Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
29.Diam Diam


__ADS_3

Di pagi hari setelah kejadian panjang yang ia lewati,Raffa nampak sudah terlihat rapi.Berbeda dari biasanya ia pergi menggunakan mobil.


Sesampainya ia di kediaman keluarga Adhitama.Nampak keluarga tersebut tengah sarapan bersama.


"Assalamuallaikum" salam Raffa


"Waalaikumsallam" sahut mereka bersamaan.


"Apa kabar Om" ucap Raffa seraya mencium tangan Tn Harry lalu Rama.


Sikap sopan Raffa membuat Tn Harry tersenyum,begitupun dengan Rama.


"Mari sarapan sama-sama" Tn Harry menawarkan.


"Makasih Om" Sahut Raffa seraya duduk di sebelah Alena.


"Hai....kamu yakin sudah sehat Alena?" tanya Raffa sedikit khawatir.


"Emm yakin kok, takutnya malah ke enakan kalo di rumah terus" sahut Alena yang terlihat baik.


"Ada yang mau Bibi ambilkan Den?"


"Eh Bi maaf,kalo boleh saya minta segelas susu,rasa apa saja.Asal jangan rasa curiga" canda Raffa.


"Ihh apaan sih,ya mana ada lah" sahut Alena seraya mencubit tangan Raffa.


Tn Harry dan Rama hanya tersenyum simpul melihat keakraban mereka.


"Raffa,gak masalahkan kalo sementara ini kamu dampingi Alena?" tanya Tn Harry.


"Iya Om gak masalah kok.Cuma ehh....itu" sahut Raffa meragu.


"Kenapa,apa memang ada masalah?" lanjut Tn Harry penasaran.


"Soal ehh....soal mobil,apa boleh emm yang lain Om?" ucap Raffa begitu gugup.


"Kenapa,kurang bagus? kalo kamu gak suka kamu pilih sendiri saja,nanti Rama yang antar" tanya Tn Harry kembali menegaskan.


"Bu....bukan begitu,eh....kalo ada mobil yang biasa aja Om,jangan yang bagus.Saya gak enak,malu" polos Raffa seraya garuk garuk kepala tak gatal.


Jelas saja jawaban Raffa membuat Tn Harry dan Rama terbengong lalu saling menatap.


Tn Harry pun geleng geleng seraya berkata,


"Ya sudah kamu pakai mobil putih saja.Nanti Alena yang tunjukin" ucap Tn Harry terus mesem-mesem.


Selesai sarapan Raffa dan Alena berangkat lebih dulu.Setelah mengantar Alena ia pun segera menuju ke arah kampusnya.


"Duhh gak mungkin gue ke kampus bawa mobil.Takutnya banyak yang mikir macem-macem" guman Raffa terus merasa was-was.Mobil Yaris 2019 itu pun masih terasa mewah bagi seorang Raffa.


Saat mendekati kampusnya Raffa dengan sengaja berhenti di pelataran ruko yang masih kosong.Lima ruko lain yang terisi membuat Raffa merasa tenang.


Tanpa sadar seseorang tengah memperhatikan Raffa dari kejauhan.Leon yang menuju kampusnya terus memperhatikan gerak-geriknya.


"Apa bocah itu yang tadi bawa mobil? kalo benar kenapa dia jalan kaki,aneh" guman Leon lalu kembali menjalankan mobilnya.


Sementara Raffa pun telah sampai di kampusnya.Beberapa teman yang menyadarinya saling memberi kode.


"Bukannya itu si Al?" ucap Vina


"Bener guys si Al tuh" Ryan menimpali seraya menarik lengan Ryo.

__ADS_1


Setelah Ryo jelas melihatnya ia pun berlari menyambutnya.


Dengan cepat Ryo menarik Raffa ke tempat yang cukup tersembunyi.


"Behb jelasin sama gue yang sebenarnya,si Ferdy gue tanya cuma tau mungkin-mungkin doang" tanya Ryo seraya menatapnya serius.


"Sorry Yo,gue bakal cerita semuanya sama lo.Tapi gak disini juga" balas Raffa meminta pengertian.


"Ok....nanti malam gue ke tempat lo" lanjut Ryo tak sabar.


"Lihat nanti saja ya,gue belum bisa mastiin jam berapa gue ada di rumah" balas Raffa seraya menepuk bahu Ryo.


Saat mereka kembali.Entah sedari kapan Luna dan Aurel sudah tampak bersama mereka.


"Pagi guys,apa kabar kalian" ucap Raffa mencoba bersikap sewajarnya.


"pagi Al" balas mereka kompak.


"Hadeuhh lo yang apa kabar kali, gak ada lo gue jadi menderita" sahut Yogi curhat.


"Sok korban lu,apa kabar gue yang lo kasih angin pantat lo" dengus Arif yang masih kesal.


"hehe nih Al,sehari gak ada lo pada stres mereka.Makanya gue kasih aroma terapi biar pada tenang" Yogi pun terkekeh


"Aroma terapi muka lo gue laundry.Kentut lo busuk ******, monyong" Ryan tak kalah sewot.


