Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
61.Dua Bintang


__ADS_3

Siang hari di satu kantin nampak Aurel tengah diam seorang diri.


Di temani satu gelas jus mangga ia terus menatap ponselnya.


Entah apa yang ia cari karena sedari tadi hanya menggeser layar ponselnya.Hingga seseorang mengagetkannya.


"Hei, ngapain bengong sendirian" ucap Luna.


"Eh lo Lun, kirain siapa bikin jantungan aja lo" balas Aurel mengusap usap dadanya.


"Sorry, habis gue lihat lo sendirian, udah gitu galau amat kelihatannya.Lo kenapa?" tanya Luna.


"Huft, entahlah gue sendiri bingung sama diri gue sendiri" keluh Aurel seraya menarik nafas.


"Karena Aditya?" tebak Luna seraya menatap Aurel.


Sontak Aurel menatap Luna dengan mata membulat sempurna.Namun seketika ia membuang pandangannya lagi.


"Kenapa sih dia mesti balik lagi ke kehidupan gue, di saat gue sudah menemukan kebahagian" ucap Aurel terlihat frustasi.


"Rel memang seperti apa sih kamu sama Aditya, kenapa bisa lo deket lagi, bukannya lo dah mati rasa sama dia?" tanya Luna begitu mendetail.


"Gue juga gak berharap ini terjadi, tanpa sengaja gue ketemu dia di pertandingan basket.Dia minta hubungan kita balik seperti dulu lagi" sahut Aurel.


"Seperti dulu gimana? bukannya hubungan lo sama dia berakhir gak baik?" tanya Luna lagi.


"Di situ masalahnya, banyak hal yang ia ungkap.Dia bilang cuma gue yang ada di hatinya, dekat dengan Larisa pun karena terpaksa" balas Aurel.


"Masa iya sih? lalu apa kabar soal dia deket dengan cewek lain?" kembali Luna mengingatkan.


"Dia bilang semua hanya untuk membuat Larisa membencinya, lagian gak semua dia pacarin" sahut Aurel.


"Dan lo percaya begitu aja, setelah apa yang lo lalui selama ini? gue sama Mitha yang tahu gimana sakitnya lo, hingga itu merubah lo jadi pribadi yang menyebalkan" ucap Luna menegaskan.


"Iya gue gak lupa soal itu, tapi ini bukan soal percaya atau tidaknya.Ini soal gue yang belum bisa berdamai dengan masa lalu"


"Maksud lo Rel?" Luna terheran.


"Saat gue ngerasa mampu mengubur dan menutupnya rapat-rapat, ia datang dengan penjelasan, di situ gue sadar gue belum bisa menghapus dan melupakannya" sahut Aurel lalu menangkup wajahnya begitu pilu.


"Jadi lo masih mengharapkan Aditya?" ucap Luna begitu penasaran.


"Sebenarnya ada yang lain yang gue harapkan tapi gue gak mau ada di sisinya dengan setengah hati" balas Aurel seraya menopang dahinya terlihat kusut.


"Dan orang itu Raffa?" tebak Luna dengan yakin.


Aurel pun mengangguk lalu menyandarkan badannya seraya membuang nafas dengan kasar.


"Gue sadar semua tak mungkin terhapus, tapi gue akan menunggu hingga gue bisa berbaikan dengan masa lalu itu.Karena gue gak mau mencintainya setengah hati" Ucap Aurel begitu penuh harap.


Luna lalu memeluk Aurel yang mulai berkaca-kaca.Aurel yang memang butuh seseorang tak segan membenamkan wajahnya di bahu sahabatnya itu.


"Lakukanlah apapun itu, jika memang itu yang terbaik" balas Luna.


"Iya Lun, kalau pun nanti dia terlanjur menemukan seseorang, gue akan menerimanya daripada harus memaksa dan menyakitinya" ucap Aurel dengan tulus.


