
Pagi hari di ruang makan nampak Tn Harry tengah bersiap untuk sarapan.Namun terlihat raut wajah cemas begitu jelas terukir.Bagaimana tidak kedua putrinya kembali kehilangan semangat hidupnya.
"Bi, coba ajak Alisa juga Alena untuk sarapan"
"Baik Tuan, saya permisi" balas Bi irah lalu beranjak pergi.
"Nampaknya masalah masih belum selesai Pak?" ucap Rama merasa iba.
"Begitulah Ram! mereka belum bisa menerima kepergian Bu Aisyah.Seharusnya mereka bisa mengerti, mungkin itu berat buatnya.Terlebih mereka sangat berharap, jadinya seperti ini" balas Tn Harry nampak bingung harus bagaimana.
Tak lama Alena terlihat turun di ikuti Bi Irah namun tak nampak Alisa mengikuti mereka.
"Kakakmu mana sayang!? apa kamu tak mengajaknya!?" tanya Tn Harry terheran.
"Sudah Alena ajak Pah tapi gak ada jawaban, pintunya selalu di kunci" balas Alena lesu.
"Anak yang satu itu emang selalu saja begitu kalau lagi ngambek, hanya mamamu yang selalu bisa meredakan emosinya" ucap Tn Harry pasrah.
"Ya, andai saja mama masih di sini semua ini tak perlu terjadi" ucap Alena terlihat sedih.
"Semua juga berharap begitu sayang tapi semua telah terjadi kita harus berusaha menghadapinya.Papa heran sama kamu kenapa kali ini jadi rapuh seperti ini? biasanya kamu lebih kuat dari pada Alisa" ucap Tn Harry.
"Entahlah Pah mungkin Alena hanya bisa merasakan kesedihan Kakak saja" balas Alena seraya memaksaan untuk makan.
"Apa kamu membenci Bu Aisyah?" tanya Tn Harry nampak serius.
Alena tertegun sesaat lalu menatap Papanya, "Alena tak pernah benci Mama Aisyah Pah hanya saja Alena berharap jawaban iya darinya" balas Alena seraya menyandarkan tubuhnya.
"Tapi apapun jawabannya gak seharusnya kita menghakiminya kan? bagaimanapun kita tidak bisa memaksanya" ucap Tn Harry memberi pengertian.
"Iya Pah" balas Alena singkat.
"Ya sudah kita berangkat setelah selesai, jangan lupa beritahu Bi Irah untuk membawakan Alisa sarapan"
Akhirnya setelah selesai mereka pun berangkat tanpa lupa berpamitan dengan Alisa yang masih terus di kamarnya.
Tanpa mereka sadari beberapa waktu berlalu seseorang yang paling mereka tunggu datang.
"Akhirnya sampai juga, ayo sayang turun" ucapnya seraya membuka pintu mobil.
"Iya Bu" balas Nita yang tak henti menatap rumah megah di depannya.
"Mas, terima kasih sudah mengantar, tolong sampaikan juga pada Rama rasa terima kasih saya ya" ucap Bu Aisyah.
"Bu ini rumah siapa!? besar juga bagus banget" ucap Nita tak berhenti takjub.
"Ini rumah keluarganya Kak Alena sayang, walaupun kita sudah mengenalnya kita jaga sopan santun ya, jadi Nita tak boleh sembarangan mengambil sesuatu tanpa izin" ucap Ibu seraya menekan bel.
Tak lama seseorang membukakan puntu.
"Asslamualaikum Bi" ucapnya dengan begitu sopan.
"Masyaallah Bu Aisyah! Alhamdulillah akhirnya Ibu kembali ke sini, Ini siapa Bu?"
"Iya Bi, oh iya ini Nita Adiknya Raffa" balas Bu Aisyah seraya tersenyum.
Nita lalu menyalami Bi Irah seraya berucap, "Saya Nita Bi, salam kenal ya Bi"
"Iya Nita saya Bi Irah" ucap Bi Irah seraya mengusap kepala Nita, "Eh lupa, mari masuk Bu, Eni! Wati! tolong bawa barang Ibu ke dalam ya"
Tak lama dua ART lain berdatangan lalu membantu membawakan bawaan Ibu Aisyah menuju kamarnya.
"Apa kedatangan saya mengganggu kamu Bi?"
__ADS_1
"Enggak Bu, Bibi baru mau masak untuk Non Alisa, hemhh semenjak Ibu pergi anak-anak sangat sedih bu" balas Bi Irah nampak sendu.
"Nita, kamu istirahat dulu ya di kamar, Ibu mau bantu Bi irah di dapur" ucap Bu Aisyah pada Nita.
Dengan diantar Eni ia pun menuju kamar yang di maksud.Sepeninggal nita Bu Aisyah kembali membuka pembicaraan.
