Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
75.Interogasi


__ADS_3

Siang hari Alena terlihat terburu-buru menuju kantin.Beberapa tatapan bahkan teguran dari orang yang mulai mengenalinya hanya ia balas dengan senyuman.


Sesampainya di kantin seseorang yang ia cari pun tengah menunggunya.


"Hei Al, senang sekali bisa ketemu kamu" ucap Alena terlihat senang.


"Aku juga begitu, apa kabar Alena?" balas Raffa balik bertanya.


"Alhamdulillah aku baik, kamu sendiri gimana Al? aku turut menyesal dengan kondisi kamu, andai ada yang bisa aku lakukan" ucap Alena seraya mengusap lengan Raffa.


"Aku juga baik, kamu jangan merasa menyesal, sudah banyak yang kamu lakukan, bahkan aku belum bisa membalasnya" balas Raffa tak enak hati.


"Sudahlah, selalu saja kamu menganggapnya sebagai hutang, aku tulus melakukannya" ucap Alena seraya memegang lengan Raffa.


Raffa lalu tersenyum penuh syukur bisa mengenal Alena.Ia berharap kebahagian selalu bersama gadis baik ini.


"Sayang!?" pekik seseorang dengan wajah terlihat memerah.


"Aurel!?" ucap Raffa salah tingkah.


"Sayang!?" guman Alena seraya menarik tangannya.


"Kamu ke sini kok gak ngajak aku!?" tanya Aurel terlihat cemburu.


"Iya maaf tadi habis dari mesjid aku langsung kesini, kebetulan Alena juga baru sampai" balas Raffa beralasan.


"Maaf ya, aku kira Raffa juga lagi sama yang lain seperti biasanya.Kamu apa kabar Aurel?" ucap Alena merasa tak enak hati.


"Aku baik terima kasih, kamu sendiri ada apa datang ke sini?" balas Aurel penuh selidik.


"Emm, ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama Raffa, maaf kalau aku mengganggu" ucap Alena mulai gelisah.


"Ganggu sih enggak, cuma kurang enak aja kamu berduaan sama pacarku" balas Aurel menekankan.


"Hah pacar!? maksud kamu Raffa?" ucap Alena seraya menunjuk Raffa.


"Alena maaf sebentar ya, Aurel aku mau bicara sama kamu" ucap Raffa lalu membawa Aurel sedikit menjauh.


"Kita mau kemana sih!?" balas Aurel seraya mengikuti Raffa.


Setelah sedikit menjauh Raffa pun kembali membuka suaranya,


"Kamu kenapa sih?" tanya Raffa.


"Aku kenapa!? aku gak ngelarang kamu ketemu siapapun tapi apa perlu pegang-pegangan tangan segala"


"Siapa sih yang pegangan tangan? Alena cuma menanyakan kabar saja kok, jangan bersikap berlebihan ya" ucap Raffa mencoba memberi pengertian.


"Berlebihan? wajar dong aku yang pacar kamu gak suka kamu di pegang cewek lain, cantik lagi, aku cemburu tahu" balas Aurel berterus terang.


"Aku paham, tapi kamu tahu kan siapa yang aku sayang? jangan kaya gitu lagi ya? lagian Alena juga gak tahu soal kita, iya kan?" ucap Raffa seraya mengusap lembut pipi Aurel.


"Iya maaf, habis aku gak rela kamu deket-deket sama cewek lain" ucap Aurel merajuk.


Tak lama mereka kembali duduk satu meja.Raffa yang merasa tak enak kembali mencoba mencairkan suasana.


"Maaf Alena kalau kami lama, hal penting apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Raffa.


"Oh itu, papah mau ketemu kamu katanya ada sesuatu yang mau di bicarakan" ucap Alena terasa makin canggung apalagi melihat Aurel yang masih terlihat cemburu padanya.


"Sekarang juga Alena!?" tanya Raffa.


"Kata papah sih lebih cepat lebih baik" balas Alena singkat.


"Ya sudah mari berangkat, lagian tak ada jadwal kelas lagi hari ini" ucap Raffa.


"Aku ikut ya sayang, bolehkan?" tanya Aurel.

__ADS_1


Seakan mengerti Alena langsung membalasnya tanpa menunggu Raffa, dengan mengangguk ia berkata,


"Boleh kok Aurel, lagian biar nanti aku ada teman ngobrol juga saat kamu ketemu papah Al" ucap Alena mencoba bersikap baik.


