
Bertempat di kedai Raffa nampak Ryo sampai lebih dulu.Tak beberapa lama Ferdy pun membukakan pintu.
"Hoaammm hey anak tuyul, pagi pagi gini lo bangunin gue, mau ngajak lari lo" ucap Ferdy dengan mata masih berat.
"Iya lari, ngesot bila perlu.Mau bawa balik si Al gue.Lo kira enak gak ada dia di sini" ucap Ryo dengan serius.
"Ahh syukurlah gue lega dengernya" ucap Ferdy lega.
"Do'ain aja semuanya lancar Fer" ucap Ryo lalu duduk seraya mengecek ponselnya.
"Iya gue do'ain, ya udah gue tinggal ke belakang dulu" Ferdy pun kembali kedalam.
Tak lama Alena tiba di temani Luna.
"Permisi" Ucap Alena juga Luna.
"Eh kalian, silakan anggap aja rumah orang" sahut Ryo terkekeh.
"Yang lain belum datang ya yank?" ucap Luna seraya duduk di sebelah Ryo lalu menyandar pada pundaknya.
"Belum, kebiasaan tim hore ngerepotin doang.Masih pada di alam ghaib kayanya" sahut Ryo seraya membelai lembut pipi Luna.
Sementara Alena terlihat serius memperhatikan setiap sudut kedai tersebut.
"Aku gak sabar ingin segera bertemu kamu, semua tak sama tanpa kamu disini Raffa" gumannya dalam hati begitu rindu.
Selang beberapa saat Ryan juga Vina pun datang tidak mau ketinggalan.
"Mlekum" ucap Ryan asal.Entah dari mana satu asbak melayang ke arahnya, ia pun menghindar.
"Apaan sih Yo pagi-pagi dah ngajak perang lagi" ucap Ryan kesal.
"Perang bapak lo di gerebek hansip! gak perlu salam lo kalo gak jelas begitu.Salam apaan itu mlehoy" sahut Ryo serius.
"Hihi lo sih, marah dah tuh Pak Ustadz" ucap Vina cekikikan.
"Assalamualaikum Pak Ustadz" ucap Ryan mendekati Ryo seraya membungkukan badannya.
"Waalaikumsalam, anak baik" sahut Ryo lalu menyodorkan tangannya seraya menaikan alisnya.
"Deeuhhh, makin jadi si tuyul" ucap Ryan seraya menepis tangan Ryo.
Selang beberapa menit dua orang yang mereka tunggu pun datang.
"Dah kumpul semua kan, langsung berangkat yuk" ucap Ryo.
Semua pun mengangguk setuju lalu memulai perjalanannya.
Sekitar 4jam lebih, mereka pun sampai di kota kecil yang cukup sejuk.
"Dah sampai mana kita? terus kapan terakhir lo kesini?" tanya Ryan penasaran.
"belum lama sih, pas SMP" balas Ryo.
"Ya Allah ya Tuhanku, baru kemaren banget ya" ucap Ryan seraya menutup wajahnya pilu.
"Biasa aja kali gak usah seneng gitu juga, tinggal ngikutin jalan Siliwangi ketemu SD Suryakencana 1 sampai deh" sahut Ryo mengingat-ingat.
"Bodo ahh ,mending tidur gue" Ryan yang kesal mencoba memejamkan mata.
"Hadeuhhh gini nih kalo semobil sama kebo, malah pada molor semua" gerutu Ryo.
Sementara di dalam rumah nampak Raffa sedang termenung di kamarnya.Hingga suara klakson mobil menyadarkannya dari lamunan.
"Assalamualaikum, permisi" Ucap Ryo memberi salam.
"Waalaikumsalam, di tunggu" sahut Raffa tanpa tahu siapa tamu tersebut.
Pintu pun terbuka melihat siapa yang datang Raffa begitu terkejut.
"K, kamu Yo, kok bisa kesini!?" belum reda rasa kagetnya, jantung Raffa makin berdegup kencang saat mulai sadar siapa saja yang datang.
Alena yang begitu sangat ingin memeluk Raffa urung melakukannya, karena Ryo dan yang lain sudah mendahuluinya.
"Behb apa kabar lo?" ucap Ryo begitu emosional.
"Al, lo baik baik aja kan?" yang lain pun begitu bahagia melihatnya.
Raffa yang masih tak percaya hanya diam tanpa bisa berkata apapun.Hingga Raffa pun tersadar saat tatapannya bertemu tatapan Alena.
__ADS_1
"Alena" gumannya lirih.
Ryo pun melepaskan pelukannya lalu memberikan Alena ruang.
Alena pun mendekat lalu meraih kedua tangan Raffa,
"Raffa kamu baik-baik saja kan?" tanya Alena begitu bahagia bisa bertemu dengannya.
