
Pagi hari di kediaman keluarga Adhitama suasana masih tetap sama.Rasa kecewa masih begitu nampak menghias wajah wajah yang tak rela.Namun begitu Bu Aisyah tetap bersiap untuk pergi.
"Bu? apa gak sebaiknya Raffa antar?" ucap Raffa khawatir.
"Sudah sayang gak apa-apa Ibu pulang sendiri lagian kamu harus kuliah, kemarin kamu sudah tak masuk bukan!?" balas Bu Aisyah lalu masuk kedalam mobil, "Ibu pulang ya sayang, jaga diri kamu dan usahakan jauhi masalah"
"Baik Bu , hati-hati di jalan" ucap Raffa seraya mencium tangan Ibunya.
Dengan di antar salah satu supir pribadi Tn Harry Bu Aisyah pun berangkat menuju kampung halamannya.
Sesaat setelah Raffa kembali masuk seseorang yang nampak rapi menyapanya.
"Pagi Al, bagaimana ibumu sudah berangkat?" tanya Tn Harry.
"Pagi Om, iya baru saja berangkat" balas Raffa kikuk.
"Boleh Om bicara sebentar?"
"Boleh Om, apa yang Om mau bicarakan?"
"Ini soal keinginan Alisa juga Alena, Om hanya ingin tahu tanggapan kamu, karena bagaimanapun semua itu berhubungan denganmu juga" tanya Tn Harry mencoba terbuka.
"Bagi Raffa sih, semua tergantung pada ibu, apapun keputusannya saya akan mendukungnya tanpa terkecuali" balas Raffa.
"Termasuk menerima Om jadi Papamu andai ibumu mengiyakannya?" tanya Tn Harry lagi menegaskan.
"Iya Om Raffa akan menerima Om jika ibu mengiyakannya.Menurut Raffa ini semua akan menjadikan hal baik untuk semua orang bukan!? jika terjadi semua akan merasa kembali memiliki keluarga yang utuh" balas Raffa berpikir positif.
"Ya kamu memang benar.Seperti yang Om sudah bilang, Om tidak hanya mencari seorang istri tapi ibu buat buat anak-anak juga rumah ini.Satu yang penting lainnya Om sudah lama ingin menjadi seorang Ayah untukmu" ucap Tn Harry tersenyum seraya merangkul bahu Raffa.
Sementara di dalam kamar Alisa juga Alena nampak terlarut dalam kekecewaan mereka.Hal yang paling mereka inginkan seakan takkan pernah terwujud.
"Sepertinya kita telah salah karena menganggap Bu Aisyah orang yang Mama maksud.Buktinya ia memilih pergi, ia memang tak menyayangi kita" ucap Alisa menumpahkan kekesalannya.
"Tapi Mama Aisyah bukan orang seperti itu Kak, Alena juga kecewa tapi Mama Aisyah pasti punya alasan yang belum kita ketahui"
"Berhenti sebut dia Mama! apa kamu gak lihat ia pergi begitu saja meninggalkan kita! Ibu macam apa itu!" teriak Alisa tiba-tiba emosi.
"Kakak gak usah marah gitu kenapa sih!? Alena tahu siapa Mama Aisyah lebih dari Kakak! Alena yakin Mama akan kembali lagi!" balas Alena tak kalah keras.
"Kamu harus sadar kenyataan Alena! mana sekarang buktinya!? sebaiknya lupakan dia, jangan terlalu mengharap orang yang pergi akan kembali! dia takan kembali Alena, tak akan!" teriak Alisa nampak kalap.
"Diaaammmm! Alena tak mau dengerin Kakaaaakk!" jerit Alena lalu berlari keluar menuju kamarnya.
"Sebaiknya jangan pernah bicara lagi sama Alenaaaa!" teriak Alena, "Braaakkhhh! ia pun membanting pintu kamarnya lalu tidur meringkuk dengan air mata yang perlahan menetes.
Alisa sendiri beranjak tuk mengunci pintu lalu menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan menangis sejadinya.
"Kenapa Bu! kenapa! kenapa ibu pergi! di saat Alisa mulai bisa membuka hati ini untuk ibu" ucap Alisa dalam tangisnya yang begitu pilu.
Tn Harry juga Raffa begitu terhenyak mendengar teriakan keduanya.Apa daya walau mereka tahu penyebabnya tak satupun yang bisa mereka lakukan.
Sementara di tempat lain tepatnya kediaman keluarga Adrean nampak Tn Hernand tengah berbincang bersama istrinya.
"Tumben wajahmu cerah Pih? ada berita baik apa sih!?" tanya Ny Ariana.
"Semalam Papi habis melihat Adrian, sepertinya anak itu sangat menyesali semua perbuatannya dan bisa mengambil pelajaran dari kesalahannya itu"
__ADS_1
"Lalu bagaimana nasib Adrian kedepannya Pih?" tanya Ny Ariana kembali.
"Proses hukum tetap berjalan, walaupun Raffa tidak menuntutnya tapi ia terlibat dengan Leon, Papi akan usahakan membebaskannya dengan jaminan" balas Tn Hernand lalu teralihkan saat melihat Aurel turun namun tak lama naik kembali.
Ny Ariana pun ikut terheran melihat tingkah Aurel yang tak lama kembali turun lalu menuju dapur seraya curi pandang padanya dan suaminya.
"Iya Pih, semoga saja Adrian cepat pulang ya Pih" ucap Ny Ariana kembali.
