
Baru sehari Raffa tidak masuk kuliah sudah banyak yang merasa kehilangan.Tanpa ada Raffa membuat ruang kosong buat teman temannya.
Entah mengapa Aurel pun merasakan kekosongan itu di hatinya.Terlebih Luna yang menjauh darinya.
Sementara Ryo dan temannya yang lain tengah berkumpul di koridor dengan suasana muram.
"Gue kenal banget si Al orangnya kaya gimana, gak pernah sekalipun dia kurang ajar" dengus Ryo yang terlihat kesal.
"Iya Yo gue juga gak percaya, si Al di deketin cewek aja es batu gitu" sahut Ryan geleng geleng.
"Menurut kalian semua ini aneh gak sih? terlalu tiba-tiba kalo buat gue" ucap Arif terlihat berpikir bagai detektif.
"Maksud lo apa sih Rif, kebanyakan nonton film detektif lo, pake sok serius segala" balas Ryo.
"Sue lo dengerin dulu dodol, gue tanya sama lo semua, sebutkan satu aja kelakuan jelek si Al yang pernah lo lihat.Nih duit 100ribu buat yang bisa jawab" ucap Arif tersenyum menantang.
"Milik gue ini sih," ucap Ryan seraya merebut uang tersebut lalu kembali berkata,
"Dia pernah ngupil pas jam kuliah."
Sontak Ryan di serbu teman-temannya dengan berbagai serangan.
"Hihi pengalaman sendiri di bawa bawa" sahut Vina cekikikan.
"Gue tau, duit datang pada papah hehe.Nih denger si Al pernah liat film bokip kiriman gue hehe" seru Yogi merasa menang.
Bukannya menang, Yogi malah dapat pitingan dari Ryo belum lagi serangan teman lainnya.
"Heh curut tapi setelah ngirim, lo ya Malih sama si Al habis di jewer, terus di suruh baca 10 surat pendek keras keras" ucap Ryo geregetan.
"Ya setidaknya kan ceklis biru dua, tandanya dia liat kali"
"Bodo amat!" kompak Ryo, Arif juga Ryan.
Sementara Luna dan Vina hanya tertawa melihat tingkah mereka.
Arif kembali melanjutkan omongannya,
"Intinya guys, gak mungkin dia berani berbuat dosa besar, dosa kecil aja dia takut.Feeling gue ya ini semua konspirasi" ucap Arif seraya mengangguk angguk.
Sontak mereka semua terdiam entah mengapa omongan ngaco itu terasa ada benarnya.
Dari tempat lain Aurel terus menatap keakraban mereka.Ada rasa iri di hatinya namun besarnya gengsi membuatnya bersikukuh pada pendiriannya.
Tiba tiba suasana kampus berubah riuh dengan kedatangan beberapa orang berpakaian layaknya orang penting dan Alena ada bersama mereka.
"Woy guys guys, itu bukan cewek yang sama si Al kemaren?" ucap Ryan heboh.
"Sama siapa itu kaya pejabat atau orang penting" balas Arif.
"Kalian tunggu di sini gue kesana dulu" Ryo dengan segera mengejar Alena.
"Alena maaf ganggu"
"Eh Ryo" sahut Alena.
"Ini ada apa Len?" tanya Ryo.
Belum sempat Alena menjawab seseorang memberinya isyarat,
"Ehem ehem" Tn Harry memberikan isyarat.
"Eh maaf Ryo saya buru-buru, tunggu di kantin ya, ada yang harus aku ceritain sama kalian"
"Oh ok Len" sahut Ryo mengerti.
"Mari Pah" ucap Alena.
Rombongan Tn Harry pun kembali berjalan yang nampaknya menuju ruang Dekan.
Sementara itu Ryo dan yang lain telah menunggu Alena di Kantin.Hingga akhirnya Alena pun tiba.
"Hai semua, maaf lama ya?" ucap Alena tak enak lalu menyalami semuanya.
Luna yang antusias terang aja memeluknya.Pembicaraan sebelumnya membuat mereka kembali berbaikan.
__ADS_1
"Alena sebenarnya apa yang mau kamu ceritakan? lalu tadi kamu sama siapa?" tanya Ryo tidak sabar.
