
Hari ini menjadi hari kepulangan Ibu Aisyah.Sebelum berlatih, Raffa yang teringat segera menghubunginya hanya untuk memastikan,
"Assalamualaikum Bu" ucap Raffa memberi salam.
"Waalaikumsalam sayang" balas Ibu.
"Maaf, Al cuma mau tahu apa Ibu sudah sampai?" tanya Raffa.
"Alhamdulillah, Ibu sudah sampai dengan selamat.Ini juga belum lama kok sampainya" sahut Ibu.
"Syukurlah kalo sudah sampai, Ibu istirahat saja jangan cape-capean dulu ya" pinta Raffa begitu perhatian.
"Iya sayang, oh iya sampaikan rasa terima kasih Ibu buat Tn Harry juga Alena ya.Sudah repot repot menyiapkan semuanya untuk mengantar sampai rumah" ucap Ibu begitu bersyukur.
"Baik Bu nanti Al sampaikan, kebetulan sepulang latihan Alena meminta Al kesana" balas Raffa.
"Oh gitu, ya sudah sampaikan salam buat Alena ya sayang" ucap Ibu kembali.
"Iya Bu, kalau gitu Al tutup dulu ya, Assalamualaikum" ucap Raffa berpamitan.
"Waalaikumsalam" balas Ibu.
Raffa yang merasa tenang lalu kembali bersiap siap.Tak lama Armand pun menghampirinya,
"Hei Al jadwal pertandingan dah keluar nih" ucap Armand seraya menyerahkannya.
"Sistem gugur ya? jangan pernah kepleset sedikitpun kalo begini" sahut Raffa serius.
"Ada berita baik juga buruknya sih Al" ucap Armand.
"Jelasin berita buruknya dulu deh" sahut Raffa.
"Selain sistem gugur peserta yang ikut cukup merepotkan juga Al, gak nyangka banyak tim kuat ambil bagian.Biasanya turnamen ini gak mereka lirik" Armand mulai menjelaskan dengan wajah penuh khawatir.
"Ya mungkin sekarang jadi penting untuk pemanasan atau sekedar uji coba" balas Raffa beropini.
"Lawan pertama kita aja cukup bagus, sepertinya hampir gak ada yang mudah buat kita" ucap Armand memelas seraya mengusap wajahnya.
"Jadi menurut lo kita ini underdog? dan tim lain akan meremehkan kita? jadi mereka gak akan menganggap kita serius?" ucap Raffa tersenyum puas.
Armand yang melihatnya sedikit merasa heran,
"Nah itu, nah lo ta ... " sahut Armand terhenti lalu nyengir sendiri.
"Kenapa? kebayang sesuatu?" ucap Raffa tersenyum seakan meledek.
"Gue paham maksud lo, kita manfaatkan kepedean mereka, akan lebih mudah menyerang lawan yang tak waspada, bukan begitu?" ucap Armand seraya menatap Raffa memastikan.
"Cakep hehe, lalu berita baiknya apa nih?" balas Raffa.
"Satu aja sih, kita hanya akan ketemu pasukan rese Leon jika kita dan mereka lolos ke final"
"Final ya? heh akan sangat bagus bila dapat membungkamnya di final" ucap Raffa sudah membulatkan tekadnya.
"Jalan ke final akan sangat sulit Al tapi gue dan yang lain akan berusaha yang terbaik, kita gak akan mengecewakan lo" ucap Armand bersemangat.
"Gue senang mendengarnya" sahut Raffa lalu berjalan ke tengah lapangan.
"Guys guys come on!" seru Raffa yang membuat semua teman timnya berkumpul.
__ADS_1
"Gue mau sekarang semua orang melakukan 10 kali shooting dengan posisi berbeda di ring kanan, lalu 10 drive dan layup di ring kiri, dunk kalo kalian mampu.Lakukan terus sampai kalian gak sanggup, ayo ayo!"
"Serius lo Al?" ucap Adi.
"Dunk nenek lo tiktokan, nyampe aja kagak gue Al" ketus Evran yang tak terlalu tinggi.
