
Pagi menjelang siang di salah satu pemakaman umum nampak seorang wanita tengah khusyu berdo'a di dekat satu makam.
Hendra Wirawan Alfarizi, begitu nama yang terukir di batu nisan tersebut.Selesai berdoa wanita itu terlihat mulai berbicara layaknya tengah berhadapan langsung dengan Almarhum.
"Mas, sebelumnya Ais mau minta maaf karena tak bisa menjaga diri juga anak-anak.Ais selalu meninggalkan Nita belum lagi Raffa yang selalu saja mendapat masalah, Ais memang belum bisa menjadi Ibu yang baik" ucapnya begitu merasa bersalah, "Ais sudah berusaha untuk kuat namun sendirian memang tak mudah, andai kamu tak secepat itu pulang Mas" ucap Bu Aisyah seraya mengusap nisan suaminya itu.
Mata Bu Aisyah mulai berkaca-kaca, bukan tak ikhlas namun ada kalanya sisi lain hatinya membuat ia berharap semua ini tak nyata.
"Ais malu sama kamu Mas, belakangan ini Ais selalu tinggal di rumah seseorang, niat Ais baik tapi terkadang Ais merasa semua itu pasti melukaimu.Maafkan Ais Mas jika telah mengkhianatimu"
Setelah menarik nafas Bu Aisyah kembali membuka suaranya, "Mas, kalau kamu di sini pasti senang bersama mereka, keduanya gadis baik, cantik, hanya Alena paling manja, Alisa sendiri lebih serius tapi hatinya lembut.Mereka kehilangan Mamanya dan Ais gak bisa mengabaikan mereka, terlebih kalau ingat Mas sangat ingin punya anak perempuan setelah Raffa" Bu Aisyah terus menumpahkan semua kegelisahan hatinya.
"Apa yang seharusnya Ais lakukan Mas!? permintaan mereka sungguh berat, aku sungguh tak bisa membayangkan jika harus melangkah ke arah sana, Ais tak bisa mengingkari janji kita" ucapnya dengan air mata yang mulai menetes.
Cukup lama Bu Aisyah berkeluh kesah hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang karena hari yang semakin panas.
Sementara selesai jam kuliah siang Raffa sendiri mengajak Aurel untuk bicara empat mata di satu taman kampus.Sedikit ragu ia memulai pembicaraannya.
"Sayang, sebenarnya ada sesuatu yang harus aku sampaikan sama kamu" ucap Raffa berusaha tenang.
"Ada apa sih!? nampaknya serius banget!?" ucap Aurel sedikit was-was melihat Raffa yang begitu serius.
"Ini soal permintaan Papimu untuk bertemu orangtuaku, kamu tahukan kalau aku hanya tinggal punya ibu!?" ucap Raffa tak enak hati.
"Iya aku tahu kok, gak masalahkan!? kamu ajak ibumu saja sayang untuk nemuin Papi Mami, bisakan!?" balas Aurel.
"Itu dia sayang, aku ragu bisa bawa ibuku karena ibu lagi ada masalah dengan keluarga Tn Harry" ucap Raffa mencoba jujur.
"Maksud kamu!? keluarganya Alena!?"
"Begitulah, ibu memutuskan pulang kemarin dan gak tahu kapan bisa datang kesini lagi terlebih karena terbebani permintaan Alisa" ucap Raffa menjelaskan.
"Alisa! siapa itu Alisa!? kemarin Alena sekarang ada lagi Alisa, ada aja sih gadis di dekat kamu!?" balas Aurel curiga.
Raffa tersenyum melihat reaksi Aurel ia paham betul akan sikap Aurel yang satu ini.
"Malah senyum-senyum, siapa Alisa hmmh!? siapa itu Alisa!?" tanya Aurel seraya menatap Raffa.
Tanpa di duga tanpa berkata Raffa mengecup bibir Aurel dengan lembut.
"Mmuahh"
"Hmmm! ihh kamu malah genit! sembarangan gak lihat kita lagi dimana!?
