
Cukup lama Raffa berada di rumah Aurel akhirnya ia pun nampak berpamitan.Dengan menggunakan motor Raffa dan Aurel berangkat menuju kampus meraka.
Tanpa mereka sangka para awak media banyak yang mencari mereka hingga di area kampus.Untungnya mereka menggunakan motor jadi tak terlalu sulit untuk meloloskan diri.
"Ya ampun sampai kesini juga mereka kejar" keluh Aurel.
"iya, aku juga tak menyangka akan seperti ini, kamu baik-baik sajakan?" tanya Raffa khawatir melihat Aurel seakan terbebani.
Aurel pun mengangguk lalu tersenyum membuat Raffa sedikit merasa lega.
"Yuk sayang kita masuk" ucap Raffa seraya melebarkan tangannya.
Aurel yang mengerti lalu merapatkan dirinya hingga satu tangan kuat merangkul pinggangnya.Merasa dilindungi ia pun berjalan penuh percaya diri.
Saat berjalan banyak sekali yang menatap mereka terang saja Aurel sedikit risi.Kejadian kemarin memang sudah jadi perbincangan hangat.
"Jangan perdulikan apapun bersikap biasa saja, kamu tenang ya" ucap Raffa seraya mengusap puncak kepala Aurel.
Raffa pun terus menuntun Aurel melewati kerumunan para mahasiswa yang nampak menggunjing dirinya.Hingga seseorang mengejutkannya.
"Hei Al! banyak banget yang harus lo ceritain sama gue, bagaimana bisa lo punya masalah gak pernah cerita sama gue!" ucap Ryo begitu serius.
Sedikit terkejut Raffa menoleh lalu berucap, "Eh elo Yo! sorry semua kejadiannya memang serba mendadak"
"Tapi lo sama Aurel baik-baik aja kan!?"
"Kita baik-baik aja Yo, alhamdulillah"
"Aurel!" ucap Luna yang datang menyusul Ryo.
"Luna!" ucap Aurel.
"Aurel lo baik-baik ajakan!? sebenarnya apa yang terjadi, apa benar Leon melakukan semua itu!?" tanya Luna nampak bersimpati.
"Aku pasti cerita tapi tidak sekarang kamu ngerti kan? yang terpenting aku baik-baik saja kok Lun" balas Aurel seraya tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya"
Mereka pun berjalan bersama hingga seseorang dari pihak kampus memanggil Raffa juga Aurel untuk menghadap.Wajar karena kejadian mereka menyeret nama baik kampusnya.
Pihak kampus tak terlalu lama menyita waktu mereka hanya meminta penjelasan dan mengkonfirmasi kejadian tersebut.
Setelah menemui pihak kampus Raffa melanjutkan dengan beberapa kelas hari ini yang selesai siang hari.
Seperti biasanya siang hari ia dan temannya menuju kantin kampus.Namun Ryo yang tak sabar mengajak Raffa ke tempat lain.
"Kalian duluan ya, nanti kita nyusul" ucap Ryo pada yang lain.
"Kamu mau bawa kemana pacar aku Ryo!?" sungut Aurel tak rela.
"Aduhh sebentar aja ampe gak boleh kayanya, kan kamu ada Luna yang nemenin Rel" balas Ryo tak mau mengalah.
"Lagian mau kemana sih Yank!?" tanya Luna juga heran.
"Kamu temenin Aurel dan yang lain ya cantik, gak akan lama kok"
Akhirnya yang lain segera menuju kantin sementara Ryo dan Raffa menuju ke taman terdekat.
"Bebh sebenarnya apa yang terjadi sama lo belakangan ini dan bagaimana bisa ada berita seperti itu!?"
"Lo gak akan percaya sama cerita gue Yo, gue juga masih tak percaya sama yang terjadi, gue kira Leon sudah dapat pelajarannya, ini malah bikin masalah lagi"
"Heh! tu orang bener-bener mesti di suntik mati kali baru diem.Lagian Behb bagaimana bisa dia nyulik Aurel!?" tanya Ryo sangat penasaran.
"Semua berawal dari salah paham gue sama Adrian Kakaknya Aurel"
"Hah! kok bisa!?"
__ADS_1
Raffa pun mulai menceritakan dari awal ia bertemu Tn Hernand yang membuat Adrian iri hati.Hingga Adrian bersekongkol untuk membalasnya.