"Bi kabar keluarga di sini bagaimana?" tanya Bu Aisyah khawatir.
"Jujur Bu, semuanya nampak sedih apa lagi Non Alisa jarang banget keluar kamar.Sepertinya Non Alisa berharap banyak sama Ibu" sahut Bi Irah terdengar sendu.
"Maafkan saya ya Bi, saya hanya perlu waktu untuk berpikir.Saya gak bisa begitu saja memutuskan hal ini" Balas Bu Aisyah nampak menyesal.
"Saya mengerti kok Bu" ucap Bi Irah kembali.
Di iringi obrolan obrolan ringan pekerjaan mereka pun tak terasa cepat selesai.Bu Aisyah sendiri pamit untuk menunaikan shalat.
Tanpa di duga Alena pulang lebih awal.Terlihat lelah ia masuk seraya mengucap salam,
"Assalamualaikum, Bi"
"Eh Non sudah pulang?" ucap Bi Irah dengan senyum mengembang.
"Iya Bi gak ada kelas lagi jadi bisa cepat pulang, Bibi lagi apa!?" sahut Alena seraya mengambil air minum lalu tergerak mendekati masakan yang baru ini sangat ia kenal.
"Bibi baru selesai masak, ini lagi nyiapin buat Non Alisa"
"Bibi bilang jujur sama Alena, ini siapa yang masak!?" ucap Alena dengan wajah menegang seraya mencicipinya.
"Bibi Non yang masak" balas Bi Irah tetap tersenyum.
"Bibi pasti bohong, yang biasa masak makanan ini apalagi rasanya! ini ... masakan Mama Aisyah!" seru Alena begitu yakin.
Sontak Alena segera mengecek semua ruangan terdekat.Dengan penuh harap ia beranjak ke kamar yang biasa Ibu Aisyah pakai.
"Mah!?" ucapnya seraya membuka pintu kamar, "Nita! gak mungkin Nita sendiri pasti sama Mama!" gumam Alena diam mematung.
Sontak jantung Alena terasa copot saat mendengar teguran seseorang yang begitu ia kenal.Alena begitu tak sanggup saat ia membalikan badannya.
"Mama! mama Aisyah!" ucap Alena begitu tak percaya dan langsung memeluknya dengan tangis yang mulai pecah.
"Iya sayang ini Mama, maaf Mama sudah bikin kamu kecewa dan khawatir" ucap Bu Aisyah seraya membelai lembut Alena.
Alena terus menumpahkan perasaannya lewat air mata membuat Bu Aisyah makin merasa bersalah.
Sementara di kantor, Tn Harry nampak sibuk dengan pekerjaannya.Ia berusaha bersikap profesional walau hatinya terus di hantui masalah keluarganya.
Hingga sore menjelang malam ia masih saja sibuk memeriksa semua berkas yang menumpuk di mejanya.
"Mau saya bantu Pak?" tanya Rama yang mulai tak tega.
"Tak usah Ram sebentar lagi juga selesai, apa jadwal saya selanjutnya" balas Tn Harry balik bertanya.
"Tak Ada Pak kali ini Bapak bisa pulang lebih awal untuk makan malam" balas Rama seraya tersenyum
"Bicara apa kamu Ram, memang ini jam berapa?" ucap Tn Harry seraya melihat jamnya lalu meraih ponselnya.
Tn Harry berubah lebih serius saat melihat dan memeriksa ponselnya.Beberapa misscall membuatnya terusik begitu juga satu pesan yang masuk, "Tuan, kalau ada waktu bisakah pulang lebih awal untuk makan malam di rumah, Ada sesuatu yang mau saya bicarakan dengan Anda dan anak-anak"
"Bu Aisyah, apa ini benar-benar dirinya!?" gumam Tn Harry tak percaya.
"Kenapa Pak!? apa ada yang mengganggu Bapak?"
"Eh! tidak tidak Ram, apa benar hari ini tak ada jadwal apa-apa lagi!?" sahut Tn Harry memastikan.
__ADS_1
"Sudah saya bilang tak ada Pak, Bapak bisa pulang lebih cepat, bukankah ada janji yang lebih penting di rumah?" balas Rama seraya tersenyum.
"Ini pasti akal-akalan kamu Ram, kamu sudah tahu dari awal ,benar begitu?"
Rama hanya tersenyum tanpa Tn Harry tahu Bu Aisyah menghubungi Rama saat Tn Harry tak bisa ia hubungi.
"Ya sudah kita pulang segera, saya tak mau membuat yang di rumah menunggu" ucap Tn Harry di bantu Rama dengan cepat membereskan semua berkas di mejanya.
Meja makan yang sudah tertata rapi dengan berbagai makanan yang menggugah selera nampak Bu Aisyah di bantu Bi Irah terus menyiapkan semuanya.
