
"Sebaiknya kita berangkat, sebelum Papinya Cella melapor polisi" ucap Raffa tak sabar.
"Gak masalah sih Bebh, barusan Luna juga sudah telepon mertua lo barusan.Mereka akan menunggu kita di rumah" goda Ryo.
"Rese lo kuya, situasi gini masih aja becanda.Ya udah yuk berangkat" ucap Raffa.
"Yuk, aku panggilkan Cella dulu, barusan sih lagi beres-beres barang bawaannya" balas Luna seraya beranjak ke kamarnya.
Tak lama setelah semuanya siap mereka pun segera berangkat.Keluarga Adrean sendiri nampak sudah siap menantikan kepulangan putri bungsunya itu.
Suasana kediaman keluarga Adrean nampak berbeda dengan adanya penjagaan dari beberapa pengawal.Sepertinya Tn Hernand tak mau kembali kecolongan.
"Kalian sudah di tunggu Tuan dan Nyonya, silakan masuk" ucap pengawal saat mereka tiba.
"Assalamualaikum Tuan, Nyonya" ucap Raffa lalu mencium tangan Ny Ariana namun di tolak Tn Hernand saat mau menyalaminya.
Ryo juga Luna tak lupa menyalami keduanya.Setelah di persilakan mereka pun duduk dengan Cella terus berlindung di belakang Raffa.
"Cella sayang, sini sama Mami.Kamu kemana aja sih Nak?" ucap Ny Ariana yang sudah sangat khawatir pada putrinya tersebut.
"Maaf Mih Cella gak mau, selama punya Papi jahat kaya gitu!" balas Cella sinis.
Entah apa yang membuat Cella begitu berani yang pasti sepertinya rasa nyaman akan keluarganya telah luntur.
"Cella! berani kamu sama orang tua! semua ini gara-gara kamu! lihat dia mulai gak sopan sama orang tua!" ucap Tn Hernand mulai emosi.
"Tuan, Nyonya, maaf kedatangan kita kesini mau mengantar Cella pulang, kami tidak bermaksud membuat masalah" ucap Raffa tak ingin suasana memanas.
"Sejak anak saya kenal kamu semuanya jadi masalah! ngerti kamu!" balas Tn Hernand ketus.
"Udah Pih udah, selalu saja emosi.Tante ucapin terima kasih ya udah bawa Cella pulang"
"Halah Mih! mau aja di bohongin, ini pasti ulah anak ini.Selama ini palingan dia yang nyembunyiin anak kita!" potong Tn Hernand.
"Ampun deh alamat dapet mertua keras lagi ini sih" bisik Ryo pada diri sendiri.
"Heh kamu! ada yang mau kamu sampaikan!?" ucap Tn Hernand seraya menatap tajam Ryo.
"Eh tidak, tidak Om, hanya saja ternyata susah juga ya berbuat baik" ucap Ryo berterus terang.
"Apa maksud kamu!?" tanya Tn Hernand tersindir.
"Maksud saya Om, Tante, kami kesini dengan niat baik untuk mengantar Cella.Jujur, kami gak berharap imbalan ataupun mungkin ucapan terima kasih tapi cukup di terima baik baik" balas Ryo menekankan.
Tn Hernand juga Ny Ariana begitu terkesiap dengan ucapan Ryo.Tak ingin suaminya kehilangan wibawa Ny Ariana kembali buka suara.
"Maaf ya sebelumnya, boleh tante tahu kemana Cella selama ini?" tanya Ny Ariana.
"Sepertinya biar Cella sendiri yang cerita, karena yang tahu semuanya mungkin Cella.Ayo De kamu ceritakan" ucap Raffa diplomatis.
Sedikit takut akhirnya Cella menceritakan semuanya tanpa ada satu pun yang terlewat.
"Jadi gitu ceritanya, untung saja Abang itu ternyata kenal dekat sama Kakak Al.Kalau enggak, mungkin Cella belum pulang sampai sekarang" ucap Cella merasa lega.
"Haha kamu pikir hanya karena Cella yang cerita saya percaya begitu saja!? terlalu kebetulan, ini pasti akal-akalan kamu!" Seru Tn Hernand begitu curiga.
"Om maaf kalau boleh saya bicara Raffa benar-benar tak seperti itu, ia sangat menyayangi Cella seperti saudarinya sendiri" ucap Luna coba memberi pengertian.
"Iya bener, heran sama suaminya Mami lebih curigaan dari pada ibu-ibu lagi cemburu" lanjut Cella begitu kesal.
"Anak gak punya sopan santun sini kamu!" bentak Tn Hernand naik darah lalu mencoba menyeretnya.
