Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
39.Girls Power With Money


__ADS_3

Di kampus dimana kebanyakaan mahasiswa sedang istirahat.Luna nampak sedang mengintai seseorang.Ririn sang target sepertinya sedang terburu buru.


"Rin buru-buru amat, mau kemana sih?" ucap temannya.


"Sorry ya Beb ada perlu nih, gue duluan ya, bye" Ririn pun terlihat berjalan menuju parkiran.


Di satu koridor penghubung Ririn di kagetkan seseorang yang bertabrakan, membuat isi tas salah seorang itu jatuh berserakan.


"Aduh, kalo jalan hati-hati kenapa sih, pada jatoh deh" ucap Alena berakting kaget.


"Eh maaf ya Mba, saya salah terlalu fokus sama HP" sahut Luna seraya meraih isi tas Alena.


Ririn begitu terkesiap saat melihat isi tas yang berserakan,


"Gila nih cewek sepertinya anak orang kaya, ya ampun andai itu punya gue" gumannya saat melihat berbagai tipe credit card terutama blackcard dan juga puluhan uang pecahan 100ribu.


Belum lagi Tampilan Alena begitu maksimal, tanktop putih dibalut blazer dengan bawahan jeans ketat 7/9, dengan kaca mata hitam menambah kesan elegan.


"Ini Mba tas sama barangnya, saya minta maaf ya?" ucap Luna dengan sengaja menyisakan beberapa tetap di lantai dekat Ririn.


"Oh iya makasih ya, tapi kalo kamu tulus minta maaf, kamu harus temenin aku belanja sebagai gantinya gimana?" ucap Alena akting


"Hah apa? temenin belanja? ya udah deh kalo gitu" sahut Luna pura-pura terpaksa.


Ririn yang melihat drama itu pun terpancing lalu mengguman,


"Gila punya salah aja di ajak belanja, apalagi enggak"


Ririn lalu mengambil sisa card dan uang yang tertiup angin.Bayangan belanja sudah begitu di depan mata.


"Eh Mba ini ketinggalan" ucap Ririn penuh harap lalu mendekat.


"Ehmm makasih ya Mba, baik banget deh.Eh Mba lagi buru-buru gak, sebagai tanda terima kasih ikut juga yuk?" balas Alena.


"Ehh boleh boleh" ucap Ririn semangat.


Dengan segera Alena menghubungi seseorang.


"Yuk girls kita have fun" Alena pun menggandeng keduanya.


Tak lama Satu mobil BMW 4 series convertible berhenti di depan mereka.


"Selamat sore Nona,silahkan" Ucap Rama seraya membungkukan badannya.


Situasi itu membuat Ririn semakin yakin pada Alena.Dengan segera mereka pun meninggalkan tempat itu.Sementara Rama tampak di jemput oleh sopir pribadi.


"Oh iya aku Lena kalian siapa namanya?" Alena mencoba berkenalan.


"Aku Una" sahut Luna merasa geli.


"Aku Ririn, salam kenal ya" ucapnya sok dekat.


"Eh Ririn?" ucap Luna penuh tanya.


"Kenapa Na ada yang aneh?" sahut Ririn.


"Nggak kok maaf, cuma kemarin ada korban cowok brengsek di kampus namanya sama.Sesama cewek aku ngerasain sakitnya" ucap Luna mancing.


"Ehh, emang berita itu bener Na? kasian banget ya, kalo aku ketemu pasti aku lindungin trus bikin dia ngelupain kejadian itu dengan apapun yang dia mau" ucap Alena terlihat serius.


"Eh gitu ya? kalo misal dia minta aneh-aneh gimana Len?" ucap Ririn penasaran.


"Apapun akan aku turuti, misalnya liburan ke luar negri selama yang ia mau.Pokoknya yang terbaik yang bisa aku berikan" sahut Alena tersenyum.


"Emmm, a, aku memang orangnya Na, Len" ucap Ririn tertunduk dengan pikiran penuh khayalan akan apa saja yang ia akan dapatkan dari Alena.


"Ya ampun kamu serius Rin? aku turut prihatin atas semuanya, yang sabar ya" sahut Luna bersimpati.


Ririn hanya mengangguk tanpa berkata kata dengan mimik wajah yang tak terlihat terluka.


"Aku jadi ikut sedih, yang kuat ya Rin" ucap Alena seraya meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Tanpa di sadari Alena membawa mereka ke salah satu rumah sakit jiwa.


"Kok kita kesini Len?" tanya Ririn yang sudah ketakutan melihat tempat itu.

