
Siang Hari di kampus UIJ nampak teman-teman Raffa tengah berkumpul.Di temani menu makan siang yang menggugah selera namun tak satu pun dari mereka terlihat menikmatinya.
Suasana terkelabu yang benar benar baru kali ini mereka rasakan.Tak satu pun dari mereka bersuara hingga Ryan terlihat membating sendok dan garpunya.
"Traangg! Bagaimana bisa gue makan kalo kaya gini" ucap Ryan terlihat kesal.
Sontak semua orang menghentikan semua kegiatan makan siangnya.Mereka merasakan apa yang Ryan rasakan.
"Iya, kita makan enak di sini sementara Raffa!? entah dia bisa makan atau tidak" sahut Yogi si gembul yang terlihat hilang nafsu makannya.
"Mengapa ada yang begitu tega sih sama si Al!? padahal dia itu selalu berusaha menghindari masalah" ucap Luna lesu.
"Iya tapi tidak untuk mahluk hina seperti si Leon, bikin masalah gak bikin masalah pasti di bikin panjang urusannya" sahut Ryo seraya menopang dagu.
"Jadi menurut lo ini ada hubungannya sama Leon Ryo?" tanya Vina spontan.
"Gue sih gak akan nyari yang jauh, sejak masalah sama si Ririn feeling gue ngerasa Leon biang keladinya.Ya walaupun Ririn bilang yang nyuruhnya Mr.Venom" ucap Ryo so yakin.
"Tapi kita gak punya bukti juga Yank, gak bisa nuduh sembarangan loh" ucap Luna.
"Dulu Alena ingin masalah itu selesai tanpa ada pihak yang di rugikan.Satu pertanyaan sih, bagaimana Ririn bisa terlibat dengan Mr.Venom kalo gak ada yang menjembataninya" Sahut Ryo dengan serius lalu beranjak pergi.
"Mau kemana lo Yo!?" ucap Ryan sedikit terkejut.
"Leon atau bukan itu Mr.Venom setidaknya itu pasti berhubungan" selesai berucap Ryo kembali melangkah pergi.
"Akh, anak tuyul pasti mau bikin keributan" keluh Ryan.
"Ga bisa di biarkan kita cegah dia pergi" balas Arif.
Dengan cepat Ryan juga Arif bergegas menahan Ryo.Sontak Ryo terkejut bukan main lalu terlihat berontak.
"Woy duo tuyul ngapain lo nahan gue!? lepasin dodol!" ucap Ryo kesal.
"Sekali-kali jangan gegabah kenapa sih Yo!" sahut Ryan begitu serius.
"Iya, jangan nambah masalah dulu.Jangan sampai setelah Raffa kita kehilangan lo juga" Arif menimpali begitu dramatis.
"Aku makin gak nyaman lihat kamu yang emosian gitu, bikin aku khawatir tau gak" ucap Luna cemas.
"Adeuh ampe bini gue ikutan gak jelas juga" ucap Ryo geleng-geleng.
"Udah Yo balik lo ah, jangan bikin masalah baru" ucap Ryan.
"Lepasin gak!" ucap Ryo setengah membentak.
"Enggak!" balas Ryan juga Arif kompak.
"Bego lo, lepasin gue gak! mau lo gue basah di sini!" ucap Ryo makin kesal.
"Waduh kok basah Yo?" ucap Ryan lalu terbengong.
Saat pegangan keduanya melemah dengan cepat Ryo menarik tangannya seraya menoyor keduanya,
"bego lo, bego lo, seneng lo kalau gue kencing disini.Rese lo ah gue kebelet monyong" ucap Ryo lalu ngacir menuju toilet.
Luna juga Yogi saling pandang lalu cekikikan.Sementara Ryan dan Arif masih saling menyalahkan.
"Sial, lo sih so yakin" ucap Arif.
"Lo juga sama dodol, 'jangan sampai kita kehilangan lo juga' drama banget" sahut Ryan lalu memiting leher Arif.
Tanpa mereka tahu Alena sudah berada di kampus UIJ.Setelah menghubungi Luna ia pun segera menuju kantin tempat mereka berkumpul.
"Siang semuanya" sapa Alena.
"Siang juga" balas mereka kompak.
"Alena, aku kira kamu masih di luar kota" ucap Luna.
"Aku langsung pulang saat tahu berita tentang Raffa, apalagi mamah Aisyah juga panik mau segera ke sini" balas Alena.
"Apa!? Mamah Aisyah?" ucap Ryo yang sudah kembali berkumpul.
"Emm, maksud aku mamahnya Raffa, Mamah Aisyah ada di sini" sahut Alena sedikit malu-malu.
"Kamu serius Alena!? jadi Bunda Raffa nyusul kesini?" Ryo nampak was-was.