"Iya Alena, aku baik-baik saja.Kamu kenapa bisa jauh-jauh kesini?" sahut Raffa merasa haru.
"Sesuai janjiku padamu, aku kesini bersama yang lain membawa kabar baik untukmu"
Mendengar itu Raffa tidak tahu harus bersikap apa.Hingga ia tak sadar untuk mempersilahkan mereka masuk.
"Al kita gak boleh masuk apa ya? aku sih kuat cuma kaki ini nih yang lemes" celetuk Yogi.
"Astagfirullah, mari masuk" ucap Raffa sedikit malu.
Raffa pun segera menyediakan makanan dan minuman seadanya.
"Wahh jangan Al tar abis sama mesin giling, tadi aja di mobil ludes semua, ehh langsung molor tanpa dosa" seru Ryan menyindir Yogi.
"Dih dari pada mubazir, sama lo juga di anggurin" balas Yogi kesal.
"Gak apa-apa makan aja jangan malu-malu" ucap Raffa tersenyum kecil.
Sikap itu tak lepas dari perhatian Ryo.Tak seperti Raffa sebelumnya, ia terlihat seperti masih membawa beban berat.
"Enak juga rumah lo Al, adem" ucap Arif yang sengaja selonjoran di lantai.
"Hehe iya kebetulan dekat gunung jadi punya AC alami" balas Raffa.
"Al kita semua kesini, mau kasih kamu kabar baik" ucap Ryo tak mau buang waktu lagi.
Mendengar ucapan Ryo, semuanya orang nampak berubah serius.
"Kabar apa Yo?" tanya Raffa sedikit penasaran.
"Ini soal masalah lo di kampus, ini lo baca saja sendiri" ucap Ryo seraya menyerahkan sebuah amplop berlogo kampus UIJ.
Raffa menerimnya dengan perasaan was-was.Sedikit ragu ragu ia mulai membuka lalu membacanya.
"A apa! aku sudah di nyatakan tidak bersalah dan bisa kembali kuliah!" seru Raffa nampak senang namun tiba-tiba mimik wajahnya terlihat murung.
"Al, kok lo seperti gak senang?" tanya Luna terheran.
"Behb, apa ada masalah lain? Ryo menimpali.
"Raffa, apa kamu gak mau bareng kita kita lagi?" ucap Alena was was.
Raffa terlihat gusar tak tau harus memulainya dari mana.Ia nampak menghela nafas mencoba menenangkan diri.
"Semuanya aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, tapi aku sudah memutuskan untuk kuliah disini" balas Raffa dengan berat hati.
"Apa!" balas mereka hampir berbarengan.
"Behb, lo bercanda kan? bilang kalo lo lagi bercanda!" ucap Ryo tak percaya seraya memajukan posisi duduknya.
"Al lo serius?" Tanya Vina.
Sementara yang lain hanya terbengong coba memahami.
"Maaf, mungkin aku memang gak cocok berada di sana, kejadian ini mungkin tanda kalau aku lebih baik di sini" jelas Raffa mencoba memaksakan senyum.
Luna terus mengusap punggung Ryo yang terlihat gusar.
"Raffa ka, kamu serius tidak mau ikut kita lagi?" tanya Alena kembali dengan mata berkaca-kaca.Dalam hatinya bukan kita yang ia maksud tetapi aku.
"Maafkan aku sekali lagi Alena juga semuanya, aku akan tetap disini" ucap Raffa menunduk tak sanggup menatap.
Mendengar itu Alena pun beranjak keluar dengan kecewa.Luna yang melihatnya segera menyusulnya.
"Baik kalo itu mau lo, gue juga bakal pindah kuliah di sini.Karena sahabat tidak akan meninggalkan sahabatnya sendiri!" seru Ryo mulai tak sabar.
"Gak bisa gitu juga Yo, aku mohon lo ngerti.Hidup kamu bukan disini, toh kita masih bisa berhubungan baik kan?" sahut Raffa memberi alasan dengan perasaan khawatir melihat Alena.
"Dengan mudahnya lo bilang seperti itu setelah apa yang kita lakukan buat lo!? bener bener kecewa gue sama lo!" ucap Ryo lalu berdiri seraya menatap tajam Raffa.
Sementara yang lain makin terdiam terpaku.
__ADS_1
"Aku hargai semuanya Yo tapi lo harus ngerti, ini yang terbaik" balas Raffa meminta pengertian.
"Yang terbaik lo bilang!? terbaik buat lo tapi tidak untuk kita.Gak nyangka lo seegois ini.Sia sia kita belain lo selama ini!" Ryo makin emosi.
