Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
98.Last Dance


__ADS_3

Leon nampak berusaha bangun namun Raffa sudah berdiri seraya menatapnya penuh aura membunuh.


"Dasar biadab!" seru Raffa seraya menendang tepat di perutnya lalu menginjak tubuh Leon hingga tak bisa bergerak.


"Hhmmmp!" pekik Leon, "Sialan bagaimana bisa lo disini!? seharusnya lo habis di tangan si Adrian!" ucap Leon begitu tak percaya.


"Lo gak perlu tahu bangsat! kali ini akan gue buat lo menyesal!" ancam Raffa lalu menjambak Leon, "Sini lo bajingan!" setelah mendirikannya tanpa ampun Raffa menghajar Leon.


Tak puas dengan menghajarnya Raffa lalu menarik lengan Leon, dengan cepat ia membungkuk lalu meraih sela pahanya dan mengangkat Leon di pundaknya.


"Apa yang mau lo lakukan sialan!" pekik Leon panik lalu berusaha menyiku punggung Raffa.


Tanpa perduli Leon yang terus menyerangnya Raffa lalu menghentakan tubuhnya dan menghempaskan Leon pada jendela kaca.


"Praaanggg! bruuugghh!" Leon pun jatuh dengan banyak luka akibat pecahan kaca.


"Euhhhhhhh!" erang Leon yang merasakan sakit bercampur perih.


Tak mau kalah begitu saja Leon meraih pecahan kaca lalu melemparnya namun dengan sigap Raffa menghindar.


"Lo pikir gue akan diam saja bocah!" ucap Leon kembali meraih pecahan kaca.


"Sedikit hukuman buat tangan lo yang sudah mengotori Aurel, rasakan ini bangsat!" dengan dinginnya Raffa menghujamkan kakinya pada tangan Leon.


"Craaaakhhh!" dengan tanpa ampun Raffa menginjak dan meremas tangan Leon dengan kakinya.


"Ahhhhhhk! sialan lo bocah!" Leon segera memukul kaki Raffa namun tak berhasil.


"Gue balas lo sialan!" Ancam Leon lalu melayangkan tendangan pada kaki Raffa.


Namun dengan cepat Raffa melompat mundur, tanpa di duga Leon segera berdiri fan langsung menyerang dengan dua tendangan.


"Dekhh! dukhh!" Raffa menangkisnya.


"Mati lo bocah!" ucap Leon seraya melayangkan tendangan memutar.


Dengan sigap Raffa membungkukan badannya seraya maju satu langkah di susul satu pukulan telak di ulu hati Leon.


"Buggghhh!"


"Hueeekkkk!" pekik Leon merasa sesak sekaligus mual.


Tak mau kehilangan kesempatan Raffa menghujamkan kakinya di dada Leon di lanjutkan spining back heelkick.


"Ahhhhhh! bruaakkkkhh!" jerit Leon yang jatuh menabrak meja.


"Akan gue buat lo mati perlahan bangsat!" seru Raffa lalu mengangkat meja dan membantingkan tepat di atas Leon yang meringis.


"Brakkkkhhh! uhhkkkkk! hekkh!"


"Bangun lo bajingan! gue tahu lo gak selemah ini, malam ini masih panjang!" ucap Raffa seraya membangunkan Leon.


"Masih berani lo tersenyum brengsek!" lanjut Raffa begitu geram.


"Hehe, karena bagaimanapun gue orang pertama yang menikmati wangi dan indah tubuhnya" ledek Leon seraya tersenyum puas.


Sontak ucapan Leon membuat Raffa terbakar hatinya.Penuh amarah Raffa mencekik Leon lalu tanpa ragu menghujamkan lututnya di susul beberapa pukulan di tubuh dan wajahnya dan di akhiri satu tendangan.


"Braaakkkkh! Leon terhempas menabrak kursi.


Adrian yang tak jauh begitu tak percaya dengan apa yang di lihatnya.Dengan mata kepala sendiri ia melihat Raffa yang begitu ganas.


"Bocah itu sungguh tangguh, sepertinya Aurel sudah tepat berada di sisinya.Bodohnya gue mencari masalah dengannya" gumam Adrian tampak gusar lalu melirik Aurel.


"Aurel? kamu gak apa-apakan!?" tanya Adrian penuh khawatir.


Aurel hanya menoleh dan menatap Adrian dalam tangisnya yang masih tak mereda.


"Gue tahu, gue bukan Abang yang baik, maafkan gue, gue benar-benar menyesal.Lo bisa tenang sekarang, karena orang brengsek itu sudah mendapat balasannya, lo lihat saja" ucap Adrian.


Aurel pun menatap ke arah yang di tuju adrian.Ia melihat bagaimana Raffa tengah menghajar Leon tanpa ampun.


Tanpa terasa air matanya semakin deras mengalir.Aurel kembali memeluk kedua lututnya seakan kepedihannya tak ada penawarnya.


"Aku sudah tak pantas lagi untukmu hiks, orang itu sudah mengotori aku" ucap Aurel lirih.

