
Malam semakin larut seseorang yang nampak semakin resah tak bisa berhenti mondar mandir di depan garasi.
"Sialan bocah tua itu, sebenarnya apa yang dia lakukan sekarang!?" gumannya
"S.R apa masih bangun?"
Tiba tiba terdengar seseorang memanggil dari radio rig.Membuatnya sedikit merasa lega.
"Brengsek, apa yang lo lakukan sebenarnya!? dimana lo sekarang!?" ucap Andre terlihat gusar.
"Heh! sepertinya ada yang mulai khawatir sama gue, on the way to the base, Bibi tidur saja jangan lupa cuci kaki" ledek Rama begitu puas.
"Situasi gini masih aja lo standup komedi, garing lo! buruan balik!" balas Andre sewot lalu mematikan radio rignya.
Selang beberapa saat terdengar raungan mobil berjuluk godzilla mendekat.Andre segera membuka pintu garasi lalu membereskan semuanya.
"Kemana aja lo? bisa gak setidaknya kalau lo punya rencana lo omongin dulu sama gue, biar gak berantakan seperti ini"
"Dengan kapasitas lo, harusnya tahu apa itu improvisasi.Setiap rencana harus fleksibel dengan situasi di lapangan" balas Rama terdengar menggurui.
"Halah lo improve kalau ketemu yang bening aja, gak nyangka di balik keseharian lo yang kaku ternyata player juga" ledek Andre.
"Hadeuh masih gak paham juga, itu namanya berbaur berusaha menyatu dengan peran.Nyemplung ke air ya lo harus jadi ikan Parjo!" ucap Rama balik meledek.
"Berisik lo Parmin! terus ledakan asap itu apa masuk rencana lo atau memang kita beruntung!?"
"Itu baru rencana gue" balas Rama singkat.
"Jadi rencana lo cuma itu!? pantas kita gagal" ucap Andre terdengar kecewa.
"Sebaik apapun rencana kita semalam akan percuma Dre, karena target kita tidak ada di sana" balas Rama kembali serius.
"Huft! lalu apa rencana kita selanjutnya, apa harus kita tekan Blake lagi!?"
"Cara yang sama tak bisa kita pakai, sementara ini kita pantau mereka saja dulu sampai orang yang gue percaya sembuh" balas Rama.
"Ok kalau begitu lo urus dulu orang lo, biar gue dan anak-anak yang mata-matai mereka.Gue gak bisa tenang lama-lama membiarkan penjahat itu berkeliaran" ucap Andre membulatkan tekadnya.
Malam terus berlalu hingga sang fajar mulai bersiap menampakan dirinya.Raffa pun terbangun ada rasa berat yang di rasakannya.
"Aurel!?" gumannya saat melihat gadis itu tertidur di pangkuannya.
"Al sebaiknya kamu pulang, bentar lagi subuh, biar saya yang jaga Violet.Kasihan juga Nona mudamu itu" ucap Hans.
Raffa pun memandang wajah Aurel begitu lekat.Entah mengapa ada rasa bersalah saat melihat kondisinya.
"Gara-gara aku, kamu jadi harus seperti ini, seharusnya kamu tidur nyaman di kamarmu.Apa benar kamu bahagia di dekatku?" guman Raffa seraya mengusap bahu Aurel.
"Sayang, bangun, bentar lagi subuh.Bangun ya" ucap Raffa dengan lembut.
"Emmhhhh" Aurel melenguh pelan lalu kembali tertidur nyaman dengan memeluk Raffa semakin erat.
"Sayang, ayo bangun" ucap Raffa seraya menepuk pipinya dengan lembut.
"Hehhhh, masih ngantuk" balas Aurel lalu mengucek matanya.
"Udah mau subuh, kita siap-siap shalat yuk sayang" ucap Raffa seraya tersenyum.
Namun Aurel kembali merebahkan kepalanya di bahu Raffa lalu menatap dengan bola mata bergerak-gerak ke atas.
Raffa yang mulai paham membalas dengan menggerak-gerakan bola matanya ke arah kanan.
Aurel membalasnya dengan menaik-naikan alisnya tanda tak perduli di situ ada Hans.Namun Raffa menggeleng.
Namun akhirnya Raffa mengalah karena Aurel mulai mengeluarkan jurus cemberutnya.Dengan malu-malu Raffa mengecup kening Aurel dengan hangat.
"Muachh"
Jelas saja Aurel bagai mendapat kekuatan extra hingga membuatnya berubah begitu bersemangat.
"Ya udah yuk sayang kita shalat" ucap Aurel lalu membereskan selimutnya.
"Hans kita sekalian pamit pulang dulu, kalau ada apa-apa kabari saya juga ya"
"Ok Al kamu hati-hati ya"
Tak beberapa lama waktu subuh pun datang.Selesai melaksanakan shalat mereka segera beranjak pergi.
