Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
44.Rahasia Yang Terkuak


__ADS_3

Seperti pagi sebelumnya Raffa berangkat menuju kediaman keluarga Adhitama.Tugas mendampingi Alena masih harus ia jalani.Sesampainya disana ia disambut dengan begitu hangat.


"Om, saya ucapkan terima kasih atas bantuannya, kalau bukan karena bantuan Om juga Mas Rama mungkin masalahnya tidak secepat ini selesai" ucap Raffa dengan tulus.


"Sudah kewajiban Om untuk bantu kamu, toh kamu ini sudah bukan siapa-siapa lagi.Makanya apa kalian gak berpikir untuk tunangan, lagian Papah sangat setuju sama hubungan kalian."


"Apaaaa! tunangan!?" ucap Raffa dan Alena berbarengan.


"Kenapa, kok kalian kaget?" ucap Tn Harry merasa heran.


"Buru-buru amat sih Pah? kok malah Papah yang ngebet" ucap Alena protes namun rona merah di pipinya tetap tak bisa ia tutupi.


Sedangkan Raffa terlihat makin salah tingkah tanpa bisa berkata apapun.


"Aduh mati gue kenapa makin rumit sih, mimpi apa gue tiba-tiba tunangan.Masa iya jadi tunangan pura-pura juga" guman Raffa dalam hati.


"Ya gak ada salahnya melangkah ke tahap yang lebih serius lagi.Papah sudah merasa kita ini seperti keluarga seutuhnya" ucap Tn Harry terlihat sumringah.


"Tapi Om, benar kata Alena ini sepertinya ehh ... ter, terlalu mendadak" sahut Raffa begitu takut Tn Harry tersinggung.


"Aneh, di kasih restu kok kalian malah ketakutan gitu? pokoknya jangan kelamaan mikirnya, Papah jadi gak sabar lihat kalian resmi" ucap Tn Harry semakin berharap.


"Deegghhh" jantung kedua muda mudi itu seakan copot saat mendengarnya.


Terang saja keduanya makin salah tingkah terutama Raffa.Ia makin terlihat gelisah oleh perkataan Tn Harry.


Lain hal dengan Alena, entah mengapa ucapan mengagetkan Papahnya itu membuatnya tersenyum-senyum penuh arti.


Raffa yang tidak mau pembicaraan ini semakin menjurus mencoba mengalihkan,


"Maaf Alena, apa kamu mau bawa mobil sendiri atau bareng? takutnya kamu ada perlu mendadak" ucap Raffa yang beberapa hari ini memang tidak mengantarnya.


"Aku sih gimana baiknya aja,bawa sendiri juga gak apa-apa kok" sahut Alena jaim,namun di hatinya berharap Raffa mau selalu mengantarnya.


"Sudah, sebaiknya Raffa antar dan jemput Alena seperti biasa saja.Biar Alena kalo kemana-mana ada yang jaga" tiba-tiba Tn Harry menyela seakan memberi perintah.


Membuat Alena melirik Raffa seakan meminta jawaban.


"Eh, baik Om kalo begitu, kita pamit dulu biar gak kesiangan" ucap Raffa sedikit merasa malu.


Setelah berpamitan Raffa pun segera berangkat.Selesai mengantar Alena dengan segera ia menuju kampusnya.


Dengan tergesa gesa Raffa berjalan hingga akhirnya menemukan Ryo.


"Yo ikut gue dulu bentar" Raffa pun lalu menarik Ryo menuju tempat lain.


Aurel yang tanpa sengaja melihatnya segera mengikuti dari arah lain.


"Hari ini gue harus bicara dengannya agar tidak ada lagi salah paham.Gue salah dah seharusnya minta maaf" guman Aurel menekan egonya.


Sementara Ryo yang masih merasa heran mulai membuka suara,


"Behb mau kemana sih ini? ampe mesti ngumpet ke belakang begini"


"Gawat Yo gawat, masalah gue sama Alena makin Rumit!" ucap Raffa terlihat panik


Tanpa mereka sadari Aurel yang berniat menemui Raffa urung melakukannya saat mendengar kepanikan Raffa.


"Gawat gimana maksud lo Behb? bisa tenang dulu gak sih lo, biar omongan lo gak blepetan gak jelas" sahut Ryo tak sabar.

