Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
91.Kembali Terjadi


__ADS_3

Pagi-pagi dengan begitu semangat Raffa merapikan diri.Setelah merasa cukup ia segera menuju meja makan.


"Pagi Mas" ucap Raffa.


"Pagi Al, bagaimana lukamu?" balas Rama.


"Alhamdulillah sudah lebih baik Mas" ucap Raffa.


"Ada satu pertanyaan yang belum sempat Mas tanya sama kamu, bagaimana urusanmu dengan Leon waktu itu?"


"Hemh! semoga saja orang itu tak berani lagi mengusik, setelah saya kasih pelajaran.Hampir saja saya membunuhnya"


"Heh! bagaimana bisa!?" tanya Rama.


"Saya emosi Mas, setelah dia berusaha membunuh saya, untung saja saya masih bisa mengelak walau tetap terkena sayatan.Saya merebut lalu mengancam dia tepat di lehernya, namun pada akhirnya saya tak bisa membunuhnya" jelas Raffa.


"Hmmmm! bukankah itu hal baik!? Mas yakin kamu lebih baik darinya dalam segala hal.Lagi pula kamu jangan khawatir, Andre sudah memberi peringatan keras padanya" ucap Rama.


"Hah! peringatan keras? maksudnya!?" tanya Raffa.


"Tenang saja Andre hanya mengajaknya bicara dan ia setuju mengganti rugi" balas Rama.


"Mengganti hanya membuat ia merasa telah membayar dosanya.Oh iya, bagaimana bisa semua anggota SR datang ke tempat itu!?" tanya Raffa penasaran.


"Soal SR, memang Mas yang minta, karena Mas tak percaya Leon akan bermain bersih, terbuktikan!?" balas Rama.


"Memang benar Mas.Saya masih tak habis pikir karena hal kecil dia sampai menghalalkan segala cara"


"Mas juga menyayangkannya, mungkin terbiasa hidup serba mudah, apapun yang dia mau dia akan dapatkan"


Tiba-tiba seseorang merangkul Raffa lalu menopang dagu di bahunya membuat Raffa terhenyak.


"Gak kangen aku ganteng?" ucapnya menggoda


"Siapa nih?" ucap Raffa segera menggeser tubuhnya, "Violet! lo udah sembuh! syukurlah seneng banget gue ngelihat lo Vi" ucap Raffa seraya merangkulnya.


"Gak sekalian cium pipi kiri kanan Al?" goda Violet lagi.


"Engga banget, wajah lo masih berantakan begitu.Makeup dulu gih biar lebam lo gak kelihatan" balas Raffa sebal.


"Hehe masih aja jaim, sekali kali jujur kenapa kalau aku ini menarik, iya kan!?" ucap Violet makin jadi.


"Udah Vi dia mainannya udah bukan pipi lagi" ucap Rama seraya tersenyum.


"Mas masih pagi jangan ngelantur gak baik buat kesehatan, apalagi kesehatan Raira" balas Raffa mesem.


"Heh! heh! jangan mulai ya, seenaknya aja ngalihin isu" ucap Rama.


"Pada ngomong apaan sih!? pake kode-kodean segala!? emhh jangan jangan pada puber nih!?" tanya Violet terheran.


"Sok tahu!" balas mereka berdua.


"Sok ngeles!" balas Violet tak mau kalah.


"Haha! udah ah saya duluan, mari semua" ucap Raffa seraya beranjak pergi.


"Buru-buru amat, gak nunggu hadiah dari orang cantik ini dulu!?" ucap Violet.


"Hadiah!? apaan sih Vi, gak ada waktu gue buat dengerin candaan lo!" balas Raffa sedikit malas.


"Yakin gak mau nih!?" ucap Violet seraya memainkan satu buah kunci lalu melemparnya.


Raffa pun menangkapnya lalu memperhatikan kunci tersebut,


"Ini bukannya kunci motor itu!?" ucap Raffa terkaget, "Bukannya motor ini rusak ya Vi!?" ucapnya lagi.


"Rusak bukan berarti tak bisa di perbaiki, bukan begitu Vi?" ucap Rama seraya meminum jus lemonnya.


"Tepat sekali, lagian mereka merusak tampilan luarnya saja kok Al, jadi ya itu kecil lah buat orang super seperti gue" balas Violet seraya menaik-naikan alisnya.


"Iya, iya super, super rese" ucap Raffa lalu menghampiri Violet dan merangkulnya dari belakang,


"Terima kasih ya"


"Terima kasih doang, cium pipi dua-duanya dong" goda violet seraya menepuk tangan Raffa.


"Ogah!" ucap Raffa lalu kabur.


"Vi, Vi, makin aneh aja kamu ini" ucap Rama geleng-geleng.


"Hehe, habis tu anak lucu banget" balas Violet terus cekikikan.


Dengan begitu berbunga Raffa memacu motornya dengan cepat hingga tak lama ia pun sampai di kampusnya.


"Hei Al! keren lo, salut gue!"

