Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
57.Dua Keluarga Yang Berbeda


__ADS_3

Setelah beberapa saat lamanya, Tn Harry pun nampak sudah mampu menguasai kesadarannya.


"Pah? Papah baik-baik sajakan?" tanya Alena terlihat khawatir.


"Alena? Papah baik hanya sedikit pusing saja.Sofia!" tiba-tiba Tn Harry menegakan badannya terlihat mencari seseorang.


Dengan begitu jelas ia melihat wanita berhijab dengan aura kecantikan yang masih begitu terpancar.Mata indahnya begitu membuatnya terhipnotis.


Tn Harry kembali merasakan gejolak hati yang benar-benar tak bisa ia lukiskan.Saat tatapan mereka bertemu begitu dekat.


"Sofia?" lirih Tn Harry lalu mengusap-usap wajahnya.


Ibu Aisyah sedikit kebingungan melihat Tn Harry memanggil nama seseorang saat melihatnya,


"Maaf Tuan, kalau yang Anda maksud itu saya Anda salah orang, saya bukan Sofia"


Setelah menarik nafas panjang dan menenangkan dirinya Tn Harry kembali membuka suaranya,


"Maaf atas kelancangan saya, kalau saya boleh tahu Ibu ini siapa?" tanya Tn Harry begitu tak percaya.


"Perkenalkan nama saya Aisyah Ibu dari Raffa" sahut Ibu Aisyah seraya mengatupkan kedua tangannya.


Jawaban Ibu Aisyah membuat Tn Harry tiba-tiba merasa tak enak hati.Ia melirik Raffa yang tak jauh duduk menyandar dengan terus membuang wajahnya.


"Apa yang telah aku lakukan, ya ampun apa saya telah salah langkah" guman Tn Harry merasakan firasat tak enak.


"Anda sendiri apa Papahnya Alena?" tanya Ibu Aisyah tak mau berlama-lama.


"Maaf, iya saya Harry Papahnya Alena" sahut Tn Harry.


"Baik kalau begitu, bisa kita bicara sekarang? tapi sebelumnya bisakah yang tidak berkepentingan untuk menunggu di luar?" ucap Bu Aisyah melirik dua pengawal juga Rama.


Tn Harry yang mengerti lalu memberi kode pada dua pengawalnya,


"Maaf untuk Rama, ia sudah seperti keluarga, ia tahu semua tentang saya" ucap Tn Harry mencoba memberi pengertian.


"Heh, keluarga" celetuk Raffa dengan begitu sinis.


Membuat semua orang berpaling padanya yang kini terlihat duduk membelakangi mereka.


"Al duduk sini, kita bicara dan selesaikan permasalahan ini" ucap Ibu Aisyah dengan lembut.


"Bicara gak ada gunanya sepertinya Bu, belakangan ini Al di ajarkan orang berkuasa dengan kekerasan untuk menyelesaikan masalah" ucap Raffa semakin menekankan sindirannya.


Jelas saja perkataan Raffa mengejutkan semua orang terutama Tn Harry, ia tahu betul ucapan itu tertuju padanya.


"Lalu apa Ibu mengajarkan hal yang sama padamu?" ucap Ibu Aisyah mencoba mendinginkan emosinya.


"Tidak Bu, maaf" balas Raffa lalu duduk di sebelah ibunya.


"Baik Tn Harry langsung saja.Alena sudah cerita semuanya, saya mengerti kekecewaan Anda tapi alangkah baiknya kita dengar dulu penjelasan mereka.Alena ceritakan semuanya nak" ucap Ibu Aisyah.


Setelah mengangguk Alena segera menceritakan semuanya.Mulai dari rencana pura-puranya hingga pergi melarikan diri ke rumah Ibu Aisyah.


"Jadi Pah Alena mohon, berhenti menyalahkan Raffa, sejak awal Alena yang memintanya.Dan kepergian Alena pun karena Alena tak tahan dengan sikap Papah"


"Alena pergi ke rumah Mamah Aisyah, karena hanya itu pilihan Alena untuk dapat menenangkan diri.Bersyukurnya Alena di terima dengan baik, bahkan merasa kembali memiliki Mamah yang menyayangi Alena" ucapnya tersenyum seraya menatap Ibu Aisyah penuh bahagia.


Ucapan Alena membuat semua orang menatapnya.Begitupun Raffa yang masih belum bisa mengerti, apa yang membuat Alena seperti itu dalam waktu singkat.


Berbeda dengan Tn Harry yang merasa semua tindakannya menjadi bumerang untuknya.


"Nah Tn Harry, semoga Anda bisa menerima penjelasan Alena dan sebagai Ibunda Raffa saya mohon maaf bila anak saya sudah melakukan kesalahan yang membuat anda tersinggung.Mohon Anda memaafkannya" ucap Ibu Aisyah seraya tersenyum ikhlas.