__ADS_1


"Papahnya Alena makin nganggap serius Yo, beliau minta gue sama Alena tunangan" ucap Raffa seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Sementara Aurel yang bersembunyi di balik dinding sontak begitu terkejut, Reflek ia menutup mulutnya menahan gejolak hatinya yang tak karuan,


"Apa! Raffa mau tunangan!" gumannya dalam hati.Ingin rasanya Aurel berteriak lalu berlari namun tubuhnya yang terasa lemas membuatnya tak mampu pergi walaupun ingin.


Ryo yang juga terkejut pun merasa tak percaya,


"Serius lo Behb? eh bukannya itu kabar baik ya? artinya lo beneran di restuin" ucap Ryo malah asbun.


"Di restuin muke lo pindah ke pantat, gimana mau tunangan malih kita aja pacaran pura-pura.Masa iya tunangan pura pura juga" ucap Raffa seraya duduk pasrah di lantai.


"Aduhh, gue juga bingung mesti ngomong apaan kalo begini" sahut Ryo ikut merasa ruwet.


Aurel yang ternyata masih menguping, makin di buat tak percaya,


"Hah apa! pura pura? jadi selama ini mereka pura-pura! tapi untuk tujuan apa mereka melakukannya?" gumannya kembali.


"Apa yang mesti gue lakukan sekarang Yo? di satu sisi, gue gak enak terus membohongi Om Harry.Kalo jujur gue takut Alena kenapa napa" ucap Raffa makin lirih.


"Dilema emang Behb, tapi kalo memang harus memilih mungkin lebih baik jujur sepertinya" sahut Ryo memberi pendapat.


"Ya Allah, gue rindu kehidupan lama gue yang lebih sederhana" ucap Raffa seraya membenamkan wajahnya di kedua lututnya.


"Yang sabar ya Behb, sorry gue gak bisa banyak bantu untuk masalah lo yang satu ini" ucap Ryo seraya merangkul pundak sahabatnya itu.


Tanpa di duga Aurel tiba-tiba keluar dari tempatnya bersembunyi.


"Aurel!" seru Ryo yang sontak terkaget.


Raffa sendiri reflek terhenyak lalu berdiri dengan cepat.Perasaan gelisahnya semakin menjadi saat melihat dengan jelas siapa gadis di hadapannya,


"Maaf, gue tadinya emang mau ketemu sama lo dan gue gak sengaja melihat lo ke sini" sahut Aurel dengan menatap lekat Raffa.


"Eh, a ... apa!? apa Non su, sudah lama di sini?" ucap Raffa cemas pembicaraannya terdengar Aurel.


"Gue udah denger semuanya" sahut Aurel singkat.


Sontak Raffa makin tidak karuan di buatnya.Ia tak menyangka akan ada orang lain yang tahu bahkan orang itu adalah Aurel.


Sementara Ryo sontak membalikan badannya seraya memegang kepala dengan kedua tangannya,


"Dari rumit bisa jadi tambah kusut bin runyam ini sih, ya ampun moga lo bisa menghadapinya" guman Ryo penuh harap.


"Jadi Non udah tahu semuanya!?" ucap Raffa masih percaya tak percaya.


"Iya, gue tahu semuanya" sahut Aurel dengan terus menatap Raffa yang begitu gelisah.


Raffa hanya mampu memalingkan wajahnya seraya menggerakan tangan seakan ingin berkata, namun tak ada satupun yang mampu ia ucapkan.


Tanpa di duga dengan membuang semua rasa gengsi dan egonya Aurel mendekat, lalu memeluknya dengan hangat seraya berucap,


"Al, maafkan aku yang telah begitu bersalah sama kamu.Aku terlalu cepat menyimpulkan, tanpa mau mendengar satu pun penjelasan darimu.Aku menyesal, apa kamu mau memaafkan aku?" ucap Aurel sungguh-sungguh seraya mengangkat wajahnya untuk menatap Raffa.


Ryo yang melihat itu langsung pura-pura tak melihat dengan menghadap dinding lalu mengguman,


"Waduh, kemaren Alena sekarang Aurel.Alena meluk Raffa di tambah Aurel meluk Raffa sama dengan? perang dunia!? anjirr salah rumus ini sih" Ryo lalu menggelengkan kepala mencoba mengusir pikiran anehnya.


