
Raffa yang masih di pelataran Mesjid setelah melaksanakan shalat Maghrib,terlihat tengah serius berpikir.
"Sepertinya masalah dengan pemotor itu memang harus segera gue selesaikan.Jangan sampai makin liar,bahaya buat keselamatan gue ke depannya" guman Raffa
"Dan tampaknya gue gak bisa melibatkan siapapun dalam masalah ini.Gue gak mau merasa bersalah pada siapapun kalo sampai terjadi apa-apa"
Tanpa terasa waktu Isya pun tiba.Raffa kembali melaksanakan shalat berjamaah di Mesjid tersebut.Selesai shalat tanpa pikir panjang ia pun berangkat menuju Blackhouse Cafe.
Blackhouse Cafe ternyata sebuah tempat yang cukup besar.Cafe berlantai dua dengan parkiran luas.Beberapa mobil dan belasan motor sport sudah memenuhi sebagian parkiran.
Tak lama setelah Raffa memarkirkan motornya ia pun segera memasuki cafe tersebut.Beberapa pasang mata menatapnya penuh aura mengintimidasi.Namun Raffa sudah membulatkan tekadnya.
Pengunjung cafe ini di dominasi anggota pemotor.Terlihat dari atribut yang mereka kenakan.Pandangan Raffa tertarik pada satu meja yang di atasnya terdapat helm berangka 0.
Namun Raffa memutuskan mendekati meja lain.
"Assalamualaikum,maaf Bang kalau saya mengganggu" sapa Raffa
Empat orang di meja tersebut hanya diam seraya menatap tajam padanya.
Hingga akhirnya salah satu dari mereka berucap dengan tatapan merendahkan.
"Nak taman bermain bukan disini,salah alamat lo"
"Maaf Bang bisa saya ketemu dengan Ketuanya?" ucap Raffa memberanikan diri
Sontak pertanyaan Raffa membuat mereka semakin terusik.Dua orang lalu berdiri mengapitnya dengan tatapan tak bersahabat.
"Cih punya urusan apa lo mau ketemu? Buang waktu doang ngurusin bocil kaya lo" ucap orang yang berdiri di samping Raffa
"Gue kesini hanya ingin menyelesaikan masalah dengan damai bersama beliau Bang" sambung Raffa sesopan mungkin.
"Gue gak peduli urusan lo apa.Sebaiknya lo pergi sebelum terjadi sesuatu sama lo" sambung pria gondrong seraya meminum minuman sejenis bir.
"Tapi Bang gue bener harus ketemu dengannya" ucap Raffa meminta pengertian.
"Heh bocil gue bilang pergi,pergi bangsat!" bentak Pria itu dengan tatapan membunuh
"Tapi Bang gue...." belum selesai bicara Raffa di cekal dua orang di sampingnya.
"Perlu gue lempar ke tempat sampah lo! Tempat lo bukan di sini sialan!" ucap orang yang mencekal Raffa
Belum reda rasa gugupnya,Raffa kembali mendapat perlakuan kasar lainnya.
Ben yang sadar keberadaan incarannya langsung mendekat lalu mencengkram wajah Raffa
"Punya nyali juga lo datang kesini bocah" ucap Ben berapi-api.
"Bro ini bocah ada urusan yang belom selesai sama gue.Bawa kebelakang!" perintah Ben pada rekannya.
Beberapa anggota yang di luar tampak masuk.Namun Ben kembali memberi perintah.
"Lo semua,urus motornya biar bocah itu gak bisa kabur!" ucap Ben dengan dinginnya.
Di lokasi belakang cafe Raffa yang layaknya sandera terus mendapat intimidasi dan cacian.Dua orang terus mencekalnya.Sedang dua orang lagi hanya berjaga-jaga.
"Bocah ini milik gue,jangan ada yang nyentuh dia kecuali gue.Paham!" Ucap Ben memberi kode pada rekannya.
"Cih habis lo kali ini bocah." ucap Ben seraya mencengkram rahang Raffa dengan keras.
"Tapi Bang semua hanya salah paham"
"Haha salah paham lo bilang,dari awal lo yang cari mati brengsek!" herdik Ben seraya melayangkan pukulan.