"Muaahhh" kembali Raffa mengecup bibir Aurel.
__ADS_1
"Raffa! nyebelin gak lihat ini lagi dimana!?" ucap Aurel seraya mendorong pipi Raffa, "Bukannya jawab mala ... emmmmhh" belum selesai bicara bibir Aurel kembali Raffa kecup.
"Ihhhhh! gak lucu tauuuu! mau ngeles ya! ihhhh dieeemmm" ucap Aurel terus menahan wajah Raffa yang terus berusaha menciumnya.
"Abis kamu tuh lucu kalau jeles gitu, gemes" ucap Raffa.
"Cubit nih! jawab dulu gak!? Alisa siapa!?" tanya Aurel kembali dengan tangan siap mencubit pinggang Raffa seraya menatap tajam.
"Iya iya, mau aku ceritain apa ketemu orangnya langsung?" balas Raffa balik bertanya.
"Ih kamu tuh nyebelin banget malah main-main, cerita aja sih susah amat!" sahut Aurel lalu mencubit Raffa dengan keras.
"Aahhhhhh! aduhhhh! Iya baik Aduhhhh! ampun sayang, Alisa itu kakaknya Alena" bisik Raffa yang sengaja tepat di telinga Aurel.
"Ihhhhh!" desis Aurel merasa merinding, "Ish malah sengaja lagi, bisa diem gak!" seru Aurel seraya mencengkram pipi Raffa hingga bibirnya tertekuk mirip suneo.
"Ia bisza kokh" balas Raffa tak jelas.
Aurel yang merasa geli pun cekikikan, "Hihi jadi lucu suara kamu, hihi" ucap Aurel lalu melepaskan tangannya.
"Jadi gimana? kamu mau bertemu dengannya? rencananya aku mau kesana untuk mencoba menyelesaikan masalah ibu" tanya Raffa kembali serius.
"Emhh ya sudah aku ikut gimana kamu saja" balas Aurel sedikit gengsi.
Benar saja sore hari selepas kuliah mereka berangkat menuju kediaman keluarga Adhitama.Rumah besar itu nampak sepi seakan tidak ada penghuninya.
"Waalaikumsalam, eh Den Raffa, Non" balas Bi Irah, "Semenjak Ibu Aisyah pulang rumah ini jadi sepi Den, Non Alisa juga Non Alena lebih sering mengurung diri, apalagi Non Alisa tak pernah mau makan bila tak di paksa"
Raffa juga Alena begitu merasa terkejut mendengarnya.
"Gitu ya Bi, saya juga tak tahu harus ngapain Bi, semua keputusan ada di tangan Ibu.Melihat seperti ini Raffa juga berharap Ibu ada di sini" ucap Raffa terlihat bingung.
"Mudah-mudahan saja Ibunya Den Raffa kembali lagi ke sini.Bibi juga lebih senang kalau Bu Aisyah ada di sini" balas Bi Irah penuh harap.
Raffa pun tersenyum, "Amiinn Bi" ucap Raffa.
"Sayang? sebenarnya ada apa sih? emang ada apa sih sama Ibu kamu?" bisik Aurel begitu penasaran.
"Mereka sudah nyaman dengan kehadiran Ibu, adanya Ibu sanggup mengobati kerinduan mereka akan Mamanya" balas Raffa lalu kembali berbicara pada Bi Irah, "Bi saya ke atas dulu, mudah-mudahan bisa membujuk mereka"
"Iya Den silahkan" balas Bi Irah.
Tak lama Raffa pun beranjak ke kamar Alena bersama Aurel.Ia harap adanya Aurel bisa membantunya bicara dengannya.
"Alena? apa kamu di dalam? boleh kami masuk?"
__ADS_1
"Alena? ini aku Aurel, boleh bicara sebentar?"
"Aurel!? kenapa dia ke sini?" gumam Alena lalu beranjak untuk membuka pintu.