"Bu Aisyah, saya senang Anda kembali, semoga kedua putri saya kembali bersemangat" ucap Tn Harry yang telah berganti pakaian.
"Begitu juga saya Tuan saya pun merasa senang, oh ya semua telah siap tinggal kita tunggu anak-anak kita" balas Bu Aisyah.
Tak lama Raffa pun sampai dengan segera ia masuk lalu menghampiri Ibunya.
"Assalamualaikum Bu, kapan datang? kenapa gak bilang sama Al?" ucap Raffa seraya mencium tangan ibunya juga Tn Harry.
"Waalaikumsalam, sebaiknya kamu duduk dulu, nanti Ibu ceritakan semuanya" balasnya singkat, "Ibu ke atas dulu manggil Alisa juga Alena.
Belum juga Bu Aisyah beranjak nampak Alena turun di ikuti Alisa yang terlihat begitu malas.
"Alhamdulillah akhirnya kalian turun juga" ucap Bu Aisyah seraya tersenyum.
"Ibu!" Alisa begitu tertegun melihatnya Ibu Aisyah memang sengaja tak menumuinya sejak ia datang.Terlebih Alisa yang terus mengurung diri.
Semua anggota keluarga pun akhirnya berkumpul di satu meja makan.Alisa tak hentinya menatap Bu Aisyah namun dengan begitu dingin.
"Sebelumnya maafkan Ibu yang sudah lancang mengumpulkan Tn Harry juga semuanya malam ini di sini karena ada sesuatu yang ingin Ibu sampaikan pada semuanya"
Ucapan Bu Aisyah membuat semua orang begitu tegang.Berharap dalam cemas tentang apa yang akan ia ucapkan.
"Namun sebaiknya kita makan lebih dahulu saja takut dingin malah tak enak" ucap Bu Aisyah kembali.
Di tengah santap malam bersama, Alena yang tak sabar segera membuka suaranya.
"Mah sebaiknya sekarang saja, lagian Alena juga sudah mau selesai" ucap Alena seraya meminum air putihnya.
Bu Aisyah tersenyum seraya berkata, "Ya sudah Ibu akan bicara" setelah sedikit minum Bu Aisyah kembali bersuara, "Sebelumnya Ibu minta maaf soal kemarin karena Ibu tiba-tiba pulang.Ibu hanya perlu waktu untuk berpikir tak ada niat yang lain.Alhamdulillah Ibu sudah punya jawabannya"
Jawaban Ibu Aisyah jelas saja membuat semua orang semakin tegang.Tn Harry, Raffa, Alisa juga Alena seketika merasa waktu berhenti.Semua menunggu dalam cemas.
"Sebelumnya Ibu mau bertanya pertama pada kamu Raffa, apa kamu akan mendukung apapun keputusan Ibu!?" tanya Bu Aisyah.
"Insyaallah Bu Raffa akan ikhlas apapun keputusan Ibu" balas Raffa tegas.
"Lalu Tuan Harry, apa Anda mau dan ikhlas bersama seorang janda dari kampung yang bukan keturunan siapa-siapa dan bukan siapa-siapa.Wanita biasa yang penuh dengan kekurangan akan sangat berlawanan dengan Anda yang seorang Adhitama" ucap Bu Aisyah yang membuat semua orang tergetar hatinya.
"Bu Aisyah justru saya akan menjadi orang paling beruntung di dunia ini bila bisa bersama Anda.Karena Ibu punya sesuatu yang sangat bernilai lebih dari apapun di dunia ini, yaitu hati Anda" sahut Tn Harry nampak bersungguh sungguh.
Bu Aisyah tersenyum lalu menatap Alena juga Alisa, "Sayang, itu salah satu yang perlu Ibu pertimbangkan, semoga kalian mengerti mengapa Ibu pergi saat itu" ucapnya selembut mungkin.
"Alena minta Maaf ya Mah sempat merasa kecewa sama Mama" ucap Alena nampak menyesal.
Sementara Alisa hanya menundukan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.Bu Aisyah yang paham kembali melanjutkan bicaranya.
"Tak apa-apa Alena Mama bisa mengerti" ucap Bu Aisyah seraya mengangguk, "Dan malam ini juga Ibu ingin menyampaikan soal jawaban dari permintaan kalian"
Dengan dada semakin berdebar semua begitu menantikan apa kiranya keputusan yang di ambil Bu Aisyah.
"Tuan Harry, Alisa, Alena, Raffa juga Nita.Ibu memutuskan, maaf bila ada yang tak berkenan, Ibu bersedia jadi Mama kalian seutuhnya dan tinggal selamanya dengan kalian"
Terang saja jawaban Bu Aisyah begitu mengejutkan semua orang.Mereka tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
__ADS_1
"Apa!? I, Ibu benarkah itu?" ucap mereka hampir senada
[[ End ]]