
Siang hari di Hall Basket kampus Raffa nampak berkumpul bersama teman satu timnya.Terlihat wajah wajah semangat penuh canda dan tawa.
"Jujur gue masih gak percaya kita masuk final" ucap Armand seraya membuka sepatunya.
"Iya, padahal dari awal lawan kita serem semua, sempet pesimis gue" sahut Adi geleng-geleng
Sementara Welly dan Haris hanya tersenyum lalu saling merangkul bahu ikut merasa senang.
"Semua ini berkat lo Al, kalo gak ada lo kita hanya kaleng khongguan isi rengginang" ucap Evran berseloroh.
"Haha sa ae lo sandal bekiak" ucap Adi seraya tertawa.
"Berapa kali gue bilang, ini berkat lo semua, bisa apa gue tanpa kalian" sahut Raffa tak mau jumawa.
"Ya tetep aja kalo lo gak ada bisa apa kita, tul gak guys" ucap Armand.
"Bener banget, betul itu" ucap mereka senada.
Tiba-tiba entah sejak kapan Leon cs nampak menghampiri mereka.Dengan lagak sok berkuasa Leon berdiri tepat di hadapan Raffa dengan satu kaki menginjak bangkunya.
"Malam ini jangan harap lo bisa beruntung seperti pertandingan sebelumnya bocah.Malam ini bakal jadi akhir buat lo" ucap Leon seraya meminum kopi panasnya.
"Ya kita buktikan saja nanti malam, siapa yang akan berakhir" balas Raffa begitu malas lalu melipat tangannya di dada.
"Dan gue pastiin orang itu lo sialan!" seru Leon yang dengan sengaja menumpahkan kopi panasnya.
"Akhhhhhh!" pekik Raffa saat tangan juga badannya merasakan panas
"Sialan lo, selalu aja lo pakai cara licik!" seru Armand lalu mendorong Leon dengan kasar.
Revan yang tak terima lalu balik mendorong Armand hingga memancing aksi saling dorong dan saling memaki.
"Pengecut lo bangsat, sini lo gue patahin jari lo biar impas!" teriak Evran berusaha mendekati Leon tapi Welly menahannya.
"Haha habis kalian nanti malam, gue gak akan sisain satu lalat pun hidup" ucap Leon begitu angkuh seraya menunjuk wajah mereka satu persatu.
"Banci lo anjing, habis nyampah kabur, sini lo banci, sini lo!" Evran terus memaki dalam amarahnya sekuat tenaga ia meronta namun Welly terus menahannya.
"Udah Vran lebih baik kita cek kondisi si Al" ucap Armand seraya menarik bajunya.
Di toilet Hall Raffa tengah menyiram tangannya dengan air kran yang mengalir.
"Gimana keadaan lo Al?" tanya Adi khawatir.
"Parah gak lukanya?" Armand pun begitu cemas.
"Badan sih gak apa-apa cuma ni tangan kanan kayanya kebakar" sahut Raffa seraya terus menyiram tangannya.
"Bajingan si Leon, ini pasti udah dia rencanain" ucap Armand seraya memukul dinding.
"Lo tunggu di sini Al gue nyari lidah buaya dulu" ucap Adi lalu segera pergi.
Kabar buruk ini mulai memberi efek mental pada mereka.Rasa khawatir Raffa tidak bisa bermain pun semakin terasa.
Hingga malam datang tanpa menunggu seperti seseorang yang begitu tak sabar ingin bertemu.
"Selamat malam tante, Aurelnya ada?" tanya Aditya dengan sopan.
"Malam, oh Aurel, sebentar tante panggilkan" sahut Ny Ariana.
Tak lama Aurel pun datang menghampiri maminya seraya bertanya,
"Siapa mi?"
"Mami agak lupa tapi kalo tak salah itu teman SMA kamu deh" balas Ny Ariana.
"Teman SMA?" sahut Aurel seraya berguman,
"Ngapain sih dia kesini"
Sesampainya di depan rumah Aurel di kejutkan dengan seseorang yang menutup wajahnya dengan sebuket bunga.
"Bunga cantik khusus untuk gadis tercantik" ucap Aditya seraya tersenyum.
"Aditya kok lo kesini?" ucap Aurel tak menyangkanya seraya menerima bunga darinya.
