
"Mulai saat ini sebaiknya kamu membiasakan diri selalu bertemu dengan ku" ucap Violet seraya tersenyum.
"Sebenarnya kita mau kemana Mba?" tanya Raffa merasa aneh.
"Saya Violet panggil saja Vi, kita menuju tempat aman, lagian saat ini kamu tak punya tempat untuk pulang kan?" balas Violet lalu menjalankan mobilnya.
"Apa kita pernah bertemu?" ucap Raffa yang merasa tak asing.
"Ya, beberapa kali kita pernah bertemu, cuma kebanyakan saat kamu tak sadarkan diri" balas Violet.
"Boleh kita mampir ke tempat saya Vi, saya mau melihat langsung kondisinya" ucap Raffa memohon.
"Kamu yakin mau kesana? apa gak sebaiknya kamu tenangin diri dulu?" tanya Violet sedikit khawatir.
"Aku baik-baik saja Vi, hanya ingin memeriksa apa ada sesuatu yang bisa di selamatkan" balas Raffa terlihat datar.
Beberapa saat lamanya mereka berkendara, hingga akhirnya sampai di sebuah rumah dengan kondisi hancur berantakan.
"Hati-hati, aku bantu kamu berjalan" ucap Violet lalu memapah Raffa.
Di bantu Violet ia mulai memasuki rumahnya.Tanpa terasa air matanya menetes.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Violet ikut merasa sedih.
"Saya gak apa-apa, hanya merasa bersalah pada almarhum ayah.Rumah peninggalannya gak bisa aku jaga" balas Raffa seraya terus menatap setiap sudut ruangan.
"Sabar ya, yang pasti aku cuma mau bilang, kamu gak sendiri" ucap Violet begitu sungguh-sungguh.
"Thank ya Vi" balas Raffa lalu berjalan menuju kamarnya.
Saat berada di kamarnya Raffa cukup bersyukur kamarnya hanya di buat berantakan.Namun Raffa kembali kecewa saat tahu motornya ikut di rusak.
"Ya ampun lagi-lagi aku mengecewakan orang lain yang mempercayakannya padaku" ucap Raffa begitu tak enak hati.
"Sudah, gak usah di pikirkan, sebaiknya kita segera pergi" ajak Violet.
"Iya Vi, sudah cukup aku melihatnya.Aku hanya gak habis pikir untuk alasan apa seseorang melakukan ini"
"Kita tak pernah tahu, kadang hal sepele pun bisa membuat orang gelap mata.Dalam hidup ini, menjadi baik tidak membuat semua orang menyukai kita"
Raffa terdiam mendengarnya ia sadar hidup ini selalu seperti dua sisi mata uang.Seperti hari dengan adanya siang juga malam.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang Raffa begitu mengenalnya.
"Vi!? bukannya ini tempatnya Mas Rama?"
"Benar, kamu akan tinggal disini untuk sementara atau selama kamu mau" balas Violet seraya mengantar Raffa ke kamarnya.
Malam itu pun Raffa lewati dengan begitu panjang hingga pagi menjelang membangunkan dirinya.
"Hmmm ternyata berendam di dalam air es cukup bermanfaat juga" guman Raffa yang mulai merasakan tubuhnya lebih nyaman.
Tiba-tiba suara ketukan terdengar dan seseorang pun menyapanya dari balik pintu yang tak terbuka sepenuhnya,
"Pagi Al apa kamu sudah siap beraktifitas?" tanya Rama seraya tersenyum.
"Mas Rama!? sepertinya iya, semoga saja dengan kuliah saya sedikit teralihkan" ucap Raffa.
"Ya sudah kita sarapan sama-sama.Ngomong-ngomong ini piala yang bagus" ucap Rama lalu menaruhnya di meja kamar.
"Loh piala itu!? tak menyangka piala pertama akan jadi piala terakhirku" ucap Raffa terlihat sendu.
"jangan putus asa begitu, kuatkan hatimu Al dan yakin akan ada piala lain yang menunggu kamu menangkan"
Tak lama mereka pun berkumpul di meja makan.Nampak gadis berkacamata dengan kuncir dua.Dandanannya membuat Raffa begitu teringat seseorang.
Tak lama setelah selesai mereka pun berangkat bersama dengan mobil terpisah dengan Rama.
"Ada lagi yang aku tidak tahu Vi?" ucap Raffa terlihat menyindir.
"Hehe maaf saya tidak berniat membohongimu Al" ucap Violet seraya tersenyum.
__ADS_1
"Jadi ada yang mau kamu ceritakan Vi?" tanya Raffa kembali.
