Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
82.Sisi Baik Dari Satu Masalah


__ADS_3

Dengan di antar Ryo akhirnya Raffa memutuskan menuju kediaman Tn Harry.Entah apa yang akan ia katakan namun setidaknya melihatnya baik-baik saja cukup untuk membuatnya tenang.


"Thank Yo, gue duluan ya" ucap Raffa.


"Iya Behb, ingat hubungi gue kalo butuh bantuan.Gue cabut" balas Ryo lalu kembali menjalankan mobilnya.


Raffa pun segera memasuki kediaman Tn Harry.Nampak Tn Harry sedang berbincang serius dengan Alena.


"Assalamualaikum Tn Harry, Alena" ucap Raffa.


"Waalaikumsallam" balas mereka hampir berbarengan.


"Kebetulan kamu datang Al, ini soal Aurel" ucap Tn Harry.


"Iya Tuan, emang Aurel kenapa, apa semua baik-baik saja?" balas Raffa balik bertanya.


"Aurel tadi di jemput papinya ke sini Al" ucap Alena walau tak tega.


"Di jemput? apa benar begitu!? jadi, apa Tuan Hernand sudah melunak hatinya?" balas Raffa memastikan.


"Justru itu Al yang mau Om bicarakan sama kamu, papinya Aurel datang dan memaksa Aurel untuk pulang.Maaf Om gak bisa mencegahnya" ucap Tn Harry terlihat menyesal.


"Hemmhh! jadi Tn Hernand masih berkeras hati, saya harus menemuinya saya takut Aurel berbuat nekat jika papinya terus menekannya"


"Apa gak takut, kedatangan kamu justru membuat semuanya makin panas!?" tanya Tn Harry.


"Saya cuma gak bisa biarkan Aurel menerima perlakuan buruk dari papinya, sama seperti saat Tuan menekan Alena saat itu hingga ia kabur" balas Raffa tanpa tedeng aling aling karena emosinya yang belum stabil.


Ucapan Raffa cukup membuat Tn Harry juga Alena tersentak.Bagaimana tidak sepertinya Raffa masih menyimpan kenangan buruk itu di hatinya.


"Maksud kamu!?" ucap Tn Harry sedikit tersindir.


"Raffa!? kamu masih marah?" ucap Alena tak percaya.


"Maaf Alena, Tuan Harry seharusnya saya tak berkata seperti itu, saya hanya sedang kalut" balas Raffa tak enak hati.


"Tidak apa-apa Al Om bisa mengerti.Nanti bila ada kesempatan Om akan coba bicara dengan Tn Hernand, semoga Om bisa sedikit membujuknya" balas Tn Harry memakluminya.


"Iya Al aku juga pasti bantu kamu kok" ucap Alena menambahkan.


"Sekali lagi saya mohon maaf Tuan Harry dan terima kasih atas semuanya, saya permisi dulu.Assalamualaikum" ucap Raffa lalu beranjak pergi menuju kediaman Tn Hernand.


Dengan perasaan cemas Raffa membawa mobilnya begitu cepat.Hingga akhirnya sampai di kediaman keluarga Adrean.


"Assalamualaikum, maaf kalau saya lancang datang ke sini Tante" ucap Raffa saat Ny Ariana membukakan pintu.


"Nak Raffa sebaiknya jangan dulu datang, suasananya sedang tidak baik, mohon mengerti ya" balas Ny Ariana nampak cemas.


"Sekali lagi maaf tante, tapi saya tidak bisa tenang sebelum melihat kondisi Aurel" ucap Raffa memohon.


Tiba-tiba terdengar suara Tn Hernand dan Aurel yang bertikai.Suara mereka yang cukup keras sampai ke pintu depan.


"Pokoknya Papi gak mau tahu, besok kamu berangkat untuk kuliah di luar negri!" seru Tn Hernand.


Raffa yang bisa mendengarnya begitu terkejut.Ia tak menyangka akan seperti ini jadinya.


"Aurel gak mau ke luar negri! Aurel mau tetap di sini! kenapa Papi semakin jahat sama Aurel, kenapa Pih!" teriak Aurel begitu pilu.

__ADS_1


"Karena kamu sudah mulai susah di atur! tak bisakah kamu melihat ini demi kebaikan kamu!? Papi cuma gak mau sampai terjadi apa-apa sama kamu lagi Aurel!" lanjut Tn Hernand mencoba menjelaskan.