Tiba-tiba Ibunda Raffa datang sepulangnya dari sekolah,
"Assalamualaikum" ucap Ibu Aisyah memecah ketegangan mereka.
"Waalaikumsalam" ucap mereka seraya membenarkan posisi duduk masing-masing kecuali Ryo.
"Eh banyak tamu ternyata, maaf ada apa ini Al? nak Ryo? tadi ibu dengar kaya ada yang berteriak"
Ryo lalu merebut surat dari tangan Raffa dan memberikannya pada Ibu Aisyah seraya mencium tangannya.
"Bu, Ibu baca saja sendiri ya, ini mengapa kita semua datang kesini" ucap Ryo.
Ibu Aisyah pun segera duduk lalu membaca surat tersebut sampai selesai,
"Nak Ryo, ini beneran kalo masalah Al sudah selesai?" ucap Ibu terlihat sumringah.
"Benar Bu, itu surat keputusan dari kampus" sahut Ryo.
"Alhamdulillah.Al ini artinya kamu tidak bersalah, kamu bisa kuliah lagi Nak" ucap Ibu Aisyah seraya mencium putranya.
"Tuh lo denger sendiri ucapan Ibu, masih lo mau bilang lo gak sudi balik ke kampus bareng kita!" seru Ryo kembali dengan begitu penuh penekanan.
"Nak Ryo" ucap Ibu tersentak.
"Maafkan Ryo Bu, Ryo cuma mau dia buka mata juga hatinya, Ryo gak pernah punya sahabat bahkan sodara sepengecut ini"
"Ryo gue hargai lo sebagai sahabat,tapi lo gak tau apa yang gue rasakan.Gue bilang gue gak bisa kembali kesana!" balas Raffa dengan nada tinggi.
"Apa alasan lo pengecut!" ucap Ryo murka seraya mencengkran baju Raffa tanpa peduli lagi orang lain yang menatapnya.
"Karena gue gak bisa dan sanggup melihat Ibu menangis dan terluka saat gue kena masalah!" balas Raffa tidak kalah keras.
"Al, Nak Ryo sudah, jangan terpancing emosi.Ibu mengerti kalian saling menyayangi, tenangkan diri ya"
"Ya sudah Bu, sepertinya percuma berlama-lama disini.Bu Ryo pamit" Selesai mencium tangan Ibu Aisyah Ryo pergi tanpa menatap Raffa.
Melihat Ryo beranjak pergi yang lain pun mengikutinya setelah berpamitan.
"Al sebaiknya kamu tenangin diri dulu lalu coba pikirkan kembali keputusan kamu itu" Ucap Ibu Aisyah menasihati.
Tiba-tiba Ryo kembali masuk lalu berucap,
"Al lo harus tahu, semua yang sudah berkorban buat lo, kita lalu Alena dan papahnya sampai datang ke kampus buat lo, lalu ia juga yang membuat tuh cewek ngaku.Pikirkan Ferdy juga sodara baru lo Street Runner.Oh ya, tim basket butuh lo karena bulan depan ada turnamen" ucap Ryo lalu kembali beranjak pergi.
Mendengar ucapan itu Raffa nampak terkesiap lalu menatap Sang Ibu.
"sebaiknya kamu pikirkan lagi, apapun itu semoga kamu tak menyesal di kemudian hari" ucap Ibu lalu meninggalkan Raffa sendiri.
Sementara Ryo dan yang lain sudah berada dalam mobil seraya menunggu Luna juga Alena.
Ibu Aisyah yang melihatnya merasa was-was lalu menghampiri Ryo,
"Nak Ryo, maaf atas sikap Al ya, Ibu akan coba berbicara padanya, namun apapun hasilnya semoga bisa mengerti ya" ucap Ibu Aisyah.
Ryo pun mengangguk dan tersenyum seraya menatap Ibu Aisyah yang pergi menjauh.
Tak lama Luna dan Alena pun kembali,
"Semua sudah kumpul, yuk cabut, males gue lama lama di sini" ucap Ryo kecewa.
Semua orang pun terdiam tanpa ada yang sanggup berkata kata.
Begitu pun Alena yang terus meneteskan air matanya.
Kondisi Alena membuat Luna mengambil alih kemudi mobilnya.Alena hanya menatap keluar melalui kaca mobil.
Mereka pun segera meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa yang mendalam.
Namun baru beberapa meter mereka berjalan Alena melihat seseorang yang keluar dari sebuah gang yang membuatnya terkesiap,
"Mamah!?" guman Alena matanya terus terpaku pada sosok itu hingga hilang dari pandangan.
[ Berambung ]
Bagaimana Ryo dan temannya bisa melewati hari tanpa Raffa?
__ADS_1
Mamah? siapakah sosok yang Alena lihat itu?
ikuti terus ya gess 😁