Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
27.Tanggung Jawab


__ADS_3

"Berhentiiii" Seru salah satu pemotor yang berhenti tepat di antara mereka.


Ben yang terkejut segera menghentikan aksinya.


Setelah turun dari motornya.Pria dengan wajah dingin penuh wibawa itu menatap tajam pada Ben dan rekannya bergantian.


"Lepasin dia"


Ucapan pria itu sontak mengagetkan semua orang termasuk Raffa.Wajahnya begitu tidak asing untuknya.


"Sejak kapan kalian budek? gue bilang lepasin!" Bentaknya


Tanpa penolakan mereka melepaskan Raffa.


"Hei bocah lo boleh pergi sekarang,segera bawa temen lo"


"Tapi Bang...." belum selesai bicara,Ben terdiam saat telunjuk pria itu terangkat.


"Bang dia sudah kurang ajar sama kita" rekan Ben mencoba beralasan.


"Cihh ok silahkan,lo semua mau ngabisin dia? Ok cuma yang berani nyentuh dia harus berhadapan dengan gue!"


Jawaban pria itu sontak membuat semua orang terkesiap.Tak lama keterkejutan mereka teralihkan oleh mesin mobil yang menyala.


Terlihat Raffa merasa lega mobil gadis itu masih berfungsi.Namun dengan posisi tiga rodanya di trotoar dengan bumper sedikit menyangkut.Segera ia bergegas ke arah depan mobil untuk mendorongnya.


Saat Raffa bersusah payah mendorongnya,sepasang tangan ikut membantunya seraya berkata.


"Sok kuat lu bocah" ucap pria itu sambil tersenyum tipis.


"Sebaiknya lo masuk biar gue bantu juga" lanjut Ivan.


"Ehh Terimakasih Bang, Bang Andre" balas Raffa lalu kembali kedalam mobil.


Setelah terlepas dari pot besar,mobil itu pun sudah kembali ke posisi yang semestinya.


Setelah berpamitan,Raffa segera berangkat menuju rumah sakit terdekat.Meninggalkan segudang tanya terutama bagi Ben dan rekannya.


"Sorry Bang,siapa bocah itu sebenarnya? Kok bisa segitu pedulinya?" akhirnya Ivan yang berani bertanya.


"Bocah itu yang menolong gue malam itu" balas Andre datar.


"Maksudnya kejadian yang sampai masuk rumah sakit kemaren?" lanjut Ivan memastikan.


Andre hanya menyunggingkan senyum setengahnya.Namun sudah cukup menjadi jawaban buat semuanya.


Sementara itu sesampainya di rumah sakit.Raffa yang masih nampak panik membopong Alena dengan tergesa-gesa.


"Tolong....tolong saya Dokter.Tolong selamatin teman saya" Seru Raffa dalam paniknya.


Beberapa tenaga medis pun segera menghampirinya.


"Silakan,baringkan di sini Mas" ucap salah satu perawat yang sigap menyiapkan brankar dorong.


"Sebelumnya apa yang terjadi dengan teman Anda?" tanya seorang dokter pada Raffa.


"Tolong selamatkan dia Dokter,tadi kita kecelakaan" balasnya seraya terus mengikuti kemana Alena dibawa.


"Mas tenang saja,kami akan melakukan yang terbaik" lanjut dokter tersebut.


Sesaat Alena telah masuk ke ruang pemeriksaan.Tak lama seorang perawat meminta Raffa menuju meja administrasi.


"Maaf boleh tahu identitas pasiennya?"


Sontak saja Raffa di buat terpaku.Bagaimana ia bisa tahu tentang gadis yang baru ia temui dua kali ini.


"Mas?" tegur petugas itu membuyarkan lamunan Raffa.


"Eh maaf boleh minta waktu sebentar?" tanpa berlama-lama Raffa bergegas menuju mobil Alena.


Beruntung ia menemukan tas milik alena disana.Tanpa berlama-lama ia segera kembali.


"Maaf,ini identitasnya Mba"


"Untuk pembayarannya apa yang mau Mas pilih?"


Sejenak Raffa berpikir.Rasa bersalahnya membuatnya segera mengambil keputusan.


"Tunai saja deh Mba" ucap Raffa tanpa ragu.

__ADS_1


Selesai mengurus semuanya Raffa kembali menunggu hasil pemeriksaan Alena.Dalam cemasnya terbersit untuk menghubungi keluarga gadis itu.


Harapan Raffa muncul begitu ia menemukan ponsel Alena di tasnya.Namun harapan itu seketika pupus saat ponsel tersebut memerlukan sandi.


Dalam rasa frustasinya tiba-tiba ponsel Alena berdering.Raffa memperhatikan nama penelepon itu dengan seksama.


"Mas Rama? apa mungkin ini keluarganya ya?" Raffa berusaha menepis semua tanya yang terus berputar di pikirannya.


"Mungkin tak ada salahnya aku angkat" gumannya dalam hati.


