
Termenung setelah shalat Subuh Raffa masih tak percaya kini dirinya berakhir tinggal di kediaman Rama.Pikirannya mulai berkecamuk tentang siapa sebenarnya otak di balik kejadian nahas ini.
Tak lama ia nampak meraih ponselnya.Seseorang yang ia lupa untuk memberinya kabar.
"Assalamualaikum Bu, maaf ganggu di pagi-pagi begini" sapa Raffa.
"Waalaikumsalam Nak, gimana kabar kamu?" balas Ibu seraya bertanya.
"Al baik-baik saja Bu, maafin ya Bu Al gak bisa jaga amanah Ayah.Al janji akan berusaha memperbaiki kesalahan Al" ucap Raffa terdengar sendu.
"Sudahlah tak apa-apa, buat Ibu kamu selamat saja Ibu sudah sangat bersyukur" balas Ibu terdengar lega
"Kabar Ibu sendiri bagaimana?" tanya Raffa.
"Ibu baik juga sayang, kita sepertinya banyak merepotkan Nak Rama.Ibu sangat berhutang banyak sama dia"
"Iya Bu, Al juga beruntung bisa mengenal orang baik seperti Mas Rama.Kita berdo'a saja Allah selalu membalas kebaikannya"
"Amin, oh iya Al bagaimana bisa kamu kenal dengan preman jalanan bermotor yang kasar begitu?" tanya Ibu Aisyah.
"Apa Bu preman jalanan!?" Raffa sedikit bingung.
"Iya, saat itu Ibu bersama Rama juga Tn Harry di kejar sama segerombolan pemotor.Sempat Rama berkelahi namun akhirnya Rama bilang orang itu salah satu yang perduli sama kamu" ucap Ibu menjelaskan
"Apa Bu!? di kejar sama berkelahi? apa mungkin itu Bang Andre ya!?" balas Raffa mencoba menerka.
"Siapa Nak!?" tanya Ibu penasaran.
"Eh, panjang ceritanya Bu tapi intinya Bang Andre malah orang pertama yang Al kenal.Ia sudah seperti saudara ya walau gayanya selengean sih Bu" balas Raffa sedikit bingung.
"Kamu yakin begitu? Ibu hanya khawatir kamu salah pergaulan saja" ucap Ibu meragu.
"Ibu jangan khawatir, nanti kalo sudah bertemu Ibu juga pasti ngerti apa maksud Al" Raffa mencoba menenangkan.
"Ya sudah Ibu percaya sama kamu, kalo gitu ibu beres-beres dulu ya sayang" balas Ibu.
"Baik Bu Al tutup, Assalamualaikum" pamit Raffa
"Waalaikumsalam" balas Ibu.
Sesaat setelah Raffa menutup panggilannya seseorang datang.
"Hei Al, mau mencoba untuk mulai berlatih ringan?" tanya Rama.
"Sepertinya ide bagus Mas, saya khawatir makin kaku saja nih badan" balas Raffa.
"Tapi jangan kamu paksa juga, bertahap ya.Ingat kamu bukan superman yang di tabrak mobil cuma geli geli doang" ucap Rama sedikit terkekeh.
"Haha bisa aja Mas Rama, saya siap-siap dulu"
"Mas duluan ke lapangan ya"
Pagi itu Raffa pun berlatih, mulai dari joging hingga latihan beban ringan.Selesai berlatih seperti biasa mereka pun sarapan bersama.
"Al Mas mau tanya, ini soal kejadian yang menimpa kamu, apa kamu bisa mengingat sesuatu?" tanya Rama.
"Yang saya ingat saya di sekap di sebuah gudang tua, saya berhasil kabur dan tertabrak mobil" balas Raffa coba mengingat.
"Tidakkah kamu ingat sesuatu yang spesifik? itu akan memudahkan mencari pelakunya Al?" sambung Violet bersemangat.
"Sebelum saya hilang kesadaran kalo tak salah mobil itu full modif layaknya untuk racing"
"Ada lagi yang kau ingat?" Violet makin terlihat antusias.
"Ada gambar seperti bulatan bertanduk dengan sedikit aksen asap atau api, maaf saya tidak jelas melihatnya"
"Bagaimana Vi? bisa kamu jadikan modal penyelidikan?"
Violet nampak mengambil pensil juga secarik kertas lalu terlihat menggambar sesuatu.
"Jadi apa mungkin seperti ini Al?" ucap Violet tak lama ia menggambar bulatan bertanduk dengan aksen api.
"Sedikit mirip hanya saja posisi bulatannya mirip Roda yang nampak dari arah depan jadi tidak bulat tapi oval"
Setelah memperbaiki sketsanya Violet kembali memperlihatkan hasilnya.
