
"Hans! seperti yang sudah saya bilang, Apapun caranya segera temukan Violet!" ucap Rama terlihat gusar.
"Baik Bang, saya dan yang lain akan berusaha sebaik mungkin.Saya pastikan secepatnya Violet di temukan" balas Hans percaya diri.
"Bagus! semua data yang kalian perlukan sudah saya kirim.Info sekecil apapun yang kalian dapat segera laporkan" ucap Rama kembali.
"Siap! Abang bisa mengandalkan kami" balas Hans singkat.
Rama pun segera menutup panggilannya.Nampak rona kecewa begitu jelas di wajahnya.
"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan Vi!? dengan kemampuanmu, tak mungkin semudah itu kamu terjebak masalah" ucap Rama bermonolog.
"Masih belum ada kabar soal Violet Mas?" tanya Raffa yang baru selesai berpakaian.
"Belum, semoga Hans dan yang lain segera menemukannya, kita sudah tahu posisi terakhir Violet" balas Rama seraya memijat keningnya.
"Soal Blake sendiri apa yang Mas rencanakan selanjutnya?" tanya Raffa makin tak sabar.
"Nanti malam kita datangi tempat balap liar mobil, Blake mengatakan ia tak tahu pasti siapa Mr.Venom, namun ia yakin orang itu orang dalam speed demons"
"Kita memang sudah terkecoh oleh Boil yang memancing kita untuk mengalihkan sasaran pada Blake.Padahal Boil sendiri kemungkinan besar tahu siapa Mr.Venom" ucap Rama tersenyum pahit.
"Baik Mas, nanti malam saya akan ikut, lagian kita kurang orang setelah Violet tak ada" balas Raffa begitu bertekad menemukan sasarannya.
"Boleh, lalu soal putri Tn Hernand apa rencana kamu? heh! sepertinya kamu selalu terjebak dengan masalah yang sama" goda Rama.
"Hehe, hari ini saya akan menemui orang tua Aurel.Bagaimanapun cepat atau lambat saya harus menghadapinya" balas Raffa menguatkan hatinya.
"Baik kalau itu yang terbaik.Kita berangkat sama-sama, lagian kita satu tujuan kan?" ucap Rama seraya menaikan alisnya.
Akhirnya mereka berdua pun berangkat menuju kediaman keluarga Adhitama.Sesampainya di sana nampak tiga orang sedang berbincang setelah sarapan bersama.
"Assalamualaikum, selamat pagi" ucap Rama juga Raffa hampir senada.
"Waalaikumsalam" balas ketiganya berbarengan.
"Ram, Raffa kalian tumben terlambat? jika tidak kita bisa sarapan bersama padahal" ucap Tn Harry seraya tersenyum.
"Maaf Tn Harry, sekali lagi saya sangat berterima kasih telah menerima Aurel disini, saya sangat tidak ingin merepotkan Tuan, tapi hanya disini yang saya pikir terbaik untuk Aurel sementara ini tinggal" ucap Raffa sedikit gugup.
"Tak perlu sungkan begitu Al, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu juga Aurel.Lagian papinya Aurel juga kenalan saya" balas Tn Harry seraya menepuk pundak Raffa lalu memeluknya.
Entah mengapa pelukan Tn Harry membuatnya tenang.Sekian banyak masalah ia hadapi, mungkin ini yang Raffa butuhkan.
"Oh iya kalau Om boleh kasih saran alangkah baiknya coba bicara pelan-pelan sama papi kamu, Om bisa mengerti kekhawatiran papi kamu Aurel" ucap Tn Harry seraya melepas pelukannya dari Raffa.
"Itu juga yang saya pikirkan, mungkin nanti saya coba menemui mami atau papinya Aurel untuk berbicara.Semoga saja berjalan baik" balas Raffa tanpa rasa ragu.
"Kamu serius mau nemuin mami papi aku!? makasih sayang kamu mau berjuang demi aku" ucap Aurel tanpa segan memeluk Raffa begitu erat.
Sepasang kekasih ini sontak membuat semua orang merasa haru.Tak terkecuali Alena, walaupun masih ada rasa di hatinya untuk Raffa.
Tak lama mereka pun di sibukan oleh aktifitas masing-masing yang cukup menyita waktu.Raffa sendiri selepas jadwal kuliah pagi nampak tergesa meninggalkan kampusnya.
Sesuai janjinya tanpa di duga Raffa menemui kedua orang tua Aurel di kediamannya.Mami juga Papi Aurel terlihat cukup terkejut oleh keberanian Raffa.