"Assalamuallaikum,selamat malam" ucap Raffa sedikit gugup.


Namun tak terdengar jawaban membuat ia kembali membuka percakapan.


"Hallo....hallo maaf apa ini dengan keluarganya Alena?" begitu gusarnya Raffa menunggu dengan harap.


"Siapa ini!? kenapa ponsel Alena bisa sama kamu!?" balasnya dengan nada meninggi


"Eh maaf apa ini dengan keluarga Alena? tolong karena saya harus memberi kabar kalau Alena kecelakaan," jelas Raffa dengan suara sedikit bergetar.


Jawaban itu membuat penelepon pun terkejut juga tak percaya.


"A....apa! kecelakaan? kok bisa,sekarang bagaimana keadaannya!?"


"Ehh iya saat ini masih di tangani dokter,saya pun masih menunggu hasilnya.Apa mas keluarganya? emm sekarang saya di RS Harapan Indah"


"Hallo hallo....hallo Mas?" Raffa berusaha memanggil namun sambungannya telah terputus.


Rasa cemasnya yang bertambah


membuat dirinya tidak bisa diam.


Entah sudah berapa kali ia berjalan mondar mandir.Hanya untuk menekan semua perasaan kalut yang begitu menyiksanya.


"Ya Allah tolong selamatkan dia" guman Raffa memohon.


Selang beberapa saat nampak seorang dokter keluar,membuat Raffa segera mendekatinya.


"Dok bagaimana keadaan teman saya? dia baik-baik saja kan?" tanya Raffa begitu tidak sabar.


"Syukurlah tidak ada sesuatu ataupun luka yang serius,pasien hanya pingsan karena syok dan adanya benturan.Namun saya sarankan untuk di rawat inap untuk pemeriksaan lanjutan"


"Ram kamu urus dia,saya akan berbicara empat mata dengan pak dokter" perintah Tn Harry


Setelah beberapa waktu Alena pun sudah di pindahkan ke ruang rawat kelas VIP.Tn Harry sendiri nampak sudah menemaninya,setelah cukup berkonsultasi dengan dokter yang merawat putrinya itu.


Wajah tegang Tn Harry sedikit terobati tatkala melihat Alena siuman.


"Emmmmhhhh dimana ini?" rintih Alena seraya mengedarkan pandangannya.


"Sayang kamu sudah bangun,bagaimana kondisi kamu?" ucap Tn Harry begitu gembira.


"Pa...pah Alena gak apa-apa kok,hanya pusing sama lemes aja" balas Alena berusaha menenangkan.


"Syukurlah kalo begitu,kamu udah bikin Papah jantungan saja" ucapnya seraya mengusap kepala putrinya itu penuh kasih.


"Pah....dia kemana,apa dia juga baik-baik saja?" Alena yang teringat Raffa langsung bertanya.


"Untuk apa kamu tanya? kamu kaya begini ini pasti ulah dia kan?" ucap Tn Harry terlihat kesal.


"Tapi Pah semua ini bukan salah dia,semua ini karena salah Alena sendiri" tegas Alena tidak mau ada salah paham


Alena pun segera menceritakan kronologinya.Sepulangnya dari kediaman Raffa, Alena yang masih penasaran pergi menuju Blackhose Cafe.Namun demi keamanan ia memilih berhenti di mini market yang berada agak jauh di sebrangnya.


"Alena mohon,Papah jangan marah sama dia ya? ini murni Alena yang salah" Alena mencoba menegaskan kembali.


Tn Harry hanya menatap putrinya dengan begitu intens lalu berkata.


"Ok Papah akan maafkan dia,itu karena kamu yang minta"


"Maksih ya Pah,Alena beruntung punya Papah yang begitu baik dan pengertian" ucap Alena


Tn Harry pun tersenyum mendengar ucapan putrinya itu.


"Kondisi kamu tidak baik begini masih aja kuatir sama orang lain.Apa dia sebegitu pentingnya buat kamu?" goda Tn Harry seraya tersenyum meledek.


"Maksud Papah? penting,penting gimana sih Pah?" ucap Alena sedikit terbawa perasaan.


"Sudah sudah jangan banyak berpikir dulu sayang.Sebaiknya kamu istirahat.Nanti setelah kamu pulih kita bicarakan lagi sambil makan malam dengan calon menantu Papah itu ya?" Tn Harry berkata seraya mencium kening pitrinya itu.

__ADS_1


Rasa sakit Alena seketika sirna mendengar ucapan papahnya.Dalam hatinya timbul perasaan yang tak bisa ia gambarkan.Reflek Alena segera memalingkan wajahnya.Namun Alena dengan cepat menutupinya.


"Pah apa dia masih ada di sini? Alena ingin bertemu"


"Sepertinya masih,Rama sedang menemaninya.Jangan lama-lama kamu masih butuh istirahat" Tn Harry pun segera beranjak untuk memanggilnya.


