Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
89.Harapan Baru


__ADS_3

Di suatu tempat yang nampak sebagai besecamp anak-anak Street Runner.Leon layaknya anggota genk yang salah masuk tempat.


Beberapa anggota Runner yang hadir menatapnya penuh aura intimidasi.Namun bukan Leon kalau tak pandai menyembunyikan Rasa gugupnya.


Menariknya anggota runner dengan sengaja membiarkan Leon tanpa terikat ataupun membungkam mulutnya.Mereka memperlakukan layaknya seorang tamu.


"Apa mau kalian sebenarnya!?" tanya Leon.


Mereka semua hanya tersenyum pahit Hingga akhirnya Andre datang lalu duduk di hadapan Leon.


"Rokok? minum? anggap saja rumah sendiri" ucap Andre seraya menyodorkan rokok dan minuman ke hadapannya.


"Tak usah sok baik, apa mau lo sebenarnya!?" balas Leon gusar.


"Haha, sadar diri bocah! tenang, gue cuma mau bicara sama lo"


"Apa yang mau lo bicarakan!? gue gak ada urusan sama kalian semua!"


"Jadi ada urusan, karena lo udah nyenggol saudara gue.Lo pasti gak tahukan? Raffa anggota kita bahkan dia sudah seperti adik buat gue, ngerti lo!"


"Ok, lalu lo bawa gue kesini mau nakut-nakutin gue!?" atau mau balas dendam! itu mau lo!?"


"Heh, lo akan tahu maksud gue setelah ini!"


Andre lalu menyalakan semua rekaman suara juga video yang melibatkan Leon dan rencana culasnya.Mulai dari rencana kecil Ririn hingga kedai kopi dan juga penculikan Raffa.


"Dari mana lo dapat semua ini!" teriak Leon begitu tercekat.


"Lo gak perlu tahu semua itu! yang perlu lo tahu ini semua peringatan buat lo"


"Ma, maksud lo!"


"Dengar bocah! gue bisa saja bawa lo ke polisi, gue tahu mungkin lo gak akan lama tapi itu cukup bikin lo merasakan dinginnya ruangan sempit!"


"Lo belum tahu siapa gue, ancaman lo gak bikin gue takut" balas Leon seakan tak tertekan.


"Haha bocah Arthur Darmawan pintar juga melucu! gue gak perduli lo siapa! satu yang lo harus paham gue bukan si Al, gue orang yang akan menancapkan pisau itu di kepala lo!"


"Camkan ini! gue gak akan segan ngabisin lo! penjara akan sangat menyenangkan selama gue bisa ngebasmi sampah seperti lo! craaakh!" seru Andre seraya menancapkan belati yang Sebelumnya Leon bawa.


Leon hanya menatap kosong tanpa berani melihat Andre secara langsung.Baru kali ini Leon merasa mati kutu.


"Usir dia sekarang, sebelum gue berubah pikiran!"


"Yakin Bang!?" ucap Ivan.


"Kita bikin mampus aja Bang, biar gak betingkah lagi ni bocah!"


Seru Ben begitu geram.


"Sebentar! izinkan gue nanya bocah ini satu hal Bang" ucap Indra.


"Ok, silakan Dra" balas Andre.


"Hei bocah! lo boleh merasa lolos kali ini tapi, bagaimana cara lo bayar hutang kedai yang lo hancurkan itu hah!" ucap Indra seraya mencengkram baju Leon.


Sontak pertanyaan itu membuat semua orang begitu terkesima.Pertanyaan Indra benar-benar beralasan membuat semua orang menatap Leon berharap jawaban.


"Baik! gue akan ganti semua kerusakannya" balas Leon tanpa mampu membantah.


"Haha! sebelum itu terjadi mobil lo gue simpan, kebetulan sudah gue amankan di satu tempat" ucap Ben tertawa puas.


"Sialan! gue gak ada pilihan" gumam Leon membatin.

__ADS_1


"Antar bocah ini keluar! gue muak lama-lama melihatnya." ucap Andre seraya mengibaskan tangannya.


"Serius Bang kita lepas!?" tanya Ben.


"Lo gak perlu khawatir bocah ini sudah gak bisa bersembunyi di bawah ketiak si Wolf lagi! detik ini Demons hanya sebuah dongeng" balas Andre menekankan.