"Siang Om,Tante.Maaf sudah mengganggu waktunya" ucap Raffa dengan sopan.
"Siang Nak Raffa.Terima kasih sudah mau datang" balas Ny Ariana seraya terus menatap lekat.
__ADS_1
"Tak perlu banyak basa-basi, mau apa kamu menemui kami!?" ucap Tn Hernand terlihat sinis.
"Sebelumnya saya sangat menyesal dengan apa yang terjadi dengan Aurel dan Om, untuk itu saya sengaja menemui Om dan Tante berharap dapat menyelesaikan kesalah pahaman ini" balas Raffa.
"Semua ini karena ulahmu, semenjak Aurel kenal sama kamu dia jadi berani melawan orang tuanya, ngerti kamu!" seru Tn Hernand tak tertahan.
"Sudah Pih, sabar dulu, kita bicara baik-baik.Nak Raffa kabar Aurel gimana?" tanya Ny Ariana.
"Aurel baik-baik saja Tante tak kekurangan satu apapun, Raffa janji akan menjaganya" balas Raffa.
"Syukurlah kalau begitu, apa Nak Raffa bisa membujuk Aurel untuk pulang?" tanya Ny Ariana kembali.
"Insyaallah bisa Tante namun semua tergantung sama Om" balas Raffa berterus terang.
"Apa maksudmu tergantung saya!?" tanya Tn Hernand.
"Maksud saya, apa Om menginginkan Aurel pulang?" balas Raffa balik bertanya.
"Om saya tidak bermaksud sok tahu, Aurel itu aslinya anak yang baik, penurut bahkan manja.Hanya saja semua tergantung cara kita menghadapinya" ucap Raffa mencoba memberi pengertian.
"Braakhh!"
Tn Hernand menggebrak meja begitu terlihat emosi.Membuat Ny Ariana juga Raffa terperanjat.
"Beraninya kamu mengajari saya anak tak tahu diri! saya ini Papinya saya lebih tahu dari kamu!" bentak Tn Hernand seraya menunjuk Raffa.
Dengan tersenyum tipis Raffa kembali buka suara tanpa sedikit pun rasa takut.
"Om, walaupun saya baru mengenalnya saya sedikit banyak tahu seperti apa putri Om dan Tante" ucap Raffa.
"Pih, biarkan Raffa berbicara dan menjelaskan semuanya, ini demi Aurel Pih.Papi mau Aurel makin benci sama kita!?" ucap Ny Ariana.
Tn Hernand hanya memutar bola matanya begitu malas lalu menyilangkan kakinya.
Ny Ariana seakan mulai paham mengapa putri bungsunya bisa dekat dengan Raffa.
"Om, Tante, menghadapi Aurel dengan keras hanya membuatnya tambah keras.Cobalah lebih lembut dan bersabar karena itu yang selalu saya lakukan" ucap Raffa memohon dengan nada yang sesopan mungkin.
Ny Ariana tersenyum penuh arti, ia sangat terkesan dengan sikap Raffa tapi berbeda dengan Tn Hernand yang terus menatapnya penuh kebencian.
"Dengar anak tak tahu diri, simpan saja ceramahmu itu! Aurel begini setelah bertemu kamu dan sekarang kamu mau menyalahkan saya, iya!" teriak Tn Hernand.
"Pih sabar kenapa Pih" Ny Ariana seraya mengusap punggung suaminya.
"Saya tidak menyalahkan siapapun Om" balas Raffa.
"Alah jangan sok suci kamu! orang miskin seperti kamu paling hanya mengincar harta.Harus kamu tahu dekat dengan kamu itu membuat citra saya jadi buruk! putri keluarga Adrean berhubungan dengan laki-laki cacat seperti kamu! paham kamu!" bentak Tn Hernand tak sedikitpun melunak.
"Heh! berbicara dengan orang kaya memang selalu sama" ucap Raffa seraya menggelengkan kepalanya.
"Jangan banyak omong kamu! sekarang dimana kamu sembunyikan Aurel!?" tanya Tn Hernand dengan penuh amarah.
"Aurel ada di tempat aman, dia tinggal di rumah Tn Harry" balas Raffa dengan tegas.
"Apa Harry!? maksudmu Harry Reza Adhitama!? jangan main-main kamu bocah" Tn Hernand begitu tak percaya.
"Om bisa mengeceknya sendiri" balas Raffa singkat.
