
Situasi di lokasi proyek kosong mulai mendekati akhir.Nampak pertarungan hanya menyisakan beberapa orang saja.
Korban luka hingga pingsan terlihat di mana-mana.Hingga satu pertarungan yang menentukan mengakhiri semuanya.
"Masih mau di lanjutkan brengsek!?" ucap Andre dengan wajah lebam dan lelehan darah yang mengering dari hidungnya.
Dengan nafas memburu Andre mendekati Wolf yang terkapar.Andre menyeretnya lalu menyandarkan pada peti kayu.
"Hei Wolf! selama ini gue diam bukan berarti gue takut sama lo! gue sudah jengah cari masalah di jalanan tapi sekali lagi lo ganggu keluarga gue! gue tak akan segan ngehabisin lo!" ancam Andre seraya menempelkan kepalan tangan ke wajahnya.
"Van! Ben! Dra! dan yang lain kalian beresin disini, gue ngcek kondisi si Al dulu" lanjut Andre.
Sementara di lantai dua dengan sempoyongan Leon mendekati Raffa.Sambil berjalan Leon merubah genggaman pisaunya hingga mengarah ke bawah.
"Sebaiknya lo pergi untuk selamanya bocah" ucap Leon nampak mengangkat pisaunya.
Raffa hanya menatap Leon dengan terus meringis menahan sakit.Leon yang melihat Raffa telihat tak berdaya semakin percaya diri.
"Sayang sekali ini akan jadi pertemuan terakhir kita.Haha mati lo bocah!" seru Leon tanpa ragu menghujamkan belatinya.
Tanpa Leon duga seiring dia bergerak Raffa mendahuluinya.Dengan cepat ia mendorong badannya kedepan dengan satu pukulan keras ia layangkan ke perut Leon.
"Bughh!"
Dengan cepat Raffa meraih tangan Leon serta pundaknya.Dengan satu sapuan kaki, Raffa membanting Leon hingga terlentang.
"Bruukkhhh!"
Penuh amarah Raffa meraih pisau belati yang terlepas dan menghimpit Leon seraya mencekik lehernya.
"Sepertinya lo harus gue bunuh baru sadar bajingan!" ucap Raffa seraya menempatkan belati di leher Leon.
"Bunuh saja kalau berani sialan!" balas Leon menggertak.
"Lo memang pantas di buat mati manusia biadab! selamat datang di neraka jahanam! Haaaaa!"
"Raffa!" teriak Andre reflek saat melihatnya.
"Jangan! tolong jangan bunuh gue!" seru Leon begitu panik saat melihat Raffa yang kalap.
"Craaaakkhhhh!"
Dengan terengah-engah Raffa menarik belati itu lalu membuangnya.Raffa mundur beberapa langkah lalu duduk menyandar dengan tatapan kosong.
"Al! hey Al! lo baik-baik sajakan!?" ucap Andre was-was.
"Sekuat apapun keinginan gue untuk menghukumnya tapi gue gak bisa! gue gak bisa jadi pembunuh!" ucap Raffa seraya menutup wajahnya.semua emosi bercampur menjadi satu.
"Lo udah melakukan hal yang benar Al, kalau lo membunuhnya artinya lo gak lebih baik dari orang itu" ucap Andre membesarkan hati Raffa seraya menepuk bahunya lalu menghampiri Leon dan mencengkram bajunya.
"Lo beruntung bocah! lo berurusan dengan orang baik, jika belati itu menghujam kepala lo bukan lantai, ini sudah jadi hari pemakaman lo! ingat itu!" ucap Andre seraya menghempaskan Leon kembali.
Saat Andre kembali mendekati Raffa dengan cepat Leon berguling, susah payah ia berdiri lalu meluncur ke bawah memanfaatkan sebuah tiang.
Tanpa buang waktu lagi Leon langsung tancap gas.Anggota Runners yang melihatnya pun lalu berlari mengejarnya.
"Woyy jangan kabur lo setan!" teriak Ben.
"Kejar Bro!" ucap Indra.
Namun tak di sangka saat Leon nampak akan berhasil menerobos ke luar satu mobil muncul di depannya.Dengan reflek kedua mobil itu pun mengerem namun tetap saja bertabrakan.
"Braakhhh!"
"Brengsek! mobil gue!" rutuk Ryo nampak kesal sekaligus Syok.
"Sialan! setan mana lagi yang ngalangin gue" gumam Leon seraya memegangi kepalanya yang terbentur.
"Woy keluar lo sialan!" bentak Ben.
"Mau kabur kemana lagi lo!" seru Indra seraya menggedor kaca mobil Leon.
Sedikit terkejut Ryo segera turun dari mobilnya.Bagaimana bisa banyak anggota SR di tempat ini.Tak beberapa lama Andre datang seraya tersenyum pahit.
"Awas! biar gue yang nyeret dia" Ucap Andre seraya menghujamkan pegangan belati.