Tanpa membuang waktu mereka pun segera berangkat menggunakan mobil Aurel.Tak beberapa lama mereka sampai di perusahan Adhitama.


Saat mereka berjalan tentu saja mereka menjadi pusat perhatian.Banyak yang tak percaya Raffa menggandeng gadis lain dan itu bukan Alena.


Begitupun Vera yang terus termenung melihat Raffa,


"Mba Vera papah adakan di ruangannya?" tanya Alena membuyarkan lamunan Vera.


"A, ada ada Non, silakan masuk saja" balas Vera yang terus mmperhatikan Aurel.


Alena pun lalu masuk ke ruangan papahnya di ikuti Raffa dan Aurel.


"Siang Pah, ini Alena sama Raffa sengaja ke sini nemuin Papah" ucap Alena seraya mencium tangan Tn Harry.


"Siang sayang, kalian datang juga.Senang sekali ketemu kalian semua" balas Tn Harry.


"Assalamualaikum Tn Harry" ucap Raffa lalu mencium tangannya di ikuti Aurel.


"Waalaikumsalam Raffa, oh ini Aurel kan, putri Tn Hernand?" ucap Tn Harry.


"Iya saya Aurel Om" balas Aurel terlihat sungkan.


"Jadi ini gadis yang mampu menaklukan hati kamu Al?" ucap Tn Harry seraya tersenyum.


Tentu saja keduanya di buat salah tingkah tapi beberbeda dengan Alena ia hanya tersenyum tipis.


"Maaf Tn Harry Alena bilang ada yang ingin di bicarakan, makanya saya datang ke sini" ucap Raffa mencoba mengalihkan.


"Itu benar Al, tapi bisa kita bicara empat mata saja? kita bicara di ruangan sana" balas Tn Harry.


Ruang kerja Tn Harry memang memiliki beberapa ruangan lain yang lebih pribadi.Seakan di buat senyaman mungkin untuk menunjang semua keperluannya.


"Emm Aurel aku ambilin minum sebentar ya" ucap Alena lalu menuju kulkas yang tak jauh darinya.


"Eh makasih Alena gak usah repot-repot" balas Aurel cengengesan.


"Boleh aku tanya sesuatu Aurel?" ucap Alena gugup.


"Boleh, tanya aja" balas Aurel.


"Apa kamu sama Raffa memang sudah berhubungan? maaf aku ngerti kalau kamu gak mau jawab" ucap Alena makin gugup.


"Eh gak masalah kok Alena, maaf kalau aku tadi keterlaluan sama kamu, sebenarnya baru seminggu ini kita dekat" balas Aurel menjelaskan.


"Ohh kamu beruntung sekali, Raffa memang orang baik, semoga kalian awet" ucap Alena dengan dada yang berdebar.


"Makasih Alena, kamu benar baru kali ini aku bertemu orang sebaik Raffa, kadang aku menyesal dulu sudah bersikap jahat padanya" balas Aurel sedikit nostalgia.


"Hehe tapi itu malah membuat Raffa memperhatikanmu, iya kan? bagaimana ceritanya kalian bisa jadian?" tanya Alena mencoba membangun kedekatan.


Kedua gadis itu pun seakan menjadi akrab layaknya sahabat, saling bercerita tanpa ada rasa canggung sedikitpun.Tanpa tahu apa yang sedang Raffa juga Tn Harry bicarakan.


Waktu berlalu hingga malam tiba.Begitu sepi dan hening bagi seseorang yang tengah terikat dengan mata tertutup.


"Woy lepasin gue! apa mau lo sebenarnya sialan!" Boil terus meronta dengan sisa tenaganya.


Sementara dari luar ruangan lain beberapa orang terus memperhatikannya.Hingga salah satu dari mereka masuk ditemani dua orang bertubuh kekar.


"Masih punya tenaga juga lo keripik!" seru Andre dengan penutup wajahnya.


Seorang bodyguard lalu melepas penutup mata sanderanya tersebut.


"Siapa kalian, dimana gue sekarang sialan!" teriak Boil dengan hati sedikit ciut melihat tiga orang menatapnya.

__ADS_1


"Heh! minggu lalu di tempat yang sepi seperti ini, apa saja yang sudah lo sama teman sampah lo lakukan pada seseorang, gak lupa kan lo!" herdik Andre seraya menggebrak meja di depannya.


"A, apa maksud lo!? gua gak tahu apa-apa!" balas Boil beralasan.


"Kemarikan semua peralatan itu" ucap Andre.


