
Malam yang terasa telah lama tidak Raffa rasakan.Merasakan suasana kedai kopinya sedikit membuatnya tenang.
"Kenapa Boss kayanya kusut banget" tanya Ferdy saat melihatnya terus termenung.
"Eh Bro, gak apa-apa, gue sedikit kecapean aja nih" sahut Raffa terlihat lesu.
"Tunggu sebentar, gue ada kejutan buat lo Boss"
Tak berapa lama Ferdy kembali seraya menyajikan secangkir kopi plus beberapa donat.
"Nih Boss kejutannya spesial buat lo"
"Loh Bro, sejak kapan lo beli donat? cepet amat datangnya?" ucap Raffa begitu berselera melihat donat dengan berbagai rasa.
"Di situ letak kejutannya, tuh lihat deket kasir ada yang aneh gak" ucap Ferdy terkekeh.
"Wihh sejak kapan Bro di kedai ada donat? gile, beberapa hari lo urus ni tempat makin ok aja.Thank ya" ucap Raffa terlihat senang.
"Sama-sama Boss, sebenernya ide ini sudah lama muncul, kayanya asik aja kalo ngopi ada temennya.Ini juga gue masih pengen nambah beberapa cake.Cuma gak enak kalo gue mutusin sendiri" sahut Ferdy bersemangat.
"Gue percaya sama ide lo Bro, gue beruntung ada lo yang urus tempat ini"
"Itu salah Boss, gue yang beruntung punya Boss kaya lo.Boss, kok jadi melow gini ya?"
"Gak tau juga, jadi emosional gini"
"Jadi pengen nangis Boss, boleh pinjem bahunya gak Boss buat sandaran"
"Boleh, itu lebar tuh Bro, bahu jalan"
"Haha sialan si Boss bisa ae, masa gue di suruh nangis di pinggir jalan.Di kira orang gue orang gila dong"
"Eh Bro, ngomong-ngomong Siska kenapa? biasanya rame, tumben diem"
"Tanya sendiri deh, gak enak kalo gue yang ngomong Boss"
"Ya sudah gue tanya langsung, takutnya dia ada masalah"
Raffa pun segera beranjak mendekati Siska yang tengah duduk tak bersemangat.
"Hai Sis, apa kabar? diem diem bae, ngopi ngapa ngopi hehe basi yah" ucap Raffa tertawa garing.
"Eh, kabar baik.Kenapa Boss?" sahut Siska sedikit malu.
"Kenapa gak bersemangat gitu? apa kamu sakit?" tanya Raffa lalu menempelkan tangannya di dahi Siska seraya menatapnya lebih dekat.
Terang saja mendapat perlakuan itu wajahnya memanas dan nampak merah semerah tomat.
"Eng, enggak kok bos saya gak sakit" sahut Siska gelagapan, tangan terus memegang kursinya begitu erat menahan degupan jantungnya.
"Bro, kira-kira lo ada teman lagi gak yang mau bantu kita.Kita harus pikirin juga kalo ada yang sakit kaya gini gak mungkin ke pegang kalo sendirian.Udah pas kayanya nambah orang"
"Hehe si Boss gimana sih gak bisa bedaain mana sakit beneran ama kasmaran" guman Ferdy cengengesan sendiri.
"Euhh, malah gila sendiri dia.Denger gue gak sih lo, pokoknya usahain aja ya" ucap Raffa sedikit kesal.
"Siap Boss, nanti gue kabarin kalo sudah fix, soalnya kalo calon sih banyaklah" sahut Ferdy pede.
Sementara Siska terlihat kembali terdiam,
"Sepertinya gue memang gak pernah di anggap lebih dari teman.Gue memang terlalu berharap" guman Siska dalam hatinya pasrah.
"Ya udah, kamu istirahat aja kalo kurang enak badan biar aku yang bantu Ferdy" ucap Raffa.
Tanpa di duga seseorang yang yang begitu Raffa kenal datang mengejutkannya.