"Aku sengaja jemput kamu, kita pergi ke final basket sama-sama" ucap Aditya penuh harap.
"Gue bisa pergi sendiri, gak minta lo jemput juga" balas Aurel sedikit ketus.
Tak ingin Aurel makin menolaknya Aditya lalu kembali meyakinkan,
"Aurel aku gak akan membiarkanmu pergi sendiri, aku akan menemani dan menjagamu mulai saat ini" ucap Aditya seraya mengusap bahu Aurel.
Ucapan Aditya cukup membuat Aurel tertegun.Sikap manisnya itu membuatnya semakin serba salah.
"Udah, yuk berangkat biar gak kemalaman, kamu tenang saja aku akan memperlakukanmu dengan baik" ucap Aditya meyakinkan.
Sementara di tempat lain Raffa baru tiba bersama rombongan timnya.Tak mau lagi kecolongan membuat mereka berangkat bersama-sama.
"Gimana Al apa masih bisa lo main?" tanya Ricky memastikan.
"Masih agak perih sih kalo kena sentuhan, tapi gue masih bisa main kok" sahut Raffa di bantu Vio memerban lengan kanan bawahnya.
"Ok lo bisa main, tapi kalo ada apa-apa lo bilang, gue gak mau sampai tangan lo gak bisa menembak lagi" ucap Ricky.
__ADS_1
Akhirnya pertandingan pun akan segera di mulai.Kedua tim nampak memasuki lapangan untuk melakukan pemanasan.
Tangannya yang terperban membuat banyak orang bertanya tanya termasuk Aurel.
"Lengan kamu kenapa Al, apa mungkin kamu masih bisa bermain?" guman Aurel terus menatapnya dengan lekat.
"Kamu khawatir ya?" ucap Aditya membuyarkan lamunan Aurel.
"Eh, itu perasaan kemaren gak apa-apa tapi sekarang di perban" sahut Aurel salting.
"Kamu do'ain aja dia gak apa-apa, dengan begitu moga kamu gak khawatir lagi" balas Aditya terdengar bijaksana.
Entah karena kata-kata Aditya yang masuk akal atau karena sikap Aditya yang berbeda membuat Aurel mulai menenang.
Sementara dari bangku penonton Ryo mendekati salah satu rekan tim Raffa,
"Hai Bro sorry, lengan si Al kenapa di perban?"
"Di siram kopi panas tadi siang di kampus sama orang licik itu" sahut Welly terlihat kesal.
Jawaban itu sontak membuat Ryo naik pintam sedapatnya ia meraih sesuatu di dekatnya.
"Bajingan, selalu saja pakai cara licik" ucap Ryo lalu berjalan ke arah Leon
Raffa yang sadar apa yang akan di lakukan Ryo segera berlari lalu menahannya,
"Ryo! Yo udah jangan bikin masalah Yo! gue sendiri yang bakal balas dia" seru Raffa.
"Woy mahluk hina sini lo sialan!" teriak Ryo tanpa peduli Raffa menahannya.
Teriakan Ryo pun menarik Leon dan rekan-rekannya termasuk juga penonton dan pihak keamanan.
"Lo apain tangan sodara gue sialan" Ryo yang tak bisa lebih mendekat lalu melempar botol air ke arah Leon.
Terang saja suasana menjadi kacau pihak keamanan pun segera turun tangan tuk meredam.
Tak lama kondisi di lapangan kembali tenang.Ryo hanya di beri peringatan keras dan tak sampai di usir.
Akhirnya pertandingan di mulai.Kejadian sebelum pertandingan membuat aura persaingan kedua tim semakin panas.
Kuarter pertama di mulai Leon cs benar-benar memporak porandakan pertahan tim Raffa.Leon dan Revan memang bintangnya tapi tiga orang lainnya pun berpengaruh besar.
"Gila Al kita benar-benar di bawah mereka" ucap Adi terlihat kesal.
"Mereka hampir tak punya kelemahan" keluh Evran seraya meneguk minumannya.
"Guys gue cuma minta, bertahan sampai kuarter tiga.Dan ingat mereka gak lebih baik dari kalian, percaya diri dan perlihatkan hasil latihan kita" ucap Raffa memberi semangat.
