
Pagi hari nampak Raffa juga Rama tengah beristirahat selesai berlatih.Sambil mengeringkan keringat mereka pun berbincang santai.
"Bela dirimu semakin baik saja Al, mungkin hanya profesional yang bisa mengalahkanmu" ucap Rama seraya menepuk pundak Raffa.
"Hehe selalu saja Mas Rama terlalu memuji, kalaupun saya lebih baik itu artinya saya punya guru yang hebat" balas Raffa serius.
"Haha bisa saja kamu ngebalikin omongan orang" ucap Rama tersenyum kecil, "Oh iya Al, apa rencana kamu hari ini?" tanya Rama.
"Hari ini rencananya saya mau memenuhi panggilan Pak Iriawan, benar apa katanya semakin cepat semakin baik" balas Raffa.
"Mau Mas temani Al? kebetulan Mas kenal dekat dengan beliau" ucap Rama menawarkan.
"Itu pasti terlalu merepotkan Mas, saya akan pergi sendiri setelah melihat kondisi Aurel" balas Raffa merasa tak enak.
"Sialan, modus pendekatan sama calon mertua ini sih, hemhhh tapi Mas doa'kan yang terbaik buat kamu semoga keluarga Aurel bisa menerimamu dengan baik" ucap Rama begitu berharap.
Tak lama nampak Violet yang juga selesai latihan menghampiri mereka.Tanpa rasa sungkan ia duduk di sebelah Raffa lalu bersandar di bahunya.
"Ya elah ni dede gemes sembarangan aja, di kira kursi main nyender manja segala, kaya gak berat aja" ucap Raffa.
"Diem kenapa sih, masih aja salting kalau deket gue.Lagian ini hari dimana hari libur gue di mulai, jadi biarkan gue menikmatinya" balas Violet terus menyandar santai seraya merangkul lengan Raffa.
"Bukan salting tapi merinding" balas Raffa kesal.
"Hemh! tapi ingat Vi kamu harus selalu siap kapanpun, kita tak pernah tahu kapan masalah datang" ucap Rama seraya tersenyum kecil.
"Siap bang, saya akan tetap mengawasi anak puber ini dari dekat, terutama di tim basket"
"Sebenarnya sejak kapan sih lo ada di kampus!? jangan-jangan lo mahasiswi gaib ya!?" tanya Raffa masih penasaran.
"Tanya Papa bear aja tuh" balas Violet santai.
"Maaf Mas gak pernah membahas ini denganmu Al, sejak kamu punya masalah dan terlibat dengan orang yang cukup merepotkan Mas punya firasat tak enak, makanya Mas kirim Violet untuk mengawasi kamu dari dekat" jelas Rama.
"Lagi-lagi saya berhutang banyak, sekali lagi terima kasih banyak, kalau boleh tahu apa yang membuat Mas melakukan semuanya? toh Mas gak pernah berhutang apapun pada saya" ucap Raffa nampak haru.
"Selain Mas merasa banyak kemiripan di antara kita yang seakan sendirian di kota besar ini, Mas juga merasa kamu orang baik yang tak seharusnya menderita" balas Rama beralasan.
Raffa tersenyum mendengarnya, "Sekali lagi terima kasih atas semuanya Mas, saya duluan mandi, sepertinya hari ini akan panjang, menemui Aurel, Pak Iriawan dan Ibu" ucap Raffa lalu beranjak masuk.
"Ikut Al! gue juga mau mandi" seru Violet.
"Dihh! ogah nyari sungai aja sana biar sekalian hanyut!" balas Raffa seraya kabur.
Rama hanya tersenyum sambil geleng-geleng, "Kalian ini hmmhhh, rumah ini jadi ramai sejak ada kalian, saat nanti kalian pergi sepertinya akan kembali jadi gua yang sepi" ucap Rama bermonolog.
Tak beberapa lama Raffa sudah nampak rapi dan bersiap pergi.Dengan menggunakan mobil ia segera menuju kediaman keluarga Adrean.
"Assalamualaikum, Tuan, Nyonya!? maaf pagi-pagi sudah mengganggu" ucap Raffa saat ia mendapatkan semua keluarga Adrean berada di rumah.
"Waalaikumsalam" balas Tuan dan Nyonya Adrean bersamaan.