"Prakkkk!" dengan cepat Andre menjejakan kakinya beberapa kali hingga kaca mobilpun rontok.
__ADS_1
"Mau kabur kemana lo brengsek!" seru Andre menarik Leon ke luar lalu menghempaskannya.
Ryo semakin terkejut melihat kondisi Leon yang babak belur.Begitupun semua orang, luka lebam yang menghias wajahnya masing-masing.
"Gila! sepertinya telah terjadi perang dunia beneran di tempat ini!" gumam Ryo begitu terkesima.
"Bawa dia ke tempat kita, masih perlu di kasih pelajaran ni bocah!" perintah Andre.
"Bangun lo!" bentak Ben.
"Si Red dah nunggu di luar sebaiknya kita bawa dia sekarang" ucap Indra.
Sementara Ryo segera berlari menghampiri Raffa saat melihatnya mendekat.
"Behb lo baik-baik sajakan!?" ucap Ryo khawatir.
"Gue baik Yo hanya sedikit terluka" balas Raffa seraya terus memegang perut kanannya dengan mimik yang nampak masih terguncang.
"Syukurlah semua berjalan baik dan sepertinya Leon sudah mendapatkan balasannya" ucap Ryo nampak tegang.
"Ya begitulah Yo, semua kejadian ini hampir saja membuat gue jadi seorang pembunuh" ucap Raffa begitu datar.
"Gue yakin lo gak akan seperti itu Behb.Emmm Behb gue tau ini bukan saat yang tepat tapi gue harus bilang Aurel sepertinya butuh lo" ucap Ryo sedikit meragu.
"Aurel!? maksud lo apa Yo!?" balas Raffa terheran.
"Aurel mencoba bunuh diri Bebh!" ucap Ryo serius.
"Apa! bunuh diri!? kok bisa!?" tanya Raffa mulai khawatir.
"Hari ini Luna bilang Aurel harusnya pergi ke bandara untuk berangkat ke luar negri, namun di perjalanan entah bagaimana ia kabur dan mengancam bunuh diri dengan menaiki satu gedung di sana" jelas Ryo mencoba sesingkatnya.
"Ya ampun Aurel! masih saja bertindak gegabah.Antar gue ke sana, lo tahu tempatnya kan!?" ucap Raffa.
"Gimana gak tahu Behb! mulai rame di medsos juga media berita lainnya" balas Ryo.
"Tunggu apa lagi, buruan antar gue!" ucap Raffa nampak terburu-buru.
"Bang Andre! maaf urusan di sini saya serahin sama Abang.Ada hal mendesak yang harus saya lakukan, sekali terima kasih bantuannya"
"Saya baik Bang, justru anak-anak SR apa sudah di tangani lebih dulu?"
"Heh! mereka sudah di urus Ivan, lo gak perlu khawatir.Lo boleh pergi kalau memang ada urusan, terlebih urusan kita di sini telah usai" balas Andre.
Tanpa berlama-lama Raffa dan Ryo bergegas pergi.Beruntung mobil Ryo masih dalam kondisi baik.
Sementara di sebuah gedung delapan lantai nampak Aurel berdiri tepat di tepian.Perasaan takutnya kalah oleh kebulatan tekadnya.
Di bawah gedung sendiri beberapa petugas polisi dibantu anggota damkar bersiap menjaga lokasi juga untuk melakukan tindakan penyelamatan.Begitupun petugas medis terlihat siaga.
Suasana semakin menegangkan tatkala Aurel mengacuhkan bujukan orang tuanya.Apapun itu ia hanya menginginkan satu hal.
"Pih Aurel Pih, bagaimana dong Pih, Ini semua salah Papi yang terlalu memaksakan kehendak.Lihat sekarang hasilnya!" ucap Ny Ariana begitu kalut karena Aurel tak bergeming dengan permintaan ke duanya.
"Sudah tenang Mih, jangan saling menyalahkan dulu, Aurel akan baik-baik saja.Mereka akan menyelamatkannya" balas Tn Hernand penuh harap.
Tiba-tiba satu petugas polisi menghampiri seraya bertanya,
"Maaf apa Anda kenal seseorang bernama Raffa!?"
"Apa ini ada hubungannya Pak!?" balas Tn Hernand balik bertanya.
"Anda dengar dan lihat sendirikan? putri Anda selalu meminta hal yang sama, sebaiknya datangkan dia, itu akan menaikan kemungkinan keberhasilan kita menyelamatkannya" ucap petugas mencoba meyakinkan.
"Sudah Pih, bukan saatnya memikirkan gengsi tapi ini soal nyawa anak kita!" ucap Ny Ariana mulai kesal.
"Itu sama saja membuat anak itu makin sombong! kita percayakan pada petugas saja! Pak tolong lakukan yang terbaik, selamatkan anak saya" balas Tn Hernand tak bergeming.
"Itu pasti! tapi apa memang Anda tidak bisa memanggillnya ke sini!?" tanya petugas itu kembali.