"Jadi gini, tadi itu papah aku sama pengacara, takutnya ada tuntutan hukum pada Raffa"
Mendengar itu semuanya begitu berterimakasih pada Alena.Kemudian Alena melanjutkan kembali,
"Berita baiknya Raffa tidak akan di DO, hanya saja untuk menjaga citra kampus, sesuai ketentuan, sanksi tetap harus di berikan, sambil menunggu penyelidikan dari pihak kampus saat ini Raffa di skors 1bulan, kecuali tidak terbukti bersalah maka semuanya dapat dibatalkan"
Semua orang nampak berpikir keras bagaimana caranya membantu Raffa.
Sementara Alena kembali teringat Raffa
[ Flashback ]
Sore setelah kejadian, Alena yang baru tiba langsung Raffa bawa ke suatu tempat.Bukan tempat yang indah hanyalah sebuah parkiran taman.
Raffa yang nampak begitu rapuh berkata dengan tatapan sayu ke arah depan,
"Alena aku minta maaf jika telah mengecewakanmu, aku memang terlalu bodoh, dengan mudahnya terjebak hal memalukan seperti ini" ucapnya lirih seraya menundukan kepala.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi Raffa?" sahut Alena yang tak kuasa melihat kepedihannya.
Setelah menghela nafas Raffa kembali berucap,
"Maafkan aku Alena, sepertinya aku tak bisa mendampingimu lagi, tolong titip ini untuk papahmu aku merasa tak berhak dan sampaikan maaf juga rasa terima kasihku padanya" ucap Raffa seraya menyerahkan satu mastercard platinum.
Alena terhenyak melihat Raffa bisa mendapatkan kartu itu dari papahnya.
"Aku akan pulang kampung Alena, jadi mobil ini kamu bawa saja ya."
Jantung Alena terasa copot mendengarnya.Entahlah baginya Raffa seperti sedang mengatakan kata putus padanya.
Tak terasa mata Alena mulai berkaca kaca melihat Raffa menitikan air mata dengan tangan yang terus meremas setir dengan kuat.
"Kamu bisa cerita semuanya sama aku, ingat kamu gak sendiri.Kamu tahu, selama ini aku kuat karena kamu" ucap Alena seraya menggengam erat tangannya.
Rasa hangat tangan Alena terasa hingga relung hatinya.Perlahan Raffa balas menggenggam tangannya.
"Alena apa kamu percaya padaku?" ucap Raffa menatap sayu pada Alena.
"Aku sangat percaya kamu Raffa" sahut Alena tersenyum tulus.
"Ya ampun kok bisa dia melakukan itu" Alena begitu terkejut mendengarnya.
Raffa yang kembali teringat, lalu memaki dirinya sendiri,
"Aku memang bodoh, bodoh, bodoh bodoh!" pekiknya seraya menjambak rambutnya sendiri.
"Sudah ya, kamu jangan menyiksa diri kamu sendiri, kamu yang kuat ya Raffa" Alena begitu tak sanggup melihatnya begitu terpuruk.
"Aku gak bisa Alena ,sungguh gak bisa" ucap Raffa seraya membenamkan wajahnya pada setir.
"Kenapa? apa yang membuatmu gak bisa?" sahut Alena seraya bergeser tuk mendekat.
"Pihak kampus ... meminta orang tua wali untuk datang.Ayahku tiada, sedangkan ibu, aku gak mungkin beritahu ibu, aku gak sanggup melihat ibu terluka. aku gak sanggup" Raffa pun nampak terisak, baginya menyakiti ibu sama saja akhir dari hidupnya.
"Raffa ... ada aku di sini, yang sabar ya" ucap Alena lalu menyandar pada bahu Raffa seraya mengusap lembut punggunya.
Setelah cukup lama membiarkan Raffa, Alena pun berbisik untuk menenangkan,
"Raffa aku janji akan membantumu keluar dari masalah ini, Aku, Papah, Mas Rama,aku janji besok semua akan baik-baik aja"
Mendengar itu Raffa mengangkat wajahnya lalu menatap Alena dalam dalam tanpa sanggup berkata kata.
"Aku janji Raffa semua akan baik baik saja" Alena tersenyum seraya mengusap sisa air mata Raffa.
Alena lalu meraih tangan Raffa seraya menyerahkan kembali mastercard platinum itu,
"Ini, kamu simpan baik-baik juga mobil ini, papah sudah percayakan sama kamu.Tidak mudah papah itu percaya sama orang.Simpan ya" ucap Alena.
Dengan sedikit ragu Raffa kembali menyimpannya,
"Terima kasih atas semuanya Alena"
"Sama-sama" sahut Alena lega melihatnya sedikit tenang.