__ADS_1
"Masuk Nak Raffa, mari jangan sungkan" lanjut Ny Ariana begitu hangat.
"Apa kabar Raffa?" tanya Tn Hernand terlihat ramah.
"Kabar baik Tuan, kabar keluarga di sini bagaimana?" balas Raffa merasa grogi dengan sikap papi Aurel yang lebih kalem.
"Kami semua baik, hanya saja Aurel sepertinya masih belum bisa menerima kejadian kemarin.Sebenarnya apa yang terjadi, saya ingin mendengar langsung dari kamu" tanya Tn Hernand penasaran.
"Saya tak tahu awalnya Tuan, tiba-tiba seseorang menelepon saya untuk datang kesana.Saya bertemu Leon yang menyandera Aurel namun ternyata Adrian turut andil dalam rencana itu" balas Raffa tak enak hati.
"Heh! ternyata benar anak itu memang terlibat.Bukannya menjaga malah mengorbankan saudarinya sendiri" ucap Tn Hernand nampak kecewa.
"Mungkin kita juga salah Pih terlalu membiarkan Adrian" lanjut Ny Ariana merasa bersalah.
"Tuan, Nyonya saya yakin Adrian tidak bermaksud jahat, ia hanya cemburu karena Tuan memberikan saya sesuatu yang seharusnya tidak saya terima" ucap Raffa sesopan mungkin, "Satu yang Adrian lupa, Leon orang yang akan menghalalkan segara cara untuk mencapai keinginannya dan Leon menyukai Aurel"
"Saya tak menyangka putra Tuan Arthur selicik itu, selama ini tak terdengar dia bertindak macam-macam" ucap Tn Hernand nampak berpikir.
"Saya kira Tuan perlu tahu, yang terjadi pada saya itu semua akibat ulah Leon.Saat Aurel terluka itu pasti orang suruhannya yang ingin menculik saya hingga akhirnya saya berpura-pura cacat untuk membuka kedoknya" jelas Raffa tak ingin ada salah paham lagi.
Tn Hernand begitu terkejut ia sangat ingat saat Aurel terluka dengan begitu kerasnya ia menyalahkan Raffa.
"Sepertinya Om benar-benar telah salah menilai kamu Raffa, saya mulai sadar akan ucapan Tn Harry semuanya tak mungkin bohong" ucap Tn Hernand terlihat menyesal.
Raffa merasa lega dengan ucapan Tn Hernand, "Tak apa Tuan mungkin Tn Harry juga terlalu melebih-lebihkannya"
"Sebaiknya biasakan diri jangan memanggil Tuan pada saya, entahlah jadi terasa tak enak mendengarnya" ucap Tn Hernand tanpa terduga.
"Ya sudah Om yakin kamu mau menjenguk Aurel, silakan naik saja nanti biar di antar Mami" ucap Tn Hernand seraya tersenyum.
"Ehh, baik Om terima kasih sebelumnya, izin naik ke atas" balas Raffa makin grogi.
"Oh iya, nanti siang Om akan ke kantor polisi, apa kamu punya rencana ke sana hari ini?"
"Saya memang berencana datang hari ini, saya ingin semua segera selesai terlebih Pak Iriawan pun sudah memintanya"
"Ya sudah kita ke sana sama-sama.Mih antar Raffa ke kamar Aurel" ucap Tn Hernand.
"Mari Nak Raffa Mami temani" ucap Ny Ariana seraya merangkul lengan Raffa.
Tuan Hernand nampak tersenyum melihat Raffa yang begitu grogi berjalan bersama istrinya menuju kamar Aurel.
"Sayang boleh kami masuk? ada seseorang yang mau bertemu nih" ucap Ny Ariana seraya mengetuk pintu.
Lama tak ada jawaban Ny Ariana pun beranjak masuk kebetulan pintu kamar Aurel tidak terkunci.Raffa semakin merasa cemas melihat Aurel yang masih menyembunyikan dirinya di bawah selimut.
"Aurel, kamu gak mau lihat siapa yang datang?" ucap Ny Ariana.
Dari balik selimutnya Aurel mengintip lalu kembali menyembunyikan wajahnya.Sontak keduanya merasa terheran.
"Ya sudah Mami tinggal kalian berdua untuk mengobrol, kalau ada apa-apa Mami ada di bawah" ucap Ny Ariana lalu bernajak keluar seraya menutup pintu.