Kuarter kedua di mulai pertandingan semakin seru.Tim Raffa yang semakin solid mulai bisa mengimbanginya.
"Bocah masih berani lo, terima pelajaran dari gue"
Dengan cepat Leon mendribble bola dengan posisi miring ia terus membenturkan bahunya.Dengan sedikit mengangkat sikunya Leon menahan Raffa lalu dengan mudah melakukan layup.
"Haha lo masih kecil buat lawan gue bocah" ucap Leon meledek seraya mengacak rambut Raffa.
Raffa berusaha tak terprovokasi, ia berusaha membalasnya lewat permainan.
Mendapat operan dari Evran ia lalu menantang Leon berduel.Dengan skill dribble Raffa mencoba memancing Leon.
Raffa merangsek melewati Leon dengan spin move lalu menahan dribblenya lalu dengan cepat memantulkan bola di sela kaki Leon di akhiri reverse layup.
Leon yang tak terima memaksa memblok, namun bukan bola yang di incar tapi luka di lengannya.
"Akhhhhh!" pekik Raffa terduduk memegangi lengannya.
"Prriiiiitt, foul no8, 2poin basket 1free throw" wasit pun memutuskan.
Setelah merapikan perbannya Raffa lalu melakukan tembakan bebasnya.Poin pun bertambah 21-32 dengan Raffa masih tertinggal.
Leon yang kesal kembali menyerang, Raffa tak melepasnya.Revan dengan cepat melakukan screen.Leon pun dengan mudah melakukan shoot tanpa Raffa menjaganya.
"Sial gue gak bisa menjaga mereka sekaligus" guman Raffa.
Akhirnya kuarter dua berakhir dengan skor 34-42.Raffa sendiri kembali mendapat perawatan.
Sementara Aditya yang melihat semuanya kembali membuka percakapan,
"Mereka satu kampus, tapi kok aku ngelihatnya kaya ada dendam pribadi? kamu juga bisa ngeliatkan?" tanya Aditya penasaran.
"Ya itu semua akibat Leon yang gak mau punya saingan, sok belaga raja.Orang licik" sahut Aurel ketus.
Sementara kuarter ke tiga pun di mulai.Para penonton kembali bergemuruh saling memberikan dukungannya.
Kedua tim bermain sama-sama ngotot membuat pertandingan kian menarik.Saling mencetak angka terus terjadi.
"Ayo guys semangat!" ucap Evran memperlambat tempo.
Saat semua rekannya berada di posisi ideal, Evran mengumpan pada Adi di area dalam, Raffa lalu berotasi ke arah pojok.Adi yang melihat segera mengumpan, Raffa pun menembak di area tiga poin.
"Sialan bocah tengik, woy tutup dong tuh!" Leon emosi saat Raffa mencetak angka.
"Bagus dia mulai emosi, ini bisa gue manfatkan" guman Raffa lalu tersenyum smirk.
Benar saja setiap memegang bola Raffa mulai mengajak Leon bertarung.Dengan skill dribblenya Raffa mengecoh lalu melakukan layup melewati Leon.
__ADS_1
Leon yang tak ingin melepas Raffa melompat untuk memblok, namun Raffa segera merubah posisi bola dan memasukannya.
"Priiitttt, foul no8 2poin basket"
Kembali Leon melakukan foul dan itu menjadi foul ke tiganya selama pertandingan berjalan.
Kembali menyerang Leon yang panas sengaja mendribble ke arah Raffa.Dengan cepat Raffa menempelnya.
Saat Leon memaksa menerobos Raffa memasang badannya pasif.Leon yang panas memaksa melompat dengan menabrak Raffa.
"Prriiiiitttt, charging foul no8"
"Woy wasit foul apaan itu, blocking foul harusnya!" ucap Leon emosi.
Saat melihat Raffa masih terlentang Leon melampiaskan dengan menginjak lengan Raffa,
"Ahhhhkkkk" pekik Raffa lalu memegang lengannya.
Sontak aksinya memicu keributan hingga saling dorong, hingga akhirnya wasit memisahkan mereka.
Jeda istirahat kuarter tiga pun di manfaatkan kedua tim untuk mengatur ulang strategi.Poin yang semakin ketat 58-62 membuatnya semakin menarik.