__ADS_1
"Hai Al, apa aku ganggu?" ucap Aurel sedikit kikuk.
"Non!? sama siapa kesini? sendirian?" tanya Raffa berusaha bersikap senormal mungkin.
"Iya sendirian, eh ada waktu gak? ada yang mau aku obrolin sama kamu" ucap Aurel terlihat memohon.
"Ya sudah duduk dulu, sekalian aku siapkan minumnya ya" ucap Raffa masih tak percaya Aurel datang.
Setelah semuanya siap, Raffa pun kembali ke meja tempat Aurel berada,
"Silakan Non di cicipi" ucap Raffa
"Makasih ya Al" balas Aurel.
"Eh iya, sebenarnya apa yang mau Non bicarakan?" ucap Raffa mulai khawatir.
"Emmh, sebelumnya maaf kalo aku tanpa sengaja mendengar pembicaraan kamu waktu itu.Aku mau mastiin sesuatu, maksudnya karena aku gak mau kembali salah paham" sahut Aurel dengan menatap Raffa begitu lekat.
Raffa terhenyak saat merasa tahu arah pembicaraan Aurel.Perasaan khawatirnya sontak semakin bertambah,
"Hal apa yang mau Non pastikan?" tanya Raffa berusaha siap dengan apapun itu.
"Maaf Al, bisa kamu ceritakan soal ini?" ucap Aurel lalu menyerahkan ponselnya.
Ya, tentu saja potongan video yang Raffa pernah lihat sebelumnya.Satu pertanyaan Raffa mungkin akan terjawab malam ini.
"Sebelumnya aku ingin tanya satu hal, dari mana Non dapat video ini?" tanya Raffa begitu penasaran.
"Video ini aku dapat dari Leon Al" sahut Aurel seraya menyandarkan tubuhnya merasa menyesal.
"Appaaa!? Leon!" Seru Raffa begitu tak percaya.
"Sialan ternyata Leon biang keladinya, mau lo sebenernya apa sih" Guman Raffa berusaha menahan emosinya.
"Iya Al Leon, maaf ya seharusnya aku tak mudah terhasud oleh orang itu" Aurel begitu merasa bersalah.
"A apa! ada di sana!? maksudnya Al?" Aurel semakin bertanya-tanya.
"Iya, jadi sebenarnya ini acara makan malam antara keluarga Alena juga Leon" Ucap Raffa masih menahan diri.
"Kalo seperti itu, terus mengapa kamu bisa terlibat?" Aurel merasa janggal.
"Aduh gimana gue ngejelasinnya ya," Guman Raffa makin gelisah.
"Al, kamu gak apa-apa? apa aku ini gak pantas ya dapat kepercayaan dari kamu" ucap Aurel seraya menundukan kepalanya.
"Eh bukan begitu, hanya saja ... Non bisa jaga pembicaraan ini kan?" Raffa ingin meyakinkan dirinya.
Setelah melihat Aurel mengangguk Raffa pun kembali melanjutkan penjelasannya,
"Jadi ini acara rencana perjodohan Alena dan Leon, tapi ada kemungkinan batal kalo Alena punya pasangan" ucap Raffa dengan perasaan berat hati.
"Apaa perjodohan! jangan bilang ini yang membuat kamu berpura-pura?" Aurel tiba-tiba terlihat seperti menekan perasaannya.
Raffa hanya sanggup menggangguk seraya menghela nafas panjang.Entahlah ia masih merasa tak etis membicarakan Alena pada Aurel.
"Makasih ya kamu sudah mau terbuka, aku sungguh malu pada diriku sendiri.Makin kamu cerita makin aku merasa berdosa" ucap Aurel seraya menangkup wajahnya begitu sendu.
"Tak perlu terlalu keras pada dirimu sendiri Non.Aku sendiri sudah menganggap semua itu tak pernah terjadi" balas Raffa lalu tersenyum dengan tulus.