"Gue berharap yang terbaik buat lo, apapun yang terjadi gue cuma minta lo tetap jadi Aurel yang gue kenal.Karena Aurel yang sekarang saja sudah cukup nyebelin" sahut Luna berharap.


"Terima kasih Luna, terima kasih untuk selalu ada di saat sulit dan di saat gue butuh seseorang" ucap Aurel tersenyum begitu lega.


Luna tersenyum lalu melepas pelukannya.Ia kembali berucap seraya menatap Aurel penuh perhatian,


"Itu gunanya sahabatkan?" ucap Luna tulus.


Sementara itu Raffa sendiri nampak berada di hall basket di temani Ryo.


"Gak cape emang Behb latihan mulu, harusnya simpan tenaga kali, buat nanti malam" ucap Ryo seraya mengoper bola.


"Ini kan cuma latihan ringan gak mungkin juga kehabisan tenaga" sahut Raffa terus melatih tembakannya.


"Awas aja lo main jelek kaya kemaren.Jujur lo, semua gara-gara cowok yang sama Aurel kan?"


"Ngomong apaan sih lo, bikin males aja" balas Raffa lalu duduk di pinggir lapangan.


"Gak usah ngeles lo dodol, keliatan dari muka lo" ucap Ryo seraya mengikutinya.


"Gue cuma gak nyangka aja ada cowok sedekat itu sama dia, setau gue dia selalu sendirian" sahut Raffa.


"Bau-baunya ada yang cembokur, jangan-jangan lo dah jatuh hati ya sama Aurel?" tanya Ryo tersenyum seraya menaik-naikan alisnya.


"Heh entahlah, hanya saja semua kejadian dengannya sangat membekas, aneh memang" ucap Raffa terkenang.


"Dih spesies langka emang lo itu, orang terkenang masa indah, ini terkenang masa pedih nan pahit" sahut Ryo seraya menepuk jidat.


"Gue tanya sama lo, waktu SMP lo ketahuan ngerokok dan bungkus rokoknya lo kasih gue.Endingnya kita di hukum berdua, menurut lo itu kenangan pahit apa indah?"

__ADS_1


"Hahaha kenangan indah banget itu, masih inget aja lo Behb" balas Ryo tertawa puas.


"Indah atau pahit tetep terkenangkan dodol" ucap Raffa lalu kembali berlatih ringan.


Sementara waktu berlalu dengan cepat hingga Tanpa terasa pertandingan semifinal pun segera di mulai.


Raffa yang baru saja akan memasuki Arena pertandingan di kejutkan seseorang yang memanggilnya.


"Kakak! Kak Al!"


"Eh ya ampun Cella, sama siapa ke sini?" tanya Raffa.


"Sama Kak Aurel, tadi sih bilangnya mau parkir tapi dah dua kali lebaran belum muncul juga" sahut Cella.


"Ya mungkin nyusul Bang Toyib kali Cell hehe" ucap Raffa seraya mengacak rambutnya.


"Hihi tar malah gak pulang-pulang dong, ihh udah deh Kak rambut aku tar keriting lagi" balas Cella seraya balas mengacak rambut Raffa.


"Ehem ehem" Ryo yang baru datang pun sedikit mengejutkan mereka.


"Eh Kak Ryo, Kak Luna dan Kak ... maaf gak tahu" ucap Cella cengengesan.


"Hehe kalo gak tahu kenalan makanya, itu Kak Alena" ucap Raffa menahan geli.


"Ohh hai Kak, kenalin aku Arcella salam kenal ya" ucap Cella lalu mengulurkan tangannya.


"Hai Arcella nama Kakak Alena, salam kenal" balas Alena tersenyum seraya menjabat tangan Cella.


"Nama sama orangnya sama-sama cantik" puji Cella.


"Ehh bisa aja kamu ini, kamu juga cantik kok, cantik banget malah" balas Alena seraya mengusap pipi Cella.


"Ya udah Kakak masuk duluan mau siap-siap, nah kamu sama Kakak Ryo ya De" ucap Raffa.