"Aku hanyalah seseorang yang di besarkan bang Rama.Ia menyelamatkanku saat akan di keroyok oleh komplotan pencopet yang aku copet balik dan mengembalikannya pada yang punya" ucap Violet dengan wajah begitu serius.
"Hehe jadi kamu ini pencopet aliran putih? Viohood" balas Raffa sedikit geli.
"Dih malah ngeledek, ingat aku ini seniormu" ucap Violet bergurau.
"Siap Kakak ke dua, adik akan bersikap sopan" ucap Raffa menirukan film hongkong.
Violet hanya tertawa seraya terus menjalankan mobilnya.Hingga tak terasa sampai juga ia di kampus UIJ.
"Mau aku bantu adik?" ucap Violet.
"Heh, seneng banget merasa tua Vi.Terima kasih ya, saya bisa sendiri" balas Raffa tersenyum geli.
"Ok hati-hati ya, hubungi saya kalo kamu butuh sesuatu.Ini ponselmu" ucap Violet lalu menuju parkiran dekat Fakultas Ilmu Komputer.
"Hemh, gak gue kira bakal banyak bergantung sama dia" guman Raffa.
Saat Raffa berjalan menuju fakultasnya beberapa temannya begitu terkejut bukan main.Entah harus senang atau sedih mereka nampak begitu merasa canggung.
"Raffa!" ucap Aurel segera menghampirinya.
Namun ketika mendekatinya Aurel sedikit merasa pusing.Saat tubuh Aurel limbung dengan satu tangan Raffa merangkulnya.
"Aurel! kamu kenapa!?" ucap Raffa seraya mengusap lengannya.
"Aku gak apa-apa, hanya sedikit pusing saja" balas Aurel dengan terus memegang kepalanya.
"Kenapa kamu gak istirahat aja, jangan dulu masuk.Kamu masih butuh istirahat Aurel" ucap Raffa begitu khawatir.
"Aku cuma berharap bisa ketemu kamu di sini" ucap Aurel.
Raffa makin merasa tak karuan.Bagaimana tidak Aurel begitu lebih peduli padanya daripada dirinya sendiri.
"Al, hati-hati biar gue bantu" ucap Ryo lalu membantu memapah Aurel.
Akhirnya mereka kembali berkumpul bersama dengan suasana yang sungguh berbeda dengan biasanya.
"Huft, gue tau pikiran kalian semua, gue memang bukan Raffa yang seperti dulu lagi.Tapi gue masih temen kaliankan?" ucap Raffa begitu menekankan.
Semua orang begitu terperanjat mendengar ucapan Raffa yang begitu terus terang.
"Bu, bukan kaya gitu Al, gue cuma khawatir sama lo" balas Ryan.
"Iya Al, kita semua ikut merasakan kesedihan lo" ucap Arif, Yogi juga Vina.
"Andai gue punya mesin waktu, gue bakal kembaliin kondisi lo.Atau jin lampu, 3permintaannya gue kasih sama lo Behb" ucap Ryo ngasal.
"Heh, thank khayalan lo Yo, cukup bikin gue lebih bersemangat" balas Raffa tertawa kecil.
Raffa pun melirik Aurel, masih ada rasa khawatir di hatinya.Namun kondisinya membuat ia meragu, hilang rasa percaya dirinya.
Tiba-tiba seseorang datang terlihat terburu-buru,
"Maaf, kamu Raffa kan? kamu di panggil ke ruang Dekan, sekarang juga akan lebih baik" ucapnya.
"Baik kalo begitu, terima kasih" balas Raffa.
Akhirnya Raffa pun menuju ruang dekan di saat yang lain mulai sibuk dengan mata kuliahnya hari ini.
Hingga Akhirnya sore pun tak terasa datang.Sehabis shalat Ashar Raffa nampak menyempatkan diri melihat kondisi teman tim basketnya.
Kedatangan Raffa sungguh di sambut Haru temannya yang memang begitu menantikannya.
"Bro si Al! itu beneran si Al!" Ucap Evran yang melihatnya.
"Ya ampun itu beneran dia!" ucap Armand begitu semringah.
"Al! akhirnya lo datang juga" ucap Adi.
__ADS_1
Akhirnya mereka berkumpul dalam suasana yang begitu hangat.Namun berubah drastis saat Leon ikut menghampiri mereka.
"Wah wah wah, apa kabar juara turnamen kita? bagaimana hadiahnya, gue denger lo dapat hadiah tambahan ya?" ucap Leon dengan nada sinis.
"Hei juara dua, jangan sok ganas deh lo! yang keok ke goa aja sana" ucap Evran meledek.
Sontak Leon dan rekan-rekannya di buat panas oleh ucapan Evran.Namun Leon menahan mereka agar tidak terpancing.
