Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
40.Keputusan Berbeda


__ADS_3

Di pagi yang cerah secerah hatinya Alena dengan begitu semangat menuju Kampus UIJ.Ditempat mereka biasa kumpul Nampak Ryo dan yang lain tengah serius berbicang.


"Gimana nih sekarang,kira-kira apa langkah kita selanjutnya?" ucap Arif nampak berpikir.


"Sumpah gue gak mau lagi urusan sama ni anak" ucap Ryo seraya menunjuk Arif.


"Haha, emang kenapa Yo?" Ryan pun tertawa puas.


"Bener bener gak guna,kemaren aja gua bertaruh nyawa dia ngumpet doang, dah gitu bawelnya nanya mulu, otak ngehang" dengus Ryo kesal.


"Ya sorry, manager lebih banyak atur strategi dari pinggir lapang kan?" Arif berusaha ngeles.


"Ahh setan lo, kemaren gue ngomong begitu lo puyeng.


Sekarang apa,sekarang gimana,Terus ngapain sekarang,najis" Ryo kesal terus menggerutu meledek Arif.


"Ahh lo mah dendaman Yo, terus misi kita sekarang gimana?" Ucap Arif.


"Stop stop stop, berenti lo bilang sekarang gimana.Kenyang gue denger dari bacot lo.Nah lo aja Yan" dengus Ryo kesalnya sudah ke ubun-ubun.


"Haha mesti gue emang? ok biar gak makin panas.Jadi sekarang gimana?" ucap Ryan serius.


"Bodo amat! gak si Arif gak lo sama aja, isi kepala lo otak kan bukan cilok.Gak guna emang lo pada" seru Ryo seraya buang muka.


"Dasar anak tuyul brengsek" Ucap Ryan seraya menendang kursi Ryo hingga goyang.


"Nih makan sama lo, nih makan sama lo" Arif begitu kesal seraya melempar kedua sepatunya.


Ryo sendiri tertawa begitu puasnya.Tiba-tiba Yogi menghentikan kehebohan itu,


"Guys please, what's our next move?" ucap Yogi cari aman walau belepetan.


Sontak ucapan Yogi membuat mereka terbengong lalu saling pandang.


"Keraksukan setan mana ni anak?" ucap Ryan heran.


"Udah serius deh ah, nasib si Al pada di becandain bener-bener gak beretika lo semua" sahut Yogi kesal.


"Hehe encer juga otak lo walau mirip tanggal 29 februari" ucap Ryo.


"Jirr pinternya 4tahun sekali dong haha" ucap Ryan cekakakan.


"Aduhh ya Allah mengapa kau timpakan kemalangan ini sama hambamu.Hingga hambamu ini harus bersama orang orang sesat ini" Yogi mengangkat kedua tangannya layaknya berdo'a.


Sontak Yogi pun di siksa oleh ke tiga temannya itu.


Tak lama Alena di temani Luna datang dan bergabung dengan mereka.


"Pagi semua" Ucap Alena juga Luna yang lalu di balas mereka bertiga.


"Hmm pada happy banget nih kelihatannya? baru dapat undian ya?" tanya Ryo melihat Alena dan Luna yang nampak berseri-seri.


"Pasti dong, gimana misi kalian?" tanya Alena tak ingin membuang waktu.


"Kita gak berhasil dapat info yang valid, gak ada yang jelas berhubungan sama si Ririn.Cuma omongan dia yang bener-bener pengen banget nyingkirin si Al" sahut Ryo.


"Ok gak masalah, karena gue sama Luna berhasil mendapatkannya" keduanya pun saling menggengam tangan lalu tersenyum bahagia.


"Serius Len? sayank ini beneran?" tanya Ryo seraya menatap keduanya.


Tak lama Luna pun menyalakan potongan rekaman suara Ririn.Dimana Ririn mengakui semuanya, dia melakukannya karena di iming-imingi uang yang cukup banyak.

__ADS_1


"Dan lagi si Ririn sudah setuju untuk menjelaskannya ke pihak kampus" ucap Alena semangat.


