Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
48.Kehilangan Terbesar


__ADS_3

Senin siang di perusahaan milik keluarga Adhitama.Tak seperti biasanya, mereka kedatangan tamu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.


Dengan angkuhnya Leon berjalan seakan ia pemiliknya.Tak perduli dengan tatapan semua orang yang seakan tak menyukainya.


"Siang Mba, bisa saya bertemu dengan Om Harry?" ucap Leon sesampainya di depan meja Vera.


"Maaf sebelumnya, dengan Mas siapa saya bicara?" ucap Vera dengan sopan.


"Sudah gak usah terlalu formil, bilang saja putra Arthur Frans Darmawan datang menemuinya" ucap Leon seraya duduk di meja Vera.


Melihat tingkah Leon, Vera hanya menghela nafas lalu mencoba menghubungi Tn Harry.


"Selamat siang Pak" ucap Vera


"Siang Ver, ada apa?" balas Tn Harry.


"Maaf Pak, di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak" ucap Vera kembali.


"Siapa Ver?" balas Tn Harry sedikit heran.


"Katanya putra Arthur Frans Darmawan, apa bapak berkenan menemuinya?" ucap Vera meminta persetujuan.


"Hmm, baik persilakan masuk saja" balas Tn Harry.


"Sudah pasti saya boleh masuk kan?" ucap Leon percaya diri.


Tanpa menunggu jawaban, Leon pun berjalan menuju Ruang Tn Harry.Vera yang sudah begitu kesal pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Di dalam ruangan Leon nampak sudah bersama Tn Harry juga Rama.


"Ada perlu apa kamu menemui saya?" ucap Tn Harry terdengar malas.


"Tenang Om saya gak akan membuang waktu berharga om dengan percuma" sahut Leon percaya diri.


"Maksud kamu?" Tanya Tn Harry.


"Saya ke sini membawa berita berharga untuk Om, dimana nantinya Om akan sangat berterima kasih pada saya" ucap Leon seraya menyilangkan kakinya.


"Dengan bertele-tele seperti ini kamu sudah membuang waktu berharga saya, kamu paham" balas Tn Harry makin tak sabar.


"Tenang Om saya tak akan panjang lebar menjelasakan, cukup Om lihat isi flashdisk ini saja" ucap Leon seraya menyerahkannya.


Rama tanpa di perintah langsung menyiapkan flashdisk tersebut pada laptop lalu menyerahkannya pada Tn Harry,


Karena hanya satu folder file dalam flashdisk itu, membuatnya sangat mudah untuk melihat isi di dalamnya,


Satu persatu file dalam flashdisk itu dengan seksama Tn Harry perhatikan hingga selesai.Nampak rona kecewa yang begitu dalam di wajahnya.


"Om, dari awal saya sudah coba peringatin.Sekarang percayakan orang yang Om kira baik itu seekor rubah licik" ucap Leon begitu senang melihat respon Tn Harry.


"Dari mana kamu dapat semua ini!?" sahut Tn Harry dengan nada seperti menahan amarah.


"Itu sudah gak penting Om, saya cuma ingin menyadarkan Om. Kalo selama ini Om dan Alena cuma di manfaatin" ucap Leon terus berusaha menghasud.


"Gak mungkin hanya itu, kamu pasti menginginkan sesuatu.Kamu bilang saja berapa? karena kalo soal perjodohan, itu tak akan pernah terjadi" ucap Tn Harry sedikit mengancam.


"Hahaha Om Harry tak perlu menggertak saya.Pertama saya gak butuh uang, kedua persetan dengan perjodohan" sahut Leon dengan nada tidak mengenakan.


"Tolong jaga ucapan Anda! kalau tidak, saya tidak segan melempar Anda" ancam Rama begitu serius.


"Heh, ternyata begini keramah tamahan di tempat ini hebat juga.Saya tekankan, di sini saya berusaha membatu Om tanpa mengharap apapun" ucap Leon seraya menyeringai.


"Ya sudah, sepertinya tak ada lagi yang perlu kita bicarakan.Terima kasih kunjungannya" balas Tn Harry tak ingin berlama-lama lagi.


"Baik sepertinya waktu saya habis, kalo begitu saya permisi.Ingat sama apa yang saya katakan, jangan sampai Om menyesal" ucap Leon lalu beranjak pergi.


Sepeninggal Leon Tn Harry sudah tak bisa membendung amarahnya lagi.

__ADS_1


"Bruakkkkhhh" Tn Harry menggebrak meja begitu keras.