Seorang bodyguard lalu menuruti Andre dan menyimpan semua peralatan yang nampak berbahaya di atas meja.


"Sepertinya gue harus bertindak kasar biar lo ingat" ucap Andre lalu mengambil pemantik api besar seraya menyalakan rokok.


"Sekali lagi gue tanya, minggu lalu di sebuah gudang apa saja yang lo sudah lalukan bajingan!" bentak Andre lalu mengarkan api tepat di pahanya.


"Apa yang lo lakukan, jangan, lepasin gue!" teriak Boil yang mulai merasakan hangat di pahanya.


"Apa yang lo lakukan minggu lalu bangsat!" bentak Andre.


Tiba tiba salah satu bodyguard menjambak Boil lalu menamparnya dengan tenaga sedang.


"Akhhhhh! gue gak melakukan apa-apa! lepasin gue!" pekik Boil mulai ketakutan.


"Masih berani bohong lo krempeng! lo dan berandalan lo sudah salah bikin celaka orang! mau gue matiin seperti lo matiin dia heh!" ucap Andre lalu semakin mendekatkan api pada pahanya Boil.


"Gue gak tau apa-apa! gue gak tau apa-apa!" teriak Boil seraya menahan panas yang menjalar di pahanya.


"Heh! masih kuat lo bajingan.Buka mulutnya kita lihat seberapa kuat dia hidup tanpa gigi" ucap Andre lalu menggambil Tang buaya.


Satu bodyguard dengan kasar lalu menjatuhkan kursi membuat Boil terjengkang.Satu bodyguard lalu menahan mulutnya.


"Gigi depannya gue buat ompong dulu, kayanya bagus nih" ucap Andre tanpa ragu lalu menjepit gigi depan boil.


"Ahhhhhh! Hmmmmmm! jangannnn! ammmpuunn! jangann! gue cuma di ssurruhhhh! tolong ampuni gue!" jerit Boil sebisanya.


"Siapa yang nyuruh lo bangsat!" balas Andre makin emosi.


"Ampun! gue cuma di suruh, gue gak bisa bilang karena mereka akan bunuh gue!" balas Boil beralasan.


"Dengar bajingan! seseorang mencoba membunuh adik gue dan speed demons ada di belakang ini semua.Lo bilang atau enggak gue pasti nemuin setan itu! katakan sialan! atau lo mati di tangan gue!" secepat kilat Andre meraih pisau belati lalu menancapkan tepat di antara ************ Boil.


"Ampun! gue cuma menemani mereka ke tempat itu, yang menjadi leadernya ... " ucap Boil tak sanggup meneruskan.


"Siapa bajingan cepat katakan!" Andre makin tak sabar lalu mencekik Boil.


"Hekkkkhhh! di, dia Blake, hkkkk Blake yang saat i, itu bertanggung jawab" balas Boil sudah benar-benar ciut nyalinya.


"Urus bajingan ini" ucap Andre lalu beranjak keluar.


Sedangkan ke dua bodygurd mendudukan Boil lalu menutup kembali kedua matanya.


Diruangan lain yang dapat melihat dan mendengar semua kejadian itu nampak Rama juga Violet tengah berpikir.


"Apa kalian percaya bajingan itu!?" tanya Andre.


"Agak meragukan" balas Rama singkat.


"Tepat! setahu gue speed demons yang megang si Wolf dan gue tahu betul seperti apa orangnya.Dia gak suka pakai cara kotor bila bermasalah" jelas Andre beropini.


"Apa mungkin ini jebakan!? atau seseorang memakai nama speed demons? malah bisa juga orang speed demons yang bergerak sendiri?" ucap Rama berpikir semua kemungkinan.


"Kalau menurut saya pilihan ketiga yang lebih masuk akal, seseorang dari speed demons menyewa orang luar untuk menyamarkan pergerakannya" Violet pun memberikan opininya.


"Bisa jadi Vi, kita ikuti saja permainan orang ini.Kita konfrontasi dia dengan orang yang bernama Blake ini.Ok manfaat dia untuk menemukan orang itu, suruh dia buat janji dengannya" ucap Rama tersenyum penuh arti.


"Ok kita buat di ngukutin apa mau kita" ucap Andre lalu kembali masuk ke ruangan penyekapan.


"Saatnya kita membuat pesta penyambutan selanjutnya Vi, Blake! welcome to our party" ucap Rama lalu beranjak pergi.


[[ Bersambung ]]

__ADS_1


__ADS_2