Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
28.Pura Pura Pacar


__ADS_3

Pagi-pagi sekembalinya Raffa dari rumahnya.Dengan hati-hati ia membuka pintu ruang rawat Alena.


"Kamu dari mana?" sapa Alena


"Ehh Alena aku ganggu ya? Maaf tadi habis dari rumah dulu" Ucap Raffa yang masih merasa canggung.


"Ohhh gitu,kamu gak ganggu lagian aku sudah bangun dari tadi kok" balas Alena seraya membenarkan posisinya.


Raffa pun segera membantunya untuk duduk menyandar.


"Makasih ya....Raf....Raffa" Ucap Alena tersipu malu.


"Sama-sama Alena,ini udah jadi tanggung jawab aku" balas Raffa seraya tersenyum.


"Kondisi kamu bagaimana sekarang? apa masih ada yang sakit?"


Dada Alena selalu saja berdegup kencang setiap Raffa menatapnya.Apalagi sedekat ini.


"Tak salah aku mencarinya semalam.Ternyata aku bisa dekat dengan orang sebaik dan seperhatian dia," guman Alena dalam hati seraya menatap Raffa dalam lamunannya.


Tak mendapat jawaban membuat Raffa kembali bersuara.


"Alena,apa masih ada yang sakit?" ucap Raffa seraya menepuk lembut bahunya.


"Eh iya,itu,maksudnya aku udah semakin baik kok,hee" balas Alena tertawa kecil.Ia tak bisa bohong luka lebam di sudut bibir Raffa tidak mengurangi ketampanannya.


"Syukurlah mudah-mudahan hari ini juga sudah boleh pulang" ucap Raffa menyemangatinya.


Alena hanya tersenyum kecil.Ucapan itu membuatnya merasa sedih.Kata pulang seakan akhir dari perhatian Raffa padanya.


"Alena sarapan dulu yuk? ini sengaja aku beli nasi kuning sama bubur hehe gak tau mana yang kamu suka soalnya" ucap Raffa nyengir


"Hmm iya gak apa-apa aku makan dua-duanya aja"


"Yakin dua-duanya? emang enak ya makan bubur sama nasi?" lanjut Raffa bengong.


"Ish ya gak di campur juga kali,ngbayanginnya juga aneh hehe" balas Alena terkekeh.


"Ya sudah nih di minum dulu" ucap Raffa lalu menyodorkan air hangat.


"Aku suapin ya,kamu mau yang mana dulu? bubur apa nasi?" ucap Raffa seraya membuka kedua makanan itu.


"Dah kaya bayi aja di suapin,bubur aja deh nasinya buat kamu aja" jawab Alena sedikit tersipu.


Akhirnya mereka makan bersama,seraya saling mencicipi makanan masing-masing.Tanpa ada rasa canggung yang berlebih lagi.


Sementara di kediaman keluarga Adhitama.Tn Harry dan Rama terlihat sedang berbincang.Tn Harry nampak begitu serius mendengarkan penjelasan Rama tentang Raffa.


"Begitu ya Ram,menarik" ucap Tn Harry nampak berpikir.


"Oh iya soal wartawan sama perlengkapan Alena gimana?"


"Semua sudah tidak ada masalah Pak,saya sudah mengurusnya.Perlengkapan Alena sudah saya kirim tadi malam sepulang mengantar Bapak" sahut Rama.


"Bagus kalo begitu" sahut Tn Harry,lalu terlihat seperti menghubungi seseorang.


"Hallo Alena" sapa Tn Harry.


"Assalamuallaikum Om,maaf ini saya Raffa yang angkat.Alenanya sedang mandi," jelas Raffa.


"Waalaikumsallam.Oh begitu,ya sudah gimana kabar putri saya?"


"Alhamdulillah Om,Alena sepertinya sudah membaik.Semoga hari ini sudah boleh pulang," ucap Raffa kembali.


"Syukurlah,sampaikan saja saya telepon,maaf mungkin pagi ini tidak akan sempat ke rumah sakit" ucap Tn Harry merasa bersalah.


"Baik nanti saya sampaikan.Om gak usah khawatir,Om bisa percayakan pada saya" sahut Raffa mencoba meyakinkan.


"Ok....oh iya jangan lupa ke dealer mobil di jalan Sudirman.Langsung temui ibu Stella,Om sudah bicara dengannya.Apa kamu paham?" tanya Tn Harry.


"Ba....baik Om,setelah pemeriksaan lanjutan Alena selesai,saya segera kesana" sahut Raffa.


"Baik kalo begitu saya tutup dulu,selamat pagi" tutup Tn Harry.


Lalu Raffa pun segera menunggu Alena di luar ruangan....


Beralih ke kampus dimana nampak Ryo dan teman-temannya tengah berkumpul.


"Tumben si Al belum kelihatan" buka Ryan.


"Iya biasanya jam segini udah datang dia" balas Arif.


"Ryo lo tau gak dia kemana?" ucap Vina yang juga penasaran.