"Ram, hubungi Alena juga pemuda itu, secepatnya suruh datang kesini saat ini juga, tak perduli mereka kuliah atau apapun, cepat!" seru Tn Harry terlihat geram.


Rama pun langsung melakukan apa yang Tn Harry perintahkan.Menghubungi Alena juga Raffa.


Tak terlalu lama nampak Alena tiba, ia pun langsung menuju ruangan papahnya.Sementara Raffa sendiri tiba selang beberapa waktu kemudian.


Saat Raffa memasuki lobby, ia di kejutkan seseorang yang menahannya.


"Hey bocah sudah siap kehilangan segalanya?" ucap Leon dengan nada meledek.


"Maksud lo apa sih? mau sampai kapan lo ngancam gue gak jelas begitu" sahut Raffa begitu jengah.


"Haha sampai lo mohon-mohon nangis darah di kaki gue" ucap Leon makin tengil.


"Gak ada waktu gue ngeladenin lo sekarang" balas Raffa lalu meninggalkan Leon.


"Sebaiknya lo siap-siap jadi orang miskin seutuhnya lagi bocah haha" Leon pun terkekeh begitu puas.


Tak lama Raffa sampai di depan ruangan Tn Harry.Tanpa basa-basi Vera langsung menyapanya,


"Eh Raffa ya? silakan, sepertinya kamu sudah di tunggu.Cuma Pak Harry sedang buruk moodnya" sahut Vera.


Akhirnya dengan perasaan was-was Raffa pun masuk menemuinya.


"Assalamualaikum, maaf kalo saya membuat Om menunggu" ucap Raffa dengan sopan.


Raffa cukup terkejut karena Alena juga ada di sana dengan wajah tegang,


Perasaan Raffa makin tak karuan saat Tn Harry menolak jabatan tangannya, hanya Rama yang menerimanya.


"Duduk kamu!" seru Tn Harry pada Raffa.


"Pah sebenarnya ada apa Papah memanggil kita berdua kesini?" tanya Alena tak bisa menahan gelisahnya.


Keduanya masih terdiam, karena merasa tak tahu hal apa yang sedang di tanyakan,


"Benar-benar kalian menguji kesabaran saya! tolong kalian jelaskan apa maksud semua ini!" seru Tn Harry mulai emosi.


Mereka pun lalu di perlihatkan beberapa potongan video yang membuat Raffa terkejut bukan main,


Video pertama memperlihatkan Aurel yang dengan jelas berucap,


"gue lebih baik jadi yang kedua dan gue merasa bahagia"


Terlihat Alena makin merasa gusar melihat bagai mana sikap Aurel pada Raffa,


Video selanjutnya nampak percakapan Ryo dan Luna yang jelas mengatakan,


"Al dan Alena itu pacar pura-pura, untuk membatalkan perjodohan"


Keduanya makin tak bisa berpikir jernih, begitu merasa bagai terdakwa yang terbukti bersalah.


Video selanjutnya memperlihatkan kehangatan Raffa dan Aurel menikmati pemandangan malam.


Tiba-tiba Tn Harry tak bisa menahan amarahnya lagi,


"Masih berani kalian berpura-pura lagi sekarang hah!" bentak Tn Harry pada keduanya.


"Maaf Pak saya lebih baik tunggu di luar saja" ucap Rama merasa tak enak hati.


"Diam kamu di situ Ram, biar jadi saksi, betapa mereka begitu tak punya hati tega mempermainkan saya seperti ini!" seru Tn Harry membuat Rama hanya menundukan kepalanya.


"Kurang apa saya sama kalian Hah! jawab!" Tn Harry makin murka. hingga Vera pun sanggup mendengarnya.


"Dan kamu! saya anggap kamu seperti anak saya sendiri tapi apa balasan kamu! dengan mempermainkan saya dan putri saya! jawab!" bentak Tn Harry seraya menunjuk Raffa begitu emosi.

__ADS_1


"Maafkan saya, ini semua salah saya, sungguh saya tidak bermaksud seperti itu.Saya berpikir melakukan yang terbaik dari yang terburuk" ucap Raffa mencoba menjelaskan sebisanya.


"Heh, terbaik katamu! terbaik untuk siapa!? lihat ini lihat! bisa-bisanya kamu membodohi saya juga Alena.Tak sangka kamu bisa sebrengsek ini! saya kecewa sama kamu!"


"Pah sudah, Raffa tak salah, Alena yang memaksanya melakukan semua ini.Salahkan Alena Pah ... " ucap Alena lalu meraih tangan Tn Harry seraya berlinang air mata.