Belum juga Raffa melangkah pergi seseorang menegurnya,


"Buru-buru amat Bro, masih lama juga kali mulainya"


Saat Raffa menoleh jantungnya mulai berdetak lebih cepat.Namun Cella lah orang yang paling terlihat kesal.


"Ish Kak ngapain sih bisa sama dia" ucap Cella pada Aurel.


"Gak sengaja ketemu di parkiran Cell" balas Aurel setengah berbisik.


"Kenapa sih Cella, dah lama gak ketemu kok mukanya jutek gitu" ucap Aditya.


Aurel sendiri mendengarnya begitu tersentil, andai ia bisa bersikap seperti Cella.Namun baginya jiga masih membencinya berarti belum bisa merasa ikhlas.


"Kak Luna, Kak Alena, Kak Ryo kita masuk duluan yuk biar dapet tempat duduk paling enak" tanpa malu Cella menggandeng Luna juga Alena lalu beranjak masuk.


"Gue duluan juga ya" ucap Raffa.


"Al, ... " belum juga Aurel selesai Aditya menyelanya.


"Bro temenin gue, ada yang mau gue omongin sama lo.Aurel kamu susul Cella ya" ucap Aditya lalu berjalan ke arah ruang ganti.


Di lorong ruang ganti tiba-tiba Aditya menahan langkah Raffa dan berucap,


"Bro gue cuma mau bilang satu hal, gue minta mulai saat ini lo jauhin Aurel karena dari sebelum ini pun Aurel cuma milik gue"


"Sorry bro itu bukan urusan gue, sampai ketemu di pertandingan" setelah menepis tangan Aditya di dadanya Raffa pun pergi.


Pertandingan Semifinal pun akhirnya di mulai.Kedua tim sudah bersiap di lapangan.Semua perhatian tertuju pada dua bintang di lapangan.


Kuarter pertama di mulai tim Taruna yang di pimpin Aditya langsung bermain agresif.Ia menjadi pemain yang begitu di andalkan.


"Kakak ayo Kak! jangan mau kalah!" teriak Cella paling heboh.


"Semangat dong Al" seru Ryo juga Luna tidak mau kalah.


Aditya terlihat dengan sengaja selalu menantangnya berhadapan.Setiap memegang bola tak hentinya ia memprovokasi Raffa.


"Kali ini lo yang bakal habis bro" ucap Aditya lalu melakukan terobosan cepat di akhiri aksi reverse layup tanpa bisa di tahan siapapun.


"Lo terlalu lambat bro, sebaiknya nyerah saja" dengan sombongnya Aditya menjentikan kelingkingnya.


Rekan-rekan Raffa pun mulai gusar dengan tingkahnya namun dengan cepat ia meredamnya,


"Sudah jangan terpancing, kita bermain seperti biasa, biar dia gue yang urus"


Raffa sendiri bermain lebih santai dan tak terburu-buru,


Saat Raffa memegang bola Aditya terus menempelnya, ia benar-benar ingin membuktikan siapa yang terbaik.


Dengan sedikit fake pass Raffa lalu menerobos pertahanan tim Taruna,

__ADS_1


"Lo gak akan bisa lepas dari gue" ucap Aditya.


Dengan cepat Raffa memperlambat larinya di ikuti gerakan dribble between the leg ia kembali berlari cepat menuju ring di akhiri gerakan layup.


"Terlalu mudah di baca bro" ucap Aditya seraya melompat untuk membloknya.


Tanpa di duga Raffa memindahkan bola ke tangan lainnya lalu melakukan passing ke belakang.


Adi yang berlari di belakangnya langsung melakukan tembakan yang berhasil menambah poin.


Aditya yang kesal hanya bisa mencibir,


"Heh, pengecut gak berani lo ngadepin gue!"


Raffa hanya membalasnya dengan senyuman yang membuat Aditya semakin kesal di buatnya.


Sementara di bangku penonton Aurel hanya bisa diam dengan perasaan gelisah,


"Semoga kamu menang Al" gumannya dalam hati.