__ADS_1


Sontak Adrian pun merasa tersayat hatinya.Jika saja saat itu ia tak terhasut perkataan Leon hal ini mungkin tak akan pernah terjadi.


Sementara kondisi Leon pun sudah sangat kacau.Rasa marah Raffa sedikit mereda tatkala Leon terkapar tak berdaya dengan nafas tak beraturan.


"Kini lo tahu siapa yang salah berurusan!" ucap Raffa lalu menghampiri Aurel yang bersama Adrian.


Sadar Raffa meninggalkannya dengan susah payah Leon pelan-pelan berdiri lalu mendekati laci meja didekatnya.


"Sayang!? apa kamu baik baik saja?" tanya Raffa tanpa memperdulikan Adrian.


"Hiks hiks! jangan dekat-dekat! aku sudah gak pantas untukmu, aku sudah kotor" ucap Aurel terdengar pilu seraya terus menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.


Raffa sedikit terkejut namun memakluminya ia pun segera berjongkok seraya mengusap punggung Aurel.


"Apapun yang terjadi, perasaan aku padamu takan berubah, aku cinta dan sayang sama kamu dengan apa adanya dirimu, bagiku kamu tetap sempurna"


Ucapan Raffa sedikit menenangkan Aurel.Dengan perlahan Aurel mengangkat wajahnya lalu menatap Raffa namun tiba-tiba matanya membelalak menatap ke arah lain.


"Heehh! heehh! apa pun caranya gue akan ... pada akhirnya ... lo yang akan habis bocah!" ucap Leon seraya mengangkat pistol yang sepertinya ia sudah sembunyikan.


"Bangsat!" ucap Adrian lalu meraih batang pipa.


"Mati lo bocah sialan!" seru Leon dengan tatapan dingin.


Raffa yang terkejut pun menoleh ke arah belakangnya.Nampak Leon sudah siap menembakan pistolnya.


"Bajingan lo Leon!" teriak Adrian lalu melompat menutupi Raffa seraya melempar pipa besinya.


"Dooorrr! tanngghh!"


"Akhhhhh" pekik Adrian lalu ambruk.


"Ughhhh" jerit Leon saat pipa besi mengenai wajahnya.


Tanpa menunggu Raffa berlari dan melompat, dengan memanfaatkan satu kursi sebagai pijakan ia melompat lebih tinggi seraya melakukan tendangan memutar 540.


"Bugggghhh!


"Ugghhhh!" pekik Leon yang terhempas ke lantai.


"Gue bunuh lo bangsat!" ancam Raffa lalu menarik kabel tersebut seraya menginjak punggung Leon.


"Aaahhhhhhhh!" seru Raffa kalap hingga teriakan seseorang membuatnya menahan diri.


"Polisi! jangan bergerak!" lalu nampak beberapa polisi mengepung tempat itu seraya menodongkan senjatanya.


"Nak lepaskan dia! semua sudah berakhir!" ucap satu polisi.


"Silakan bapak menjalankan tugasnya tapi orang ini akan mati hari ini" ancam Raffa seraya terus menahan cekikannya.


"To, tolong saya Pak!" ucap Leon hampir tak terdengar.


"Berhenti! atau kami akan menembak!" ucap polisi itu kembali.


"Tembak saja saya tak perduli! setidaknya saya akan membawa satu penjahat ini enyah dari dunia ini!" balas Raffa tak perduli


"Biarkan hukum yang berbicara Nak! kau tak bisa main hakim sendiri!"


"Cih! sekeras apa hukum akan bicara pada orang kaya dan berpengaruh hah!" balas Raffa penuh penekanan.


Tiba-tiba satu perwira menengah berjalan seraya menurunkan senjatanya.


"Saya berjanji padamu, jika saya tak bisa menghukumnya, saya akan mengundurkan diri dari jabatan saya!" ucapnya penuh percaya diri, "Jadi biarkan kami yang mengurusnya"


Raffa cukup terkejut dengan ucapan perwira tersebut, "Heh! hanya janji manis, buktikan! jika semua tak berjalan, saya sendiri yang akan kembali menghukumnya!" ucap Raffa begitu serius.


"Kamu bisa pegang janji saya! sekarang lepaskan dia, biarkan kami menjalankan tugas" ucap perwira itu nampak memohon.


Perlahan tapi pasti Raffa melepaskan kabel cekikannya.Dengan cepat ia memaksa Leon berdiri lalu menghampiri perwira tersebut.


"Orang ini sudah banyak melakukan kejahatan, penculikan, penganiayaan, percobaan pembunuhan juga pelecehan.Itu semua PR Anda" ucap Raffa lalu melepaskan Leon pada perwira tersebut.


"Bawa di ke kantor untuk pemeriksaan!" perintah perwira itu pada anak buahnya.


Tak lama beberapa polisi juga mendekati Adrian dan menuntunnya ke luar.

__ADS_1


"Hubungi ambulan dan segera tangani lukanya, cepat sebelum ia kehabisan darah!" ucap salah satu polisi.