"Hadeuh kerja rodi lagi kita" ucap Heris
"No problem, gas pol" ucap Armand mencoba membangkitkan semangat rekannya.
"Seorang jaga di bawah ring buat ngoper bola ya, giliran sama yang udah, Go go go" penuh semangat Raffa pun melakuannya setelah Armand.
Dengan begitu serius merekapun berlatih tanpa memperdulikan rasa lelah.Hingga akhirnya Raffa menghentikannya.
"Ok guys cukup hari ini, thank ya atas kerja kerasnya" ucap Raffa.
"Sama-sama Al kita ini kan satu tim"
Raffa pun tersenyum lalu mengulurkan satu tangannya ke depan.tak lama satu persatu semua orang menggabungkan tangannya lalu berteriak bersama,
"Final here we comes!"
Selesai berlatih Raffa lalu pergi memenuhi permintaan Alena untuk datang ke kediamannya.Alena yang memang sudah menunggu lalu menyambutnya.
"Mari masuk Al" ucap Alena setelah membukakan pintu.
"Terima kasih Alena" balas Raffa.
Rumah besar ini benar-benar terasa sunyi.Apalagi tanpa Tn Harry yang mungkin masih sibuk dengan pekerjaannya di kantor.
"Papahmu belum pulang ya?" tanya Raffa sedikit mencairkan suasana.
"Maaf ya kalau sudah mengganggu waktumu, ada banyak yang harus aku bicarakan sama kamu dan aku rasa lebih cepat lebih baik" ucap Alena meminta pengertian.
"Gak masalah kok Alena, maaf juga aku datang kemalaman soalnya ada latihan tadi sore" balas Raffa seraya tersenyum.
Setelah mengangguk Alena pun duduk di ikuti Raffa.Setelah menghela nafas Alena mulai buka suara,
"Raffa pertama-tama aku mau minta maaf atas apapun yang Papah lakukan.Semua itu juga tak lepas dari kesalahan aku, semoga kamu bisa benar-benar memaafkan aku juga papah" ucap Alena penuh harap.
"Aku sudah memaafkannya, tapi aku tak bisa seperti sebelumnya, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.Aku juga tak mau papahmu kembali menaruh harapan besarnya padaku.Aku takut membuatnya kecewa"
"Aku mengerti, lalu yang kedua, ini soal Ibumu" ucap Alena seraya menatap Raffa dalam-dalam.
"Ibu? maksud kamu" balas Raffa balas menatapnya.
"Semoga kamu tak salah paham aku akan terbuka sama kamu. Jujur sejak kita bertemu, aku seperti menemukan tujuan untuk menatap hari esok.Adanya kamu membuat aku lebih bisa menerima jika mamah Sofia sudah tak bersamaku"
"Semua memang pura-pura tapi buatku dirimu semakin berarti.Aku merasa memiliki seorang pelindung dan tempat tuk bersandar.Harapku bisa selalu bersamamu di setiap waktuku" ucap Alena dengan suara yang semakin berat.
Raffa benar-benar tak menduganya, sekali lagi ia di buat merasa bersalah oleh seorang gadis.
"Alena maafkan atas kebodohanku, selama ini yang aku tahu hanya bagaimana membalas budi baikmu karena aku berhutang begitu banyak padamu.Aku sungguh tak berani lancang untuk bersikap lebih padamu" ucap Raffa seraya menatap kosong ke atas langit.
"Aku mengerti kok, mungkin cara berkenalan kita saja yang salah" sahut Alena berusaha menerimanya dengan ikhlas.
"Tolong maafkan aku Alena" ucap Raffa terlihat pilu.
"Sudah, tak usah kamu merasa bersalah aku baik-baik saja" sahut Alena seraya menepuk lembut tangan Raffa.
__ADS_1
"Ada satu lagi yang ingin aku tunjukan padamu" ucap Alena lalu menuntun Raffa ke sebuah kamar yang selalu terkunci rapi.
