Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
55.Alena Dan Bunda


__ADS_3

"Ram, mau sampai kapan pencarian Alena ini berakhir, gak bisa apa kalian kerja lebih cepat!" seru Tn Harry benar-benar tak sabar.


"Maaf Pak kita sudah berusaha semaksimalnya, kita memang kehilangan petunjuk lanjutan" sahut Rama pasrah.


"Lalu apa saja yang sudah kalian dapat selama ini, makin tak bisa di andalkan kalian ini!" Tn Harry makin geram.


"Kita sudah dapat identitas gadis itu Pak dan kita sudah menginterogasinya.Namun Non Alena sepertinya sudah curiga kita akan tahu" Rama mencoba menjelaskan.


"Maksud kamu Ram?" balas Tn Harry tak mengerti.


"Non Alena hanya meminta ponsel beserta nomor baru di tambah mobil sewaan.Selebihnya ia tak berbicara banyak tentang kemana akan pergi" ucap Rama kembali.


"Apa kamu sudah coba menghubungi nomor tersebut?" tanya Tn Harry penuh harap.


"Sudah Pak, namun sepertinya belum di aktifkan.Putri Anda memang pintar, kemungkinan ia kembali mengganti dengan nomor yang lain" balas Rama kembali beralasan.


"Tak usah memuji, Alena yang pintar atau kalian saja yang bodoh" ucap Tn Harry seraya memijat keningnya.


"Maaf Pak, kita akan bekerja lebih baik lagi" ucap Rama.


"Sudah seharusnya kalian bekerja lebih baik lagi, tidak ada lagikah yang bisa kalian lakukan!?" ucap Tn Harry mulai putus asa.


"Maaf Pak saya sendiri sih punya firasat kalau Non Alena tidak lagi berada di kota ini, itu sepertinya yang membuat kita belum menemukannya sampai saat ini" ucap Rama berpendapat.


"Kamu ngomong apa Ram!? keluarga kita hampir semua berada disini, cuma satu yang di luar kota itu pun sudah kita pastikan tidak ada" sahut Tn Harry merasa heran.


"Memang benar Pak, tapi saat ini saya sudah menghubungi pihak terkait untuk mengecek ke arah mana mobil Non Alena pergi.Akan butuh waktu tapi hasilnya akan mempermudah pencarian kita" Rama pun menjelaskan


"Ya sudah kalo kalau itu yang terbaik untuk saat ini, percepat saja prosesnya dan hubungi siapapun yang kamu butuhkan.Pokoknya Alena harus segera di temukan" ucap Tn Harry sedikit bersemangat.


"Baik Pak" balas Rama dengan sedikit membungkukan badannya.


Tanpa membuang waktu lagi mereka pun segera berangkat menuju perusahaan tempat mereka bekerja.


Sementara di salah satu sudut parkiran kampus, Aurel nampak tengah menunggu seseorang.Situasi itu tak luput dari perhatian seseorang yang langsung mendekatinya,


"Hai cantik sendirian aja aku temenin ya?" ucap Leon lalu duduk di sebelah Aurel.


"nggak, berdua kok sekarang sama setan" balas Aurel ketus.


"Masih aja judes gitu kalo sama gue, salah gue apa sih Rel?"


"Heh! serius masih nanya lo salah apa!? gak pernah sadar diri emang" sahut Aurel memalingkan mukanya dengan malas.


"Tapi Rel yang gue lakukan selama ini hanya biar lo tau kalo gue tuh sayang sama lo" ucap Leon mencoba meyakinkan.


Leon pun lalu meraih kedua tangan Aurel seraya menatapnya dalam-dalam,


"Aurel gue cinta sama lo, maukan lo jadi pacar gue?" ucap Leon penuh harap.


Belum juga Aurel sanggup membuka suaranya, tiba-tiba suara motor mengalihkan perhatian mereka berdua.Keduanya pun menatap pada sang penunggang kuda besi tersebut.


Raffa sendiri segera beranjak dari parkiran dan tanpa di duga melihat Leon yang tengah menggenggam lengan Aurel.


Reflek Aurel menarik tangannya dengan sedikit panik lalu menghampiri Raffa, membuat Leon begitu kesal di buatnya.


"Al!? kok baru datang? aku nungguin kamu dari tadi loh" ucap Aurel tak ingin ada salah paham.