"Siap Bang!" balas polisi lain.


Raffa sendiri segera mendekati Aurel tanpa menghiraukan beberapa polisi yang mulai mengerumuninya.


"Biarkan pacar saya jadi tanggung jawab saya! saya merasa bukan laki-laki jika tak bisa menjaganya" ucap Raffa dengan tegas.


"Tapi Nak Nona ini sebaiknya ikut kami ... " jawab salah satu petugas.


"Sudah biarkan dia membawanya!" perintah perwira polisi tersebut.


"Sayang semuanya sudah aman, aku akan membawamu pulang" ucap Raffa seraya merapikan jaket yang telah di pakai Aurel.


"Hiks! Raffa!?" balas Aurel tak berani menatap.


"Aku di sini sayang, maaf jika aku masih selalu gagal untuk menjagamu, aku janji akan melakukan yang terbaik untuk menjagamu hingga tak ada satu orangpun bisa mengganggumu" ucap Raffa begitu tulus seraya mengangkat Aurel lalu membopongnya keluar.


"Raffa, apa kamu masih mau berada di dekatku? aku akan mengerti jika kamu kecewa dan ingin jauh dariku" ucap Aurel seraya menyembunyikan wajahnya.


"Pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku akan tetap di dekatmu, kejadian ini malah membuatku semakin ingin bersamamu" balas Raffa meyakinkan.


Aurel yang terharu lalu merangkul leher Raffa dan membenamkan wajahnya di dada sang penolong.


Bagai satria menang perang Raffa keluar dari gedung penuh percaya diri seraya membopong Aurel.Saat Raffa tiba, sontak ia di sambut semua orang yang sudah cemas menunggunya dan Aurel.


"Aurel!?" teriak Ny Ariana begitu lega sekaligus khawatir.


"Mih" balas Aurel pendek.


"Nyonya dan Tuan!? maaf jika saya terlalu lama untuk membawa Aurel dengan selamat" ucap Raffa sedikit tak enak hati.


"Sudahlah, kami sangat berterima kasih padamu Nak" ucap Tn Hernand begitu bersyukur.


"Sebaiknya kita bawa Aurel pulang segera Tuan, ia butuh istirahat dan menenangkan diri dan satu lagi Adrian bagaimana?" ucap Raffa.


"Baiklah bawa Aurel ke mobil Om dan soal Adrian Om sudah mengutus beberapa pengacara untuk mengurusnya.Sementara ini biar ia mendapatkan perawatan dahulu, dia anak laki-laki sudah seharusnya bisa mengurus dirinya sendiri" balas Tn Hernand seraya menuju mobilnya.


"Tuan dan Nyonya silakan duluan, nanti Raffa menyusul dengan mobil sendiri" ucap Raffa seraya tersenyum.


Sepeninggal keluarga Adrean Raffa kembali berjalan menuju kerumunan polisi hingga beberapa orang menghampirinya.


"Al!" seru Rama.


"Hei Al!" panggil Andre.


"Mas! Bang! kalian di sini juga!"


"Ya ,maaf kita terlambat datang, sepertinya anak itu kembali berulah!?" ucap Rama nampak kesal.


"Heh! seharusnya gue patahin satu kakinya kemarin biar tu bocah sadar diri!" geram Andre.


"Saya pun ingin sekali membuatnya diam selamanya, namun biarlah bapak-bapak ini yang mengurusnya" balas Raffa.


"Kamu melakukan hal benar Al, percayalah padanya, perwira itu berdedikasi tinggi, sepertinya anak itu dalam masalah dan ayahnya akan sulit menolongnya" ucap Rama percaya diri.


Tak lama perwira itu kembali menghampiri Raffa.Ia nampak menatap Rama cukup lama lalu membuka suaranya,


"Heh! tak aneh sepertinya kamu dekat dengan Rama ya?" tanya perwira itu.


"Malam Pak Iriawan Sastra" ucap Rama lalu menyalaminya.


"Baik saya tak akan lama, secepatnya kamu harus datang ke kantor untuk memberikan keterangan.Saya yakin kamu pun ingin secepatnya orang itu menerima hukumannya bukan!?" ucap Pak Iriawan.


"Baik saya akan segera memenuhinya" balas Raffa pendek.


Setelah bersalaman Pak Iriawan pun beranjak meninggalkan mereka.


"Sebaiknya kita pun segera pergi dari sini" ucap Rama.


"Ya benar sekali, lagian ni bocah kecil butuh perawatan lahir batin haha" ledek Andre tertawa seraya mengacak rambut Raffa.


"Haha dan yang terpenting, mulai saat ini semuanya akan lebih mudah, karena sumber masalahmu telah di singkirkan" lanjut Rama merasa tenang.


Raffa hanya tersenyum lalu mereka berjalan bersama penuh perasaan lega sekaligus senang.Hari berikutnya sepertinya akan berjalan lebih indah untuk Raffa.

__ADS_1


[[ End ]]


__ADS_2