"Kalo orang ganteng ilang enak ya,semua orang pada heboh nyariin,coba kalo gue yang ilang" canda Yogi.


"Haha sama heboh juga tau.Heboh bikin syukuran, tau gak lo" balas Ryo dengan puas.


"Haha pada seneng gak ada lo,makanan awet gak ada mesin giling" lanjut Ryan gak kalah puas.


"Deuhh tiap di kasih angin,langsung pada nyamber aja" ucap Yogi seraya mendelik lalu berdiri dan menungging.


"Nih makan jurus angin pemusnah jiwa.Prroooottttttt" tanpa segan Yogi buang angin,lalu kabur terbirit-birit.

__ADS_1


"Setan alas,parah banget lo mesin giling!" Seru Arif yang paling dekat lalu mengejar Yogi.


"Bener bener tuh anak,jorok banget" ucap Vina seraya menutup hidungnya.


Sementara Ryo segera mengambil parfum dari tasnya lalu menyemprotkan beberapa kali ke sekitar mereka.


"Rese juga si Yogi,makan ****** kali dia,bau amat" kesal Ryo.


Tak lama Aurel tiba bersama Luna.


"Pagi semua" sapa Luna.


"Eh Nyonya Ryo selamat pagi.Pagi juga Aurel" balas Ryo.


"Nyonya,nyonya berasa tua deh jadinya" ucap Luna manyun.


"Hehe gemes kalo dah manyun gitu,pengen nyubit pake tang jepit" goda Ryo terkekeh.


"Ish jahatnya kamu tuh,nih hadiahnya" Seru luna seraya mencubit Ryo.


"Aduhhhh sakit sayang" ucap Ryo keceplosan.


Luna pun tertegun di buatnya hingga cubitannya pun perlahan terlepas.


"Huhhhh pagi-pagi dah ada adegan ftv aja" ujar Vina sedikit iri.


"Iya bikin panas nih" sahut Ryan.


Ryo sendiri hanya terkekeh seraya membenarkan posisi duduknya.


Berbeda dengan yang lain,Aurel nampak mengedarkan tatapannya ke setiap arah seakan mencari seseorang.


"Dah mau mulai jam kuliah nih,apa mungkin si Al gak akan masuk Ryo?" buka Vina kembali.


"Gak tau juga nih,semalam chat aku juga belum di baca.Nanti aku coba telepon deh"


Akhirnya jam kuliah pagi pun di mulai tanpa ada yang tahu kabar dari Raffa.Membuat Aurel pun tidak bisa fokus,ia merasa ada sesuatu yang hilang.


"Kamu dimana? apa kamu baik-baik saja ya?" guman Aurel dalam hatinya.


"ish kok aku jadi kepikiran dia terus sih,cukup Aurel cukup,ayo fokus" guman Aurel mencoba menenangkan pikirannya.


Di lain tempat setelah proses pemeriksaan Alena selesai,dokter pun mengizinkannya pulang.


"Alhamdulillah kamu sudah boleh pulang Alena" ucap Raffa.


"Heem syukurlah" balas Alena tak bersemangat.


Raffa sedikit terheran melihat Alena yang muram.Tapi mungkin karena ia masih belum sembuh total pikirnya.


"Oh ok,aku tunggu sampai kamu selesai" sahut Alena seraya tersenyum.


Raffa pun tersenyum lega.


"Alena memang orang yang baik, menyenangkan juga can....duh mikir apa sih gue" guman Raffa dalam hati seraya menepis pikirannya sendiri.


Raffa pun segera berangkat.Sesampainya di Dealer yang di maksud ia segera menemui ibu Stella.


Setelah beberapa proses ia lalui.Alangkah kagetnya Raffa saat sebuah mobil baru sudah ada di depannya.


"Mas Raffa silakan ini mobilnya sudah bisa di bawa.Dalam amplop ini ada dokumen yang di perlukan,untuk surat dan kelengkapannya secepatnya akan kami proses dan akan kami kirim segera pada Tn Harry" jelas Ibu Stella pada Raffa.


"Ehh Bu ini beneran mobilnya boleh saya bawa" ucap Raffa masih sulit untuk percaya.


"Iya beneran Mas,semuanya sudah sesuai permintaan Tn Harry kok" balasnya kembali menegaskan.


Raffa yang masih percaya tak percaya akhirny membawa mobil baru itu menuju rumah sakit.


"Ya Allah segampang ini kalo orang kaya ternyata" guman Raffa seraya mengendarai mobil tersebut extra hati-hati.


Sesampainya di rumah sakit Raffa dan Alena pun sudah bersiap untuk pulang menuju kediaman keluarga Adhitama.


"Raffa ini serius kita pakai mobil ini?" Alena pun merasa heran.


"Aku juga bingung,dari sana di suruh bawa pulang mobil ini" sahut Raffa masih merasa bingung.


Alena hanya tersenyum tipis lalu kembali termenung menatap jalanan yang mereka lewati.


Kembali Raffa terheran melihat Alena yang murung,seperti ada sesuatu yang begitu mengganggunya.


