
Malam hari di kediaman keluarga Adrean suasana berubah tegang saat Tn Hernand pulang dengan wajah nampak begitu serius.
"Aurel! Aurel!" panggil Tn Hernand lalu menghempaskan tas kerjanya ke sofa.
"Ada apa sih pih!? pulang kerja kok tegang gitu?" ucap Ny Ariana nampak terkejut.
"Mana Aurel!? Papi ingin bicara padanya! berani-beraninya dia ngelawan Papinya sendiri" ucap Tn Hernand terlihat emosi.
"Iya Pih ada apa manggil Aurel?" balas Aurel terlihat cemas.
"Sini kamu! Papi mau bicara!" ucap Tn Hernand.
"Iya iya Pih ini Aurel turun" balas Aurel dengan perasaan makin tak enak.
"Jelaskan sama Papi apa maksud semua ini!?" ucap Tn Hernand seraya menghempaskan beberapa lembar foto ke meja.
"I, ini!? dari mana Papi dapat semua foto ini!?" balas Aurel begitu terkejut.
"Gak penting Papi dapat dari mana! yang jadi masalahnya kenapa kamu masih saja berhubungan dengan anak ini!?" ucap Tn Hernand mencoba menahan emosinya.
"Emang kenapa sih Pih!? kenapa Papi harus larang Aurel untuk dekat sama Raffa!?" balas Aurel.
"Masih nanya kenapa lagi, kamu lupa kamu sampai celaka gara-gara dia!" ucap Tn Hernand menekankan.
"Itu lagi yang Papi bahas, kejadian itu sudah lalu Pih, lagian Aurel baik-baik saja kan!?" balas Aurel membela diri seraya melipat tangannya di dada.
"Kamu lihat hasilnya, sejak kenal anak gak tahu diri itu kamu mulai berani sama Papi!" ucap Tn Hernand terlihat kecewa.
"Udah Pih, Aurel, kenapa mesti pada ribut sih? semua bisa di bicarakan baik-baik kan?" ucap Ny Ariana mencoba menengahi.
"Diam kamu Mih, anak ini harus di kasih pelajaran biar tahu diri dan gak ngelawan sama orang tua!" balas Tn Hernand tetap pada pendiriannya.
"Aurel, kalau kamu masih menganggap Papi ini orang tua kamu!? tinggalin anak itu dan jangan pernah berhubungan lagi dengannya, ngerti kamu!" ucap Tn Hernand menekankan.
"Aurel bukan anak kecil lagi yang harus Papi kekang seperti itu, Aurel tahu mana yang terbaik buat diri Aurel" balas Aurel seraya beranjak pergi.
"Aurel! berhenti Papi belum selesai!"
Namun Aurel terus berlalu tanpa menghiraukan Papinya.
"Aurel Anastacya berhenti atau jangan pernah anggap Papi ini Papi kamu lagi!" ancam Tn Hernand naik pintam.
"Maksud Papi apa ngomong kaya gitu!? segitu gak sukanya Aurel dekat sama Raffa, kenapa Pih kenapa!?"
"Kenapa sih Papi gak pernah ngerti perasaan Aurel! Aurel bahagia sama Raffa, harusnya Papi bisa kasih kesempatan Raffa membuktikan kalau dia gak seburuk yang Papi kira" ucap Aurel bersikukuh pada pendiriannya.
"Karena Papi gak suka kamu dekat sama orang gak jelas asal usulnya di tambah orang cacat seperti itu! ngerti kamu!" ucap Tn Hernand setengah berteriak.
"Apa cacat!?" pekik Ny Ariana lalu memperhatikan foto foto Raffa yang hanya memiliki satu tangan.
"Asal Papi tahu apapun kondisi Raffa, buat Aurel dia orang paling sempurna yang pernah Aurel kenal, sampai kapanpun Aurel gak akan berhenti menyayanginya!" ucap Aurel menegaskan.
"Aurel! kamu mau bikin Papi malu! mau di taruh di mana muka Papi saat semua orang tahu Anak Hernand Adrean berhubungan dengan orang miskin juga cacat! kamu tega melakukan semua itu hah!"
"Maaf Pih Aurel gak bisa jauh dari Raffa, karena Raffa sudah jadi alasan dan semangat untuk menjalani setiap hari Aurel" ucap Aurel seraya meneteskan air matanya.
"Aurel! kalau kamu masih tinggal di rumah Papi turuti semua perintah Papi! kalau masih berani bantah jangan pernah anggap Papi keluarga kamu lagi!" ancam Tn Hernand
"Pih! nyebut Pih!" seru Ny Ariana mencoba menyadarkan suaminya.