"Iya maaf, kamunya aja mungkin yang kepagian" sahut Raffa sedikit menggoda.


"Ish malah ngeledek, nyebelin ih" ucap Aurel seraya mendorong manja bahu Raffa.


"Ngomong-ngomong kok bisa kamu sama dia sih?" ucap Raffa seraya melirik Leon.


"Oh itu, cuma tamu gak di undang yang gak tahu diri.Kenapa, cemburu ya?" ucap Aurel menatap Raffa seraya mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


"Ih mulai genit ya, mulai berani nyosor" balas Raffa berusaha menutupi rasa gugupnya.


Terang saja wajah Aurel memerah semerah tomat, ia tak menyangka malah ia yang di buat mati gaya oleh Raffa,


"Perasaan masih pagi, kok udah kepanasan sih? muka kamu kaya tomat" ucap Raffa seraya mencolek ujung hidung Aurel lalu kabur.


"Ihh Raffa, jangan kabur ih, Raffa ngeseliinn!" seru Aurel lalu mengejar Raffa yang berlari pelan.


Leon hanya mampu menggebrak tempat duduknya penuh amarah seraya menatap kepergian keduanya.


"Brengsek tu bocah, selama lo ada, Aurel gak akan pernah nganggap gue" gumannya dalam hati.


Dengan rasa benci yang semakin bertambah Leon benar-benar menjadikan Raffa sebagai rival yang harus ia singkirkan.


Waktu berjalan tanpa terasa hingga siang pun menjelang.Ryo juga Luna nampak tengah bersantai di kantin seraya menikmati makan siang mereka.


"Pada kemana sih? tumben grup rempong pada gak muncul, di telen bumi kali ya?" ucap Ryo celingukan.


"Iya si Al sama Aurel juga gak ada, kemana ya?" balas Luna juga bertanya-tanya.


Tiba-tiba ponsel Ryo berdering, ia pun dengan segera meraih ponselnya.


"Dari siapa yank?" tanya Luna penasaran.


"Ibu!?" Ryo tercengang saat melihat nama penelepon tersebut.


"Ibu kamu? ya angkat dong sayang, malah bengong, aneh deh" sahut Luna sedikit terheran.


"Bukan, ini Ibu nomor dua aku" ucap Ryo ngasal seraya menerima panggilan tersebut.


"Assalamualaikum Bunda ke dua" sapa Ryo dengan sopan walau asbun.


"Waalaikumsalam Nak Ryo, maaf ganggu apa Raffa ada sama kamu? Ibu hubungi kenapa selalu susah ya?" balas Ibu Aisyah.


"Oh gitu ya, tolong sampaikan Ibu telepon, ada hal penting yang mau ibu sampaikan.Nanti bilang untuk segera hubungi Ibu ya Nak Ryo" sahut Ibu Aisyah sedikit kecewa.


"Siap Bunda nanti akan Ryo sampaikan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya.Jakarta 17 agustus 1945" ucap Ryo menirukan.


"Heh kamu ini gak pernah berubah, ya sudah Tolong ya Nak Ryo, Ibu tutup dulu Assalamualaiakum"


"Waalaikumsalam" balas Ryo seraya menyimpan ponselnya kembali, lalu menjelaskan pada Luna yang menatapnya,


"Tadi itu Bundanya Raffa, minta Raffa segera telepon balik, katanya dia susah di hubungi."


"Oh gitu, bukannya kita juga sama yank, susah kalo ngehubungi si Al?" ucap Luna yang teringat.


"Iya juga sih, aku cari si Al dulu yank takutnya penting.Gak apa-apa ya aku tinggal?"


Setelah mendapat anggukan Ryo pun segera mencari Raffa ke mesjid kampus.Tak lama ia pun menemukan Raffa yang baru saja keluar,


"Behb! ketemu juga lo disini, bunda tadi telepon, suruh lo telepon balik tuh" ucap Ryo tanpa basa-basi.


"Bunda? serius lo!? tapi ini bunda lo apa bunda gue, bingung lo samain semua panggilannya" sahut Raffa memastikan.


"haha bunda lo Bebh, kalo bunda gue ada gelar ratunya" ucap Ryo terkekeh geli.