"Lepasin tangan Papah! jangan pernah kamu berani membela laki-laki sialan ini! kamu buta Alena, lihat kelakuannya di belakang kamu! lihat!" balas Tn Harry seraya menujuk video Raffa dan Aurel.


"Tapi Pah Alena mohon, jangan salahkan Raffa seperti itu.Semua ide Alena Pah" ucap Alena lalu bersimpuh di depan Tn Harry dengan tangisnya yang semakin pecah.


Sontak Tn Harry begitu terkejut di buatnya, namun amarahnya yang belum mereda membuatnya tidak bergeming sedikitpun,


Raffa yang tak tega melihat itu segera mendekati Alena untuk memapahnya.


"Berhenti! jangan pernah kamu sentuh putri saya dengan tangan kotormu!" ucap Tn Harry segera berdiri menghadang Raffa.


"Mulai saat ini kita tak saling kenal, jangan pernah kamu dekati putri saya lagi! ngerti kamu! sekarang enyah kamu dari sini dan jangan pernah kembali! Pergi!" Bentak Tn Harry semakin murka.


Raffa hanya bisa pasrah menerima semuanya.Apapun keputusan Tn Harry ia akan dengan ikhlas menerimanya,


"Baik Om, sekali lagi saya mohon maaf atas semuanya.Tak ada niat sedikitpun membuat Om dan Alena kecewa.Oh iya Om, ini kunci mobil dan credit card , dari awal saya merasa tidak pantas menerimanya" ucap Raffa lalu menyimpannya di meja Tn Harry.


"Bagus kalau kamu sadar diri" balas Tn Harry dingin.


"Saya pamit dulu Om" ucap Raffa seraya mengulurkan tangannya.


Namun lagi-lagi Tn Harry tak memperdulikannya.Raffa pun mendekati Rama lalu mencium tangannya,


"Alena, maaf atas semua perlakuan burukku padamu, dan maaf aku belum bisa membalas semua budi baikmu.Semoga Allah membalasmu dengan kebahagian.Saya permisi Assalamualaikum" ucap Raffa lalu ia pun pergi.


Baru saja Raffa keluar dari gedung tersebut, seseorang menghadang langkahnya,


"Hehe gimana Rasanya balik jadi orang miskin lagi" ucap Leon yang memang sengaja menunggunya.


Raffa hanya tersenyum mendengar ledekan Leon.


"Lo sendirian sekarang, berhati-hatilah bocah.Tanpa seseorang di belakang lo, akan mudah buat hancurin lo haha" ucap Leon lalu pergi dengan tawa jahatnya.


Saat Raffa terpaku dengan perkataan Leon, ia tersadar saat tangan seseorang merangkul bahunya,


"Sepertinya kamu punya musuh yang cukup merepotkan, bukan begitu Raffa?"


"Mas Rama!?" ucap Raffa dalam keterkejutannya.


"Ikut saya" balas Rama lalu mengajaknya ke kafe terdekat.


Dengan Rama ia merasa bisa lebih terbuka.Raffa tak segan menceritakan alasannya berpura-pura hingga masalah siapa Leon yang ia kenal.


"Heh sudah saya duga, kamu ini pemuda yang baik.Maafkan Tn Harry ya, semoga saja marahnya hanya sementara" ucap Rama.


"Saya tak menyalahkan Tn Harry, ia pasti hanya ingin melindungi putrinya" sahut Raffa berusaha ikhlas.


"Oh ya, ini kartu nama dan alamat rumah saya.Kunjungi saya pagi-pagi sekali dan jangan sungkan kalo butuh sesuatu.Saya duluan, jagoan" ucap Rama lalu beranjak pergi setelah membayar minumannya.


Raffa nampak berpikir sesaat lalu mengejar Rama yang belum jauh,


"Mas Rama tunggu, sebenarnya bolehkah saya minta tolong satu hal?" tanya Raffa nampak kikuk.


"Hmm tentu saja boleh, sebutkan apapun itu, saya akan bantu?" sahut Rama dengan wajah serius.


"Ehmm kalo mau ke kampus saya harus naik apa dari sini, ponsel saya mati Mas?" ucap Raffa cengengesan.


Rama pun hanya menepuk jidatnya seraya tersenyum garing.


Akhirnya Raffa pun pergi di antar salah satu Sopir perusahaan Adhitama.Rama hanya menatap kepergian Raffa dengan tersenyum geli....


Tuhan selalu mengirim penolong untuk hambanya yang dalam kesulitan.

__ADS_1


[ Bersambung ]


__ADS_2