Saat pintu ruangan Alena terbuka Rama maupun Raffa sontak terdiam.Namun Raffa terlihat makin gugup ketika Tn Harry menatapnya dengan dingin.


"Kamu masuk,putri saya ingin bicara" ucap Tn Harry datar.


"B....baik om terimakasih," balas Raffa begitu gugup,hingga tak sanggup berlama-lama menatap wajah Tn Harry.


"Saya izin masuk om" Raffa pun masuk seraya membungkukan badannya.


Sementara itu Tn Harry nampak langsung terlibat pembicaraan serius dengan Rama.


Sementara Raffa juga Alena yang sama-sama merasa canggung hanya saling melempar senyum.


Namun akhirnya rasa cemas Raffa membuat ia berani memulai percakapan.


"Alena bagaimana kondisi kamu? apa kamu baik-baik saja?" ucap Raffa seraya mendekat.


"Heem aku baik kok.Kamu sendiri gimana?" balas Alena yang terlihat masih lemah.


Raffa yang begitu merasa bersalah,menangkup tangan Alena dengan lembut seraya berkata.


"Mohon maafkan aku,karena aku kamu jadi seperti ini.Tapi terimakasih untuk semuanya,aku tak akan melupakan kebaikanmu itu" ucap Raffa dengan tulusnya.


Mendapat perlakuan itu entah mengapa hatinya menghangat.Jantungnya berdegup lebih kencang.


"Mmm kamu gak perlu minta maaf aku senang bisa membantu dan jangan kuatir aku akan baik-baik saja" ucap Alena seraya tersenyum manis.


Raffa pun membalas dengan senyum tulusnya.sama-sama


saling memandang dengan tersenyum membuat keduanya salah tingkah.Terutama Raffa terlebih saat Alena melirik tangannya yang ia pegang.


"Ehh apa ada yang kamu butuhkan? makan atau minum biar aku suapin" Raffa berusaha bersikap normal seraya menarik tangannya.


"Ehh tak usah repot repot aku bisa sendiri kok"


Keduanya malah semakin salah tingkah.Tanpa mereka sadari interaksi mereka tak luput dari perhatian Tn Harry dan Rama yang entah sejak kapan sudah berada di sana.


"Ehemm ehemm" Tn Harry berdehem.Membuat mereka terdiam dalam canggungnya.


"Alena apa kamu tidak apa-apa kalo Papah tinggal? Ada yang mesti Papah kerjakan Nak"


"Emm iya Pah gak apa-apa kok.Alena tau Papah mungkin sibuk" balas Alena penuh pengertian.


Tn Harry pun merasa lega.Saat ia melirik Raffa tanpa di duga Raffa mendekatinya.


"Om maaf sebelumnya kalo bukan karena saya Alena tidak akan seperti sekarang.Sebagai rasa tanggung jawab izinkan saya menjaga Alena sampai ia sembuh" Mohon Raffa dengan bersungguh-sungguh.


"Emmm....dan soal mobil juga rumah sakit saya akan berusaha untuk mengganti dan membayarnya" lanjut Raffa dengan sesekali menatap Tn Harry


Sontak Tn Harry di buat tak percaya dengan ucapan Raffa.Ia pun memandang Rama seakan meminta pendapat.


Tak lama Tn Harry terlihat tersenyum lalu memegang pundak Raffa seraya berkata.


"Saya suka pemuda yang bertanggung jawab seperti ini.Terimakasih atas niat baik kamu,tapi tak perlu khawatir soal mobil dan biaya rumah sakit semua sudah di urus.Untuk Alena saya percayakan putri saya ini padamu Raffa.Tolong jaga dia" Ucap Tn Harry dengan yakin.


"Ehh terima kasih Om saya akan jaga Alena dengan sebaiknya" balas Raffa seraya menganggukan kepalanya.


"Oh iya kalo ada waktu mobil Alena kamu bawa ke dealer.Nanti detailnya saya kirim ke Alena.Om tinggal dulu"


Tn Harry pun lalu berpamitan pada putrinya.


"Papah pergi dulu ya sayang,lekas sembuh ya cantik" ucap Tn Harry seraya mengecup kening putrinya.Lalu bersama Rama ia pun beranjak pergi meninggalkan mereka.


Raffa sendiri lalu kembali menemani Alena.


"Alena apa ada yang kamu butuhkan?" Ucap Raffa


Alena hanya menggeleng lalu tersenyum malu,aneh rasanya ada seorang pemuda tampan juga baik menjaga dan memperhatikannya.


"Ya sudah kamu istirahat ya,kalo ada apa-apa aku ada di sofa sana" ucap Raffa seraya membenarkan selimut Alena.


Setelah beberapa lama berusaha beristirahat akhirnya Alena pun tertidur pulas.


Malam itu pun Raffa lalui dengan menjaga Alena.Tidak lupa ia mengirim pesan pada Ferdy kalau ia tidak akan pulang malam ini.

__ADS_1


[[ Bersambung ]]


__ADS_2