"Dih pantes kemaren kalian pada aneh,ternyata itu hihi" Ucap luna cekikikan.


"Parah banget Na ni si Yogi" tambah Vina menekankan.


Sementara Aurel yang selalu diam tanpa di duga berkata,


"Al kemarin kok lo gak ke kampus?" tanya Aurel yang membuat semuanya jadi serius.


"Oh aku kira lo sakit,pipi lo kaya lebam" ucap Aurel memberi tanda dengan menunjuk pipinya.


Perkataan Aurel jelas saja membuat semuanya tersadar.


"I....ini,ini kena lempar anak iseng pas lagi naik motor" balas Raffa menutupinya.


"Masa sih? ampe gini mah kena ***** janda lo ya Al" goda Ryan


"Oh no,Ryan mainannya jendes,ampe hapal gitu,aku jadi ngeri" sambar Ryo balik menggoda.


"Sialan anak tuyul malah nyekak gue,rese lo ah" kesal Ryan


Mereka semua pun tertawa begitu puas.Hingga akhirnya mereka di sibukan jam kuliah yang cukup melelahkan.


Selesai jam kuliah terakhir Raffa memutuskan menuju mesjid di kampusnya.Tidak lupa ia menyempatkan untuk bertukar kabar dengan Alena.


Akhirnya setelah shalat Ashar Raffa meninggalkan kampusnya menuju ruko tempat ia memarkirkan mobilnya.


"Hemmmh repot juga mesti diam-diam kaya gini" gumannya dalam hati.Lalu ia pun memacu kendaraannya menuju kampus Alena.


"Cih, ternyata benar itu bocah yang bawa mobil tadi" ucap Leon yang dengan sengaja mengintainya,tanpa Raffa sadari.


Sementara itu tanpa kesulitan Raffa sudah menjemput Alena di depan kampusnya.


"Dah lama kamu nunggu?" ucap Raffa khawatir.


"Belum kok,ini juga baru aja ke depan" sahut Alena dengan tersenyum.

__ADS_1


"Syukurlah,apa mau langsung pulang Alena?" tanya Raffa kembali.


"Kita ke kantor papah dulu deh,katanya ada hal penting" jelas Alena yang juga penasaran.


Dengan bantuan Alena merekapun sampai di Perusahaan Adhitama.Tak dapat di pungkiri Raffa begitu takjub dibuatnya.


Dengan menggandeng lengan Raffa mereka jalan berdampingan menuju lantai paling atas.


Raffa sedikit salah tingkah di buatnya.Di tambah tatapan dan saling berbisik dari orang yang melihatnya membuatnya makin gugup.


"Sore Non Alena" beberapa karyawan menyapanya sopan.


"Sore juga" balas Alena.


"Sore Mba Vera,Papah sibuk gak?" Tanya Alena sesampainya di depan ruangannya.


"Sore juga Alena," balas Vera yang tatapannya terfokus pada seseorang di samping Alena.


"Hehe Mba aku disini masa gak keliatan sih?" goda Alena.


"Ehhh kamu bisa aja.Pak Boss sedang ada pertemuan dengan divisi marketing,mungkin sebentar lagi selesai" jelas Vera.


"Oh ok,aku tunggu di ruangannya saja deh,mari Mba.Yuk Raf" sahut Alena seraya menarik Raffa untuk mengikutinya.


Selang beberapa saat Tn Harry datang bersama Rama.Raut muka Tn Harry begitu senang tatkala melihat Alena bersama Raffa.


"Hai sayang, sudah lama?" tanya Tn Harry pada putrinya.


"Belum terlalu lama kok Pah" balas Alena seraya memeluk papahnya.


Raffa pun tidak lupa segera mencium tangan Tn Harry lalu Rama.


"Ram tolong tinggalkan kami sebentar,ada yang harus saya bicarakan" Ucap Tn Harry


"Baik Pak saya kembali ke ruangan saya kalo begitu,permisi Pak" Rama pun kembali ke ruangannya.


"Ada apa sih Pah kayanya serius banget?" tanya Alena yang sudah tidak sabar.


Tn Harry tidak langsung menjawab,ia lalu menatap serius pada putrinya dan Raffa bergantian.


"Papah minta kalian siapkan waktu untuk sabtu malam nanti" ucap Tn Harry.


"Emang ada apa sabtu malam nanti Pah?" tanya Alena


"Rekan bisnis Papah mengundang kita makan malam" sahut Tn Harry


"Oh makan malam kirain apa" sahut Alena terlihat lega.


Raffa sendiri masih tidak tahu harus bersikap seperti apa.Ia memilih diam dan duduk tenang.


"Ini tidak semata-mata makan malam,ini menyangkut perjodohan kamu Alena"


"Apaaaaa Pah" seru Alena begitu terkejut.


Raffa pun sama terkejutnya dengan Alena.Karena ia tahu masalah ini yang membuat Alena terganggu selama ini.


[[ Bersambung ]]


Akan seperti apakah perjodohan Alena?


Dan bagaimanakah Raffa akan bersikap?

__ADS_1


Ikuti terus ya 😁


__ADS_2