"seperti ini?"
"Nah mungkin seperti itu Vi" balas Raffa.
__ADS_1
"Ada yang lain yang kamu ingat?" tanya Violet.
"Cuma itu yang aku ingat, selebihnya tak ada lagi karena mereka memakai penutup wajah" balas Raffa.
"Setidaknya kita punya satu titik untuk mulai melukis, bukan begitu Vi?" tanya Rama nampak percaya diri.
"Yup, saat galery seni penuh, pameran akan segera terbuka" ucap Violet tersenyum puas.
Akhirnya mereka di sibukan aktifitas masing-masing.Rama sendiri nampak tengah sibuk di ruangan kerjanya di perusahaan Adhitama.
"Hmmm, desain bangunan ini cukup bagus sederhana tapi menarik" guman Rama.
Tanpa Rama sadari Tn Harry masuk keruangannya.Dengan sedikit heran Tn Harry pun menghampirinya.
"Serius amat Ram, apa yang sedang kamu kerjakan?" tanya Tn Harry.
"Eh Pak, maaf saya sampai tidak menyadari ada Bapak" ucap Rama sedikit terkejut.
"Sudah tak usah berdiri, hmm desain yang cukup bagus, apa ini untuk kedai kopi itu?" ucap Tn Harry.
"Mmm iya Pak dan secepatnya akan segera kita realisasikan" balas Rama.
"Kenapa tak kau buat lebih berkelas saja Ram? biar semakin banyak pengunjung yang datang" ucap Tn Harry
"Saya pun maunya begitu, tapi saya ragu akan di terimanya.Saya yakin malah membuatnya sungkan seperti yang sudah-sudah" balas Rama beralasan.
"Kamu benar, jalankan apa saja yang menurutmu terbaik, saya akan mundukungmu" ucap Tn Harry.
"Baik Pak" balas Rama.
Sore hari selepas jadwal kuliah nampak seseorang menjemput Aurel.Dandanannya yang cukup rapi membuatnya jadi perhatian.
"Aditya!? lo ngapain kesini?" tanya Aurel saat ia melihatnya.
"Aurel, aku sengaja mau ketemu kamu.Bukannya aku sudah bilang juga kirim pesan sama kamu?" balas Aditya mengingatkan.
"Masa sih?" ucap Aurel lalu mengecek ponselnya.
"Ya sudah gak apa, aku cuma mau ajak kamu jalan sekalian aku antar pulang" ucap Aditya.
"Jalan!? mau kemana sih?" balas Aurel terlihat segan.
"Baiklah, semoga aja hal penting yang mau lo omongin" balas Aurel seraya masuk setelah Aditya membukakan pintu.
Tak lama nampak Raffa pun berjalan menuju parkiran seraya menelepon seseorang.Lalu dengan santai duduk menunggu.
"Bukannya itu Aditya? apa dia kesini untuk menjemput Aurel?" guman Raffa lalu berdiri.
Aurel yang memang memandang ke arah luar pun melihat dengan jelas Raffa yang menatap ke arahnya.
"Raffa!" guman Aurel tak enak hati.
"Kamu kenapa?" tanya Aditya lalu mengikuti Arah pandangan Aurel.
Namun kemudian sebuah mobil menghalangi pandangan mereka.Raffa pun beranjak mendekati mobil itu seraya terus menatap ke arah mereka.
"Dijemput siapa dia? pacarnya?" tanya Aditya sengaja memancing.
Aurel tak menjawab hingga Aditya menjalankan mobilnya menuju pusat perbelanjaan.Dengan sabar Aditya menemani Aurel dari satu tempat ke tempat lainnya.
"Kamu capek? gimana kalau istirahat dulu" ucap Aditya saat melihat Aurel banyak termenung.
"Boleh" balas Aurel pendek.
Mereka lalu menuju salah satu tempat makan terdekat.Meja dekat kaca menjadi pilihan Aurel.
"Aurel boleh aku bicara?" ucap Aditya.
"Lo ngomong aja, ada apa sih?" balas Aurel.
"Aurel, kejadian sekarang ini membuat aku tak bisa berdiam diri, kamu tahu aku sayang sama kamu, aku ingin kamu mau menerimaku jadi aku bisa menjagamu dan jadi pelindungmu" ucap Aditya seraya meraih tangan Aurel.
"Ma, maksud lo!?" Aurel begitu terkejut dengan perlakuan Aditya.
"Aurel, maukah kamu menerimaku jadi pacarmu, aku ingin ada di setiap waktumu, tak akan ku biarkan satu orang pun menyakitimu.Karena aku akan jadi malaikat pelindungmu" ucap Aditya bersunguh-sungguh.
