
Di sebuah ruang yang sedikit gelap juga berdebu kesadarannya sedikit demi sedikit mulai kembali.Tatapan buramnya mencoba terus menelisik setiap sudut ruangan.
"Emhhhhhh" rintih Raffa seraya menggelengkan kepalanya.
Setelah rasa pusingnya mereda Raffa mencoba menggerakan tangannya namun tak bisa.Hingga ia pun sadar dirinya terikat kuat pada kursi yang ia duduki.
"Sial, kenapa gue bisa sebego ini sih" guman Raffa.
Tiba-tiba Raffa di kagetkan oleh suara pintu yang terbuka lalu masuk beberapa orang dengan penutup muka.
"Hahaha sudah puas tidurnya anak kecil!?" ucap orang yang berdiri di depan Raffa.
"Hahaha bikin tidur lagi aja brad" sahut orang yang bertubuh kurus.
"Harus kita apakan sekarang ni sampah?" ucap yang lain seraya memutar-mutar tongkat baseballnya.
Sementara satu orang lagi hanya berjaga di belakang Raffa.Menatap dingin dengan tangan terlipat di dada.
"Siapa lo semua!? kenapa lo semua nyekap gue!?" tanya Raffa begitu penasaran.
"Lo gak perlu tahu semua itu, cukup lo tahu lo telah berurusan dengan orang yang salah!"
"Gue gak pernah punya urusan sama siapapun, lo pasti salah orang!" seru Raffa menegaskan.
"Haha lo kira kita ini badut yang bisa salah orang, lebih baik lo simpan tenaga lo, malam ini bakal panjang bocah!" seru orang itu seraya menjambak Raffa dengan kasar.
"Kalau lo laki-laki, lepasin gue! kita bertarung satu-satu! kecuali lo penakut!" ucap Raffa penuh penegasan.
"Haha punya nyali juga dia brader, pantas saja lo berani cari masalah" ucap si kurus seraya tertawa renyah.
"Heh! sabar bocah, hadiah buat lo akan segera datang, sebaiknya lo siapin diri lo dari sekarang" ucap orang yang sepertinya paling berkuasa di antara mereka.
"Siapa lo semua! lepasin gue bangsat! gue gak pernah punya urusan sama lo semua, lepasin gue sialan!" teriak Raffa seraya terus meronta berusaha melepaskan diri.
"Plaaaaakkh" satu tamparan keras mendarat di pipinya.
"Hoekh, cuhhhh!" Raffa meludah seraya tersenyum meledek.
"Bungkam mulutnya!" ucapnya lalu terlihat menghubungi seseorang.
"Hei pengecut, hadapi gue kalo lo laki-laki bangsat, Lep ... hmmp, ngggg, huuump" ucapan Raffa terpotong dan semakin tak jelas saat dua orang menutup mulutnya menggunakan lakban.
"Hallo Boss, sesuai perintah sasaran sudah kita dapatkan, perintah selanjutnya Boss?" ucap yang sepertinya ketua mereka.
"Haha kerja bagus, gak sia-sia gue bayar kalian.Sesuai rencana kasih dia pelajaran karena sudah berani macam-macam dengan orang yang salah!"
"Baik Boss, kami siap menunggu perintah"
"Ingat! bikin dia hidup segan mati tak mau.Gue mau dia merasakan kehancuran yang gak akan pernah bisa ia lupakan!"
"Siap Boss, tepat tengah malam kita semua akan lakukan sesuai rencana sebelumnya" balasnya lalu kembali menatap Raffa.
"Hehe tunggulah sebentar lagi bocah, hadiah besar menanti lo" selesai berucap mereka pun keluar meninggalkan Raffa terkunci.
Sementara itu tanpa Raffa sadari, di kota nan jauh di sana Alena tampak begitu bahagia, merasakan kembali bagai mana sebuah keluarga yang utuh.
"Hari ini Alena seneng banget bisa jalan bareng mamah, papah juga Nita" ucap Alena seraya menaruh bawaannya lalu menghempaskan tubuhnya pada sofa.
"Iya Nita juga seneng, apa lagi sekarang Nita jadi punya HP baru, bagus lagi" sahut Nita seraya terus memainkannya.
"Tapi ingat Nita, tetap rajin belajar, jangan sampai lupa waktu mainin HP terus" ucap Ibu Aisyah seraya mengusap kepalanya dengan lembut.
"Iya Bu, Nita janji gak akan lupa waktu" sahut Nita lalu masuk ke kamarnya.
"Sayang nanti-nanti jangan biasain Nita di manjain dengan barang mahal seperti itu ya, takut jadi kebiasaan" ucap Ibu Aisyah seraya tersenyum.
"Iya maaf Mah, Alena cuma gak tega lihat Nita pake HP lama, semoga aja yang baru bisa membantu Nita belajar juga" sahut Alena.