"Baik kalau itu mau Papi!" balas Aurel lalu masuk ke kamarnya.
"Pih!? segitunya sama anak sendiri, Mami benar-benar gak nyangka Papi bisa berkata seperti itu" ucap Ny Ariana nampak kecewa.
"Mih! kamu gak lihat anakmu itu sudah berani sama orang tuanya sendiri! kita harus tegas sama anak yang susah di atur seperti itu!" balas Tn Hernand berkeras hati.
__ADS_1
Tak lama Aurel kembali turun dari kamarnya dengan membawa sebuah tas berisi pakaian.
"Aurel, kamu mau kemana Nak? ini sudah malam, kamu jangan masukin hati ucapan Papimu itu, Papimu gak sunguh-sungguh" ucap Ny Arina terlihat cemas.
"Maaf Mih ini sudah jadi keputusan Aurel dan Papi sudah mengatakannya dengan jelas"
"Sudah Mih, kita lihat seberapa lama anak keras kepala ini bertahan" ucap Tn Hernand seakan tak perduli.
"Ini kunci mobil, ini kartu kredit dan kartu atm punya Papi, Aurel gak butuh semuanya!" ucap Aurel seraya menaruh semuanya di meja.
"Aurel tolong kamu jangan nekat, minta maaf sama Papi dan jangan pergi sayang" ucap Ny Ariana begitu memohon.
"Mami tenang aja, Aurel pasti baik-baik saja.Aurel pamit selamat malam" pamit Aurel lalu melangkah pergi.
"Aurel! jangan pergi Nak! Aurel Mami mohon.Pih kenapa kamu setega ini Pih!?" ucap Ny Ariana seraya terisak.
"Mih!? Kakak mau kemana Mih?" Cella yang sedari tadi menguping akhirnya memberanikan diri keluar.
"Cella!?" balas Ny Ariana tanpa bisa berkata apapun selain memeluk putri bungsunya itu.
Sementara Tn Hernand hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa.Namun di hatinya Rasa khawatir terus mengusiknya.
Sementara di tempat lain situasi tegang juga di rasakan Raffa dan Rama.Beberapa fakta baru yang terungkap membuat mereka semakin tak tenang.
"Mr.Venom lagi yang di sebut! sepengecut itukah orang ini! beraninya sembunyi-sembunyi!" ucap Raffa begitu geram.
"Artinya semua masalah kamu di akibatkan oleh satu orang.Itu berita baik, maksudnya musuh kamu hanya satu saja" balas Rama melihat sisi baiknya.
"Selama saya di Ibu Kota tak banyak yang saya kenal, kalaupun ada masalah, bisa di hitung dengan jari.Dengan SR, Tn Harry, Leon!?" ucap Raffa tak habis pikir.
"Apa mungkin Leon!? apa iya dia sampai senekat itu ingin melenyapkan saya hanya karena hal kecil!?" lanjut Raffa berspekulasi.
"Mungkin saja, secara dia punya backup power yang cukup selain uang, kita hanya perlu bukti kuat saja" balas Rama beropini.
"Apa Mas gak bisa menghubunginya!?" ucap Raffa juga penasaran.
"Mas sudah kirim pesan padanya tapi belum dia balas, sepertinya dia dalam masalah" balas Rama terlihat cemas.
Tanpa Rama sadari kondisi Violet sangat memprihatinkan.Orang suruhan Leon berhasil menangkapnya.
"Keras juga ni cewek! Siapa lo sebenarnya, jawab! plaakkk!" seru orang itu seraya menampar Violet.
"Saya Mely seorang mahasiswi, hanya mau ngemodif mobil" balas Violet setengah mengguman.
"Jangan bohong lo jalangg! cepat katakan siapa lo dan mau apa lo ngendap-ngendap ke bengkel!" bentak orang itu lagi seraya menjambak lalu menamparnya berkali-kali.
"Saya mely seorang mahasiswi, hanya mau ngemodif mobil" Violet kembali berucap hal yang sama seraya menahan sakit di wajahnya.
"Bosan hidup ni cewek! bughh! plaakh!" serunya makin kalap lalu memukul perut di susul tamparan tepat di pipi Violet.
"Hemmpp! akhhhhh!" pekik Violet langsung lunglai.
"Masih belum mau bicara lo! siapa lo sebenarnya sialan!" ucap orang itu lalu meraih stun gun.