"Iya Ryo, Mamah Aisyah sempet syok ampe gak mau makan.Sekarang sih semua sudah lebih baik karena Raffa sudah di temukan" ucap Alena yang tiba-tiba meneteskan air matanya.
__ADS_1
Sontak saja semuanya terkejut dengan perkataan juga sikap Alena yang nampak begitu sedih.
"Apaa! Jadi Raffa sudah di temukan!?" ucap mereka kompak.
"Iya, seseorang berusaha mencelakakannya namun ia selamat.Tapi kondisi Raffa ... Raffa Lun, Raffa tak sama lagi seperti dulu" ucap Alena dengan tangisnya yang mulai pecah.
Jelas saja Luna lalu memeluknya seraya berusaha menenangkannya.Sementara yang lain saling pandang dengan perasaan cemas.
"Ryo, Raffa sebenernya kenapa?" bisik Ryan.
Sementara Yogi saling sikut dengan Arif memberi kode, sama-sama tak mengerti.
"Euh ogeb, gue juga gak tau, tunggu Alena tenang dulu" balas Ryo seraya berbisik.
Saat mereka terlarut dalam suasana pilu tiba-tiba mereka kedatangan dua orang yang cukup mereka kenal.
"Sorry ganggu guys, ada sesuatu yang perlu gue omongin" ucap Armand yang di temani Evran.
Alena yang tengah menangis sontak terhenti lalu berusaha menghapus air matanya.
"Guys gue ke sini cuma mau nyerahin ini semua" ucap Armand seraya menyodorkan sebuah amplop juga piala.
"Iya, kita semua memutuskan, semua hadiah kemarin kita mau berikan buat si Al" Evran menimpali.
Alena makin merasa tersentuh saat melihat piala besar bertuliskan Juara 1 bola basket.
"Ternyata kamu memenangkan turnamen basket itu ya Al" guman Alena merasa haru.
"Tadinya kita mau langsung nyerahin sama si Al tapi denger gosip dia ilang jadi kita percayakan sama kalian" ucap Armand terlihat emosional.
"Hemmh, lo semua yakin mau melakukan ini?" tanya Ryo memastikan.
"Iya kita semua yakin, semua ini juga berkat dia.Buat kita momen bersama menjadi juara saja sudah lebih dari cukup" sahut Evran mewakili yang lain.
"Ok kalo ini sudah jadi keputusan kalian, gue mewakili si Al menerima semua ini.Thank ya" ucap Ryo begitu terharu.
"Ok sama-sama, itu saja yang mau kita bicarakan.Semoga saja secepatnya ada kabar baik" ucap Armand lalu berpamitan di ikuti Evran.
Sepeninggal Armand juga Evran suasana kembali hening sejenak, hingga akhirnya Ryo kembali buka suara,
"Alena sebenarnya apa yang terjadi dengan si Al? maaf kita semua mau tahu kalau memang dia sudah di temukan"
"Kalo benar begitu bisakah kita semua menemuinya?" tanya Ryo penuh harap.
"Bisa kok, dengan adanya kalian semoga membuatnya lebih kuat" balas Alena.
"Ya sudah kita berangkat sekarang saja kalau begitu" ucap Ryo yang juga di setujui oleh yang lain.
"Apa gak sebaiknya kita sekalian nengok Aurel? bagaimana pun ia pasti menunggu kabar ini juga" ucap Luna.
Setelah semua sepakat akhirnya mereka berangkat menuju rumah sakit dimana Aurel di rawat.
"Hai Aurel gimana kabar lo? gue sama yang lain juga datang buat jenguk lo" ucap Luna.
"Eh lo Lun, makasih ya.Gue udah lebih baik.Hanya saja aku khawatir soal Raffa" balas Aurel terlihat sendu.
"Kita semua juga khawatir.Alena bilang ada yang mau mencelakainya, namun berita baiknya Raffa sudah di temukan"
"Alena!? sekarang dia dimana? gue mau bicara dengannya" pinta Aurel.
Tak lama Alena pun masuk setelah Luna memintanya.Begitu canggung rasanya saat ia dan Aurel bertemu secara langsung.
"Alena apa benar kamu tahu dimana Raffa? bagaimana keadaannya?" tanya Aurel menekan rasa segannya.
"Emm, iya aku tahu kok, keadaannya baik, setelah dari sini rencananya kita mau kesana" balas Alena sedikit kikuk.
"Kamu serius!? kalo begitu aku ikut, aku mau melihat keadaannya" pinta Aurel seraya meraih tangan Alena.
"Ta, tapi kamu kan lagi sakit!?" balas Alena tak enak hati.
"Iya Rel lebih baik kamu istirahat, apa jadinya kalau orang tuamu tahu kamu pergi" ucap Luna mengingatkan.
"Gak apa-apa nanti aku bilang sama mami, lagian dokter sudah membolehkanku pulang"
"Kamu yakin? kamu masih pucat gini loh Aurel?" ucap Alena merasa khawatir.