"Tapi kenapa Papi gak sedikitpun mau mengerti perasaan Aurel! untuk apa jauh-jauh pergi kalau Aurel cuma menderita di sana! pokoknya Aurel gak mau di paksa!" balas Aurel tetap dengan pendiriannya.


"Mau tidak mau, suka tidak suka kamu tetap berangkat! itu satu-satunya cara agar kamu melupakan anak tak tahu diri itu!" Tn Hernand menegaskan.


"Papi jahat! Aurel benci Papi!" balas Aurel dengan Air mata mulai menetes.


Aurel lalu berlari menuju kamarnya dan mengunci diri.Perasaannya begitu menderita karena untuk pertama kali rasa bahagianya terhalang kerasnya hati sang Ayah.


Sementara di depan pintu Raffa pun merasakan hal yang sama.Saat ia mulai merasakan kenyamanan rintangan datang menghadang.


"Siapa itu Mih!?" tiba-tiba Tn Hernand bertanya dari dalam seraya menghampirinya.


"Ini Raffa Pih" balas Ny Ariana sedikit was-was.


"Masih berani datang kesini, mau apa lagi kamu kesini!" ucap Tn Hernand begitu dingin.


"Maaf Tuan, saya tak sengaja mendengar, apa benar Aurel akan ke luar negri?" tanya Raffa merasa cemas.


"Kalaupun iya, tak ada hubungannya sama kamu!" ucap Tn Hernand begitu sinis.


"Apa Om gak takut Aurel melakukan hal nekat!? kemarin saja ia sampai kabur" balas Raffa penuh harap.


"Kamu pikir saya gak bisa menjaga anak saya sendiri hah! sebaiknya kamu pergi! dan jangan pernah menampakan diri kamu lagi!" balas Tn Hernand.


"Saya mohon Tuan, jangan bawa pergi jauh Aurel, saya sangat menyayanginya.Saya akan lakukan apapun asal Aurel tetap di sini" Raffa makin memohon.


"Simpan kata-katamu! apapun ucapanmu tak akan merubah


keputusan saya.Selama kamu ada, takan saya biarkan Aurel bebas kamu dekati!" balas Tn Hernand berkeras dengan keputusannya.


"Tolong di pertimbangkan lagi Tuan, apa ini yang terbaik buat Aurel? saya mengatakan ini karena saya pun berharap yang terbaik buat Aurel" ucap Raffa bersungguh-sungguh.


"Kamu dengar anak tak tahu diri! yang terbaik untuk sekarang yaitu kamu lupakan Aurel, jauhi anak saya! ingat itu, sekarang pergi atau perlu saya seret hah!" ancam Tn Hernand.


"Tapi Tuan ... saya mohon, Anda boleh membenci saya tapi jangan korbankan perasaan putri Anda sendiri" pinta Raffa mengiba.


"Brakkhh!"


Tn Hernand dengan kasar menutup pintu tanpa lagi perduli dengan Raffa.Tahu kehadirannya sudah tak di inginkan Raffa pun meninggalkan tempat tersebut.


Selesai shalat Maghrib Raffa lalu merebahkan tubuhnya.Beberapa kali mencoba menghubungi Aurel namun tak ada hasil.Sepertinya memang papinya begitu berniat memisahkannya.


Lama ia termenung hingga seseorang menyadarkannya,


"Gak makan Al!? tanya Rama.


"Eh Mas Rama, nanti saja masih belum lapar" balas Raffa seraya duduk di tepi ranjangnya.


"Sepertinya masalahmu makin rumit saja, ada sesuatu yang mengganggumu lagi?" tanya Rama.


"Enggak kok Mas, saya masih bisa mengatasinya" balas Raffa merasa gengsi.


"Sudahlah Mas tahu, tadi sore Tn Hernand datang ke kantor, sempat bertemu dengan Tn Harry.Beliau sudah mencoba bicara tapi bagaimanapun Tn Hernand lebih berhak karena dia Papinya" ucap Rama.


"Sepertinya saya gak akan pernah bertemu dengannya lagi Mas, papinya akan mengirim dia ke luar negri" ucap Raffa seraya mengusap wajahnya.

__ADS_1


"Bersabarlah Al, cobalah melihat sisi baiknya, itu akan sedikit mempermudah untuk menjalaninya.Bukankah ada hal lain yang lebih penting?" balas Rama memotivasi.


"Mas Rama benar, saya bisa lebih fokus mengejar bajingan itu tanpa harus khawatir Aurel terlibat" ucap Raffa seakan menemukan semangatnya.