"Jujur saya merasa malu Bu, rasa kecewa dan ketakutan saya sudah membutakan hati saya.Seharusnya saya yang meminta maaf, terutama sama kamu Raffa"


Raffa yang sudah kehilangan rasa hormatnya diam berpura-pura tak mendengarnya.


Tn Harry lalu tersenyum pedih melihat reaksi Raffa, ia memaklumi rasa kecewa akibat semua perlakuannya selama ini.

__ADS_1


"Raffa Om sungguh bersalah, semoga kamu mau memaklumi rasa ketakutan Om dan memaafkan Om" ucap Tn Harry penuh harap.


"Heh, kenapa baru sekarang? kemarin-kemarin Tuan kemana saja!?" ucap Raffa lalu tersenyum pahit seraya memalingkan wajahnya.


"Raffa!?" lirih Alena lalu menatapnya penuh tanya.


"Al, tak baik menyimpan dendam seperti itu.Ayo sayang bukankah kamu ingin semua masalah ini selesai?" ucap Ibu Aisyah.


"Benar Bu, Al sudah menganggap semuanya selesai.Namun tak berarti Al akan menghormati Tuan ini seperti sebelumnya" ucap Raffa lalu beranjak pergi.


"Raffa Alfajrian!" seru Ibu Aisyah.


Seruan Ibu Aisyah seketika menghentikan langkahnya.Raffa tahu betul jika Ibunya sudah memanggil dengan nama panjangnya.


"Ayo minta maaf" ucap Ibu Aisyah penuh penekanan.


"Sudah Bu jangan menekannya terus saya bisa mengerti, saya yang salah sudah melakukan banyak hal buruk padanya" ucap Tn Harry merasa menyesal.


Sementara Raffa sendiri yang terlihat malas kembali duduk bersama.Sikapnya pun tak luput dari perhatian Alena juga Rama.


"Apapun yang telah papah lakukan semoga kamu benar-benar memaafkannya Al" guman Alena penuh harap.


Rama sendiri hanya menghela nafas, ia begitu mengerti dan tak menyalahkan sikapnya itu.


"Raffa, sekali lagi Om minta maaf atas semuanya, Om mengerti jika kamu belum bisa memaafkan, tapi Om sangat berharap kita tetap bisa berhubungan baik" ucap Tn Harry dengan tulus.


Raffa sendiri hanya terdiam hingga usapan lembut Ibu Aisyah menyadarkannya.Sesaat setelah menatap ibunya Raffa kembali buka suara,


"Saya juga minta Maaf atas semua kesalahan saya, saya pun sudah memaafkan Tuan tapi maaf jika saya tidak bisa seperti sebelumnya" ucap Raffa lalu menatap ibunya dengan tatapan memohon pengertian.


"Tn Harry semoga bisa memaafkan putra saya dan juga memakluminya.Saya harap tak ada lagi masalah, apa mungkin bisa kita anggap permasalahan ini selesai?" ucap Ibu Aisyah.


"Saya rasa begitu Bu, semuanya sudah saya anggap selesai.Kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum.Mari Alena kita pulang" ucap Tn Harry.


"Waalaikumsalam" balas Ibu dan Raffa.


"Alena ayo, jangan terus merepotkan Ibu Aisyah, biarkan Ibu Aisyah beristirahat" ucap Tn Harry merasa sungkan.


Alena yang meragu akhirnya berjalan mengikuti papahnya, namun saat di ambang pintu Alena kembali berlari,


"Mamah!" Alena pun dengan segera memeluk Ibu Aisyah dengan air mata mulai menetes.


"Kenapa lagi sayang? harusnya kamu senang sudah bisa kembali pulang" ucap Ibu Aisyah seraya mengecup kepalanya.


Tn Harry begitu tersentuh melihat bagaimana perlakuan hangat Ibu Aisyah pada Alena, tapi di sisi lain itu pun membuatnya makin merasa bersalah.


"Mamah ikut pulang sama Alena ya? Alena ingin ada Mamah di rumah walau untuk satu hari" pinta Alena begitu memohon.


"Alena sudah Papah bilang jangan terus merepotkan Ibu Aisyah Nak" ucap Tn Harry coba memberi pengertian.


"Tapi sayang, Mamah ... " Ibu Aisyah meragu karena khawatir akan fitnah.


"Alena mohon satu hari saja, sebelum Mamah benar-benar pulang" rengek Alena dalam tangisnya.


"Raffa aku mohon izinkan mamah pulang bersamaku, aku janji hanya satu hari saja, boleh ya" ucap Alena tetap dalam pelukannya.


"Emmm , itu terserah pada Ibu saja Alena" sahut Raffa tak tega untuk menolak.


"Ibu Aisyah dengan senang hati saya mengundang Anda ke kediaman saya.Itu pun jika berkenan Anda bisa datang dengan Raffa" ucap Tn Harry meminta.