Di lapangan sendiri kuarter kedua sudah berjalan, lagi-lagi Aditya mengajak Raffa bertarung 1on1.


Dengan gerakan cepat Aditya memamerkan semua tehnik dribblenya lalu melakukan dribble mundur, dengan sedikit keras Aditya mendorong Raffa dengan punggungnya membuat Raffa terpental lalu dengan mudah ia mencetak angka.


"Ternyata cuma segini kemampuan lo" ucapnya seraya melangkahi Raffa yang terlentang akibat dorongannya.


Armand yang sudah jengah lalu mendorong Aditya untuk menjauh.Lalu membantu Raffa tuk berdiri.


"Sit foul dong itu!" teriak Ryo gak terima.


"Balas Kak Al, jangan kasih ampun!" teriak Cella geregetan.


"Cella jangan nyuruh yang enggak-enggak, sabar kenapa sih" ucap Luna menenangkan.


"Gak usah pake sabar kalo sama orang ngeselin itu, rasanya pengen ngegetok mainnya curang" Cella makin kesal.


Alena sendiri hanya tersenyum geli melihat tinggkah Cella.


Sementara pertandingan kuarter tiga sudah berjalan dengan skor 50-56 untuk tim Taruna.Aditya benar-benar jadi mesin pencetak angka untuk timnya.


"Lo memang bukan lawan seimbang buat gue, sorry gue gak akan berbelas kasihan" selesai berucap Aditya yang sedang memegang bola langsung menembak dan berhasil menambah poin.


Raffa yang tak mau kalah terus memberikan perlawanan.Dengan mengandalkan kerja sama tim mereka terus menempel perolehan poin menjadi 65-68 hingga akhir kuarter tiga.


Setelah jeda waktu beberapa menit akhirnya kuarter ke empat di mulai dengan tim taruna berkesempatan untuk menyerang.


Tak seperti sebelumnya gerakan Aditya tak secepat dan bertenaga seperti sebelumnya,


dan Raffa sudah menduganya.


"Kenapa bro apa lo mulai kelelahan?" ledek Raffa.


"Lelah? jangan mimpi!" balas Aditya.


Aditya kembali berlari cepat lalu berhenti di ikuti gerakan memutar badan, sedikit tipuan operan lalu dengan cepat melakukan fade away jump shoot.


Namun Raffa yang mampu mengikutinya, dengan cepat memblok tembakannya.Setelah merebut bola Raffa berlari dengan cepat lalu melompat begitu tinggi di akhiri dengan one hand dunk bagai pemain bintang NBA.


Sontak penonton bergemuruh melihat aksinya karena slam dunk merupakan aksi paling di tunggu dalam pertandingan basket.


"Yeayyy Kak Al hebattttt" Cella melompat seraya tepuk tangan.


"Gila si Bebh ngedunk" ucap Ryo tak percaya.


Luna dan Alena saling berpelukan begitu bergembira.Hanya Aurel yang tak bisa mengeluarkan ekpresinya.


Raffa sendiri berkata menyindir pada Aditya,


"Sehebat apapun lo, pada akhirnya basket tetaplah permainan tim"


Sisa pertandingan menjadi milik tim Raffa karena sang bintang Taruna sudah kehabisan tenaganya.Tim Raffa pun menang dengan skor 87-80.


"Yeahhhh final!" seru Armand penuh semangat.


"Kita menang lagi guys, yes!" teriak Raffa seraya mengangkat kedua lengannya.


Sontak semua pemain pun merangkul Raffa seraya melompat lompat,


"Final, final, final!"


Sementara tim Taruna terlihat lesu terutama sang bintang Aditya, dia duduk tertunduk seraya menutup wajahnya.


"Sialan, kenapa bisa gue kalah" gumannya.


[ Bersambung ]

__ADS_1


Akan bertemu siapakah Raffa di final?


Stay tuned lagi ya 😃


__ADS_2