"Mudah-mudahan begitu, terima kasih ya sayang" ucap Ibu Aisyah seraya meraih tangan Alena.
Alena membalasnya dengan anggukan lalu kembali berkata,
"Nanti kita pergi sama-sama lagi ya mah atau mungkin liburan bersama kaya ke pantai misalnya, pasti seru, mau ya Mah?" ucap Alena begitu antusias.
__ADS_1
Ucapan Alena sedikit membuat Ibu Aisyah terkejut lalu termenung tanpa bisa berkata apapun.
"Kenapa Mah kok bengong? Mamah gak mau ya?" tanya Alena terlihat kecewa.
"Bukan begitu sayang, jujur mamah merasa gak enak sama papah kamu" balas Ibu Aisyah.
"Gak enak gimana Mah? papah pasti gak keberatan kok, malah papah sendiri yang bilang kapan-kapan ingin pergi bersama lagi" ucap Alena penuh harap.
"Bukan begitu sayang, masa kamu gak ngerti kondisi mamah sama papah kamu itu seperti apa, kamu mau kita ini jadi bahan pergunjingan orang?" ucap Ibu Aisyah menjelaskan.
"Huft, emang selalu gitu ya Mah?" keluh Alena terlihat kesal.
"Ya nggak juga sih sayang, cuma alangkah lebih baiknya jika kita menjaga diri sendiri dari fitnah" ucap Ibu Aisyah seraya membawa Alena ke dalam dekapannya.
"Hemmmh, masa mau liburan aja mesti nunggu mamah sama papah resmi sih" seloroh Alena tanpa sadar.
Sontak ucapan Alena membuat Ibu Aisyah terhenyak, hingga menghentikan usapannya pada Alena lalu membenarkan posisi duduknya.
"Eh Mamah maaf, ucapan Alena keterlaluan ya?" ucap Alena saat tersadar perkataannya bisa bermakna mendalam.
"Hmmmp, gak apa-apa kok sayang, tapi semoga aja kamu mengerti kalau misal mamah gak bisa mengabulkan keinginan kamu" ucap Ibu Aisyah tertunduk tanpa sanggup menatap Alena.
"Alena minta maaf Mah, Alena cuma mau kita pergi bersama saja kok, gak memaksa mamah untuk memutuskan semua itu" sahut Alena merasa tak enak hati.
"Iya gak apa-apa sayang lupakan saja ya, sebaiknya kita istirahat, sudah malam" ucap Ibu Aisyah kembali tersenyum.
"Alena tidur sama mamah lagi, boleh ya?" pinta Alena begitu memohon.
"Emmmh dah gede masih manja, ya udah boleh kok" balas Ibu Aisyah seraya mencubit pipi Alena.
"Biarin, manja sama mamah sendiri ini hehe" ucap Alena lalu dengan cepat beranjak menuju kamar Ibu Aisyah.
Ibu Aisyah hanya tersenyum seraya geleng-geleng.Namun tiba-tiba ia teringat putra kesayangannya, entah mengapa perasaannya mulai tak enak.
"Ya Allah ku mohon lindungi putraku dari orang-orang yang membawa keburukan dan selamatkanlah dari segala marabahaya" Do'a Ibu Aisyah dalam hati.
Sementara di tempat lain tepat tengah malam, Raffa terbangun saat beberapa orang masuk dengan suara makian yang tanpa henti.
"Haha enak tidur dia Brad"
Tiba-tiba salah seorang menarik meja lalu menyalakan sebuah laptop di hadapan Raffa.
"Buka penutup mulutnya, gue pengen denger nyanyiannya saat dia lihat hadiah dari Boss kita"
Orang yang berdiri di samping Raffa lalu menarik penutup mulutnya dengan kasar.
"Akhhhhh!" pekik Raffa saat merasakan perih di sekitar mulutnya.
"Lo cukup diam dan nikmati pertunjukan ini bocah haha" dengan tawa jahatnya lalu ia menekan tombol play.
"Lo pasti tahu betul tempat ini kan bocah hahaha" ucapnya seraya menghubungi seseorang lewat ponselnya.
Nafas Raffa mulai memburu bersamaan dengan amarahnya yang semakin naik.
"Brengsek! apa maksud semua ini, apa yang mau lo semua lakukan pada rumah dan kedai gue bedebah!" teriak Raffa.
"Haha, hallo geng hancurkan!" perintahnya.
Tak lama rekaman live itu memperlihatkan sekumpulan orang dengan berbagai senjata mulai merusak rumah sekaligus kedai kopinya.
"Hentikan! jangan hancurkan rumah gue! hentikan brengsek! tidakkkkkkkkkk!" teriak Raffa begitu menyayat hati saat melihat rumahnya di hancurkan.
"Haha nyanyian yang merdu, lo suka hadiahnya kan!?" sindir orang itu begitu puas.