Setelah membuka kuncinya Alena kembali berucap,
"Kamar ini sebenarnya khusus untuk mengenang Mamah Sofia, tapi aku harap ini juga akan bisa menjawab satu pertanyaanmu"
Kamar yang tertata rapi dengan semua perlengkapan yang begitu terawat.Meja rias dengan semua peralatan rias, rak berisi sepatu juga sandal, lemari baju beserta isinya.
Perlahan tapi pasti Raffa mulai tertarik dengan kamar berwarna dominan biru ini.Ia terus menelisik hinga terhenti di satu pigura berisi foto wanita yang mungkin seumuran Ibunya.
"Apakah ini mamahnya Alena?" tanya Raffa dalam hati.
Alena yang memang berharap Raffa menemukan foto tersebut terus membiarkan ia terus menilisiknya.
"Mengapa aku seperti tidak asing dengannya, wajah ini rasanya aku mengenalnya" guman Raffa dengan perasaan mulai bergejolak.
Raffa mulai menyentuh setiap lekuk wajah wanita di foto itu.Namun satu perasaan aneh menyelimutinya tatkala ia menatap matanya,
"Ibu!" pekik Raffa saat sekelebat wajah ibunya tergambar jelas di foto itu.
"Tidak ini bukan Ibu, ini, mata ini begitu terasa seakan ibu yang menatapku" Raffa begitu tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Raffa terperanjat saat tangan seseorang mengusap punggungnya dengan lembut,
"Apa kamu merasakan apa yang aku rasakan Al?" tanya Alena ingin memastikan.
"Emh Alena apa ini mamah kamu?" tanya Raffa dengan nafas memburu layaknya habis berlari.
"Benar Raffa ini mamah Sofia" sahut Alena tersenyum seraya menatap foto sang mamah.
"Sepertinya aku mulai mengerti mengapa kamu bisa begitu dekat dengan ibuku Alena" ucap Raffa.
"Syukurlah kalau kamu mengerti, sejak awal aku tidak berusaha merebut ibumu.Mengenalmu membuatku mampu kembali melangkah tapi mengenal ibumu seakan mengembalikan apa yang telah hilang di hidupku dan membuat ruang kosong di hati ini terisi kembali" balas Alena terlihat lega.
"Aku sangat mengerti rasa kehilangan ini, mulai sekarang sedekat apapun kamu dengan ibuku aku tak akan keberatan" ucap Raffa seraya meraih kedua pundak Alena lalu mengusapnya dengan lembut.
"Terima kasih ya Al, semua ini begitu berarti buat aku" balas Alena seraya tersenyum bahagia lalu memeluk Raffa dengan hangat.
"Tak perlu berterima kasih Alena, semua ini belum apa-apa di banding apa yang telah kamu lakukan untukku" ucap Raffa seraya membalas pelukannya.
"Kamu tak akan marahkan jika ibumu lebih menyayangi aku?" ucap Alena seraya tersenyum menggoda.
"Aku tak akan marah, karena itu tak mungkin" balas Raffa seraya menjulurkan lidahnya.
Alena hanya tersenyum geli melihat tingkah Raffa lalu mengajaknya meninggalkan kamar tersebut.
"Oh iya Alena, apa ibuku tahu juga soal ini?" tanya Raffa penasaran.
"Tentu saja, karena aku tak ingin ada yang ku sembunyikan dari kalian" sahut Alena berusaha jujur.
Raffa pun nampak lega mendengarnya.Akan sangat adil jika ibunya tahu tentang semua ini.Setelah beberapa saat Raffa pun berpamitan seiring malam yang semakin larut.
"Alena aku pamit dulu sudah malam, kamu istirahat ya tak usah mengantar aku ke depan.Oh iya Ibu titip salam sama ucapan terima kasih sudah repot mengantarkan" ucap Raffa.
"Beneran? ya sudah kamu hati-hati ya Al" sahut Alena begitu terlihat senang.
Akhirnya Raffa pun beranjak pergi dengan hati lebih tenang.Sementara Alena sendiri langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan perasaan yang begitu lega.
"Bisa bersama Ibu dan kamu memang akan sangat menyenangkan tapi bersama Ibu saja sudah cukup membuatku bahagia" guman Alena lalu menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
__ADS_1
[ Bersambung ]