__ADS_1


"Raffa! hebat lo, kalau gue bakal kencing di celana"


Raffa begitu kaget entah dari mana datangnya semua orang ini.Mereka mengerubunginya bagai selebritis di kejar fans.


"Sepertinya ni anak makin tenar aja" ucap Ryo geleng-geleng.


"Haha lo mulai iri lagi nih" balas Ryan.


Setelah di bantu teman-temannya kerumunan itu pun berangsung-angsur membubarkan diri.


"Senang melihat lo dalam keadaan baik seperti ini Behb" ucap Ryo seraya merangkulnya.


"Gue masih gak percaya ternyata lo gak seperti yang kita bayangkan" lanjut Ryan seraya meraih tangan kiri Raffa.


"Lega banget ngelihatnya, tapi lo bener tega bohongin kita semua" ucap Arif terlihat kesal.


"Sorry, semua ini hanya untuk mengelabui orang yang berniat jahat sama gue" ucap Raffa tak enak hati.


"Sayang! muach!" tiba-tiba Aurel datang lalu mengecup pipi Raffa.


"Alamak jiwa jomlo gue bergemuruh" ucap Yogi.


"Aku gak sekalian Rel?" ucap Ryan menyodorkan pipinya.


"Nih buat lo cukup ini aja" ucap Ryo melepas sepatunya lalu menempelkan pada pipi Ryan.


"Tuyul sialan, gimana kalau sepatu lo bekas nginjek fases kucing"


"Gile bahasanya fases Bro haha" ucap Ryo terus tertawa.


"Gara-gara kamu sih sayang, kalau cium itu gak boleh, gak boleh sebelah harus dua duanya" ucap Raffa seraya memberikan pipi satunya lagi.


"Muach!" Aurel tanpa ragu kembali menciumnya.


"Halah! sama aja lo Al" ucap Arif.


"Susah ngelawan yang kasmaran tuh, akhirnya kita juga yang ngelus dada" ucap Ryan.


"Haha, tiap hari lo bonceng si Vina emang gak ada yang kerasa!?" ucap Aurel.


"Yah si Vina, gue cuma tukang ojeknya.Lagian dia anti laki-laki" ucap Ryan polos.


"Heh! heh! siapa yang anti laki-laki!? gue anti sama lo doang tahu!" ucap Vina yang baru kembali lalu menjewer Ryan.


"Aduhhhhh ampun Vin! pelan dikit kenapa sih, belum juga selingkuh dah di jewer" balas Ryan.


"Sayang apa Papi kamu masih mau bertemu!?" tanya Raffa.


"Ya iyalah, kalau kamu mau siang ini juga bisa.Kita sekalian makan siang" balas Aurel.


"Boleh juga, ya sudah kita berangkat sekarang juga" ucap Raffa.


Akhirnya mereka memutuskan menemui Papi Aurel di kantornya.Beberapa lamanya merekapun tiba dan langsung menuju ruangan Tn Hernand.


"Mba Ra , Papi ada di dalamkan?" tanya Aurel.


"Ada Non silakan masuk saja" balas Raira.


"Hai Mba, ada salam dari Mas Rama, katanya kangen" goda Raffa seraya tersenyum.


"Gak nanya!" balas Raira seraya memalingkan wajahnya.


Tak lama Aurel menuntun Raffa menuju ruangan Ayahnya.


"Siang Pih"


"Assalamualaikum"


"Siang, Waalaikumsalam.Kalian datang juga, duduk" balas Tn Hernand.


"Terima kasih Tuan, apa ada sesuatu yang mau Tuan bicarakan dengan saya?" ucap Raffa dengan sopan.


"Tentu saja.Begini, saya bersyukur kejadian kemarin berakhir baik, tapi bukan berarti saya akan begitu saja menerima kamu.Apa kamu merasa pantas dengan putri saya?" ucap Tn Hernand serius.


"Loh Pih kok gitu ngomongnya!?" ucap Aurel gusar.


"Kamu diamlah dahulu, biarkan dia menjawabnya" balas Tn Hernand dingin.


Raffa segera memegang lengan Aurel untuk menenangkannya.Ia kemudian buka suara.


"Kalau di lihat dari segi materi saya jauh dari kata pantas saat ini tapi materi bisa di cari.Saya yakin Tuan sendiri tidak secara ajaib duduk di kursi ini kan?" ucap Raffa.


Tuan Hernand tersenyum tipis mendengarnya.Jawaban Raffa cukup beralasan.


"Lalu apa yang membuat kamu berani dekat dengan putri saya!?"

__ADS_1


"Karena saya punya perasaan yang lebih besar dari semua laki-laki manapun.Saya tak akan janji apapun hanya akan membuat putri anda ini jadi gadis paling bahagia dengan apa adanya saya" balas Raffa dengan yakin.


"Hemh! cukup menarik, tapi tak semua orang sebijak itu.Kamu tahu, ada citra yang mesti saya jaga karena semua akan berpengaruh banyak, bukan hanya untuk diri saya saja.Kamu pasti paham maksud saya" ucap Tn Hernand.