"Dasar bocah tak tahu diri, kamu mau makin membuat saya malu hah! kamu sembunyikan Aurel di kenalan bisnis saya! supaya semua orang tahu dan citra saya jadi buruk! itu mau kamu sialan!" Tn Hernand terlihat makin murka lalu menarik baju Raffa dan melemparnya ke lantai.
__ADS_1
"Papi!" pekik Ny Ariana.
Dalam keterkejutannya Raffa sendiri lalu berdiri dan merapikan pakaiannya.
"Tuan Hernand, sejak pertama saya kenal Aurel saya tak pernah tahu siapa dia juga keluarganya dan saya tak perduli karena saya menyayanginya.Saya miskin itu benar tapi tak berarti saya pengemis" ucap Raffa begitu serius.
"Heh! cukup bualanmu saya tak perduli" balas Tn Hernand.
"Lalu soal tangan ini ... " ucap Raffa seraya memegang lengan jaketnya yang kosong namun ia urung menjelaskannya.
"Suatu saat nanti Tuan akan tahu dan yang terakhir apa Tuan lebih senang Aurel saya bawa ke kontrakan! ke motel atau hotel! saya bawa ke tempat Tn Harry karena di sana tempat yang pantas dan nyaman untuknya, terlebih ada dalam pengawasan orang yang mungkin sangat bisa Anda percaya" ucap Raffa penuh penekanan.
Ucapan Raffa cukup membuat Tn Hernand tak bisa berkata-kata.Ny Ariana pun hanya menatap Raffa penuh harap ia bisa kembali berkumpul dengan putrinya.
"Sepertinya sudah tak ada lagi yang perlu di bicarakan.Saya pamit dulu" ucap Raffa lalu mengulurkan tangannya.
Namun Tn Hernand yang masih di liputi emosi menepisnya.Raffa tak ambil pusing ia lalu menghampiri Ny Ariana.
"Tante maafkan Raffa sudah membuat gaduh, saya janji akan membawa Aurel pulang tapi saya minta tolong Tante bisa membujuk Tn Hernand untuk sedikit melunak.Tante tenang ya Aurel baik-baik saja saya akan selalu menjaganya.Assalamualaikum" selesai berucap Raffa lalu mencium tangan Ny Ariana seraya beranjak pergi.
"Mobil ini!"
Raffa terhenyak tak percaya melihat satu mobil berlogo speed demon terparkir di halaman rumah Tn Hernand.
Sementara itu hari beranjak sore.Nampak Hans ditemani rekannya terus mengikuti kemana terakhir Violet pergi belakangan ini.
"Bengkel part dan modifikasi!? mau apa Non Violet ke tempat ini?" guman Hans.
"Apa perlu kita memeriksanya Hans?" tanya Satria.
"Kita periksa lain kali beserta tempat ke dua yang sepertinya ini gudang penyimpanan, kita ke titik terakhir saja dahulu" ucap Hans seraya menyimpan kembali Ipad-nya.
Akhirnya mereka sampai di suatu tempat yang nampaknya bekas pabrik minuman.Perasaan tak enak langsung mereka rasakan.
"Hans apa mungkin Violet datang kesini?" ucap Brian tak percaya.
"Apa yang Violet cari disini!?" tambah Jay terheran.
"Kita berpencar! waktu kita sedikit sebentar lagi malam tiba" ucap Hans memberi kode.
Setelah beberapa lama mereka memeriksa setiap tempat.Satu teriakan Satria mengejutkan mereka.
"Hans! Brian! Jay! sebelah sini!"
Semua orang segera mendekat ke arah Satria.Benar saja Violet duduk bersandar dengan kondisi yang memprihatinkan.
"Binatang! siapa yang sampai tega melakukan ini!" ucap Hans begitu geram.
"Sat! periksa nafas dan denyut nadinya!" lanjut Brian.
"Violet masih hidup, hanya saja kondisinya lemah" balas Satria lalu membopongnya.
"Kita bawa segera ke rumah sakit! saya harus laporkan terlebih dulu pada Bang Rama" ucap Hans terlihat cemas.
Brian dengan cepat berlari menuju mobil.Satria di jaga Jay terus membawa Violet.Sementara Hans nampak sibuk menghubungi Rama.
"Bang info baru, Violet kami temukan, kondisinya gawat kami segera menuju rumah sakit"
"Apa!? baik segera pastikan Violet mendapatkan perawatan!" balas Rama sedikit lega.
__ADS_1
"Alangkah baiknya jika saya bagi tugas, biar saya dan Andre urus Blake dan Raffa menjaga Violet" guman Rama nampak berpikir.
[[ Bersambung ]]