__ADS_1


"Pokoknya percaya sama aku ya, temen papahku dokter psikolog terbaik, aku mau yang terbaik, untuk kamu melewati semua itu." ucap Alena meyakinkan lalu dengan sengaja membuka atap mobilnya.


"Tapi masa iya sih, kenapa tugasnya bisa disini?" ucap Ririn penuh tanya.


"Karena tempat ini miliknya, di tambah setiap siang beliau rutin kunjungan ke tempat ini" sahutnya santai.


"Aduh gak usah ya Len ,aku baik-baik saja" Ririn tambah ngeri saat melihat beberapa pasien di sana.


"Udah ayo, aku temenin kamu" ucap Alena seraya meraih tangan Ririn.


"Jangan deh Len aku mohon, aku takut itu" sahutnya tanpa mau beranjak dari duduknya.


"Aku di sini aja ya, serem deh lihatnya.Gimana kalo tiba-tiba orang gila itu kumat terus deket-deket di peluk iyy" ucap Luna drama.


"Ayo, kan ada aku yang nemenin" ucap Alena seraya turun lalu membuka pintu belakang untuk memapah Ririn.


"Gak, gak usah Len, jangan deh lagian aku gak apa-apa, di ... dia belom ngapa-ngapain aku kok" ucap Ririn panik saat Alena hendak membawanya keluar.


"Hah maksudnya gimana? ayo ini buat kebaikan kamu juga" ucap Alena berpura-pura tetap perhatian.


"Sial jadi keceplosan" guman Ririn dalam hati.Lalu kembali berkata,


"Iya ehh, maksudnya, aku gak apa-apa.Jadi pergi yuk" Ririn tak sabar.


"Kamu yakin?" tanya Alena dengan hati yang senang.


"Aku yakin kok" balas Ririn pendek.


"Heh mulai kebuka nih" guman Alena dalam hatinya.


Tiba-tiba Alena memeluk erat Ririn seraya berkata,


"Syukurlah, aku senang mendengarnya" ucap Alena dengan wajah di tekuk seraya menjulurkan lidah.


Luna yang melihatnya hampir tak kuasa menahan tawanya.


"Ya sudah kalo begitu yuk"


Alena pun kembali menjalankan mobilnya,meninggalkan tempat tersebut.Kali ini Alena berhenti di depan kantor polisi.


"Menurut aku, kita harus tetap melaporkan cowok itu, iya gak sih?" ucap Alena meminta pendapat.


"Eh emang harus ya?" ucap Ririn meragu.


"Biar tu orang kapok, nah kamu sendiri jadi lebih tenang kan kalo dia gak ada" jelas Alena.


"Gak perlu lapor segala ya Len, aku udah anggap selesai kok" Ririn mulai gusar.


"Rin aku cuma khawatir dia ngejar kamu lagi, jadi kita lapor saja.Sebentar kok kamu tinggal bikin laporan sejujur-jujurnya" ucap Alena lagi.


"Jujur gimana Lena?" tanya Luna menimpali.


"Ya Ririn harus cerita dari awal sampai akhir dengan sebenar-benarnya, soalnya nanti polisi akan memakai alat lie detector.Tapi selama jujur itu gak akan ada masalah sama sekali." ucap Alena menekankan.


"Ucapan Lena ada benernya, walupun dia belom ngapa-ngapain kamu, ya ini untuk mencegah aja.Cuma tinggal jujur" Luna menimpali.


Saat mereka sedang berdiskusi salah satu polisi penjaga menghampiri mereka.


"Tuh kan Len polisinya kesini" Ririn merasa begitu was-was.


"Ya udah kebetulankan, kita tanya beliau saja" sahut Alena santai.


"Len jangan gitu dong, aku mohon jangan lapor lapor segala ya.Yuk pergi yuk cepetan Len" ucap Ririn seraya menggoyangkan lengan Alena.


Saat polisi itu semakin dekat, Ririn pun semakin panik wajahnya memucat ketakutan.


"Len udah yuk pergi cepet, lagian aku gak bisa jujur" ucap Ririn panik.


"Kamu tenang aja biar aku yang ngomong" sahut Alena.


"Gak bisa Len ,ayo pergi please.Aku gak bisa jujur soalnya, semuanya .... semua itu cuma ... cuma sandiwara" ucap Ririn saat polisi tersebut mengetuk kaca mobil tersebut.


"Kebuka juga lo" guman Alena dalam hatinya


"Selamat siang Mba, apa Mba ada kepentingan? kalau tidak ada, silahkan melanjutkan perjalanannya"

__ADS_1


"Eh maaf pak tadinya mau ketemu sodara saya tapi kayanya sedang keluar.Ya sudah saya permisi dulu pak, maaf sebelumnya" sahut Alena.