__ADS_1
Raffa dengan begitu salah tingkah nampak menyusul Ny Ariana.Raffa pun membuka pintu kamar Aurel.
"Biarkan terbuka saja Tante, saya tidak merasa enak" ucap Raffa begitu sungkan.
"Baiklah, tolong bantu kembalikan semangat Aurel ya Nak Raffa, Tante percaya sama kamu" balas Ny Ariana lalu meninggalkan mereka.
Sedikit ragu Raffa mendekati Aurel di tempat tidurnya.Belum juga Raffa membuka suaranya tiba-tiba Aurel bangun, tanpa menatap ia berjalan dengan lutut bertumpu lalu memeluk Raffa dengan Erat.
"Raffa! aku senang kamu disini" ucap Aurel dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga senang bisa melihatmu, apa kamu baik-baik saja sayang?" balas Raffa dengan lembut seraya membelai rambut Aurel.
"Hiks! aku masih belum bisa melupakan kejadian kemarin, semua itu terlalu memalukan bagaimana nanti pandangan orang padaku" ucap Aurel nampak masih terguncang.
Raffa tersenyum lalu duduk di sebelah Aurel seraya menggenggam tangan Aurel lalu dengan tangan lain mengusap lembut pipinya.
"Sayang aku mengerti perasaanmu tapi berusahalah tak memikirkannya.Aku tahu semua butuh waktu, jangan pikirkan orang lain, pikirkan saja dirimu dan orang yang menyayangimu" ucap Raffa memotivasi.
"Hiks! tapi aku terus merasa kotor, walaupun orang itu belum bertindak lebih jauh, terkadang aku merasa tak pantas untukmu" rengek Aurel nampak kehilangan rasa percaya dirinya.
Setelah beberapa saat Raffa nampak berpikir ia kembali buka suara, "Apa perlu aku menikahimu sekarang agar kamu yakin kalau kamu tetap gadis yang sempurna yang aku ingin menghabiskan semua waktuku bersamamu"
Sontak jantung Aurel terasa copot mendengar ucapan serius Raffa.Air mata Aurel tak terasa menetes membasahi pipinya.Rasa hangat begitu terasa di hatinya karena bahagia.
"Raffa! terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu jangan pernah ninggalin aku" ucap Aurel seraya merangkul leher Raffa begitu erat.
"Iya sayang, tapi aku akan ninggalin kamu kalau kamu tak mau tersenyum untukku" balas Raffa singkat.
Saat Aurel mengurai pelukannya Raffa pun menangkup wajahnya seraya menghapus air mata yang membasahi pipi Aurel.
"Sayang, aku ingin melihatmu tersenyum, aku tak sanggup melihatmu seperti ini, aku rindu senyum indahmu" ucap Raffa seraya menatapnya dengan lekat.
Aurel lalu menangkup tangan Raffa di pipinya, dengan malu-malu Aurel membalas tatapan Raffa.Perlahan namun pasti satu senyuman terukir di bibir manisnya.
"That's my girl" ucap Raffa lalu kembali memeluk Aurel penuh rasa bahagia.
"Jadi kamu beneran mau menikahi aku!?" ucap Aurel tiba-tiba.
Mata Raffa membulat mendengar pertanyaannya.Ia tak berbohong akan ucapan itu namun tak secepat itu juga harus terwujud.
"Iya hari ini juga" balas Raffa seraya berdiri lalu beranjak keluar kamar.
"Kamu serius!?" tanya Aurel begitu tak percaya.
"Iya serius, setelah aku bicara sama Papi Mami kamu, bersiaplah jadi Nyonya Raffa" balas Raffa tersenyum menggoda seraya pergi.
"Kamu beneran serius!? kamu gak bercandakan sayang!? sayang!?" teriak Aurel tak percaya saat Raffa meninggalkan kamarnya.
Jantung Aurel berdegup begitu kencang, semua perasaan bercampur menjadi satu.Wajahnya memerah layaknya tomat matang.
"Apa mungkin Raffa serius? kalau serius apa iya aku menikah muda!? mau sih tapi ... akhhh Raffa bikin aku gak karuan terus" keluh Aurel bermonolog seraya menutup wajahnya dan mengoyang-goyangkan kakinya.
__ADS_1
[[ End ]]