"Gila! bener-bener sulit di percaya, jadi lo di kasih mobil sama debitcard! iri gue sama lo itu artinya lo di restuin Papi Aurel dong"
"Beuh! bukan itu intinya kuya! lo sebenernya mau denger kejadiannya gak sih lo!?" balas Raffa kesal.
"Iya iya sorry, lo sendiri emang gak komunikasi sama Aurel Bebh!?" tanya Ryo masih tak paham.
"Hari itu gue di rumah sakit bareng ibu hingga tiba tiba Aurel sulit di hubungi" ucap Raffa lalu setelah nampak berpikir ia pun menceritakan semuanya, "Yang gue sesalkan bagaimana bisa Adrian ceroboh seperti itu, hampir saja Aurel jadi korban"
"Bener biadab tu orang tapi Aurel gak sampai ... jadi emmhh lo ngerti maksud gue kan" ucap Ryo tak enak.
"Syukurnya tidak Yo tapi cukup membuat dia syok, bisa kuliah hari ini saja perlu di bujuk dulu dari kemarin" balas Raffa tak jujur sepenuhnya demi kebaikan.
"Lalu soal Leon di tangkap polisi apa itu juga benar!?" tanya Ryo nampak gemas.
"Ya! kali ini dia sudah keterlaluan dan gak bisa gue biarin, pelaporan dan semua bukti udah di tangan polisi kali ini, sepertinya dia gak akan bisa lolos karena gue buka semua kejahatan dia ke gue" balas Raffa begitu geram.
"Lo serius!? termasuk soal fitnah pelecehan, kedai hingga penculikan lo juga!?" ucap Ryo memastikan.
"Gue pastikan semuanya Yo, tak akan ada yang terlewat! biar dia rasakan yang namanya menderita"
"Gue setuju sama lo Behb, itu akan jadi pelajaran buatnya! semoga jeruji besi bisa membuat otaknya konslet lalu restart kembali ke setelan pabrik"
"Ngaco lo, di kira ponsel bisa di factory reset"
"Haha ya sudah, gue seneng lo berdua baik-baik saja, di tambah tu bajingan sudah dapat balasannya.Yuk kita balik ke yang lain" ucap Ryo lalu mengajaknya kembali.
Sesampainya di kantin kehebohan tiba-tiba terjadi seiring kedatangan Raffa.
"Nah ini dia calon imamnya Aurel datang! selamat ya Al" ucap Luna.
"Selamat ya Al gercep juga lo" ucap Ryan.
"Selamat Al" ucap yang lain bergantian.
"Lagi pada ngigau kali Behb" ucap Ryo juga heran.
"Deuhh pura-pura nih calon mantu sultan" ucap Ryan terkekeh.
"Calon mantu sultan!? maksud lo apaan sih anak tuyul?" ucap Ryo tak mengerti.
"Ogeb lo dengerin nih pengumuman gue, pertama gue dan yang lain bersimpati atas kejadian kemarin tapi karena berakhir dengan kabar gembira kita ucapkan selamat atas rencana pertunangan kalian" ucap Ryan bersemangat.
"Hah tunangan!" seru Ryo tak percaya.
"Kalian!? kok bisa!?" ucap Raffa lalu menatap Aurel.
"Hehe maaf sayang habis aku gak tahan untuk cerita, hehe" ucap Aurel seraya cengesan lalu merangkul lengan Raffa.
"Kamu ini ya ... emmmhhh" balas Raffa lalu mencubit hidung Aurel seraya mengoyangkannya.
"Serius lo mau tunangan Bebh!?" tanya Ryo masih penasaran.
"Iya, tapi baru rencana kok Ryo"
"Alamak lagi-lagi feeling gue bener! lo akan jadi anak sultan Bebh! beruntung lo" ucap Ryo geleng geleng.
"Ngasal aja lo, gue gak pernah mikir kesana dodol" balas Raffa keki.
"Haha nanti nanti kayanya kita bakal sering di traktir anak sultan nih guys" tambah Arif nampak puas.
"Heh! heh! sultan sultan mulu, nih yang anak sultan kelihatan dari makannya" ucap Raffa menunjuk Yogi.
"Haha itu sih sultan gembul" sahut Ryan tertawa puas di susul tawa semua orang.