"Hanya saja ada satu hal penting yang belum bisa terungkap" lanjut Alena tiba-tiba terlihat kecewa.


"Hal penting apa Len? bukannya lo udah berhasil?" tanya Ryo was-was.


"Ririn gak bisa nunjukin otak di balik rencana itu, dia cuma bilang di suruh seseorang dengan nama Mr.Venom" ucap Alena dengan serius.


"Mr.Venom? terus cara dia terlibat dengan orang itu gimana? aneh kok gak bisa tau orangnya" Arif mulai sok detektif


"Mulai nih detektif kocak.Len Armand bilang kemarin Ririn bukannya sering ketemu Leon?"


ucap Ryo menyelidik.


"Ya memang benar, tapi Ririn bilang itu karena dia sedang berusaha meminjam uang.Sedangkan untuk Raffa, Ririn mendapat intruksi langsung via telepon" jelas Alena.


"Gila, bisa kepikiran ampe segitunya tuh orang" ucap Ryan tak percaya.


"Sialan tuh orang pro juga, Eh tunggu sepertinya gue inget sesuatu" Lalu Ryo mendengarkan hasil rekamannya di kafe.


"Nah gue curiga ini bisa jadi petunjuk, Leon pun mengatakan kata yang sama 'i'm venom' soalnya cuma ni orang yang nafsu banget sama si Al"


Semua orang lalu nampak berpikir, hingga akhirnya Alena kembali berucap,


"Guys untuk saat ini lupakan dulu soal siapa itu Mr.Venom, fokus kita sekarang melaporkan semua ini ke pihak kampus.Lebih cepat lebih baik"


Tak berlama-lama mereka langsung menuju ruang Dekan untuk memulai tahapan misi selanjutnya.


Suasana cukup menegangkan terjadi, terlebih Ririn yang nampak sudah menjelaskan semua duduk perkaranya.


"Ririn bisa-bisanya kamu melakukan semua ini,kamu tahu, hampir saja kita pihak kampus mengeluarkan keputusan yang salah!" Seru Pak Dekan terlihat begitu serius.


"Iya maaf Pak, seharusnya saya tidak terlalu cepat menyimpulkan" ucap Ririn nampak gemetaran.


"Nah, kamu tahu tuduhan kamu itu cukup serius, selain sanksi DO masalah ini bisa sampai ranah hukum.Sanksi ini bisa berlaku untuk kamu sekarang,beruntungnya pihak terduga tidak mau memperpanjang masalah ini" ucap Pak Dekan menekankan.


"Saya mohon maafkan saya Pak, Bu" ucap Ririn memohon begitu ketakutan.


"Kamu seharusnya berterima kasih pada pihak yang di rugikan, mereka meminta di selesaikan dengan jalan damai" Ucap Pak Dekan kembali.


"Baik Saya kira semuanya sudah jelas,untuk Ririn selebihnya saya serahkan pada Anda Bu Arti sebagai Dosennya.Untuk


Raffa pihak kampus akan segera mengeluarkan surat keputusan untuknya agar bisa kembali beraktifitas di kampus ini" tutup Pak Dekan.


Akhirnya semua permasalahan itu pun terselesaikan dengan baik.Semuanya sesuai dengan keinginan Alena yang tidak mau ada yang di rugikan.


Sementara itu di kota kecil jauh dari hingar bingar Ibu Kota. Selesai memasak sepulang mengajar, Ibu Aisyah pun mengajak Raffa untuk makan siang bersama.


"Gimana Nak, sudah merasa tenang hari ini" tanya Ibu penuh harap.


"Sedikit Bu, Al masih merasa berdosa sama Ibu" sahut Raffa.


"Ibu gak akan paksa kamu kalo belum siap cerita, Ibu ngerti kalau kamu masih butuh waktu" ucap Ibu penuh pengertian.


"Insyaallah Al siap cerita, tapi Al mohon Ibu ampuni Al nantinya ya" balas Raffa berharap.


Selesai makan mereka pun duduk bersama di ruang keluarga.Didepan ibunya pemuda ini terlihat begitu manja.