"Andai saja yang mengatakan ini semua kamu" guman Aurel tersenyum saat bayangan wajah Raffa nampak di pikirannya.
"Kamu mau kan?" tanya Aditya saat melihatnya tersenyum.
__ADS_1
"Eh iya, apa!?" tanya Aurel tersadar.
"Maukan kamu jadi pacarku?" ucap Aditya lagi penuh harap.
"Emm, gimana ya? gue ... " saat Aurel memalingkan wajahnya ia begitu terkejut.
Seseorang yang tengah berjalan di luar begitu mengalihkannya.
"Aditya sebelumnya gue minta maaf, dulu kita memang bisa saling dekat tapi seiring waktu semua berubah, gue hanya ingin kita berteman baik, semoga lo bisa mengerti" ucap Aurel seraya mengusap lengan Aditya.
"Tapi Aurel ... " ucap Aditya tak percaya.
"Maaf Aditya gue hanya berusaha jujur, semoga lo bisa menerimanya.Gue pamit duluan ada perlu dulu" ucap Aurel lalu beranjak pergi.
"Aurel! kamu mau kemana!?"
Namun Aurel yang terlihat tergesa terus mempercepat langkahnya seakan mencari seseorang.
Beberapa tempat ia lewati tapi tak juga menemukan yang ia cari.Hingga Aurel mendengar obrolan beberapa orang yang berpapasan dengannya.
"Maaf, dimana lo lihat cowok yang lo bilang kasihan tadi?" ucap Aurel pada tiga orang gadis muda.
"Tadi sih ada di tempat pakaian itu, emangnya kenapa?" ucap satu gadis balik bertanya.
"Gak apa-apa, terima kasih ya"
Sementara di toko pakaian Raffa sibuk memilih pakaian yang ia rasa cocok dengannya saat ini.
"Warna apa ya bagusnya?" ucap Raffa bermonolog.
"Buat Mas warna apapun bagus deh sepertinya" ucap Aurel dengan suara di samarkan.
"Gitu ya Mba" balas Raffa.
"Iya Mas, gak coba juga kemeja, jaket atau blazer ini kayanya cocok" ucap Aurel lalu menempelkan ke badan Raffa.
"Masa iya sih Mba warnanya pink? emang saya ... Aurel!?" Raffa begitu terkejut saat menoleh ke arahnya.
"Hehe biar lucu tau warna pink" ucap Aurel tertawa geli.
"Dih gak sekalian pakein bando sama pita gitu ya" balas Raffa.
"Kayanya bagus tuh, nanti aku beliin terus kamu pakai ya" ucap Aurel seraya mencubit pipi Raffa.
"Aih malah serius, rese ya kamu ini" balas Raffa seraya mencolek dagu Aurel.
"Aish Raffa genit colek-colek" ucap Aurel cemberut manja lalu merangkul lengan Raffa.
"ihh so sweet banget sih, bikin iri yang jomblo deh" celetuk seseorang yang melihatnya.
"Iya, jadi pengen deh punya pacar yang so sweet juga" sahut temannya yang lain.
"Eh Mba kita cocok gak menurut Mba?" tanya Aurel seraya menyandar pada bahu Raffa.
"Cocok banget, serasi ganteng sama cantik" sahutnya.
"Cepet halalin aja biar gak di rebut orang hehe" goda yang lain.
"Aduh kecepetan Mba kalau sekarang hihi" balas Aurel lalu beranjak menuju ruang ganti.
"Bang halalin adek dong" goda Aurel.
Sontak muka Raffa memerah candaan Aurel cukup membuatnya terkejut.
"Gak malu emang di lamar sama cowok bertangan satu?" tanya Raffa berterus terang.
"Ihh gak suka ah ngomongnya gitu, aku ngeliat kamu bukan dari fisik kamu tapi yang ada di dalam sini" balas Aurel seraya menunjuk dada Raffa.
Entah ada angin apa, dengan reflek Raffa menarik Aurel ke dalam pelukannya,
"Makasih ya Aurel, kamu selalu memberikan aku kekuatan lain di saat aku tak berdaya" ucap Raffa tanpa sadar mengecup hangat puncak kepala Aurel.
Sontak Aurel seperti terkena sengatan listrik ribuan volt.Jantungnya berdebar kencang dengan wajah semakin terasa panas.
"Karena aku ... aku sayang kamu Al" ucap Aurel tak tertahan lagi lalu semakin membenamkan dalam pelukan Raffa.
"Aku juga ... sayang ... kamu Aurel" balas Raffa lalu tersenyum penuh perasaan yang begitu berwarna.
[[ Bersambung ]]
__ADS_1