Aurel lalu nampak tersenyum pahit seraya berkata,
"Andai waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya kita berkenalan dengan cara yang lebih baik"
"Seperti ini ya Non.Hai namaku Raffa Alfajrian boleh berkenalan denganmu Nona?" ucap Raffa seraya mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Aurel nampak sedikit terkejut melihat ulah pemuda di sebelahnya ini.Namun dengan segera ia menerima uluran tangannya.
"Hai Raffa namaku Aurel Anastacya, senang bertemu denganmu.Panggil Aurel saja jangan Nona" balas Aurel terlihat bahagia.
Raffa nampak berpikir, ucapan Aurel cukup menyentilnya.
"Emhh aku panggil kamu Naurel aja, gak keberatankan?" ucap Raffa tak mau kalah.
"Naurel? nama yang cukup bagus tapi kenapa nama itu?" sahut Aurel sedikit mengerenyitkan keningnya.
"Naurel itu ya Nona Aurel hehe" ucap Raffa seraya terkekeh.
"Ish tetep ya gak mau ilang" sahut Aurel merasa gemes lalu menyikut pelan Raffa
"Klasik banget ya caraku" ucap Raffa cengengesan merasa geli dengan drama berkenalan itu.
"Hihi tapi masih ok sih kalo buat artis gak lolos casting" goda Aurel.
Mereka lalu nampak tertawa bersama seakan beban yang mereka punya hilang walau tuk sesaat.
Aurel tiba-tiba menyandar di bahu Raffa seraya menarik nafas dalam-dalam,
"Aku sungguh merasa lega bisa berbaikan dengan kamu, Luna juga yang lain" ucap Aurel terlihat tenang.
"Syukurlah aku turut senang, aku berharap kita semua akan selalu baik-baik saja" balas Raffa seraya menyendok potongan kecil donat.
"Biar makin semangat, cobain donatnya dikit nih.Gak bakal bikin gemuk kok"
Aurel pun segera membenarkan posisi duduknya lalu memakan suapan donat itu,
Tanpa mereka sadar seseorang memperhatikan mereka dengan tatapan penuh kecewa,
"Bruukk" kantong bawaannya pun terjatuh.
Raffa maupun Aurel seketika menoleh.Rasa khawatiran Raffa pun memuncak saat sadar siapa yang datang.
Seorang gadis cantik terdiam mematung menatap mereka bergantian.Tak lama ia segera membalikan badannya dan berlari keluar.
"Alena!" Raffa coba memanggilnya.
Namun gadis itu tak jua berhenti, membuat Raffa mempercepat larinya,
"Alena tunggu"
Raffa pun berhasil menghentikan Alena tepat di depan mobilnya,
"Kamu mau kemana Lena? kenapa terburu-buru begitu" ucap Raffa begitu tak enak hati.
"Aku mau pulang, lagian ini sudah malam" sahutnya tanpa menatap Raffa.
"Kamu gak mau masuk dulu? sekalian Aku kenalin sama seseorang" ucap Raffa berusaha membujuk.
"Tidak usah, lain kali saja" sahut Alena dingin.
"Tolong jangan marah begitu Alena, kita ke dalam dulu" Raffa kembali membujuk seraya meraih lengan gadis itu.
"Aku tak punya hak untuk marah, kamu kembalilah, aku pamit pulang" ucap Alena yang dengan segera masuk ke mobilnya lalu meninggalkan Raffa.
"Ya Allah semoga Alena baik-baik aja dan gak lama marahnya" guman Raffa kembali terlihat gelisah.
"Kenapa gak kamu tahan Al?" ucap Aurel yang membuat Raffa terkaget.
"Eh, udah aku coba tadi cuma kayanya Alena buru-buru" sahut Raffa pasrah.
"Gak nyangka rencana gue malah kejadian malam ini.Padahal lo udah bukan target gue lagi.Target baru gue orang brengsek penipu itu" guman Aurel dalam hati seraya tersenyum menyeringai.
__ADS_1
[ Bersambung ]