"Saya sangat mengerti Tuan tapi maaf, sebaik mungkin saya akan tetap bersama putri Anda dan menjaganya" balas Raffa lagi.


"Kalau kamu paham dan mengerti berarti kamu tak akan menolak perintah sayakan!?" ucap Tn Hernand seraya menyerahkan satu buah kunci mobil juga satu kartu debit.


"Ini maksudnya apa Tuan!?"


"Kalau kamu peduli dengan citra keluarga Adrean kamu pasti paham.Setidaknya apa kamu tega Aurel kepanasan, kehujanan dan kekurangan!?" ucap Tn Hernand.


"Tapi Tuan, saya paling tak ingin terlalu tergantung sama orang lain.Saya akan menyayangi Aurel dengan cara saya sendiri" balas Raffa.


"Menolak! berarti siap kehilangan Aurel!" ancam Tn Hernand.


"Pih! kok gitu, Papi maunya apa sih sebenarnya, aneh banget" ucap Aurel mulai kesal.


"Mengapa hal ini mesti terulang sih? apa tak ada yang lain selain mobil dan kartu?" gumam Raffa dalam hati, "Baik Tuan, tapi ini karena saya tak ingin kehilangan Aurel" ucap Raffa setelah sejenak berpikir.


Tiba- tiba seseorang masuk dengan wajah penuh seringai tak suka dengan apa yang dilihat juga di dengarnya.


"Hebat! benar-benar luar biasa!"


"Kakak!?" ucap Aurel terkejut.


"Adrian!" Tn Hernand pun sama kagetnya.


"Selama ini Papi gak pernah peduli dan tak pernah menganggap Adrian, sekarang makin tak perduli apa karena bocah ingusan ini hah!"


"Adrian jaga bicaramu! lihat dimana kamu berada ini kantor jadi jaga sikapmu!"


Raffa sendiri hanya terdiam jika saja ini bukan Kakak Aurel mungkin saja ia sudah menghajarnya.


"Tak perlu basa-basi lagi Pih, sepertinya Papi sudah tak menganggap Andrian anak lagi, benar Pih!"


"Kakak sudahlah jangan marah-marah" bujuk Aurel.


"Diam kamu Aurel! ini semua juga salah kamu yang membawa dia ke dalam keluarga kita!"


"Jangan pernah salah paham kamu Adrian!" seru Tn Hernand.


"Salah paham! lihat Pih lihat! apa ini! semudah ini Papi berikan tapi untuk Adrian tak pernah mudahkan Pih!" teriak Adrian seraya memukul guci pajangan hingga pecah


Tak berhenti di situ Andrian menggulingkan kursi juga meja kaca hinga benar-benar berantakan.


"Braakkh! Praaangg!"


"Astaga! Kakak sadar!" jerit Aurel.


"Adrian kamu sudah gila!" ucap Tn Hernand tak percaya.


"Papi sungguh gak adil" ucap Adrian seraya menghampiri lalu mencengkram baju dan menariknya dengan kasar.


"Adrian! hentikan!" perintah Tn Hernand.


"Aku yang anak Papi! bukan dia!" Adrian menghempaskannya lalu melayangkan pukulan.


"Buukh!"


"Akhhh" pekik Tn Hernand.


"Kakak!" jerit Aurel.


Saat Adrian kembali ambil ancang-ancang Raffa dengan cepat melompat melewati meja.Saat Adrian memukul dengan cepat Raffa menahannya.


"Greeph!"


"Gue gak peduli lo siapa tapi bukan begitu cara berbicara dengan orang tua sendiri!" ucap Raffa lalu dengan cepat melipat tangan Adrian ke punggungnya dan dengan tangan lain menekan pundaknya hingga Adrian nampak membungkuk di hadapan Tn Hernand.


Beberapa petugas keamanan berdatangan bersama Raira namun Tn Hernand menyuruh mereka menunggu di luar.


"Sebaiknya lo minta maaf, sebelum lo menyesal!" ucap Raffa penuh penekanan.


"Sudah, lepaskan dia, biarkan dia mempertontonkan semua kebodohannya!" ucap Tn Hernand memerintah.


Raffa tak punya pilihan lalu melepaskan Adrian.Setelah merapikan pakaiannya Adrian kembali buka suara.


"Anda memang Ayah yang buruk! hanya ingin di turuti tanpa pernah mau mendengar! Braakh!" ucap Adrian seraya menggebrak meja lalu menatap Raffa.


"Lo akan membayar semua ini sialan! ingat itu!" Ancam Adrian seraya mendorong Raffa lalu beranjak pergi.


Tak lama setelah Adrian pergi beberapa petugas keamanan dan petugas kebersihan nampak masuk lalu membereskan semuanya.


Semua nampak syok dengan apa yang terjadi begitupun Raffa yang merasa begitu serba salah.

__ADS_1


"Mengapa semuanya malah seperti ini!? apa jadinya nanti jika aku terpaksa bermasalah dengan Adrian" gumam Raffa mulai khawatir.


[[ Bersambung ]]


__ADS_2