"Bughh" satu pukulan mendarat di perut Raffa hingga membuatnya terbatuk
__ADS_1
"Uhuk....Uhuk, Bang ini bisa di omongin baik-baik.Gue se...."
"Banyak bacot lo brengsek"
"Bughh" pukulan lain Ben layangkan ke perutnya.Membuat Raffa melenguh lalu terbatuk-batuk.
"Akhh....uhuk....uhuk,cu....cukup Bang uhuk....Gue kesini cuma mau damai"
"Gak ada kata damai di kamus gue bocah.Mati lo bangsat!" Ben yang memang sudah kalap lalu menghujamkan tendangannya tepat di dada Raffa.
Tak ayal Raffa pun jatuh terjengkang.Dadanya begitu terasa sesak.Dengan terengah engah ia mencoba untuk bangun.
Tiba-tiba sesorang datang menahan Ben.
"Cukup Ben, dia dah terima pelajarannya"
"Minggir lo,bocah tengil itu harus tau dengan siapa dia berurusan"
Selesai berucap Ben kembali mendekati Raffa yang masih belum mampu berdiri.Dengan kasarnya ia mencengkram kerah bajunya.
"Lo sendiri yang ngantar nyawa lo kesini sialan" Dengan cepat Ben melayangkan pukulannya ke arah wajah Raffa
"Ughhhh" pekik Raffa.Nampak darah segar mulai menetes di sudut bibirnya yang pecah.
Saat Ben akan melayangkan pukulan lain,kembali seseorang menahannya.
"Udah cukup,bocah itu dah gak berdaya" ucapnya seraya menarik Ben dan menahannya
"Hei bocil pergi lo,sebelum gue berubah pikiran.Pergi lo!"
Setelah bersusah payah Raffa berdiri ia pun segera beranjak pergi.
"Uhuk euhh euhh,terima kasih Bang,saya....pamit Asalamualaikum" dengan tertatih Raffa mulai berjalan
Semua orang di situ sedikit terpaku dengan salam Raffa.Hingga orang yang menahan Ben menjawabnya.
"Bro lo gak usah ikut campur urusan gue" Ben yang belum puas mencoba mengejar Raffa.
"Simpan tenaga lo buat urusan yang lebih besar.Ingat musuh kita bukan bocah kemaren sore" Ucapnya seraya menatap Ben dengan serius.
Sementara derita Raffa tidak berhenti di situ.Motornya tidak bisa ia temukan.ia tak menyangka masalah ini berakibat fatal.
Perlahan Raffa berjalan dengan tertatih.Tangannya terus memegang dada dan perutnya yang terasa sesak dan sakit.Hingga di depan sebuah mini market sebuah mobil berhenti di dekatnya.
"Kamu gak apa-apa? ayo masuk" ucapnya setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Kamu!?" Raffa masih ingat betul siapa gadis itu.
"Ayo masuk,ayo cepat" sambung gadis itu seperti panik.
Raffa yang tersadar segera menerima tawarannya.Ia cukup bersyukur masih ada orang baik yang mau menolongnya.
Sementara seseorang yang baru datang ke cafe di kejutkan dengan lima orang yang bergegas pergi dengan motornya.
"Oyy Van,mau pada kemana tuh cunguk!?"
"Ehhh Bang syukur lo datang" Balas Ivan lalu menceritakan semuanya.
Tanpa di duga Ben tidak mau begitu saja melepaskan Raffa.Ia mengejar mobil yang membawanya.Sadar dirinya di ikuti,gadis itu menaikan kecepatannya.
Untuk menghindari kemacetan gadis itu sengaja menghindari jalan utama.Namun pemotor tersebut masih sanggup mengikutinya.
Satu pemotor dengan nekatnya menyusul lalu memotong jalur mobilnya.Dalam keterkejutannya gadis itu membanting setir ke arah kiri.Nahas ia kehilangan kendali.
"Awaaas" seru Raffa
__ADS_1
"Akhhhhh" jerit gadis itu pasrah.
Mobilnya menerjang trotoar dan menabrak pot besar hiasan jalan.Benturan di kepalanya membuat gadis itu tak sadarkan diri.
Sesaat setelah Raffa mulai dapat menguasai dirinya,terlihat panik saat sadar gadis itu terkulai tak sadarkan diri bertumpu pada setir mobilnya.