"Euh, parah lo emang tiada akhir, ampun dah, tapi thank ya cuma gak bisa telepon balik, ponsel gue rusak"


"What!? pantes belakangan ini lo susah banget di hubungi.Bunda lo juga ngeluh tuh, nih lo pake punya gue takutnya penting"


Tanpa berlama-lama Raffa pun segera menghubungi nomor Ibunya,


"Assalamualaikum, hallo Bu ini Al" ucap Raffa.


"Waalaikumsalam, alhamdulillah kamu hubungi ibu juga" balas Ibu.

__ADS_1


"Iya maaf ya Bu ini pake punya Ryo soalnya ponsel Raffa rusak" Raffa coba menjelaskan.


"Oh gitu ya sudah gak apa-apa, Ibu cuma mau bilang hari ini Ibu mau berangkat ke tempat kamu, mungkin sekitar Magrib baru sampai" ucap Ibu


"Hah a, apa!? Ibu serius mau kesini? kok ngedadak banget Bu?" sahut Raffa begitu terkejut.


"Iya ini juga mau berangkat, gak masalahkan ibu jenguk kamu sekalian mengantar seseorang"


"Gak masalah bangetlah Al malah senang, tapi memang Ibu mau mengantar siapa?" ucap Raffa penuh tanya.


"Alena" jawab Ibu pendek.


Dunia seakan bergetar mengguncang, membuat Raffa tercengang tak terbayang,


"A ... a, apa! Ibu tak sedang bercandakan!? bagaimana bisa Bu!?" Raffa benar-benar terlihat syok mendengarnya.


"Nanti Ibu ceritakan sesampainya di sana, Ibu jalan dulu ya sayang, Assalamualaikum" tutup Ibu.


"Waalaikumsalam" balas Raffa dengan suara sedikit bergetar.


"Hei Bebh, Behb!? Raffa Alfajrian woy!" seru Ryo seraya menepuk pundaknya.


"Ibu mau datang ke sini Yo" ucap Raffa begitu hampir tak terdengar.


"Ohh bagus dong, tapi kenapa lo malah stress gitu Behb? aneh!?"


"Karena Ibu datang gak sendiri, tapi ... sama Alena" ucap Raffa masih sangat tak percaya.


"Oh gak sendiri tapi sama Al, Hah! sama Alena!? gimana ceritanya Bebh, kok bisa"


Raffa hanya terdiam tanpa menghiraukan Ryo karena ia sendiri pun tak tahu jawabannya.


Sisa hari ini pun ia lalui tanpa bisa berpikir jernih berbagai pertanyan terus membayanginya.


"Bagaimana bisa Alena sama Ibu? lalu apa aku harus memberitahu Om Harry soal ini? tapi sebelumnya aku sendiri harus memastikan semuanya terlebih dahulu" guman Raffa dalam hatinya.


Selesainya berlatih basket, dengan tergesa-gesa Raffa pun segera pulang.Begitu tak sabar ingin segera menemuinya.


Sementara di kamar Raffa, nampak Ibu Aisyah dan Alena tengah berbincang seraya beristirahat,


"Mah apa Mamah yakin mau bicara sama papah? Alena hanya takut papah masih marah" ucap Alena seraya tidur di pangkuan Ibu Aisyah.


"Berdo'a saja sayang semoga kita di beri kekuatan untuk membuat papah kamu itu mengerti" balas Ibu yang mulai terbiasa dengan sikap manja Alena.


"Iya Mah Alena juga berharap seperti itu, Alena hanya khawatir aja papah ikut nyakitin Mamah" ucap Alena seraya memeluk erat pinggang Ibu.


"Jangan khawatir itu tak akan terjadi sayang.Selama kita bicara jujur semua akan baik-baik saja, besok kita bicara sekarang lebih baik istirahat" ucap Ibu seraya mengusap-usap lembut puncak kepala Alena.


Tanpa mereka sadari seseorang tengah menatap ke arah mereka.Suasana hangat itu pun tak luput dari perhatiannya,


"Ibu!?" ucap Raffa begitu gugup sekaligus terkejut.


"Raffa!?" Alena pun tak kalah terkejutnya.


"A, Alena!?" sungguh Raffa tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Suasana canggung langsung tercipta untuk keduanya.Mereka hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata-kata.Hanya ibu yang terlihat tenang namun melihat keduanya yang terpaku membuat Ibu tak tahu harus memulai dari mana.


[ Bersambung ]


Akan seperti apakah hubungan Raffa dan Alena?


Bagaimana juga nanti reaksi Tn Harry?


See you again gess 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2