
Leon terus menatap Raffa begitu tak percaya.Bagaimana bisa kondisinya baik baik saja.
"Tipuan apa ini bocah! apa selama ini lo berpura-pura!?" ucap Leon.
"Ini bukan tipuan, orang lo berhasil nabrak gue hingga tangan gue terluka tapi maaf gue gak sampai cacat" balas Raffa seraya tersenyum kecut.
"Cacat atau tidak lo tetap akan habis.Seraang!" teriak Leon.
Serentak ketiga orang Leon langsung menyerang Raffa.Tak mau ambil resiko Raffa bertindak lebih agresif.
"Gue habisin lo semua bajingan!" seru Raffa.
Dengan cepat ia melayangkan tendangan satu dua pada penyerang dari kiri dan kanan.
"Dughhh! Bugghhh!" dua orang penyerang terpental.
"Makan ini sialan!" satu penyerang dari depan membabatkan kayu ke arahnya.
Bermodal knukles Raffa menyambut kayu tersebut dengan pukulan.
"Krakkh!"
"Saatnya lo tidur sialan!" teriak Raffa seraya mengirim satu tendangan di susul pukulan telak di dadanya.
"Aakkkkhhhh! brakhhhhh!" orang itu pun jatuh menabrak peti kosong bekas barang.
Namun satu pukulan kembali menghantam punggung Raffa.
"Bughhhh!"
Sedikit terdorong Raffa kembali pasang kuda-kuda seraya menatap sang penyerang.
"Hehe sepengecut ini ternyata orang berjuluk Mr.Venom, selalu menyerang dari belakang.Serang dari depan Mr.Chicken!" seru Raffa seraya menghampiri Leon dengan cepat.
Namun sekelebat tangan mengarah kepalanya dengan cepat Raffa menunduk dan memukul kaki yang siap menendang perutnya.
"Duukhh! Akkkhhh!" jerit satu penyerang merasakan sakit di kakinya.
"Tidur lo bangsat!" seru Raffa seraya mengirim dua pukulan dan satu tornado kick yang membuat satu penyerang terkapar.
"Bangun lo hajar bocah itu!" ucap Leon pada orang suruhannya.
Tak lama orang Leon yang pertama jatuh kembali bangkit seraya mengusap dadanya.
"Maju! tunggu apa lagi kalian!" ucap Leon memerintah pada dua orang yang tersisa.
Sedikit ragu keduanya mendekati Raffa dari dua arah.Lalu menyerang bersamaan.
Raffa melompat memunggungi satu penyerang dari kanan.Serangan lawan melewatinya, dalam jarak rapat Raffa menghujamkan sikunya tepat di dada dan rahangnya.
Serangan lain datang dari depan,
Raffa segera menangkis lalu menghujamkan kakinya ke arah depan dan belakang.Tak mau buang kesempatan Raffa melompat lalu melakukan dua tendangan di udara membuat penyerang dari depan tumbang bergulingan.
Dengan dinginnya Raffa menghampiri ke dua penyerang tersebut lalu menghajarnya hingga pingsan.
"Sepertinya hanya tinggal kita berdua.Gak mau lo nyerang gue seperti lo hancurin rumah gue!?" ucap Raffa menyindir seraya terus mendekat.
"Jangan sombong bocah!" teriak Leon seraya membabatkan kedua batang kayu itu membabi buta.
Raffa terus mengelak hingga satu hujaman kaki Leon mengarah dadanya.Dengan cepat Raffa menangkapnya namun Leon segera melempar kedua kayu memaksa Raffa melepas seraya menghindar.
Leon menyusul dengan dua tendangan yang membuat Raffa terpaksa melipat tangan tuk menahannya.Setelah terdorong beberapa langkah Raffa kembali berdiri sempurna.
"Heh! sepertinya ini membuat lo takut!" ucap Raffa setelah Leon terus melirik tangannya.
Sambil menarik nafas Raffa melepaskan knukles itu lalu menyimpannya ke dalam saku celananya.
"Bersiaplah bajingan!" teriak Raffa seraya mengirim dua kombinasi tendangan di susul dua tendangan memutar.
"Brengsek!" keluh Leon terus terdesak mundur.
Raffa terus merangsek dengan pukulan, saat badan Leon terbuka dengan cepat satu tendangan Raffa tepat mengenainya.
"Buugghhh! akhhh!" Leon pun terdorong beberapa langkah.
Tanpa jeda Raffa meraih kepala Leon lalu membenturkan pada lututnya.Saat tahu Leon menutup wajahnya Raffa menghujamkan pukulan pada kedua rusuknya.
__ADS_1
"Buughh! buughh! heeekkhhhh!" lenguh Leon saat rasa sakit terasa di tubuhnya.
"Hhiiaaaaaaa!" teriak Raffa lalu mengirim tiga tendangan kombinasi hingga Leon pun ambruk.