"Eeeekkkkkkkkhhhhhh" jerit Violet saat sengatan stun gun itu mengenainya.
"Brengsek! malah pingsan!" ucapnya lalu menghempaskan kepala Violet dengan kasar.
"Beritahu si Boss, kita tak dapat info apapun dari cewek sialan ini!" ucapnya begitu frustasi.
Tak lama setelah rekannya keluar seseorang masuk.Dengan raut wajah dingin ia menatap Violet dan orang di sekitarnya.
"Mr.Venom" ucap kedua orang yang berada di dalam memberi hormat.
"Jangan sebut nama itu di sini, kita sedang ada tamu!" ucapnya menyeringai.
__ADS_1
"Maaf Boss" keduanya kembali memberi hormat.
"Apa yang kalian dapat!" tanyanya.
"Dia hanya terus berkata namanya Mely, mahasiswi yang mau ngemodif mobilnya.Ini identitas yang kita dapatkan juga ini HP nya" balas salah seorang bawahannya tersebut.
"Ambil air cepat! siram orang ini!" perintahnya.
Tanpa menunggu lama salah seorang segera mengambil air lalu menyiram Violet.
"Heemhhh" lirih Violet tak berdaya.
Orang yang di panggil Mr.Venom pun lalu mencengkram wajah Violet.
"Siapa lo brengsek! kenapa lo mata-matain gue hah!" bentak Mr.Venom begitu sinis.
"Emhhh, Mel, ly, ma ... siswi, mo ... dif" Violet kembali terkulai.
"Brengsek! setrum dia!" perintah Mr.Venom terlihat murka.
Lagi-lagi sengatan dari stun gun menyengatnya, membuat Violet melonjak-lonjak tanpa mampu bersuara lalu tak lama tubuhnya pun melemas.
"Gak berguna! buang dia di tempat aman! cuma buang waktu saja!" teriak Mr.Venom meluapkan amarahnya.
"Le ... , kena juga kau sialan, gue har ... " guman Violet lalu benar-benar tak sadarkan diri.
Kembali ke kediaman Rama, nampak kedua orang yang begitu cemas.Beberapa kali Rama menghubungi Violet tapi tak berhasil.
"Sial! sepertinya benar-benar telah terjadi sesuatu pada Violet!" seru Rama nampak mulai frustasi.
"Apa Mas tidak tahu kemana Violet pergi!?" tanya Raffa.
"Violet biasa melaporkan gerak geriknya tanpa harus di minta.Mas harus cek lokasi terakhirnya di mana" balas Rama.
Belum juga rasa cemas Raffa mereda tiba-tiba ponselnya berdering mengejutkannya.
"Assalamualaikum" ucap Raffa.
"Waalaikumsalam, hiks sayang kamu bisa jemput aku gak? Papi ngusir aku" balas Aurel seraya terisak.
Sontak Raffa makin terkejut di buatnya,
"Apa!? beneran begitu sayang!? sekarang kamu di mana?" tanya Raffa begitu panik.
"Hiks, aku sekarang di mini market gak jauh dari rumah, kamu cepat jemput aku ya, aku gak tahu harus pergi kemana" balas Aurel tak henti hentinya terisak.
"Baik kamu tunggu sebentar ya sayang, aku segera ke sana!" ucap Raffa.
"Mas maaf saya boleh pinjam mobil yang biasa Violet pakai? Aurel di usir dari rumahnya" pinta Raffa penuh harap.
"Apa!? di usir!? ada-ada saja.Kamu pakai saja, Violet biasa membiarkan kuncinya di dalam mobil kalau di rumah" balas Rama yang terlihat sibuk dengan ponsel juga laptopnya.
Dengan tergesa-gesa Raffa segera berangkat untuk menjemput Aurel.Tak butuh lama ia pun sampai.
"Sayang!" seru Aurel saat sang penakluk hatinya datang.
"Kamu gak apa-apakan!? mari sayang sebaiknya kita cari tempat untukmu beristirahat" balas Raffa lalu menuntun Aurel ke mobilnya.
Raffa kembali menjalankan mobilnya dengan satu tangan lain terus membelai kepala Aurel untuk menenangkannya.
"Kemana aku harus membawanya ya, tak mungkin aku bawa ke tempat Mas Rama, terlalu beresiko Aurel terlibat hal yang lain" guman Raffa terus berpikir keras.
"Apa harus aku minta bantuan Tn Harry!?"
[[ Bersambung ]]
__ADS_1