__ADS_1
"Kenapa? apa ada yang ketinggalan?" tanya Aurel saat melihat Raffa nampak mencari sesuatu.
"Sepertinya kunci mobil aku tertinggal deh!? kamu tunggu di sini ya aku segera kembali"
Begitu terburu buru Raffa kembali menuju kamar rawat Violet.Hans tersenyum seraya berucap.
"Ada yang tertinggal ya Al?" tanya Hans seraya menyerahkan kunci mobilnya.
"Ehhhhhh!" Violet mengerang pelan.
"Vi!" ucap Raffa terkejut begitu juga Hans.
"Akhhhh, a, ku ... tahu siapa dia ... " ucap Violet terbata-bata.
"Al jaga sebentar Violet saya mau nyari dokter, kelamaan kalau lewat perawat!" ucap Hans lalu beranjak pergi.
"Vi! kamu sudah sadar!? pelan-pelan Vi kamu masih lemah, tenanglah dulu Hans sedang mencari dokter"
"Ekhhhh! Al, ada sesuatu yang ... sebelum gu, gue tak sadar lagi!"
"Tenang Vi jangan dulu di paksa, relaks Vi sebaiknya kamu istirahat saja"
"Boss Boil itu ... orang yang ka, kamu ehhhhhhm kenal!"
"Vi kamu ngomong apa sih, sudah kamu diamlah kondisi kamu masih lemah"
Tiba-tiba Violet mencengkram baju Raffa seraya mencoba menarik Raffa lebih mendekat.Raffa pun mendekatkan wajahnya.
"Boss Boil ... itu ekhhh Mr ... Venom. Heh, ahh, heh, ehhk dan dia musuh pertama ... lo di kampus! Mr.Venom itu ... " Ucapan Violet semakin melemah.
"Vi! apa maksud semua ini? lo tahu siapa orangnya!?" tanya Raffa makin tak enak hati.
Violet kembali menarik baju Raffa dengan sisa tenaganya membuat Raffa langsung mendekatkan telinganya.
"Aku bis, bisa pastikan Di, dia adalah ... Mr.Venom itu Leon!"
Bagai di sambar petir Raffa langsung terhenyak lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Doc tolong periksa tadi Non Violet siuman" ucap Hans yang datang bersama dokter dan dua perawat.
Saat semua yang berada di situ sibuk memeriksa keadaan Violet.Raffa nampak beranjak keluar dengan menahan amarah yang meluap-luap.
Namun tak satu pun kata yang keluar dari mulutnya.Raffa terus berjalan menuju parkiran seraya menggandeng Aurel.
"Sayang kamu kenapa!? apa aku ada salah sama kamu hingga kamu mendiamkan aku kaya gini!?" tanya Aurel kembali saat berada dalam mobil.
Bukan jawaban yang Aurel dapatkan tapi mendapati luapan emosi yang keluar dari mulut Raffa.
"Brengsek! biadab! dasar orang gila tak punya hati!" teriak Raffa seraya memukul setir mobilnya berulang-ulang.
"Sayang! kenapa kamu marah sama aku!?" Aurel begitu terkejut dan mulai ketakutan.
Raffa masih terdiam lalu membenamkan wajahnya pada setir mobilnya.Aurel yang ketakutan mulai memberanikan diri lalu merangkul Raffa.
"Sayang jangan buat aku takut, kamu kenapa?"
"Hemhh! Hemhh!" Raffa berusaha mengatur nafasnya.
"Ini soal orang yang sudah buat Violet celaka, tadi dia siuman dan mengatakannya" ucap Raffa mencoba berusaha menutupi semuanya.
"Maksud kamu Violet sudah sadar? jadi siapa yang sudah tega berbuat itu?" ucap Aurel seraya membelai wajah kekasihnya itu.
"Preman gak jelas yang meminta uang dan barang tapi Violet berkeras tak memberinya" balas Raffa.
"Kamu tenang ya sayang, jangan terbawa emosi, aku gak mau kamu melakukan hal nekat yang buat kamu celaka" ucap Aurel seraya menagkup wajah Raffa.
Raffa hanya tersenyum lalu keduanya saling menatap dengan penuh perasaan.Entah siapa yang memulai tiba-tiba wajah keduanya semakin dekat.
Aurel lalu memejamkan matanya seraya membuka sedikit bibirnya.Raffa pun memiringkan kepalanya lalu mengecup bibir bawah Aurel.
Dengan perlahan Raffa mulai mencumbu Aurel dengan perlahan.Tak lama ia mulai menghisap bibirnya lebih kuat.
Aurel merasa di bawa terbang, sensasinya membuat ia mencengkram baju Raffa.Semakin panas mereka saling ******* membuat nafas Aurel makin tak beraturan.
Sadar akan hal itu Raffa menarik bibirnya lalu mengecup bibir Aurel untuk mengakhirinya.