"Kalau Papi tidak mau! biar Mami yang memanggilnya!" ucap Ny Ariana lalu meraih ponselnya.
Saat Ny Ariana nampak sibuk menghubungi seseorang, tak di sangka Raffa juga Ryo tiba di lokasi.Namun petugas keamanan melarang untuk mendekat.
"Pak! saya harus kesana, saya tak mungkin membiarkannya celaka!" ucap Raffa dengan nada keras.
"Maaf yang tidak berkepentingan di larang mendekat!" balasnya dengan tegas.
__ADS_1
Ny Ariana yang melihatnya segera menghampiri petugas tersebut.
"Pak, biarkan mereka lewat, mereka teman putri saya terlebih kami memang membutuhkannya" ucap Ny Ariana.
"Syukurlah kamu datang, tolong selamatkan Aurel, bujuklah dia supaya mau turun! tapi apa kamu baik-baik saja?" ucap Ny Ariana sedikit terkejut melihat kondisi Raffa.
"Saya usahakan Tante, kondisi saya tidak lebih penting dari keselamatan Aurel" balas Raffa meyakinkan.
"Aurel! tolong jangan lakukan hal konyol, aku datang menjemputmu!" teriak Raffa.
Tanpa memperdulikan Tn Hernand Raffa dan beberapa petugas segera memasuki gedung tersebut.
Sementara di atap gedung tersebut beberapa petugas terus membujuk Aurel.
"Nona! sebaiknya kita turun, semua bisa di bicarakan baik-baik"
"Iya Nona di sini berbahaya, kita semua tak ingin hal buruk terjadi.Tolong mendekat ke tempat aman ya"
"Gue gak akan turun sebelum Papi merubah keputusannya!" teriak Aurel bersikukuh.
"Iya Nona Papi kamu akan merubah keputusannya, sekarang kita turun ya"
"Enggak! itu pasti bohong! jangan mendekat! atau gue akan loncat!" balas Aurel sengeri apapun ia tetap bertahan.
Sementara Raffa dan beberapa petugas masih berusaha membuka pintu besi menuju atap yang terkunci.
"Ini bagaimana bisa terkunci Pak!" ucap Raffa panik.
"Nona itu mengambil kuncinya, kunci cadangannya belum di pisahkan" balas satu petugas.
"Kelamaan kalau menunggu mereka membongkar pintu ini"
Tak mau berlama-lama Raffa berlari menuruni tangga.
Setelah memastikan posisi Aurel Raffa nekad keluar dari jendela.Beruntung tiap lantai memiliki tembok memanjang untuk berpijak.
"Pemandangan disini cukup bagus, tapi masih kalah sama pemandangan malam di sky rooftop, bukan begitu sayang?"
"Ra, Raffa!" ucap Aurel terhenyak membuat pijakannya sedikit goyah.
"Hati-hati sayang, jangan melihat kebawah! tak maukah kamu bertemu aku di tempat yang lebih menyenangkan?" bujuk Raffa.
"Tentu aku mau, tapi yang aku inginkan Papi batalin semua kemauannya.Aku cuma mau sama kamu!" balas Aurel penuh penekanan.
Tiba-tiba Tn Hernand berbicara lewat pengeras suara setelah ucapan Aurel tersampaikan lewat alat komunikasi petugas.
"Aurel ini Papi! baik Papi akan batalin semua keputusan Papi, sekarang kamu bisa turun!"
"Tidak! Papi harus janji, gak ngelarang Aurel lagi sama Raffa!"
Sedikit meragu Tn Hernand kembali berucap, apalagi mendapat anggukan dari istrinya membuatnya mau tak mau.
"Baik Aurel Papi janji sama kamu! sekarang kamu pulang ya!"
Mendengar itu Aurel yang nampak senang sejenak lalai akan posisinya sehingga pijakannya Terpeleset.
"Aureell! tidaaakkk!" jerit Ny Ariana.
"Aurell awaaas!" teriak Tn Hernand hampir berbarengan.
Jantung semua orang di buat terkejut saat pijakan Aurel goyah.Banyak orang segera membuang tatapannnya saat tubuh Aurel sekonyong-konyong terjatuh.
"Aaaaahhhhhhhhhh!" jerit Aurel histeris dengan tangan berusaha menggapai sesuatu tapi sia-sia.
"Aureell!" Seru Raffa lalu tanpa memikirkan keselamatannya Raffa melompat menyambut tubuh Aurel.
Saat tubuh mereka bertemu Raffa segera merangkul tubuh Aurel Dengan tangan lain meraih besi pegangan.
"Apa kamu baik-baik saja!? lihat aku Aurel! cobalah naik, gunakan kaki aku sebagai pijakan"
"Raffa, aku takut" rengek Aurel.
"Naiklah cepat! aku tak kuat lama-lama!" ucap Raffa yang tangan kirinya mulai kehilangan cengkramannya.
"Ya Allah selamatkanlah kami"
[[ Bersambung ]]
__ADS_1