Tanpa terasa mereka telah sampai di kediaman keluarga Adhitama.Beberapa orang pembantu pun menyambutnya.


"Silakan duduk,aku ke dalam dulu ya" ucap Alena lalu meninggalkan Raffa di ruang tamu.


"Iya terima kasih" balas Raffa


Cukup lama berdiam,Raffa yang sedikit merasa bosan pun tampak beranjak menuju dapur.


"Bi maaf,apa Bibi melihat Alena?" tanya Raffa.


"Eh Den bikin kaget aja,sepertinya non Alena ke taman belakang.Coba aja kesana Den" sahutnya seraya kembali sibuk memasak.


Akhirnya ia pun menuju taman belakang dan menemukan Alena yang termenung.Walau agak ragu dengan perlahan Raffa pun mendekat.

__ADS_1


"Apa kamu baik baik saja Alena?" ucap Raffa.


"Ehh Raffa maaf aku gak bermaksud mengacuhkan kamu.Aku hanya kangen mamah saat merasa bingung" balas Alena.


"Kamu nangis?" tanya Raffa saat melihat Alena mengusap sudut matanya berkali-kali.


Alena hanya diam dan memaksakan senyum.


"Apa kamu ada masalah?"


Gadis itu tetap membisu lalu tertunduk lesu.Melihat itu Raffa segera mengajaknya duduk.


"Coba ceritakan,sebenarnya ada apa?"


"Emhh papah mau jodohin aku sama anak temennya"


"Terus kamu sendiri bersedia?" sahut Raffa terkaget.


"Justru itu,aku gak mau lagian aku masih muda belum mau mikirin jodoh" sahut Alena.


Sesaat Raffa nampak berpikir.


"Kira-kira apa yang bisa aku bantu untuk masalah ini?"


"Emhh tapi aku gak mau ngelibatin kamu dalam masalah ini"


"Selama aku mampu,aku akan bantu kamu Alena"


"Ka....kamu serius?"


"Iya aku serius akan bantu kamu, apapun itu"


"Sebenarnya papah tidak pernah memaksa aku.Hanya saja ia merasa tidak enak untuk menolaknya.Kecuali aku punya alasan kuat untuk menolaknya secara halus"


"Iya lalu kira-kira apa alasan yang masuk akal menurut kamu?" ucap Raffa.


"Nah itu,papah bilang kecuali aku punya pasangan" sahut Alena lalu menunduk lesu.


"Mak....maksud kamu pacar?" Raffa coba mencerna.


"Iya,apa kamu mau bantu,untuk jadi pacar aku?" ucapnya seraya memalingkan wajahnya.


"Jadi pacar kamu!?" Raffa pun terhenyak dibuatnya.


"Ehh maksud aku pacar pura-pura,biar rekan bisnis papah mengurungkan niatnya" sahut Alena tersipu.


"Ohh begitu" balas Raffa lalu nampak berpikir.


"Kenapa,kamu gak mau ya?" desak Alena.


"Bu...bukan begitu,tapi gimana dengan papah kamu? aku takut papahmu marah kalo sampai dia tahu" sahut Raffa khawatir.


"Untuk papah biar aku yang jelasin nantinya" ucap Alena meyakinkan.


"Ya sudah gimana baiknya saja,aku mau bantu kamu" sahut Raffa dengan tulus.


"Bener kamu setuju?" ucap Alena terlihat senang.


"Iya aku setuju" sahut Raffa lalu tersenyum.


Tanpa terduga Alena pun memeluk Raffa seraya menyandarkan kepalanya di bahunya.


"Makasih ya Raffa kamu memang baik"


"Ehh iya aku senang bisa bantu kamu" ucap Raffa begitu gugup di peluk gadis secantik Alena.


"Aku kedalam dulu mau kasih papah kabar kalo aku sudah di rumah"


gadis itu pun beranjak masuk dengan wajah berseri.meninggalkan Raffa yang masih tampak terkejut.


Tiba-tiba ponsel Raffa berdering,ia pun segera mengeceknya.


"Hallo Assalamuallaikum"


"Waalaikumsallam,akhirnya nyambung juga.Kemana aja sih?


"Sorry Yo banyak urusan yang harus gue selesaikan.Maaf gak kasih kabar dari sebelumnya"


"Emang lo lagi dimana sekarang behb?"


Tiba tiba Alena yang masih di dalam memanggilnya.


"Raffa temenin aku makan yu" seru Alena.


"Ryo sorry gue tutup dulu ya"


"Suara siapa itu behb? lo sebenarnya lagi dimana?" selidik Ryo yang dengan jelas mendengar suara seorang gadis.


"Nanti aku jelasin semuanya sama lo,sekarang maaf gue tutup dulu Yo.Assalamuallaikum"


"Sorry gue belum bisa jujur sama lo Yo,tapi gue janji bakal jelasin semuanya sama lo" guman Raffa lalu beranjak masuk menemui Alena.


[[ Bersambung ]]

__ADS_1


Ikuti terus ya 😁👍


__ADS_2