"Baik kalo begitu, silahkan" ucap petugas polisi itu dengan sopan.


Dalam perjalanan Ririn yang tersadar sudah membuka kartunya sendiri mulai curiga,


"Kamu sebenarnya siapa sih, kamu apa kalian menjebak saya ya?" ucap Ririn penuh selidik.


"Menjebak? kamu tuh ngomong apa sih, kita justru mau bantu kamu Rin" sahut Alena meyakinkan.


Ririn pun terdiam seraya menatap lekat keduanya.


"Sekarang biar pada tenang, kita ke salon and spa setuju gak?" Alena mencoba menurunkan tensi.


"Aku ikut aja hehe" sahut Luna.


"Boleh deh" balas Ririn kembali sumringah.


Setelah berlama lama memanjakan diri dengan berbagai perawatan. Alena kembali membawa mereka, kali ini menuju pusat perbelanjaan.


Dengan senyum penuh arti Alena terus menatap Ririn yang begitu asyik kesana kemari memilah baju yang ia suka.


"Alena kamu yakin membiarkannya belanja segitu banyaknya?" tanya Luna.


"Tenang saja, harga yang pantas untuk membawa Raffa kembali"


Luna begitu terkesan hingga tak sadar membandingkan Alena dengan Aurel.


"Beda banget sama Aurel sekarang, Alena berhati lembut juga perhatian.Serasi sama si Al" gumannya dalam hati.


"Sepertinya tuan putri kita udah puas tuh" ucap Alena membuyarkan lamunan Luna.


"Eh iya, dah selesai kayanya" sahut Luna cengengesan.


Alena pun segera membayar belanjaan Ririn yang mencapai 8juta lebih.


Selesai belanja mereka lalu menuju salah satu restoran untuk sekedar istirahat.


"Eh Lena makasih ya udah beliin aku semua ini" ucap Ririn terlihat begitu senang.


"Iya sama-sama, sekarang gantian ya.Aku minta satu hal kecil aja sama kamu Rin"


"Hal kecil apa Na?" sahut Ririn sedikit terkejut.


"Tenang, aku cuma minta kamu jujur saja.Siapa yang nyuruh kamu menjebak cowok itu?"


"Maksud kamu? jadi semua ini hanya sandiwara, ka ... kamu menjebak aku?" Ririn terkaget.


"Bisa di katakan begitu, karena lo menjebak orang yang salah!" seru Alena dengan sinis.


"Sial, seharusnya gue curiga dari awal, gak mungkin ada orang sebaik ini, heh" ucap Ririn tersenyum pahit.


"Luna udah punya rekaman suara lo di ponselnya, sebaiknya lo jujur sama gue atau akhir ceritanya gak seindah yang lo bayangkan" ancam Alena dengan dinginnya.


Tiba-tiba Ririn merebut ponsel Luna dengan kasar.Luna yang terkejut berusaha merebutnya kembali tapi di tahan Alena.


"Dengan senang hati akan ada pasal tambahan jika lo berani merusak barang bukti, silahkan"


ucap Alena seraya menyandarkan tubuhnya tenang.


"Dan lo kira hanya di ponsel itu buktinya? gak cuma ponsel itu aja yang berisi bukti" ucap Alena seraya mengeluarkan ponselnya juga.


"Ini cuma sebagian kecil yang berisi bukti omongan lo, masih ada alat lain yang merekam semuanya" lanjut Alena.


Ririn yang merasa kalah hanya bisa pasrah.Leon pun dari awal menekankan kalo gagal ia gak akan sudi membantunya.Apalagi sekarang tertangkap basah seperti ini.


"Gue kasih pilihan biar lebih mudah.Satu, lo ikutin permintaan gue, jujur dan bersihkan nama baik Raffa dan lo boleh bawa semua itu.Dua, lo nolak tapi kita ketemu di pengadilan dan lo kehilangan semua barang itu" ucap Alena seraya tersenyum.


Mendengar ancaman Alena, Ririn merasakan tubuhnya lemas tak berdaya.Baginya pilihan pertama lebih menguntungkan buatnya.


"Oke gue nyerah, gue akan turutin mau lo" ucap Ririn menyerah.


Perjuangan Alena juga Luna pun berakhir dengan keberhasilan.Binar bahagia terlihat di kedua gadis tangguh itu..


[ Bersambung ]

__ADS_1


__ADS_2