"Mba bangun,tolong bangun" Raffa menggoyangkan bahunya.
Sedangkan lima pemotor tersebut sudah mengepung mobil tersebut.Tanpa peduli masib yang menimpa penumpang di dalamnya.
"Woy keluar lo bangsat atau gue pecahin ni kaca!"
Mendapat ancaman itu Raffa pun keluar dari mobil tersebut.Belum sepenuhnya ia keluar Ben sudah mencengkramnya seraya mendorongnya dengan kasar.Membuat punggung Raffa membentur mobil itu.
"Lo pikir bisa lolos dari gue brengsek!" ucap Ben penuh emosi seraya menekan Raffa.Keempat rekannya hanya berjaga seraya tersenyum puas.
"Stop Bang,biarkan gue nolong dia dulu" ucap Raffa memohon.Ia hanya peduli pada nasib gadis itu daripada dirinya.
"Lo pikir lo siapa bocah!? Peduliin nyawa lo sendiri bangsat!" Hardik Ben seraya melancarkan serangan lutut pada tubuh Raffa.
"Hheemmmpp" Jerit tertahan keluar dari mulut Raffa.Mengacuhkan rasa sakitnya ia kembali berucap.
"Heeh hehh,gue mohon bang lo boleh hajar gue habis-habisan tapi biarkan gue bawa dia dulu" pinta Raffa yang begitu kuatir dengan gadis itu.
"Lo boleh pergi bocah,setelah lo mati!" Kepalan tangan Ben sudah siap menghajar Raffa lagi.
Saat kepalan tangan Ben hampir mengenai wajahnya,Raffa yang habis kesabarannya tanpa di duga menahan tinju Ben dengan telapak tangan lalu mencengkramnya.
"Gue sudah berusaha sabar,ternyata manusia seperti lo gak bisa di baikin" ucap Raffa dengan tatapan tajam seraya memperkuat cengkramannya.Di susul gerakan melintir lalu mendorong Ben dengan kakinya.
Melihat itu ke empat orang yang berjaga sontak mencoba menyerang Raffa.Namun urung mereka lakukan akibat ucapan Ben.
"Dia milik gue,cuma gue yang akan menghabisinya!" Teriak Ben begitu emosi.
"Stop Bang,biarkan saya pergi!" Ucap Raffa dengan penekanan.
"Banyak bacot lo bocah!" Selesai berkata Ben menerjang Raffa dengan tendangan.Namun Raffa mampu mengelak serangan itu.
Sadar serangannya gagal Ben yang sudah semakin kalap mengeluarkan sebilah pisau lipat taktikal.
"Habis lo bocah" ucap Ben seraya mengayunkan pisaunya membabi buta.
Raffa sebisanya terus menghindar.Hingga satu serangan ke arah wajahnya membuat ia segera membungkukan badannya.Namun Ben dengan cepat menghujamkan pisaunya ke arah kepala Raffa.
Raffa terkesiap oleh serangan tiba-tiba Ben.Sadar ia tak bisa lagi menghindar,reflek Raffa menangkis lengan Ben dengan telapak tangannya,di susul gerakan sapuan ke kaki Ben.
Gerakan sapuan Raffa membuat Ben jatuh terjengkang.
"Sialan....Tangkap dia!" Ben memberi perintah.
Keempat rekan Ben segera menyergapnya.Raffa yang tidak dapat menghindar hanya bisa pasrah saat tiga orang berhasil menguncinya.Satu orang yang mengunci lehernya dari belakang mulai mengancamnya.
"Diem lo atau gue patahin leher lo!"
"Hahahaha ada permintaan terakhir bocah" ucap Ben tertawa puas.
"Bang sekali lagi gue minta tolong lepasin.Gue harus nolongin dia" Raffa tetap memikirkan gadis itu.
"Lo bisa bawa dia ke akherat sekalian brengsek!" Sesaat sebelum Ben berniat menghujamkan pisaunya.
Nampak dua motor dengan kecepatan tinggi mendekat ke arah mereka
"Berhentiiii!"
[[ Bersambung ]]
__ADS_1
Siapakah orang tersebut? kawan atau lawan?