"Bangun lo anjing! lo harus bayar hutang lo hari ini!" seru Raffa seraya melangkah mendekat.
Tak mau kehilangan muka Leon segera bangkit seraya mengusap lelehan darah di sela bibirnya yang terkena tendangan.
"Hahaha jangan harap lo bisa keluar dari sini hidup-hidup! lo kira lo sudah menang bocah! persetan dengan semuanya! ini perang dan selalu ada cara untung menang!" teriak Leon layak orang hilang akal seraya menekan tombol di ponselnya.
Hitungan detik delapan mobil menerobos masuk ke lokasi itu membuat Raffa terkejut.Beberapa orang turun dari lantai dua membuat Raffa semakin terkesima.
Bangunan mangkrak berlantai tiga ini mungkin masih menyembunyikan banyak orang untuk mengeroyoknya.Namun tak sedikitpun nyali Raffa ciut.
"Hahaha kumpulan pengecut di bawah suruhan orang terpengecut! Mr.Venom butuh segini banyak buat lawan gue hah! gue tersanjung!" sindir Raffa.
"Banyak bacot lo bocah! lo berani menghina speed demons! hanya bisa di bayar dengan darah! Hajjaarrr!" seru Wolf.
Tak ayal semua anggota demons menyerangnya serentak.Raffa hanya mundur seraya menghajar orang paling dekat.
Wolf yang memperhatikan bagaimana Raffa sanggup bertahan di buat geram.Tak satupun anggotanya bisa menyentuh Raffa.
"Pantas lo gak bisa ngabisin nih bocah! mesti gue yang turun" ucap Wolf pada Leon.
Dengan begitu percaya diri Wolf menerjang Raffa yang tengah sibuk meladeni anggota demons.
"Bersiaplah bocah!" seru Wolf lalu melompat seraya menendang.
Dengan kombinasi pukulan juga tendangan yang begitu terarah Wolf menyerang.Konsentrasi Raffa yang terfokus membuat dirinya terbuka hingga beberapa anggota demons sanggup menghajarnya.
"Bukkhhh! Dughhh!" punggung dan perutnya pun terkena hantaman.
Saat Raffa goyah, Wolf mengirim tiga pukulan dan empat tendangan dimana dua tendangan mengenai perut juga wajah Raffa.
Untung Raffa sempat melindungi dengan satu tangannya.Namun tak ayal serangan Wolf membuat Raffa jatuh terhempas.
"Boleh juga lo bocah! tapi sayang hari ini jadi hari terakhir lo tidur nyenyak!" bentak Wolf seraya mengangkat kakinya.
"Selamat malam bocah!" teriak Wolf penuh tenaga menghujamkan kakinya.
Dengan cepat Raffa menahan kaki Wolf tepat di depan wajahnya.Wolf yang geram makin menguatkan injakannya.Namun tiba-tiba suara puluhan motor mengejutkan semua orang.
"Brengsek! siapa mereka!" seru Leon begitu tak percaya.
"Berandalan Street Riders! bagaimana bisa mereka datang ke sini!" balas Wolf gusar.
Semua anggota demons pun berdiri di belakang Wolf juga Leon.Sementara Anggota SR berdiri di belakang Andre juga Raffa.
"Gimana kondisi lo!?" tanya Andre seraya membuka helmnya.
"Aman Bang, terima kasih sudah datang" ucap Raffa lalu menatap semua anggota SR seraya tersenyum.
"Haha lo kira gue bodoh! orang macam dia gak mungkin tanpa siasat busuk!" ucap Andre seraya menunjuk Leon.
Leon yang terkejut sekaligus geram kembali di buat tak percaya.
"Sialan! bagaimana bisa bocah ini kenal sama berandalan motor ini! gawat bisa rusak rencana gue!" gumam Leon gelisah begitupun anggota demons tak sangka kedatangan tamu tak biasa.
"Hei Wolf sejak kapan lo jadi anjing suruhan bocah!" ucap Andre menyindir.
"Shadow! bajingan! saatnya kita selesaikan semuanya!" balas Wolf nampak geram.
"Sudah lama gue menantikan ini! Riders gassss!" seru Andre.
"Akhirnya gue bisa bebas ngabisin orang lagi!" seru Ben begitu semangat.
"Demons maju!" teriak Wolf tak kalah keras.
Akhirnya lokasi kosong tersebut menjadi ajang tawuran antar genk.Kedua kelompok ini bertarung bagaikan dua singa yang berebut kekuasaan.
Andre juga Wolf terlibat pertarungan yang sengit keduanya nampak seimbang.Sementara Raffa seakan tak ingin melepaskan Leon.
"Sepertinya lo yang salah berurusan Senior!" sindir Raffa lalu menyerang Leon.