__ADS_1
[ Flashback End ]
"Alena, Alena kamu nangis?" ucap Luna seraya merangkulnya.
"Eh maaf aku cuma teringat Raffa" sahut Alena seraya mengusap air matanya.
"Eh Alena apa si Al ada cerita sesuatu sama kamu?" tanya Ryo penuh harap.
"Oh iya maaf, sebenarnya Raffa sempet cerita kejadian yang sebenarnya sama aku" sahut Alena seraya menarik nafas.
"Apaaa! beneran!?" seru Ryo
Alena pun menganguk lalu menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat.
"Sialan, bener dugaan gue si Al gak mungkin ngelakuin hal itu" ucap Ryo seraya memukul meja.
"Nah, sekarang lo inget ucapan gue soal konspirasi tadi kan? dari cerita tadi keliatan banget" Arif menimpali.
Tiba-tiba suasana percakapan mereka menjadi begitu serius.
"Aku pun merasa janggal, sepertinya ini memang setingan" sahut Alena yang merasa aneh.
Tiba-tiba sseorang datang menghampiri mereka.
"Maaf kalian teman dekat Raffa kan?" tanyanya.
"Iya, lo bukannya tim basket kampus?" sahut Ryo.
"Iya nama gue Armand,gue cuma mau tanya dimana Raffa, ada sesuatu yang mau gue bicarakan" Ucapnya
"Al sepertinya pulang kampung setelah kejadian kemarin.Tapi kalo mau, lo bisa cerita sama gue" ucap Ryo.
Setelah berpikir sesaat Armand pun duduk lalu bergabung dengan Ryo.
"Sorry sebelumnya, sebenarnya ini hanya dugaan gue, cuma gue gak bisa mengabaikan apa yang gue lihat" ucap Armand.
"Maksud lo?" Ryo penasaran.
"Jadi gini, belakangan ini gue beberapa kali lihat Leon sama Ririn.Bahkan gue lihat Leon ngasih sesuatu sama dia"
"Tunggu tunggu, maksud lo ini semua ada kaitannya sama Leon?" balas Ryo
"Gue gak bisa pastikan itu. Ririn, cewek yang nuduh si Al itu mata duitan.Dia pasti mau melakukan apapun kalo ada duit.Sayang Leon tau kalo gue intai,jadi gue gak bisa lagi untuk nyari bukti" Ucap Armand sedikit kecewa.
"Jadi menurut dugaan lo cewek itu di bayar untuk menjebak si Al? gitu maksudnya?" sahut Ryo.
"Masuk akal kan? gue gak akan curiga seperti ini kalo ceweknya bukan si Ririn" selesai bicara Armand pun berdiri.
"Sorry gue gak bisa lama-lama takutnya Leon lihat gue disini.Satu lagi, bulan depan ada turnamen, gue harap si Al sudah balik sebelum itu di mulai" Armand pun berpamitan lalu meninggalkan mereka.
Perkataan Armand seakan menjadi titik terang bagi mereka.Untuk memulai mencari kebenaran.
"Menurut kalian gimana?" ucap Ryo.
"Ryo aku boleh pinjam Luna gak?" ucap Alena tersenyum penuh arti.
"Pinjam? kaya rental aja di pinjam" sahut Ryo terheran.
"Ish kamu ini, sepertinya aku dapat ide buat nyari bukti,cuma butuh bantuan Luna"
"Emang kamu mau ngapain sama Luna, jangan nekat deh"
"Ih pokoknya gini, aku sama Luna urus cewek itu, nah kalian cari cara gimana dapat info dari Leon.Kalian bisa?"
"Ok siapa takut, bener gak guys" ucap Ryo bersemangat
Akhirnya semua bersepakat untuk memulai misi rahasia ini.
Sementara Raffa sendiri terlihat tengah bersiap siap.
"Bro, gue titip tempat ini ya, gue serahkan semuanya sama lo selama gue gak ada.Gue percaya sama lo"
"Tapi Boss lo sebernanya mau kemana?" sahut Ferdy begitu khawatir.
"Gue mau pulang kampung, gak tau sampai kapan di sana.Pokoknya jaga tempat ini baik-baik ya, gue pamit Assalamualaikum" tanpa berlama-lama Raffa pun berangkat.
__ADS_1
Ferdy di temani Siska hanya bisa menatap kepergian Raffa tanpa bisa mencegahnya.
[ Bersambung ]