"Mah, mau ya?" ucap Alena menatap penuh harap.


"Baiklah sayang Mamah ikut sama kamu" sahut Ibu Aisyah seraya mengusap lembut rambut Alena.


Setelah beberapa lama bersiap-siap mereka pun berangkat meninggalkan Raffa seorang diri.Kedainya yang ia liburkan membuat tempat itu terasa begitu sepi.


Selepas waktu Isya Raffa memutuskan mencari angin untuk sedikit menenangkan diri.Hingga akhirnya ia berhenti di tempat saudara barunya biasa berkumpul.


"Assalamualaikum Bang" ucap Raffa saat menemukan Andre dan yang lainnya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" balas Andre juga yang lainnya.


"Nahh gitu dong, sering-sering lo kemari" ucap Ivan seraya menepuk bahu Raffa.


"Bang apa benar kemarin Abang nemuin Tn Harry?" tanya Raffa.


"Heh, kenapa? apa tua bangka itu melakukan sesuatu lagi sama lo? kemarin sudah gue kasih peringatan seharusnya itu cukup membuatnya tak berani macam-macam" balas Andre.


"Sebenarnya masalahnya sudah selesai Bang, sudah tak ada lagi perselisihan dengannya"


"Baguslah, tapi kenapa lo tak terlihat senang? malah kusut begitu?" ucap Ivan merasa aneh.


"Ya begitulah Bang, masih tetap saja menyisakan drama lainnya" keluh Raffa serya menarik nafas panjang.


"Lo gak usah curhat karena gue bukan pendengar yang baik apa lagi kalo urusan hati.Sebaiknya lo ikut gue, lo kurang piknik bocah kecil" Ucap Andre lalu memberi kode dengan memutarkan jari telunjuknya.


"Street run Bang!?" ucap Ivan memastikan seraya mengikuti Andre.


"Street run! street run! street run!" tiba-tiba dengan kompak semua orang meneriakannya.


Dengan penuh tanya Raffa pun mengikuti semua orang yang bersiap di motor masing-masing.


"Jangan sampai lo ketinggalan bocah" ucap Andre yang langsung tancap gass di ikuti semua anggota SR.


Tanpa ragu lagi Raffa pun memacu motornya menyusuri jalanan bersama semua anggota SR.Andre sendiri dengan sengaja menuntun mereka menuju jalanan yang cukup sepi, membuat rombongan pemotor ini leluasa memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh.Mungkin seperti inilah rasanya menjadi raja jalanan.


Cukup lama mereka menikmati malam dengan berkendara bebas tanpa rasa takut.Hal itu cukup untuk membuat mereka seakan terlahir kembali.


Tak terkecuali Raffa ia merasa semua bebannya terkikis terpaan angin, tertelan dalam kecepatan.


Malam yang semakin larut membuat Raffa pun segera berpamitan.Di iringi tatapan semua saudaranya ia pun pergi menuju kediaman Tn Harry.


Sesampainya di sana dengan sedikit rasa sungkan Raffa pun menekan bel seraya mengucap salam,


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsallam" sahut seseorang yang tak lain Bi Irah.


"Malam Bi maaf kalau saya datang terlalu malam" ucap Raffa merasa tak enak.


"Eh Den Raffa, nggak kok mari masuk"


Mereka pun segera masuk dan tampaknya semua orang sudah beristirahat di kamar masing-masing.


"Bi Maaf apa Bibi tahu dimana Ibu saya?"


Belum sempat Bi Irah buka suara seseorang sudah menjawabnya lebih dulu,


"Ibumu ada di kamar atas paling kanan, mungkin sedang istirahat" balas Tn Harry yang kebetulan keluar dari ruang kerja pribadinya.


"Oh baik terima kasih Tuan" ucap Raffa yang segera menuju kamar tersebut.


Dengan perlahan Raffa membuka pintu kamar tersebut.


Alangkah terkejutnya ia melihat bagaimana Ibunya tidur berpelukan dengan Alena yang terlihat begitu damai.


Saat Raffa nampak tercenung tangan seseorang merangkulnya seraya berkata,


"Raffa, saya mohon kamu bisa mengerti Alena yang bersikap seperti ini, sejak Ibunya meninggal mungkin ini tidur ternyamannya.Sungguh saya bersyukur dengan kamu dan Ibumu" ucap Tn Harry seraya mengusap bahu Raffa.


Raffa hanya terdiam seraya terus memperhatikan Ibunya juga Alena.Entah harus seperti apa ia bersikap, mungkin memang ia harus mulai belajar mengerti dan menerimanya.


[ Bersambung ]


Bagaimana Raffa bisa menerima kenyataan ini ke depannya?


Ada apa sebenarnya dengan Alena dengan Ibu Aisyah?


Wait lagi ya gess 😁

__ADS_1


__ADS_2