Leon yang merasa tak berdaya hanya menahan kesal dalam-dalam.Benar-benar akhir yang tak ia inginkan.


Malam pun semakin larut membuai semua tuk terlelap dalam mimpi penuh rasa.Hingga sang fajar datang membawa hari baru penuh asa.


Raffa nampak termenung memikirkan hari kemarin yang penuh drama.Ia begitu bersyukur semuanya berakhir tanpa ada hal buruk yang menimpa.


"Tok! tok! tok!" suara pintu di ketuk membuat Raffa sedikit terperanjat.


"Silakan, masuk saja" ucap Raffa.


"Ibu!" Raffa begitu terkejut.


"Al! kamu baik-baik saja sayang?" ucap Ibu Aisyah begitu khawatir.


"Al baik kok Bu.Kenapa bisa Ibu di sini? apa gak ganggu kerjaaan!?" Raffa tak percaya sekaligus senang.


"Ibu sengaja kesini, Alena dan Rama yang jemput karena Ibu khawatir sama kamu Al, lagian ini hari libur juga" ucap Ibu Aisayah lalu memeluk Raffa begitu erat.


"Iya Al, kamu tahukan Mamah, Setelah lihat berita ia tak tenang dan minta ke sini cepat-cepat makanya aku segera jemput" ucap Alena.


"Terima kasih ya Alena, kami selalu saja merepotkanmu" balas Raffa tak enak hati.


"Sudah lupain aja, kabar kamu sendiri gimana? kamu sudah baikan?" tanya Alena.


"Aku baik kok, hari ini pun kalau ada dokter sepertinya sudah boleh pulang" balas Raffa terlihat senang.


"Syukurlah kalau begitu aku turut senang, cepat sehat ya Al jangan bikin kita semua khawatir" ucap Alena lalu merangkul Ibu Aisyah juga Raffa.


Ketiganyapun saling berpelukan hangat bagai satu keluarga hingga membuat seseorang yang hendak masuk urung melakukannya.


Aurel hanya terdiam menatap dari sela pintu.Kebersamaan mereka sungguh membuatnya iri.


"Al, tak bisakah kamu berhenti melakukan hal yang membuat Ibu khawatir!? Ibu tak akan sanggup kehilangan kamu, kamu laki-laki satu-satunya harapan keluarga kita" ucap Ibu Aisyah nampak berkaca-kaca seraya terus memeluk Raffa.


"Maaf ya Bu, insyaallah kedepannya tak akan ada lagi masalah, semua akan baik baik saja" balas Raffa menenangkan.


"Tuh Al dengerin, jangan nakal makanya, kasihan Mamah kepikiran terus" canda Alena seraya pasang muka judes.


"Ih gak masalah dong ini juga Ibu aku, tuh kamu peluk Papah kamu saja" balas Raffa menggoda Alena lalu memeluk Ibunya.


"Mah Raffa jahat tuh, tinggalin aja biar sendirian di sini.Yuk Mah kita pulang" ucap Alena nampak kesal seraya menggoyangkan lengan Bu Aisyah.


"Jahat ya? ya udah kita pulang sekarang, yuk sayang" balas Ibu Aisyah.


"Eh eh eh Bu! Masa Raffa di tinggal, Tuan Harry juga!?"


"Om di sini saja sama kamu Al, biar mereka pulang, lagian kunci rumah Om yang bawa, jadi pada gak bisa masuk" Tn Harry ikut menggoda Alena.


"Ish si Papah nyebelin, bukannya bela anak sendiri" Alena makin kesal.


"Hehe biar adilkan dua lawan dua" balas Tn Harry terkekeh.


Ibu Aisyah pun hanya menutup bibirnya menahan geli lalu kembali burucap,


"Sudah sudah malah pada bercanda gini" Ibu Aisyah pun kembali duduk di ranjang Raffa.


Sementara Aurel yang begitu tak percaya lalu menghempaskan badannya di kursi tunggu seraya terus berpikir.

__ADS_1


"Kalau itu ibunya Raffa mengapa Alena memanggilnya mamah? ada apa ini sebenarnya!?"


"Nona kalau Anda di sini, bagaimana bisa tahu kondisi Raffa?" tanya Raira merasa bingung.


