"Sial kalo sampai berakhir ribut di sini, akan berat keluar dari sini dengan baik-baik saja"


Wolf lalu dengan kasar menarik hoodie sweater Andre dari belakang hingga terbuka.


"Dhuaaar!"


Tiba-tiba terdengar seperti ledakan dari arah dalam ruangan yang membuat semua orang terkejut.Hanya Rama yang nampak tenang.


"Lari! selagi semua orang teralihkan!" ucap Rama setengah berbisik.


Saat semua orang heboh dengan suara ledakan juga asap yang tiba-tiba muncul, Andre juga Rama dengan cepat berlari menuju mobilnya.


Sementara Wolf yang segera memeriksa asal ledakan terlihat murka,


"Brengsek ini hanya pengalihan, kejar dua orang tadi!" seru Wolf.


Semua anggota yang ada pun bergegas mengejar buruannya.Tak lama memacu kendaraannya mereka dapat mendekati mobil sang target.


"Dre sepertinya mereka mengejar, lo lanjut dan ambil jalan ke kanan.Gue yakin lo punya tempat sembunyi sendiri!?" ucap Rama via radio rig.


Rama sendiri mengurangi kecepatan lalu dengan cepat membalikan mobilnya dan mematikannya.Membuat para pengejar terkejut lalu mengerem mendadak.


Tak lama Rama kembali menyalakan mobilnya lalu dengan sedikit melakukan burnout ia menancap gas dalam-dalam melewati para anggota speed demon dengan melawan arah.


"Kejar gue kalo lo semua punya nyali!" ucap Rama.


Semua anggota speed demons mencoba mengejarnya namun hanya Wolf yang dengan cepat mengikutinya.


"Lo kira bisa lolos bajingan!" ucap Wolf terus mengikutinya.


"Gak salah lo bisa megang speed demons, boleh juga lo" ucap Rama tersenyum kecil seraya terus menghindari mobil dari arah depannya.


"Frrooooammh" isyarat sebuah truck besar terdengar nyaring dari arah depan.


Rama dengan sengaja menghadapkan sejalur dengan truck tersebut membuat sang sopir truck berpindah jalur ke kanan walaupun masih cukup jauh.


"Frooammmh! Frooamhhh! supir truck kembali memberi isyarat.


Saat truck mulai melewati area putar arah Rama sengaja mulai mengambil jalur yang sama dengan truck tersebut.


"Apa yang lo rencanain sialan!" guman Wolf terlihat tegang karena salah perhitungan bisa mebuatnya menghantam truck.


Benar saja saat jarak semakin dekat Rama semakin masuk ke jalur truk.ketika truk hampir menutup Area putar balik Rama dengan cepat masuk ke jalur itu memotong truck tersebut.


"Brengsekkkkkk!" teriak Wolf yang tak mampu mengikuti Rama untuk menyebrang masuk ke jalur tersebut karena truk telah menutupnya.


"Cciiiiiiittttttttt"


Semua mobil anggota speed demons mengerem berbarengan hingga menjadi seperti tumpukan mobil yang berserakan.


"Minggir kalian semua bodoh!" teriak Wolf begitu emosi.

__ADS_1


Rama sendiri terus memacu mobilnya meninggalkan mereka yang terbakar amarahnya karena berhasil di asapinya.


[[ Bersambung ]]


__ADS_2