Cukup lama mereka bercanda bersama tanpa terasa waktu berlalu hingga sore pun datang.Di temani Aurel Raffa menuju hall basket.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain sayang pake nyembunyiin satu tangan kamu gitu!?" ucap Aurel.
"Hehe biar anak anak terjebak aja" balas Raffa tersenyum.
Saat Raffa masuk ke lapangan nampak semua anggota tim kampus sudah berkumpul begitupun tim Raffa yang lama sudah tak bermain bersama.
Tanpa di duga Raffa menghampiri tim utama yang mungkin akan di tinggal kaptennya, Leon.
"Hai guys, sorry ganggu, gue cuma mau bilang maaf soal Leon, gue tahu lo semua bakal benci gue tapi gue minta lo gak menyalahkan gue, selama ini gue diem apapun yang dia lakukan, kali ini karena ulahnya sendiri membuat dia berurusan dengan hukum.Jadi stop mengkambing hitamkan gue selama ini gue selalu ingin berdamai dan berteman dengan kalian bukan!? semoga kalian bisa mengerti" ucap Raffa lalu beranjak pergi.
"Hei Al!" panggil Revan lalu menghampirinya.
"Teman!?" ucap Revan seraya mengulurkan tangannya.
Raffa tersenyum lega lalu ia segera menyambut uluran tangan Revan, "Teman!" ucap Raffa.
Akhirnya semua orang pun mengikuti langkah Revan sepertinya dinding permusuhan telah runtuh di antara mereka seiring di tangkapnya Leon.
"Saatnya kita berlatih bukan!? gue balik ke tim gue dulu ya" pamit Raffa lalu menuju timnya.
"Hai Al seneng lo balik" ucap Adi bersemangat.
"Al! kok tangan lo ngilang lagi!? bukannya di berita gue lihat lo sembuh?" tanya Evran heran.
"Satu tangan aja lo belum tentu menang Vran" balas Raffa tersenyum kecil.
"Dih malah ngeledek, belum tahu dia kita dah seperti apa" ucap Evran percaya diri.
"Mari kita lihat sudah seberapa hebat kalian sekarang" balas Raffa lalu beranjak ke pinggir lapangan untuk melepas jaket dan celana panjangnya.
"Sayang semangat latihannya" seru Aurel yang setia menemaninya.
"Semangatlah pasti, kan ada kamu sayang" ucap Raffa lalu mendekati Aurel, "Aku latihan dulu ya, muachhh" Raffa pun mengecup dahi Aurel.
"Ishh banyak orang sayang malu" balas Aurel dengan pipi yang memerah.
Raffa hanya tersenyum lalu berlari menuju tengah lapangan dan melakukan pemanasan.
"Ok lets do it!" seru Raffa.
Tak lama timnya di bagi dua untuk berlatih tanding.Semuanya nampak siap melakukan jump ball.
"Hei guys gue gak akan main-main, gue minta kalian juga serius" ucap Raffa lalu menarik tangan kirinya keluar dari bajunya.
"Sialan lo ngerjain kita semua Al!" balas Evran nampak kesal.
Akhirnya pertandingan pun di mulai.Sesaat setelah jump ball di lakukan Adi yang menguasai bola langsung menyerang lalu mengumpan pada Raffa.
"Berusahalah nahan gue!" ucap Raffa pada Evran.
"Maju sini lo!" namun belom juga Evran siap Raffa sudah menerobos masuk menuju ring.
"Sialan! cepet bener gerakannya" keluh Evran.
Raffa sendiri langsung melakukan spin move menghindari Armand yang siap menghadangnya.Lolos dari Armand tanpa ampun Raffa melompat sepenuh tenaga.
"Hadang dia!" teriak Armand namun tak seorang pun yang dapat mengikutinya.
Raffa pun melayang tinggi lalu melakukan one hand dunk sedikit bergelantungan ia pun turun dengan senyum terkembang.
"Yeayyyyyyy! saayyaannnng kamu hebbbbaaaaattt!" teriak Aurel melompat seraya bertepuk tangan.
"Gila! seperti ini kalau dia lagi serius, belum lagi dapat suntikan semangat lagi dari ceweknya" gumam Armand seraya tersenyum kecil.
Penuh semangat mereka pun berlatih dan tidak lupa bersenang-senang.Begitu juga Raffa seakan semua bebannya hilang, rona bahagia begitu nampak di dirinya.Bermain basket memang salah satu sumber kebahagiannya.
[[ End ]]
__ADS_1