
"Papah jahat, sepertinya sudah tidak perduli lagi sama aku.Andai mamah masih ada aku tak akan merasa sendirian seperti ini" guman Alena begitu merasa tersiksa.
"Oh mah, Alena kangen banget sama mamah"
Alena terus terlarut dalam lamunannya.Hingga bayangan seseorang yang mengejutkannya pun kembali.
"Mamah!"
"Nggak nggak, mamah sudah gak ada.Sebenarnya siapa yang aku lihat waktu itu?" Alena terus berpikir keras.
"Itu, ibu, Raffa!" Alena seketika tertegun saat mengingat sosok di ponsel Raffa.
Entah mengapa sosok itu seakan terus memanggil dan menggoda Alena tuk menemukannya.
"Aku gak bisa terus seperti ini, lebih baik aku pergi dari pada hidup bagai tawanan"
"Tapi gimana caranya ya lolos dari mereka ini" guman Alena nampak mencari ide.
"Pak cari mesjid ya, lupa belum shalat Dzuhur" ucap Alena beralasan.
"Baik Non" sahut Pak Damar.
Tak lama mereka nampak telah menemukan mesjid untuk Alena bersembahyang.Alena pun segera menuju ke dalam di ikuti Hans.
"Sudah ku duga ni pengawal bakal rese ngikutin kemana pun gue pergi" guman Alena kesal melihat Hans yang menguntitnya terus.
"Mau ikut wudhu juga kamu Hans?" sindir Alena kesal.
"Maaf Non, saya hanya menjalankan perintah Tn Harry" balas Hans.
"Apa sampai ke toilet juga kamu ngintilin saya? mau sekalian ngintipin tubuh saya juga!?" ucap Alena makin sinis.
"Enggak Non enggak, saya gak mungkin kurang ajar.Saya hanya berjaga di luar Non" balas Hans merasa serba salah.
Setelah berwudhu Alena segera melaksanakan kewajibannya.
Selesai shalat Alena terus mencari cara lepas dari Hans.
"Gimana caranya ya? lewat pintu lain juga bakal kelihatan" Alena terus celingukan mencari jalan.
Hans sendiri di luar terus menatap Alena dari balik kaca.
Tak sedikitpun yang luput dari pandangannya.
"Alena ayo pikir dong, cara apa yang bisa berhasil" guman Alena seraya membereskan peralatan shalatnya.
Namun karena belum satupun cara yang terpikirkan, membuat Alena pasrah lalu beranjak keluar mesjid.
"Gimana Non sudah selesai?" tanya Hans saat melihat Alena.
Alena hanya mengangguk seraya memain-mainkan jari tangannya.Hingga satu ide terlintas di pikirannya,
"Cincin" Seru Alena.
"Cincin!? ada apa Non?" ucap Hans sedikit terkaget.
"Cincin dari mamah ilang, mungkin lepas.Aduh kalo ketahuan Papah bahaya, gimana dong" Alena pasang muka panik.
"Ya sudah Non saya bantu cari" balas Hans merasa iba.
"Makasih Hans, saya mau minta bantu Pak Damar juga" ucap Alena.
Hans pun mulai menyusuri tempat wudhu.sementara Alena kembali ke parkiran.
Dengan memasang muka sedih Alena mendekati Pak Damar,
"Pak tolong Alena, tolong cariin, cincin Alena hilang di mesjid.Bantu Hans nyari ya, biar cepat ketemu" pinta Alena memohon.
"Eh, baik Non" sahut Pak damar lalu masuk dengan tidak lupa membawa kunci mobil.
"Ish sialan si bapak malah di bawa kuncinya lagi" dumel Alena dalam hati.
Alena akhirnya hanya mengambil dompet juga ponselnya.
Hans sendiri nampak sibuk memeriksa tempat dimana Alena shalat,
"Hans gimana, sudah ketemu belum?" tanya Pak Damar.
__ADS_1
"Belum Pak, tadi sudah saya cari di toilet juga tempat wudhu" sahut Hans seraya terus mencari.
Mendapat jawaban Hans membuat Pak Damar segera membantunya,
"Kayanya bakal sulit nih Hans, belum ketemu juga" ucap Pak damar mulai tak sabar.
"Eh Pak, Non Alena sendiri dimana!?" balas Hans yang sadar Alena tak ada.