"Heh! nikmati tuh piala sedekah gue, satu hal yang lo semua harus tahu, mulai saat ini lo ucapin selamat tinggal deh sama kapten kesayangan lo" ucap Leon lalu tersenyum jahat.
"Maksud lo apa sih, lo belum puas juga ngerecokin kita!? kenapa gak lo urus urusan lo sendiri sih!" ucap Armand kesal.
Leon lalu nampak berjalan mendekati Raffa.Setelah beberapa saat menatapnya dengan lekat, tiba-tiba Leon menarik Sweeter Raffa.
Nampak sudah hanya satu lengan sweeter saja yang terpasang.Menyisakan satu lengan lagi kosong, begitupun dengan lengan t-shirtnya.
"Astaga!" ucap Armand juga yang lain hampir senada
Sementara Leon cs terlihat terkejut dengan wajah yang nampak puas.
"Ternyata gosip itu benar adanya!?" ucap Leon begitu terlihat senang.
"Hehe, gak nyangka kemarin itu piala terakhir lo bocah" ucap Revan nampak puas.
"Hemmh, satu tangan doang, kelar hidup lo.Mana bisa lo sombong lagi sekarang" ucap Roni tak mau kalah.
"Stop! sekali lagi kalian berani ngomong satu kata lagi gue hajar lo semua" ucap Aurel yang sengaja datang ke Hall basket.
Sontak semua terkejut dengan ucapan Aurel.Cukup membuat semuanya kelu untuk sesaat,
"Eh Aurel ngapain sih? lo masih aja ngebelain dia!? gak lihat sekarang dia sudah cacat?" ucap Leon begitu ingin Raffa terlihat hina.
"Buat gue yang cacat itu lo Leon! lo gak pernah punya hati!" balas Aurel ketus.
"Karena hati gue udah lo ambil Rel, sampai kapan pun gue cuma mau lo" ucap Leon melembut seraya meraih lengan Aurel.
"Gak usah pegang-pegang!" seru Aurel seraya menepis lengan Leon.
"Heh! buka mata lo Aurel, lihat bocah itu! dia gak sempurna, apa lo gak malu deket sama orang buntung macam dia" ucap Leon seraya menepis lengan baju Raffa yang kosong.
Raffa hanya segera merapikan baju dan sweeternya.Dengan sekuat tenaga dia menahan amarahnya.
"Dan lo harus ingat Aurel, apa kata Mami sama Papi lo kalau tahu lo deket sama manusia buntung ini!?" ucap Leon makin jadi.
Mendengar itu Raffa lalu lebih mendekat pada Armand dan yang lain lalu mengajaknya sedikit menjauh.
"Guys, thanks ya sebelumnya tapi gue gak bisa nerima semua ini, ini punya kalian, gak usah khawatir gue masih ada" ucap Raffa seraya menyerahkan amplop pada Armand.
Setelah berucap Raffa segera beranjak pergi.Dia sudah tak perduli akan apapupun hingga Aurel mengejarnya.
"Raffa! tunggu kamu mau kemana?"
"Sudahlah Aurel mungkin dia benar, aku bukan orang yang sama seperti dulu.Aku gak mau membuat kamu malu dan jadi bahan olok-olok orang" ucap Raffa tanpa menengok ke arahnya.
"Raffa , jadi kamu mau meninggalkan aku sendiri!?" ucap Aurel seraya berjalan lebih mendekat.
"Mungkin itu lebih baik, semua demi kebaikan kamu Aurel" ucap Raffa lalu kembali berjalan.
"Raffa!" seru Aurel lalu memeluknya dari belakang seraya terisak.
"Buatku, kamu tetap Raffa yang aku kenal, tak pernah kurang satu apapun.Kamu selalu sempurna sama seperti saat pertama kita bertemu" ucap Aurel begitu tulus.
"Buatmu, aku rela kehilangan satu tanganku agar kamu tetap mau menganggapku ada"
"Bila perlu nyawaku akan aku serahkan padamu, jika itu yang kamu mau.Aku hanya tak ingin kamu menyingkirkan aku dari sisimu" ucap Aurel makin tersedu-sedu.
Raffa begitu tersentak mendengar curahan hati Aurel yang begitu tulus.Hatinya begitu menangis haru mendengar kesungguhan tiap katanya.
"Aurel" ucap Raffa begitu tak kuasa.
Tanpa mereka sadari sepasang mata seorang gadis terus menatap begitu lekat.Gadis berkepang dua itu tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Bertahanlah, ada saatnya nanti kamu balas semua penghinaan ini" ucapnya bermonolog.
[[ Bersambung ]]