"Aku yakin, ini semua tidak sebanding dengan apa yang Raffa alami" ucap Aurel lalu nampak bersiap-siap.
Tanpa bisa menolak mereka pun keluar ruangan.Membuat yang lain cukup terkejut.
__ADS_1
"Loh Kakak mau kemana? bukankah seharusnya istirahat" ucap Cella was-was.
"Sudah jangan banyak tanya, Kakak mau pergi dulu kamu tunggu di sini" balas Aurel.
"Cella juga ikut kalo gitu, biar gak di marahin mami karena gak jagain Kakak"
Setelah perdebatan kecil mereka pergi dengan tergesa-gesa.tak berapa lama mereka sampai di tempat tujuan.
Dengan perasaan berdebar-debar mereka begitu tak sabar untuk menemui Raffa.
"Ini benar kamarnya Alena?" tanya Aurel tak sabar.
"Iya ini kamarnya tapi sebelumnya aku cuma mau bilang satu hal.Semoga kamu bisa menerima dia yang sekarang" balas Alena.
Entah mengapa perkataan Alena makin membuat semua orang berdebar-debar.Sudah beberapa kali ia berkata seperti itu.
"Hallo Lead, beberapa teman menemaninya, perlu saya tahan?" ucap Violet yang selalu berada tak jauh dari sana.
"Tak masalah Vi, beri mereka jalan" balas Rama.
"Ok Lead" ucap Violet lalu menutup panggilannya.
Sementara itu Raffa yang tengah duduk menyandar sedikit terkejut saat melihat beberapa orang masuk.
"Raffa, Raffa" ucap Aurel begitu tak sabar.
"Aurel!?" guman Raffa dengan perasaan yang tak menentu.
"Raffa! aku senang kamu tak apa-apa, aku khawatir banget" ucap Aurel dengan terus memeluk Raffa.
"Aurel! kamu sendiri apa kabarnya? Maafkan aku, karena aku kamu sampai terluka" ucap Raffa seraya mengusap rambut Aurel.
Melihat keduanya Luna, Alena juga Vina yang mengerti lalu sengaja memberikan ruang buat mereka berdua.
"Ini bukan salahmu, aku cuma gak mau kamu terluka" ucap Aurel seraya menangkup wajah Raffa dengan kedua tangannya.
"Tapi jangan lakukan hal berbahaya seperti itu lagi ya, aku tak ingin sesuatu terjadi padamu" balas Raffa tersenyum seraya menatap dalam mata Aurel.
Hati Aurel begitu hangat melihat tatapan Raffa yang penuh perasaan.Membuatnya tak ingin lagi berjauhan dengannya.
"Raffa" ucap Aurel lalu kembali memeluknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Namun tiba-tiba Aurel melepas pelukannya saat tak sengaja memegang lengan baju Raffa yang terasa kosong.
"Raffa! kamu! ini, ini kenapa!" Aurel begitu tersentak melihat lengan baju Raffa yang kosong.
"Ini ... " namun Raffa tak tahu harus seperti apa menjelaskannya.Ia hanya bisa memalingkan wajahnya.
"Ya ampun gak mungkin! gak mungkin ini terjadi sama kamu Raffa.Ini gak benerankan!? tidaakkk! tidaaakkk mungkin!" jerit Aurel lalu menangis pilu dalam pangkuan Raffa.
"Aurel!" kejut semua orang di luar ruangan lalu menghambur masuk.
"Aurel kamu kenapa!?" tanya Luna begitu was-was.Begitupun yang lain mencoba memahami.
"Tangan kamu kenapa! gak mungkin, ini gak mungkin terjadi, ini gak boleh terjadi! Raffa" Aurel kembali menangis tersedu-sedu.
Mendengar racauan Aurel sontak semua orang menatap Raffa yang terus memalingkan wajahnya dengan air mata yang menetes.
Luna, Cella juga Alena lalu memeluk Aurel yang juga bisa merasakan kesedihan itu.
Ryan, Arif, Yogi dan Vina keluar ruangan seraya mencoba menenangkan diri juga mengatur nafas mereka.
Ryo sendiri membanting tubuhnya ke tempat duduk dengan tatapan lurus serta kosong seraya mencengkram piala yang Armand titipkan.
"Ini mimpi, ini cuma mimpi, benarkan?" guman Ryo.
Sementara di luar tanpa mereka sadari Violet kembali menghubungi Rama.
"Lead semua temannya sudah melihat anak elang" ucap Violet.
"Bagaimana reaksinya?" tanya Rama memastikan.
"Mereka nampak terkejut juga tak bisa menerimanya" balas Violet seraya tersenyum.
"Sepertinya semua sesuai rencana.Ok Vi setelah mereka pulang, bawa anak elang ke sarang" ucap Rama.
"Laksanakan Lead" balas Vio
[[ Bersambung ]]
__ADS_1