Sementara Raffa sendiri masih diam terpaku mencoba memahami.Rasa syok ucapan Tn Harry saja belum reda sekarang Aurel membuatnya semakin bertambah.

__ADS_1


"Aku mengerti jika kamu tidak mau memaafkan aku.Seperti ucapanmu waktu itu agar aku tidak lagi mengganggumu" ucap Aurel dengan mata mulai berkaca-kaca, lalu ia pun mengurai pelukannya.


Raffa yang seakan tidak rela Aurel menjauh dengan cepat menahan bahu gadis itu,


"Non, aku tak mungkin tak memaafkanmu.Sebaliknya aku pun minta maaf jika ucapanku itu melukaimu.Aku ... " belum selesai Raffa berucap, Aurel menahan bibir Raffa dengan jarinya.


Ryo yang sempat meliriknya kembali buang muka pura-pura tak melihat,


"Busyet, berasa nonton shooting ftv gue, tinggal adegan kpleset trus cowoknya nahan,saling pandang, jatuh hati deh simple" guman Ryo bermonolog dalam hatinya.


"Sudahku bilang aku yang bersalah, aku terlalu terbawa perasaan jadi terlalu mudah marah.Semua karena aku ... " ucap Aurel tertahan dan merasa malu sendiri.Entah kata apa yang pantas tuk di ucapkan.


"Aku cemburu, aku peduli , aku cinta, aku sayang.Ayo ucapkan saja biar jelas.Eh kenapa jadi gue yang heboh" guman Ryo seraya garuk-garuk kepala tak gatal.


"Emm, jadi kamu mau mamemaafkan aku kan Al?" ucap Aurel mencoba mengalihkan.


"Iya, dari sebelum kamu memintanya pun aku sudah memaafkanmu" sahut Raffa seraya mengangguk lalu tersenyum tulus.


"Ya udah ya, semuakan udah baikan nih, mau sampai kapan kita di sini.Kaya main petak umpet jadinya" celetuk Ryo membuyarkan keduanya.


Tersadar oleh ucapan dan keberadaan Ryo mereka sama-sama terlihat salah tingkah.


"Udah ayo, malah pada kaya anak kecil ketauan nyuri" ucap Ryo sedikit meledek.


Akhirnya mereka pun beranjak dari tempat itu dengan berjalan bersama-sama.


Di koridor tempat biasa mereka berkumpul nampak Luna dan yang lain tengah asyik berbincang.Hingga satu teriakan kecil Ryan mengejutkan mereka,


"Guys guys! jangan bilang gue lagi nyasar di realita yang lain" ucap Ryan tak percaya.


"Dodol pagi-pagi dah halusinasi lo" sahut Arif malas.


"Lo tengok sendiri mamang" ucap Ryan seraya mengarahkan kepala Arif.Di ikuti yang lainnya


Luna tentu saja yang paling terkejut.Secara, hubungannya sedang rusak tapi hari ini Aurel nampak berjalan bersama Raffa juga Ryo.


"Pagi semua" Ucap Aurel memberi salam.


"Pagi juga" sahut mereka dengan begitu canggung.Mereka masih tak tahu bagaimana harus bersikap.


"Luna" sapa Aurel seraya menarik kedua tangannya,membuat Luna pun berdiri mendekat.


"Maafkan gue yang sudah menuduh lo,seharusnya gue lebih bisa percaya sama lo.Gue kangen lo Lun" ucap Aurel dengan air mata mulai menetes lalu memeluk Luna begitu erat.


"Sama-sama Aurel gue juga minta maaf.Aku juga kangen banget sama kamu" sahut Luna terisak seraya membalas pelukan Aurel.


"Kita masih sahabatankan?" ucap Aurel kembali.


"Iya, pastinya Aurel" sahut luna tersenyum bahagia.


Semua orang nampak begitu senang melihat kedua sahabat itu berbaikan.Raffa pun bisa merasakannya namun ada perasaan gelisah yang terus menggangunya.


[ Bersambung ]


Bagaimana Raffa menghadapi situasi yang bertambah rumit ini?


Bagaimana reaksi Alena saat tahu Aurel berbaikan dengan Raffa? dan tahu tentang rahasia besarnya itu?


Nantikan episode berikutnya ya 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2