"Apa sebenarnya rencanamu Al? tidakkah kau ingin membawanya ke penjara?" tanya Rama serius.


"Selain kita tak punya bukti kuat, nampaknya akan sia-sia, karena penjara tak akan mampu menahannya untuk waktu yang lama" balas Raffa pesimis.


"Dengan dukungan yang ia punya ucapanmu ada benarnya, lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rama kembali.


"Saya akan menyelesaikannya secara jantan, ini antara saya dan dia, biarlah berakhir sabtu sore nanti dengan salah satu dari kita pulang atau hancur" balas Raffa begitu bertekad.


"Kau makanlah lalu temui Mas di lapangan" ucap Rama.


Tanpa bertanya Raffa keluar dari kamarnya menuju ruang makan.Sementara Rama sendiri nampak memeriksa ponsel Raffa dan tak lama ia pun pergi.


Di lapangan pribadi nampak Rama juga Raffa tengah berlatih.Tanpa di duga Rama mengajaknya duel.


"Serang dengan seluruh kemampuan yang kamu punya Al! Mas gak nerima sifat lembekmu! ini duel anggap Mas ini Leon, mengerti!"


Setelah mengangguk tanpa basa-basi Raffa menyerang Rama dengan pukulan kombinasi.Tanpa jeda di susul variasi tendangan lalu di kombinasikan dengan pukulan.


"Sial bagaimana bisa anak ini makin berbahaya seperti ini" gumam Rama dalam hati saat semua gerakan Raffa mengarah kearea cukup vital.


Saat Raffa melayangkan pukulan Rama menahannya seraya bergeser lalu mengunci tangan Raffa ke belakang.


Tanpa di duga satu sikutan Raffa Arahkan ke uluhati namun Rama menahannya.Tak berhenti di situ Raffa kembali menyiku ke arah leher di susul memukulkan kepalan tangannya.


"Sialan!" gumam Rama menepis dua serangan itu.


Raffa lalu melangkahkan kaki kirinya ke belakang secara menyilang.Lalu mengaitkan tangannya ke tangan Rama, dengan cepat Raffa menurunkan tubuhnya membuat tangan Rama balik terkunci.


Raffa lalu melayangkan lututnya ke arah kepala Rama yang ikut turun akibat gerakannya.Rama melepaskan pegangan seraya menahan serangan itu dengan tangannya lalu menghujamkan kakinya yang Raffa balas dengan gerakan sama.


Keduanya sama terdorong mundur lalu kembali memasang kuda-kuda.


"Sialan apa yang sudah kau ajarkan Vi! dengan disiplin dan waktu jangankan satu orang, lebihpun kamu akan baik-baik saja jika tangan kosong" gumam Rama tersenyum puas.


"Cukup Al! Mas gak sangka kamu punya modal yang sangat bagus.Berlatihlah terus dan kendalikan emosi kamu" lanjut Rama seraya mengulurkan kepalan tangannya.


"Baik Mas, saya akan ingat semuanya" balas Raffa seraya melakukan tos kepalan tangan.


Sementara di sebuah tempat dimana para anggota speed demons sering berkumpul, nampak Leon yang tengah gundah.


"Gue tanya sekali lagi, siapa di antara kalian yang membocorkan identitas gue!?"


"Berapa kali kita bilang gak ada satupun Boss, sama aja cari mati" balas semua orang di situ senada.


"Hey Boil, selama lo ilang apa lo ngomong sesuatu soal ini!?" tanya seorang anggota.


"Lo nyurigain gue!? gak satupun gue bocorin sialan malah Blake yang gue kambing hitamkan"


"Blake gue yakin dia gak tahu soal gue, kecuali cewek yang kita siksa!" ucap Leon teringat.


Ucapan Leon membuat semua orang terdiam lalu mengingat kejadian mereka menyiksa cewek bernama Mely, walaupun entah apa hubungannya dengan Raffa.


"Heh Leon! lo gak usah khawatir gue akan bersama lo untuk ngabisin bocah yang sudah menantang kita, lo jangan takut kita semua akan ada di tempat itu sebelum lo datang!"

__ADS_1


Tiba-tiba Wolf datang dengan tanpa basa basi.Ia akan mendukung penuh di rencana pertemuannya dengan Raffa.Siasat licik sepertinya memang telah di rencanakan oleh mereka.


[[ Bersambung ]]


__ADS_2