"Kamu benar, aku harus ke dalam, biar semuanya jelas! kamu tunggu di sini saja" ucap Aurel bermonolog.


Tanpa berlama-lama Aurel mengetuk pintu lalu segera masuk seraya mengucap salam,


"Assalamualaikum, maaf mengganggu"


"Waalaikumsalam" balas semuanya hampir berbarengan.


Aurel segera menyalami semuanya.Kedatangannya membuat suasana kembali serius.


"Kabar kamu bagaimana sayang?" tanya Aurel tanpa merasa sungkan.


"Aku sudah baik kok, hari ini pun aku maunya pulang" balas Raffa seraya tersenyum.


Ibu Aisyah sendiri nampak begitu terusik dengan Aurel juga sikapnya.Membuat Raffa tersadar lalu mencoba memperkenalkannya.


"Oh iya Bu, perkenalkan ini Aurel dan Aurel kenalkan ini Ibuku" ucap Raffa.


"Hai Tante saya Aurel, senang bertemu dengan Tante" balas Aurel.


"Bu, bukannya kamu yang ada di berita itu kan? yang hendak lompat dari atas gedung!?" ucap Bu Aisyah yang masih mengenalinya.


"Maaf Tante itu semua memang benar, saya yang ada di berita itu" balas Aurel merasa malu.


"Oh jadi kamu yang hampir mencelakakan putra Ibu, iya!?" tiba-tiba Bu Aisyah berkata dengan nada tinggi.


"Ehh sa, saya tidak bermaksud begitu Tante" balas Aurel nampak menyesal.


"Bu! itu bukan salah Aurel Bu! Aurel melakukan itu hanya un ... " belum juga selesai, Bu Aisyah memotong ucapan Raffa.


Alena juga Tn Harry pun tak mampu berkata apapun.Mereka paham ke khawatiran Bu Aisyah.


"Kamu diam dulu, sini Nak mendekat pada Ibu!" perintah Bu Aisyah pada Aurel.


Sedikit ragu Aurel mendekat dengan terus menunduk tanpa berani menatap sedikitpun.


"Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan itu berbahaya!? bagaimana jika akhirnya Allah tidak memberikan kesempatan pada kita, apa kamu sudah siap mempertanggung jawabkannya!?" ucap Bu Aisyah begitu serius.


"Maaf Tante, Aurel hanya sudah tak tahu lagi caranya menghadapi masalah Aurel" balas Aurel dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Apapun masalah kamu, tak seharusnya kamu melakukan hal tak baik, apapun itu.Ini bukan soal kamu dan Raffa tapi menyangkut semua orang terdekat kalian" ucap Bu Aisyah.


"Sekali lagi maaf Tante" balas Aurel tak bisa berkata lebih.


Tiba-tiba Bu Aisyah menarik nafas panjang lalu meraih tangan Aurel.Aurel merasakan degup jantungnya semakin cepat karena semakin grogi.


"Sayang, jika kamu punya masalah dekatkan dirimu dengan yang Maha Mendengar, berdo'alah dan yakinlah akan ada jalan keluar terbaik yang di pilih-NYA" ucap Bu Aisyah.


Ucapan Bu Aisyah membuat Aurel semakin merasa bersalah.Walau ia melakunnya hanya untuk memperjuangkan hubungannya dengan Raffa.


"Kamu pahamkan maksud Ibu?" tanya Bu Aisyah.


"Paham Tante" balas Aurel seraya mengusap air matanya yang menetes.


"Alhamdulillah kalau kamu paham, lebih dekat lagi Nak" ucap Bu Aisayah yang membuat Aurel semakin gugup.


Saat Aurel semakin dekat tanpa di duga Bu Aisyah memeluknya dengan hangat seraya mengusap lembut kepala Aurel.


"Jangan ulangi lagi ya sayang, kita semua sangat-sangat khawatir, tak ingin hal buruk terjadi pada kalian" ucap Bu Aisyah begitu tulus.

__ADS_1


Alena , Tn Harry juga Raffa begitu lega melihat semua itu tak di sanggka Ibu Aisyah hanya ingin menasihatinya.Aurel sendiri lalu menangis tersedu dalam pelukan hangat Ibu Aisyah, ia begitu tersentuh dengan semua ucapannya.


[[ Bersambung ]]


__ADS_2