"Kak Al tolong!" pekik Cella ketakutan.
"Tuan tahan, tolong jangan sakiti Cella!" ucap Raffa seraya pasang badan.
__ADS_1
"Plaaaakkkh" satu tamparan keras mengenai pipi Raffa.
Sontak kejadian itu membuat semua orang sesaat terdiam.Begitu tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Papi! jangan begitu Pih, sikap Papi kenapa keterlaluan sih!?"
Sementara Raffa sendiri tersenyum pahit seraya mengusap pipinya.
"Silakan lagi kalau belum puas Tuan! tapi secara tak langsung Anda telah mengajarkan sesuatu pada putri Anda cara Anda bertindak" ucap Raffa menegaskan.
"Kamu!" begitu geram Tn Hernand mengangkat tangannya namun seakan terdiam oleh tatapan Raffa yang tanpa rasa takut.
"Cella? kamu sayang sama Kakak kan? kalau sayang kamu mau nurut sama Kakak kan?" ucap Raffa dengan begitu lembut seraya membelai rambutnya.
"Kamu baik-baik di rumah ya kesayangan Kakak, jangan buat Mami juga Papi khawatir.Cella janjikan gak akan pergi lagi? tenang Kakak akan selalu ada buat kamu" ucap Raffa.
Ucapan Raffa membuat Cella begitu haru Kakak yang selalu Cella impikan seakan hadir di depannya.
"Cella sayang Kakak, Cella janji jadi anak baik Kak" ucap Cella dengan air mata yang mulai menetes.
"Sekarang minta maaf sama Papi juga Mami kamu, ingat mereka sangat menyayangi kamu" ucap Raffa seraya menghapus air matanya.
Semua di buat tak percaya, begitu penurutnya Cella di depan Raffa.Cella menyalami kedua orang tuanya seraya meminta maaf.
"Maaf semuanya, tugas saya sepertinya sudah selesai.Selebihnya bisa di tanyakan sama Luna juga Ryo, saya permisi Assalamualaikum"
Raffa pun segera beranjak pergi, entah mengapa tak nampak Aurel di rumah itu, pikirannya pada Aurel terhenti saat Ryo menyusulnya.
"Behb lo mau kemana, lo gak mau beresin masalah Cella ampe bener-bener selesai!?" tanya Ryo.
"Gue percaya sama lo Yo, terlebih ada sesuatu yang lebih penting yang harus gue urus, membalas perbuatan Leon!" balas Raffa.
"Gue antar lo pulang kalau begitu Behb" ucap Ryo.
"Jir! ini Rumah apa benteng!? jadi selama ini lo tinggal di sini!?" tanya Ryo.
"Iya Yo ini rumahnya Mas Rama, beruntung Mas Rama mau bantu gue" balas Raffa bersyukur.
"Oh iya Bebh gue masih khawatir soal rencana lo sore ini buat ngadepin Leon, setidaknya biarkan gue ikut" ucap Ryo penuh harap.
"Gue tau sebesar apa rasa peduli lo sama gue, tapi kali ini biar Leon jadi urusan gue" balas Raffa tak enak hati.
"Gue hanya merasa gak berguna Bebh mana kondisi lo bikin gue gak tenang!" ucap Ryo nampak was-was.
Raffa tersenyum seraya menghampiri Ryo.
"Lo percayakan sama gue, doakan saja gue akan baik-baik saja" ucap Raffa seraya mengulurkan tangan kirinya yang selalu ia sembunyikan.
Ryo yang merasa terkejut sontak berdiri.Ia terus menatap kedua lengan Raffa yang masih utuh.
"Ya Allah ya Robb! ta, tangan lo kembali atau sembuh!? Gak mungkin!? waktu itu gue lihat sendiri tangan lo ... " seru Ryo syok dan tak mampu meneruskan ucapannya.
"Alhamdulillah Yo, tangan gue baik-baik saja, maaf sudah membuat khawatir, semua ini ide Mas Rama dan awalnya gue juga gak tahu" balas Raffa.
"Anjir! bener-bener saat itu gue berasa mau mati! tapi syukurlah kalau lo baik-baik saja, lega gue ngelihatnya" ucap Ryo seraya merangkul Raffa dengan haru.
Raffa lalu menceritakan semua alasan ia menyembunyikan kondisinya.Hingga waktu tak terasa berlalu hingga siang pun mulai beranjak sore.
Dengan kedua tangan telah terbungkus handwarp Raffa benar-benar nampak seperti seorang petarung.Tak lama menunggu satu pesan masuk pada ponselnya.
📨 "Gue tunggu kedatangan lo di Jl Merdeka Raya No 72/73.Lo pasti tau proyek gedung belum jadi di situ, ingat! pastikan lo datang sendiri!" pesan Leon.