"Bangsat hentikan semua itu! hentikan! tolong hentikan! jangannnnn rusak rumah itu, hentikannnnnnnnnn!" jerit Raffa dengan air mata yang bercucuran.
"Hentikaaaaaaann! tidakkkkkkk!
jangan teruskaann! tidak jangan hancurkan rumah itu, gue mohon hentikaaaann" ucap Raffa terisak.
Selang beberapa lamanya rumah dan kedai Raffa benar-benar hancur.Kursi, meja, peralatan dan perlengkapan kopi dan rumah, kaca, tak tersisa sedikitpun.
"Haha lihat akibatnya karena lo berani mengusik orang yang salah!" ucapnya seraya menjambak Raffa lalu menyeretnya lebih dekat pada laptop tersebut.
__ADS_1
"Rumahku, hiks Ayah, rumah Ayah, hiks maafkan Raffa Ayah hiks" Raffa semakin terisak.
Namun tiba-tiba Raffa meronta sekuat tenaga seraya berteriak penuh ancaman layaknya orang hilang akal,
"Ahhhhhhhhh bajingan gue bunuh lo semua! akan gue balas, siapapun lo di jamin mati di tangan gue hahaha!" Ancam Raffa lalu tertawa begitu menggidigkan.
"Wah Brad, dia jadi gila" ucap si kurus sedikit terkejut.
"Haha lo semua gak bakal hidup tenang! kemanapun lo sembunyi gue pasti nemuin kalian hahaha!" Teriak Raffa seraya terus meronta.
"Diam lo bocah!" ucap orang di depannya seraya melayangkan pukulan.
"Bughhhhh!" Raffa pun terjatuh dengan pipinya memerah.
"Bangun lo brengsek, lo yang terancam di sini sialan!" serunya seraya melayangkan tendangan membuat Raffa jatuh terseret.
Dua orang kembali mendirikan Raffa tanpa mereka sadari ikatannya melonggar.
Tanpa pikir panjang dalam posisi duduk Raffa melompat kebelakang.
"Brughhhhh!" kursi patah di beberapa bagian.
Sesuai harapan ikatannya pun terlepas, beruntung ikatannya hanya berupa lilitan tanpa banyak simpul ikatan.
Tanpa pikir panjang Raffa meraih potongan besar kursi lalu memukulkan pada orang di belakang dan di samping kanannya.
Tak berhenti di situ ia lalu melemparnya pada si kurus tepat di dahinya.Raffa berbalik lalu mengangkat meja dan menubrukannya pada orang terakhir.
"Brengsek jangan kabur lo!"
"Lo kira bisa kabur dari sini!"
Tanpa perduli Raffa segera berlari keluar dari ruangan itu.Namun beberapa orang di luar langsung memburunya.
Sadar tak mungkin meladeninya Raffa berlari ke arah lain.Saat tak menemukan jalan keluar Raffa nekat melompat melalui jendela tanpa kaca.
"Ahhhhhh!" seru Raffa saat jatuh bergulingan.
Sebisanya ia merubah posisinya menjadi setengah berjongkok.Hingga akhirnya ia berhenti di tanah yang agak datar.
"Ehhhh, mesti kemana gue sekarang, ya Allah" ucap Raffa tak tahu arah menatap kosong dalam kegelapan.
Tiba tiba sebuah motor trail datang mendekat membuat Raffa terkejut lalu berusaha berlari.
"Ya ampun" guman Raffa yang sudah kehabisan tenaga.
Dengan tertatih Raffa berusaha berlari hingga ia menemukan jalanan.Belum sempat ia kembali berlari, satu motor trail tadi menerobos dan berusaha menabraknya.
"Frooommmm!"
Sadar suara motor di belakangnya Raffa segera menghidar namun tanpa di duga dari arah jalanan tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mengincarnya.
"Akkhhhhh!" teriak Raffa walau sempat melompat namun karena terlalu dekat, tubuhnya pun tertabrak dan bergulingan hingga ke atas atap mobil jenis sedan tersebut.
Benturan tersebut membuat Raffa tak sadarkan diri dengan banyak darah di sekitar wajah, tangan juga kakinya.
"Goblok banget lo, si Boss bilang jangan sampai mati itu bocah"
"Maaf Brader, habis tu bocah bikin jidat gue bocor" sahut si kurus.
"Ya udah sekarang baiknya gimana bang?" tanya seorang lainnya.
"Kepalang basah buang saja jasadnya ke kebun atau sungai di bawah sana tuh.Nanti biar gue yang ngomong sama si Boss"
Tanpa buang waktu dua orang menggotong Raffa lalu melemparnya ke arah pepohonan yang cukup curam.
"Cabut gengs!" perintah orang yang memakai motor.
Mereka pun langsung kabur tanpa memperdulikan nasib Raffa yang entah akan seperti apa.
[ Bersambung ]
😖 Stay tuned gess , biar tahu nasib Bang Raffa selanjutnya.
__ADS_1