Leon yang emosi langsung melayangkan pukulan Raffa menyambutnya dengan kepalan tangan.
"Dukkkkh" dua tinju itu pun beradu.
__ADS_1
"Akkhhhh!" pekik Leon yang merasakan ngilu di tangannya.
Tanpa ampun Raffa menghujani Leon yang tak siap dengan pukulan juga tendangan membuat ia terdorong menabrak peti.
Tanpa ampun Raffa kembali menyerang, namun Leon melempar beberapa benda lalu melompat seraya melakukan dua tendangan.
"Dakhh! Bughh!" satu tendangan tepat mengenai dada Raffa.
Merasa punya kesempatan Leon menyusul dengan pukulan namun Raffa mengelak seraya menghantam perut Leon.
"Hemmphhh!" pekik Leon seraya melompat merangkul Raffa lalu menghujankan lututnya bertubi-tubi di akhiri satu hujaman kaki.
Namun Raffa yang siap menangkap kaki Leon lalu menariknya.Sontak Leon seolah mendekat dengan Raffa siap menghantam wajahnya.
Leon hanya mampu melindungi dengan kedua tangannya.
"Paakkkk!"
Tanpa di duga Raffa tak berhenti, satu sikuan menghujam tengkuk Leon di susul satu tendangan memutar tepat menghantam kepala Leon.
Saat Raffa berniat menjejakan kakinya Leon segera berguling lalu dengan susah payah berdiri.
"Bajingan, kalau begini terus gue bisa habis! bagaimana bisa dia sekuat ini, gue harus lebih pintar" gumam Leon membatin.
Tak di sangka Leon berlari ke lantai dua.Raffa segera mengejarnya namun saat Raffa tiba satu tendangan menghantam tubuhnya.
"Bughhhh! akhhhhh!" pekik Raffa lalu menangkis dua tendangan lain yang datang.Tak ingin terdesak Raffa melompat, berguling lalu berdiri kembali.
"Kita selesaikan sekarang bangsat!" teriak Raffa dengan tatapan membunuh.
Raffa kembali menghujani Leon dengan variasi pukulan juga tendangan.Selang beberapa saat Leon mulai kewalahan hingga satu pukulan tepat menghantam dadanya dengan keras.
"Heeekkkkh!" jerit Leon terhuyung seraya memegangi dadanya.
"Bayar semua hutang nyawa lo bangsat!" teriak Raffa seakan kalap.
Leon bagai sansak langsung di hujani pukulan juga tendangan dari Raffa.Seakan pasrah Leon hanya mampu melindungi diri dengan kedua tangan.
Leon hanya bisa mengerang dengan nafas tak beraturan.Raffa lalu mencengkram rambut Leon.
"Mana gaya belagu lo bangsat! Bughhh!" satu pukulan menghantam wajah kiri Leon.
"Mana sikap tengil sok berkuasa lo brengsek! Dugghhh! Bugghhh!" seru Raffa seraya melayangkan dua pukulan ke arah perut juga wajah.
"Ehkkkhhhh" lirih Leon dengan darah mulai keluar dari sela bibirnya.
Raffa segera menyandarkan Leon pada satu pilar besi lalu kembali berteriak,
"Ini buat rumah gue!" teriak Raffa lalu menghajar Leon.
"Baakhh! Ehhhkkk!" erang Leon.
"Ini buat nyekap gue!"
"Buukkhh! buukhh! akhh! eehkk!" pekik Leon.
"Dan ini buat nyakitin Aurel!" dua pukulan ke arah perut di akhiri satu spining back kick tepat di wajah Leon.
"Akkkhhhhh!" Leon ambruk seketika dengan wajah penuh luka.
"Bangun sialan!" ucap Raffa memaksa Leon berdiri.
Tanpa Raffa sadari Leon diam-diam meraih sebuah pisau tempur jenis belati dari balik pinggangnya.Perlahan namun pasti Leon mulai mengambil posisi.
"Untuk alasan apa sebenarnya lo lakuin itu semua hah! Andai saja di perbolehkan gue bunuh lo saat ini juga!" seru Raffa seraya mencengkram baju Leon.
"Karena lo selalu merebut apa yang gue suka bangsat! kalau lo gak berani biar gue saja!" seru Leon tersenyum smirk.
Raffa merasakan firasat buruk saat melihat Leon menyeringai.Benar saja tanpa ragu Leon menghujamkan belati ke perut Raffa.
"Cressssh"
"Akhhhhh!"
Tusukan Leon berhasil melukai Raffa.Darah pun mulai nampak di bajunya yang robek, Raffa mundur beberapa langkah lalu jatuh berlutut seraya memegangi pinggir perut sebelah kanannya.
"Ehhhhh! sssssshhhh" desis Raffa menahan sakit bercampur perih.
__ADS_1
[[ Bersambung ]]