📨 "Jangan khawatir gue sendiri yang akan ngadepin lo brengsek!" balas Raffa.
"Bebh gak bisakah gue ikut lo!?" ucap Ryo yang masih setia menemaninya.
__ADS_1
"Thank Yo, cuma bukannya lo harus jemput Luna?" balas Raffa.
"Luna tadi telepon katanya akan lebih lama berada di rumah Aurel.Jadi setidaknya biarkan gue mengantar lo Behb!?" ucap Ryo memohon.
Tanpa bisa menolak Raffa pun berangkat bersama Ryo menuju alamat yang sudah Leon tentukan.
"Thank Yo, cukup di sini saja sepertinya lokasinya ada depan sana" ucap Raffa lalu keluar dari mobil.
"Hati-hati Behb, ingat lo harus pulang tanpa kekurangan satu apapun!" balas Ryo menekankan lalu meninggalkan Raffa.
Raffa sendiri sesampainya di lokasi tersebut segera masuk melewati pagar seng yang sedikit terbuka.Tak nampak seorang pun disana hingga Raffa berjalan semakin dalam, seseorang terlihat menunggunya.
"Datang juga lo bocah!" ucap Leon dengan nada tengilnya.
"Gue sudah menunggu waktu ini tiba, lo kira gue akan lewatin momen di mana gue bakal balas semua perbuatan lo hah!" balas Raffa tak kalah sinis.
"Gue di sini bocah! gue mau tahu seperti apa orang cacat seperti lo saat marah!? hahaha" ledek Leon seraya tertawa.
"Heh! lo akan dapat yang lo mau" ucap Raffa seraya melempar tas juga topinya.
Tanpa ragu sedikit pun Raffa menerjang Leon dengan sebuah tendangan.Namun Leon berhasil mengelak.
Leon meraih batangan kayu pendek lalu melemparnya, saat Raffa mengelak Leon menyusul mengarahkan tendangan pada tubuhnya.
"Rasakan ini bocah sialan!" seru Leon.
Raffa memiringkan badannya lalu menekuk satu kakinya tuk menahan tendangan Leon.tanpa berhenti Raffa mendorong kaki Leon di susul tendangan sapuan memutar ke arah kaki, namun Leon berhasil melompat mundur.
"Swwitttt!" tiba-tiba Leon bersiul seraya tersenyum pahit.Tak lama tiga orang keluar dari persembunyiannya.
"Habis lo bocah! seraang!" perintah Leon.
"Bajingan pengecut! masih saja pakai tangan orang lain sialan!"
Ketiga orang itu pun langsung mengeroyok Raffa.Ia terus bertahan seraya menyerang balik.Namun Leon yang licik berhasil membokongnya.
"Bugghhh!" tendangan Leon menghantam punggungnya.
Belum reda keterkejutannya satu orang melayangkan pukulan.Raffa segera menunduk lalu mengirim tendangan lutut seraya menarik lengan orang itu dan menghempaskan pada satu teman lainnya.
Namun lagi-lagi Leon menghajarnya dari belakang.Saat Raffa terdorong satu sisa teman Leon melayangkan tendangan.
Raffa reflek meluncur melewati celah kakinya seraya menyiku kakinya.Tanpa ampun Raffa melanjutkan dengan tendangan putaran khas capoeira.
"Dughhhh" orang itu pun tersungkur.
Raffa segera berdiri lalu memasang kuda-kuda seraya menatap Leon.
"Brengsek! masih saja bocah ini sanggup bertahan" gumam Leon kembali bersiap.Begitupun ketiga orang suruhannya.
"Masih perlu orang lain Nak! masih perlu di papah untuk jalan!?" ledek Raffa seraya tersenyum masam.
"Diam sialan! yang gue tahu lo harus habis hari ini apapun caranya!" bentak Leon.
Selesai Leon berucap, kini ketiga orang Leon nampak sudah memegang berbagai potongan kayu.
Sadar akan situasi tersebut Raffa merogoh kantung jaketnya.Dengan santai ia memasang brass knukles pada tangan kanan lalu kirinya yang masih tersembunyi.
"Main kasar ya!? ok gue layanin kalian!" seru Raffa seraya membuka jaketnya lalu pasang kuda-kuda.
Nampak Raffa yang begitu siap tempur dengan Knukles di kedua tangannya membuat Leon terkesiap tak percaya.
"Brengsek! bagaimana bisa!? bukankah bocah ini cacat! tak mungkin!" gumam Leon terus menatap Raffa dengan nyali mulai goyah.
[[ Bersambung ]]
__ADS_1