Selang beberapa saat kuarter empat di mulai.Kedua tim saling menampilkan permainan terbaiknya, namun Leon yang bermain hati-hati membuat skor mulai berimbang 70-70.
Di sisa dua menit pertandingan Revan berhasil menambah poin lewat jump shootnya.Namun kembali di balas Adi lewat no look pass dari Raffa.
Sisa satu menit Raffa dengan cepat menerobos lalu melakukan jump shoot, Leon yang sudah tidak peduli membloknya dengan kasar.
"Priiitttttt, foul no.8 2free throw"
Leon pun di usir dari lapangan dengan foulnya yang ke lima.
Skor sementara 84-82 untuk tim Raffa setelah kedua tembakannya berhasil.Dengan sisa 30detik Leon cs kembali menyerang.
"Roni screen!" Teriak Revan setelah kesulitan menusuk ke dalam ring.
Setelah cukup ruang tanpa ragu Revan menembak untuk mencetak poin 3angka dan memang berhasil.
"Yeahhhhhhhh!" teriak Revan seraya melompat seraya memukul angin.
Sisa 10detik tim Raffa pun meminta time out.Skor 84-85 tim Raffa tertinggal satu angka.
"Guys mereka bakal nempel gue, poin terakhir gue serahin sama kalian.Gue percaya kalian bisa" ucap Raffa.
"Tapi Al cuma lo yang akurasi tembakannya paling bagus" sahut Armand.
"Sorry guys luka gue sedikit mengganggu, lagian gue yakin mereka bakal ngedouble tim gue, salah satu dari kalian pasti bebas.Siapapun itu tembak saja" ucap Raffa.
"Ok kalo begitu Al, kita akan mencobanya" sahut mereka kompak.
Akhirnya pertandingan kembali di mulai.Armand mengambil posisi pengumpan.
Setelah pluit di tiup Raffa segera berlari ke arah Armand, benar saja Revan dan Roni mengejarnya.Armand segera mengumpan pada Adi yang kosong dengan dribble pendek Adi segera menembak dari area free throw.
"Blok bodoh, jangan biarkan mereka bikin poin!" Teriak Leon.
Raffa sendiri dengan cepat kembali berlari dari arah belakang Adi mengikuti arah bola.
Saat bola tembakan Adi gagal dengan cepat Raffa melompat sekuat tenaga lalu menjangkau bola rebound.
"Jaga bocah itu bodoh!" teriak Leon penuh amarah.
"Rebound!" teriak Roni
Revan yang sedikit terlambat mejaga Raffa mengejarnya.Tak di duga bola rebound dapat di kuasai Raffa dengan satu tangannya.Sekuat tenaga Raffa menghempaskan bola itu kedalam ring.
Revan yang juga melompat akhirnya bertubrukan dengan Raffa di udara hingga keduanya jatuh dimana Raffa terdorong hingga menabrak papan iklan.
"Priiiiiiiitttttttt" pluit panjang tanda pertandingan berakhir pun di tiup.
Raffa yang masih tak tahu apa yang terjadi mencoba membuka matanya.Namun tubuhnya terasa semakin berat saat temannya menindihnya.
"Al kita berhasil!" ucap Adi.
"Kita menang Al!" tambah Evran.
"Woy mati jagoan gue di tindihin lo semua" ucap Armand mengurai mereka lalu membantu Raffa bangun.
Setelah berdiri Raffa lalu melirik papan skor, 86-85 untuk kemenangan timnya.
"Kita juaranya Al, kita menang" ucap Armand seraya melompat.
"Akhirnya kita menang dan berhasil membungkamnya" Raffa pun berjalan ketengah lapangan dengan tersenyum.
"Yeahhhhhhh" Raffa berteriak seraya satu jari tangan diangkat dengan tangan lain menepuk dada.
Tepuk tangan dan riuh penonton pun tertuju pada Raffa sang bintang lapangan malam ini.
Leon yang tak percaya dirinya kalah, membanting botol minumnya seraya menendang kursi pemain.
Baginya hari ini bocah bernama Raffa benar-benar telah mencoreng mukanya.Harga dirinya serasa di lecehkan.
[ Bersambung ]
wait n see ya 😣
__ADS_1