"Tadi sih di mobil, tapi kuncinya saya bawa kok jadi gak mungkin kemana-mana" sahut Pak Damar.
"Waduh gawat ini Pak, kayanya kita sudah di kerjai" Hans yang curiga segera memeriksanya.
Benar saja mereka tak menemukan Alena di mobil juga di sekitar mesjid.
"Mati kita Hans, Non Alena benar-benar pergi" ucap Pak Damar begitu kerakutan.
"Apa boleh buat, kita harus segera memberitahu Tn Harry"
Sementara Tn Harry sendiri sedang dalam perjalan kembali ke perusahaannya.Hingga satu panggilan pada Rama membuatnya tak tenang,
"Kenapa Ram, apa ada masalah?"
"Ini dari Hans Pak, Emm mereka, kehilangan Non Alena" sahut Rama memberanikan diri.
"Apaaa! bagaimana bisa mereka kehilangan Alena! saya tak mau tahu cari sampai dapat, kerahkan semua orang untuk mencarinya.Cepat!"
"Baik Pak, saya akan melacak posisi non Alena via ponselnya"
"Cepat lakukan sebelum dia pergi jauh, jangan pulang kalian kalau belum berhasil!" Ancam Tn Harry begitu sungguh-sungguh.
Sementara Alena sendiri tengah bertemu seseorang di parkiran sebuah mini market,
"Alena sebenarnya kamu mau kemana?" ucap Nina.
"Aku cuma mau nenangin diri aja Nin, sebelumnya terima kasih ya bantuannya" balas Alena lalu memeluknya.
"Iya sama-sama Alena, oh iya nih ponsel yang kamu minta plus nomor barunya.Tinggal pake aja" ucap Nina.
"Oh iya, jangan sampai bocorin nomor aku ini kesiapapun ya Nin, aku mohon" pinta Alena.
"Ya udah Nin aku gak bisa lama-lama, aku pergi dulu.Sekali lagi terima kasih"
"Kamu hati-hati di jalan ya, ini kuncinya" ucap Nina penuh perhatian.
Tanpa menunggu lama Alena pun segera pergi.Menuju tempat yang jauh untuk menemukan ketenangan yang ia cari.
Di tempat lain selesai kuliah sore Raffa yang tak berlatih basket langsung menuju rumahnya,
"Hey Boss baru pulang?" Ucap Ferdy.
"Iya nih, mumpung bisa pulang cepet, gue bantu ya" sahut Raffa lalu memakai apronnya.
Bersama Siska juga Darel mereka nampak kompak melayani setiap pelanggan yang datang.Hingga sore pun sudah berganti malam.
"Malam little Bro"
Tanpa di duga Raffa kedatangan Andre juga Ivan.
"Bang Andre ,Bang Ivan" seru Raffa begitu senangnya hingga memeluk keduanya bergantian.
"Fer bikinin yang paling enak dua ya, mari Bang duduk"
Mereka pun lalu duduk satu meja dengan suasana penuh keakraban,
"Gimana, lo suka motornya?" tanya Andre.
"Jujur saya suka Bang, hanya saja itu gak sepadan kalaupun itu untuk mengganti motor saya yang dulu.Saya gak enak menerimanya" Raffa tetap merasa sungkan.
"Terima saja, jujur motor itu sebelumnya punya seseorang yang sudah seperti adik buat gue.Hanya saja dia sudah tidak bisa lagi ngaspal bareng gue" jelas Andre terlihat emosional.
"Motor itu sudah terlalu lama gue simpan, gue merasa pemiliknya pun ingin tunggangannya kembali ke jalanan.Dan gue melihat sosoknya di diri lo" lanjut Andre.
"Untuk itu bocah, sebaiknya lo terima saja gak pake tapi-tapian lagi.Menolak sama aja lo gak ngehormatin kita semua" ucap Ivan menimpali.
Setelah sesaat Raffa berpikir, ia bisa merasakan kesungguhan keduanya.
"Baik kalo begitu Bang, saya terima dan saya akan menjaganya sebaik mungkin" ucap Raffa serius.
__ADS_1
Tiba-tiba suasana itu berubah tegang saat beberapa orang datang.
"Raffa dimana kamu!"