"Maaf ya sayang, aku ... "
__ADS_1
"Eh, gak apa-apa kok sayang" potong Aurel seraya membenarkan posisi duduknya begitu salting hingga pipinya merona.
Akhirnya mereka pun pulang.Setelah mengantar Aurel ke kediaman Adhitama Raffa sendiri kembali ke kediaman Rama.
Sepulang dari rumah sakit sikap Raffa yang tak seperti biasanya membuat Rama merasa curiga.
"Al boleh kita bicara?" tanya Rama.
"Boleh Mas" balas Raffa lalu duduk.
"Sepertinya ada yang menggangumu Al? gak usah kamu sembunyiin Mas bisa tahu" tanya Rama.
"Saya sudah tahu biang keladi atas semua yang menimpa saya Mas" balas Raffa tanpa basa basi.
"Yakin! kamu serius!? siapa dia Al!?" ucap Rama tak percaya.
"Ternyata orangnya selalu di depan hidung, dia Leon!" balas Raffa terlihat geram.
"Whaat! Leon! bener bener gila tuh anak, bisa-bisanya melakukan tindakan menjurus kriminal berat"
"Untuk kali ini biarkan saya yang akan menghukumnya Mas" ucap Raffa menegaskan.
"Kalau itu mau kamu Mas bisa mengerti, tapi Mas akan terus pantau orang di belakangnya.
Akhirnya waktu berjalan tanpa terasa.Kesibukan kuliah tak membuatnya bisa mengalihkan Amarahnya.
"Behb! gue gak mau terus terusan jadi sahabat yang gak berguna, lo cerita sama gue kenapa sih!" ucap Ryo terlihat kesal.
"Iya Al kita ini temen, pasti kita bantu lo" tambah Ryan.
"Guys! apapun yang terjadi apa bisa kalian menutup Hall agar tak ada orang lain yang tau!" ucap Raffa nampak serius.
"Itu bisa di atur, cuma untuk alasan apa kita menutupnya!?" tanya Arif penasaran.
"Orang yang selama ini gue cari ada Hall itu! kalian akan tahu siapa Mr.Venom!" ucap Raffa tegas lalu kembali berjalan.
Mendengar itu semua teman Raffa terdiam dan tak bertanya lagi dan segera mengikuti Raffa.
Sesampainya di Hall basket Ryo lalu menghampiri pelatih, entah apa yang Ryo katakan membuat pelatih dan asistennya meninggalkan lapangan.
Tak lama Raffa masuk semua pintu tak satupun di biarkan terbuka.
"Saatnya gue buka topeng lo sialan" guman Raffa penuh amarah.
"Al!" kejut semua teman timnya begitu pun tim Leon.
Saat Raffa berniat menghampiri Leon beberapa orang menghadangnya.
"Sebaiknya cecunguk duduk manis, urusan gue sama orang brengsek yang sembunyi di belakang lo!" seru Raffa.
Melihat itu semua teman timnya berhenti berlatih lalu berdiri di belakang Raffa.
"Datang- datang nyari masalah lo sialan!" seru Roni lalu melayangkan pukulan.
Raffa tanpa bergerak menangkap tangan Roni dengan segera memelintirnya lalu ia mengangkat kakinya dan menghujamkan tepat di perut Roni.
"Heekkkkk! uueeeekkkk!" Roni terkapar dengan sedikit muntah air.
"Siapapun yang berani menghadang akan gue buat seperti ini!" bentak Raffa dengan tatapan membunuhnya.
Semua orang di buat tak percaya sebegitu menyeramkannya Raffa bila benar-benar sudah tak lagi menahan diri.
"Buat lo bajingan yang selalu bersembunyi di balik ketiak orang, sini lo bangsat!" teriak Raffa.
"Heh! ada angin apa lo datang-datang nyari masalah! mulai berani lo brengsek!" bentak Leon seraya mencoba mencengkram kerah baju Raffa.
Tanpa di duga Raffa menepis dengan tangannya di susul tendangan lutut tepat di perutnya.Saat Leon terdorong, tanpa ampun ia melakukan tendangan tornado.
"Bughh! dakhh!"
Leonpun terkapar dengan leher terus di injak Raffa.
"Ehkkk! brengsek! gua habisin lo sialan!" dalam kondisi terdesak Leon masih berusaha mengancam.
"Mundur! yang gak mau gue bikin gak bisa berdiri jangan coba-coba bergerak!" ancam Raffa terlihat kejam.
"Denger lo bajingan! stop belaga bodoh lagi! lo pilih waktu dan tempat sesuka lo, hanya gue dan lo, tanpa lo nyuruh pecundang lo lagi! gue apa lo yang habis, Mr.Venom!" ucap Raffa dengan tatapan semakin dingin.
__ADS_1
Sontak Leon di buat kelu tanpa bisa berkata apapun.Begitupun orang lain yang mendengarnya begitu tak percaya.Akhirnya nama Mr.Venom terungkap.
[[ Bersambung ]]