"Hai Alena, apa kabar?" ucap Aurel seraya melambaikan tangannya.
"Hai juga Aurel, tumben kamu kesini" balas Alena nampak tak bersemangat.
"Aku sengaja kesini sama Raffa untuk menjengukmu karena katanya kamu lagi butuh teman.Aku tahu aku bukan teman terbaik kamu tapi aku akan jadi pendengar yang baik" ucap Aurel nampak tulus.
Alena yang memang butuh teman bicara pun mengajak Aurel ke dalam kamarnya.Sementara Raffa sendiri mencoba bicara dengan Alisa.
"Tok Tok Tok!" Raffa pun mengetuk pintu kamar Alisa, "Maaf Alisa, boleh saya bicara?"
Lama menunggu tak ada satupun jawaban dari dalam.Membuat Raffa kembali memanggil.
"Alisa aku tahu kamu lagi kecewa hanya saja tolong maafkan Ibu, tolonglah beri waktu untuk ibu memikirkannya karena hal ini tak mudah baginya" ucap Raffa berharap Alisa mendengarnya.
"Diaam! kamu tak perlu berkata penuh harapan.Aku gak butuh harapan harapan palsu, lebih baik merasa sakit tapi itu kenyataan!" teriak Alisa dari dalam.
"Tak bisakah kamu merasakannya, Ibu sangat menyayangi kalian bahkan aku merasa ia lebih memperhatikan kalian dari pada aku anaknya, Ibu atau bukan rasa sayangnya sama besarnya bukan?" ucap Raffa kembali mencoba membuka hati Alisa.
"Aku tahu yang aku mau! kalau Ibumu memang perduli, ia akan mengerti setidaknya tidak langsung meninggalkan kita seperti ini!" balas Alisa tetap berkeras hati.
"Ya mungkin Ibu ada sesuatu yang harus ia lakukan di rumah, mengurus Nita juga pekerjaannya" ucap Raffa lagi.
"Aku tak perduli, apa semua itu lebih penting dari kita! sudah! lebih baik kamu pergi aku tak ingin membahasnya lagi.Biarkan dia pergi selamanyapun aku tak perduli!" teriak Alisa kembali makin emosi.
"Ya sudah aku pergi, tapi aku janji akan coba bicara sama Ibu" ucap Raffa lalu beranjak kembali ke kamar Alena namun saat melihat Alena tengah serius bicara berdua Aurel ia pun memilih turun.
Di temani secangkir kopi bikinannya sendiri Raffa mencoba menenangkan diri seraya mencari jalan keluar masalah ini.
"Kenapa bisa serumit ini juga sih, apa harus gue paksa Ibu datang ke sini!?" gumam Raffa terus berpikir.
"Kamu di sini ternyata, apa kamu bisa membujuknya?" tanya Aurel seraya duduk di sebelah Raffa.
"Alisa nampaknya begitu kecewa hingga begitu terlihat dari amarahnya" balas Raffa seraya memijat keningnya.
"Sabar ya sayang, sebenarnya apa sih keinginan Alisa?" tanya Aurel ingin memastikan.
"Alisa juga Alena meminta Ibu untuk jadi Mama mereka" balas Raffa jujur.
"Apa! maksudnya menjadi ibu sambung mereka!? itu Artinya Tn Harry akan jadi?" ucapan Aurel terhenti karena begitu tak percaya.
"Ya begitulah, saat mereka memintanya langsung pada ibu, ibu pun syok hingga pingsan lalu ke esokan harinya ia pulang.Mungkin semua ini terlalu berat baginya, aku pun tak tahu sayang" ucap Raffa terdengar pilu.
__ADS_1
"Jadi Raffa ... secara ia akan jadi bagian keluarga ini juga! artinya Papi tak akan memandang rendah dia lagi! ini benar-benar mengejutkan, orang sebaik kamu memang akan beruntung pada akhirnya" gumam Aurel dalam hati seraya merangkul lengan Raffa.
[[ End ]]