"Bu apakah Ibu akan membenci Al jika Al gagal menjadi seperti yang Ibu harapkan" ucap Raffa lirih.


"Tentu tidak sayang, kamu tetap jadi anak kebanggaan Ibu. Kenapa kamu berkata seperti itu?" balas Ibu seraya mengusap lembut rambut Raffa.

__ADS_1


"Bu, Al di skors dari kampus" dengan suara yang terasa berat Raffa mencoba menjelaskan secara perlahan.


"Di skors? kok bisa?" sahut Ibu mulai was-was.


"Ibu janji jangan sampai benci sama Al ya Bu" pinta Raffa dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Iya Nak Ibu janji, sebenarnya ada apa?" balas ibu seraya memegang kedua bahu Raffa dengan perasaan semakin gelisah.


"Maafkan Al Bu, Al di tuduh ... Al memang terlalu bodoh" Raffa sangat tidak sanggup melihat reaksi Ibunda tercintanya.


"Di tuduh apa?" sahut Ibu semakin khawatir sesuatu terjadi pada anaknya.


"Maaf Bu Al benar-benar bodoh, sampai Al di tuduh ... di tuduh melecehkan Mahasiswi di kampus Bu," dengan begitu berat Raffa akhirnya mampu mengatakannya.


"Apa melecehkan!" seru Ibu yang tiba-tiba tubuhnya terhempas ke sandaran sofa.


"Ibu!" Raffa yang panik segera menahan tubuh Ibunya dan menyandarkan pada bahunya.


"Bu, Ibu bangun, Ibu gak apa kan Bu? Ibu?" Raffa yang panik lalu mencoba menyadarkan dengan menepuk pelan wajahnya.


"Emmmmhhh" terdengar Ibu mengerang pelan.


"Ibu, Ibu gak apa-apakan? Al mohon Ibu jangan sampai kenapa-napa" ucap Raffa penuh harap.


"Ibu baik baik saja Nak, Ibu hanya syok mendengarnya" sahut Ibu seraya memijat lembut kepalanya sendiri.


"Al minta maaf, pulang malah membawa berita buruk buat Ibu, Al memang anak tidak berguna" ucap Raffa penuh penyesalan.


Setelah beberapa saat mencoba memulihkan kesadarannya, Ibu kembali membenarkan posisi duduknya lalu berkata,


"Kenapa bisa seperti itu sih Nak? Ibu selalu mengajarkan kamu sopan santun, apa kamu sudah tidak menghargai Ibumu lagi"


"Tidak seperti itu Bu, Al selalu ingat semua yang Ibu ajarkan"


"Lalu kenapa ini bisa terjadi? tolong jelaskan pada Ibu"


Raffa pun lalu menceritakan semuanya tanpa mengurangi juga melebihkannya.


"Jawab Ibu Nak, apa benar seperti itu?" tanya ibu seraya menatap langsung bola mata Raffa.


"Iya Bu seperti itulah kejadiannya" sahut Raffa tanpa sedikitpun menghindari tatapan Ibunya.


Ibu Aisyah nampak menarik nafas lega.


"Apa perlu Ibu datang ke kampusmu, untuk meluruskan masalah ini?" Ucap ibu dengan begitu serius.


"Tak perlu Bu, Al akan melanjutkan pendidikan Al di sini saja biar dekat dengan Ibu" balas Raffa seraya tersenyum.


"Kamu sungguh-sungguh dengan keputusan kamu itu? jangan terlalu cepat mengambil keputusan Nak" ucap Ibu mencoba menasihati.


"Al cuma gak mau buat Ibu kembali kecewa seperti ini" sahut Raffa yang begitu tak ingin Ibunya terluka.


"Semuanya terserah padamu saja Nak, Ibu hanya mendo'akan yang terbaik untukmu" ucap ibu seraya memeluk putra kesayangannya itu.


Raffa pun membalas pelukan Sang Ibu dengan perasaan campur aduk dan tak dapat di artikan......


[ Bersambung ]


Apakah Raffa sungguh-sungguh dengan keputusannya?


Apa reaksi teman-temannya nanti?

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya 🤭👍


__ADS_2