"Pak biar saya yang bicara, saya yakin dia akan bicara jujur"
"Diam kamu Ram, sejak kapan kamu mulai lembek seperti ini"
"Rendra, Jerry tangkap bocah itu!" Perintah Tn Harry dengan emosi.
Dua orang itu pun segera mendekati Raffa dari kanan dan kiri.Membuat Andre juga Ivan Reflek menghadang ke duanya.
"Berani sentuh saudara gue, mati lo!" ancam Andre pada Rendra.
Ivan sendiri menghadang Jerry dengan menahan dadanya untuk tidak berani melangkah lagi.
Tanpa di duga Rendra melayangkan pukulan.Namun dengan cepat Andre menangkis lalu mengirim tendangan ke arah perut.Rendra reflek mengangkat lututnya tuk menangkis, namun tetap terdorong kebelakang.
Begitu juga Ivan berhasil membuat Jerry mundur.Dengan hanya tiga gerakan.
"Berhenti! ada apa ini sebenarnya Om?" ucap Raffa seraya menghampiri Tn Harry.
Beberapa pelanggan yang masih disana memilih membubarkan diri karena ketegangan itu.
"Hei sialan dimana kamu sembunyikan Alena!" ucap Tn Harry seraya mencengkram kerah baju Raffa.
"Alena? kenapa tanya saya Om, bukannya Alena selalu sama Om? sejak pagi itu saya belum pernah bertemu dengannya lagi"
"Jangan bohong kamu! saya tahu kamu pasti dendam sama saya.Iya kan!?"
"Astagfirullah, benar Om silahkan cek ponsel saya.Bahkan saya coba menghubunginya pun tak bisa" balas Raffa seraya menyerahkan ponselnya.
"Cih, jangan pernah kamu mencoba menipu saya anak sialan!" Seru Tn Harry lalu dengan kasarnya membanting ponsel Raffa.
Andre juga Ivan yang terbakar emosinya mencoba merangsek namun Rendra juga Jerry menahannya,
"Cukup sudah saya bersabar, seperti inikah sikap Harry Reza Adhitama terhormat yang sebenarnya" ucap Raffa sedikit sinis seraya menepis tangan Tn Harry.
"Berani kamu ya" sahut Tn Harry sedikit terkejut oleh sikap Raffa.
"Mas Rama hukuman apa saja untuk seseorang yang membuat kekacauan di tambah membuat tuduhan tanpa dasar" ucap Raffa dengan begitu berani menatap langsung Tn Harry.
"Pak, sebaiknya biar saya yang bicara dengannya" selesai berucap Rama mengajak Raffa duduk.
"Al maaf atas kedatangan kami yang kurang baik.Apa kamu tahu keberadaan Alena? Alena sepertinya melarikan diri" ucap Rama menjelaskan.
"Apa! Alena kabur maksud Mas Rama!?" Raffa begitu terkejut mendengarnya.
"Dugaan kami sih sepertinya begitu, apa kamu tahu sesuatu?"
"Mas Rama, Tn Harry demi Allah saya tidak tahu dimana Alena.Saya sangat menghormati Alena jadi tak mungkin saya melakukan hal buruk padanya" sahut Raffa.
"Cih, pembual" Tn Harry masih tak percaya.
"Saya janji dengan atau tanpa izin Tn Harry saya akan bantu mencari Alena semampu saya" ucap Raffa tegas.
"Baik Al ,terima kasih penjelasannya.Sepertinya kamu bisa di percaya" ucap Rama seakan menegaskan.
Selesai berucap Rama lalu nampak berbisik pada Tn Harry.
Akhirnya Tn Harry dapat menerima penjelasannya,
"Ingat satu hal Raffa, jika Alena kenapa-napa itu salah kamu!" ucap Tn Harry seraya berlalu meninggalkan tempat itu di ikuti orang-orang kepercayaannya.
Sementara Raffa sendiri nampak diam termenung, mencoba memahami semuanya,
"Sebenarnya kamu kemana Alena, tolong kamu pulang, jangan bikin semua khawatir" guman Raffa dalam hatinya
Andre juga Ivan hanya bisa menghibur Raffa sebisa mereka.
[ Bersambung ]
Kemanakah sebenarnya Alena pergi?
Apkah Raffa bisa menemukannya, hingga tak selalu di salahkan?
See u soon 😁
__ADS_1