"Papi juga berharap begitu, karena dia sendiri janji mulai sekarang akan nurut apa kata kita Mih" balas Tn Hernand lalu kembali mendapati Aurel yang bolak balik seperti ada yang ia cari.
"Aurel!? kamu kenapa sih? ada yang kamu cari? perasaan bolak balik terus dari tadi" ucap Ny Ariana yang juga makin merasa aneh.
"Nggak Mih, cuma kayaknya Papi sama Mami lagi serius, ngobrolin apa sih Pih, Mih?" tanya Aurel penuh selidik.
"Oh Mami lagi bahas soal kakak kamu Adrian, kamu mau tahu juga?" ucap Ny Ariana.
"Ohh Kakak, emang gak ada hal penting lain gitu Mih, Pih!?" balas Aurel balik bertanya dengan lesu.
"Hal penting? hal penting apa maksud kamu sayang? soal kakak kamu juga pentingkan!?" ucap Ny Ariana sedikit heran.
"Iya sih Mih tapi soal yang lain gitu yang lebih penting, misalnya Raffa gitu" balas Aurel terlihat malu-malu.
"Raffa!? emang Raffa kenapa?" ucap Ny Ariana yang di iringi senyum Tn Hernand yang mulai menangkap maksud Aurel.
"Ya itu Mih, Raffa apa gak ada bilang apa apa gitu!?" balas Aurel mulai gelisah.
"Perasaan gak ada deh, gak tau kalau sama Papi" ucap Ny Ariana seraya melirik suaminya.
"Sama Papi juga sepertinya tidak ada" ucap Tn Hernand seraya menggeleng.
"Huufttt! ternyata cuma bohongan, kirain beneran serius" keluh Aurel cemberut begitu kesal.
"Ma, maksud Papi? siap apa Pih?" tanya Aurel tak mengerti.
"Kamu memang siap kalau sekarang juga kamu menikah? apa kamu siap jadi ibu rumah tangga?" tanya Tn Hernand menegaskan.
"Papi!?" seru Aurel nampak antusias lalu duduk di tengah-tengah mereka, "Jadi Raffa beneran bicara sama Papi!?" tanya Aurel kembali.
"Iya, walaupun sebenarnya Papi yang menanyakan padanya" balas Tn Hernand nampak gemas pada putrinya itu.
"Raffa bilang apa aja dong, aahhhhh Papi bikin Aurel penasaran aja" ucap Aurel manja seraya menarik lengan Papinya.
"Putrimu nih Mih, gak sabar banget kayanya pengen cepet nikah" goda Tn Hernand pada istrinya.
"Ihhh iya nih, baru bisa masak air aja dah mikirin nikah" ledek Ny Ariana.
"Ish sebel! malah pada ngeledekin, Pih ayo dong cerita Raffa bilang apa aja? ayolah Papi!?" rengek Aurel begitu penasaran.
Membuat Tn Hernand tak tega hingga kembali buka suara, "Iya Raffa serius sama kamu hingga ia pun siap sampai menikahi kamu tapi, kamu sendiri emang sudah siap?"
"Menikah ya?" gumam Aurel lalu nampak senyum-senyum sendiri seraya membayangkan ia dan Raffa di pelaminan, "Ahhhhhhh so sweet bangetttttt" ucap Aurel seraya menangkup kedua pipinya yang merona.
"Aduh Pih! sepertinya anak kita benar-benar mabuk kepayang ini sih" ucap Ny Ariana.
Tiba-tiba Tn Hernand menepuk pundak Aurel seraya berkata, "Besok siap-siap karena kamu akan menikah dengan Raffa!"
"Hah! besok! Pap, Papi serius!? Aurel belum siap Pih, kecepetan dong Pih masa besok!" ucap Aurel begitu terkejut.
__ADS_1
"Ya terus kamu siapnya kapan? Papi tinggal telepon semua orang nih buat nyiapin semuanya besok" goda Tn Hernand seraya meraih ponselnya.
"Emhh ya gak besok juga dong Pih, banyak bangetkan yang harus di siapkan" balas Aurel beralasan.
"Ya sudah minggu depan" ucap Tn Hernand singkat di iringi senyum nyonya Ariana seraya membelai rambut putrinya itu.
"Ihhhh! kenapa jadi Papi yang mau buru-buru, Pokoknya Aurel mau nikah tapi nanti kalau sudah siap hehe" balas Aurel seranya nyengir kuda.
"Dasar anak Mami ini, fokus belajar dulu sayang, masa depan kamu masih panjang" ucap Ny Ariana seraya mencubit pipi Aurel.
"Sakit Mih" keluh Aurel seraya mengusap pipinya, "Iya Mih Aurel ngerti kok" ucap Aurel lagi saat Maminya terus menatapnya.
"Kalau menurut Papi sih, gak ada salahnya juga kalau kalian memang serius mungkin bisa tunangan dulu" ucap Tn Hernand nampak serius.
"Tunangan!? Papi serius!? jadi Papi sudah merestui hubungan kami!?" tanya Aurel begitu berbinar.
Tn Hernand yang bisa menangkap rasa bahagia pada diri Aurel pun tersenyum seraya mengangguk tanda mengiyakan.
Sontak Aurel memeluk Papinya penuh haru, "Makasih ya Pih, ini sungguh sangat berarti buat Aurel.Papi memang yang terbaik, Aurel sayang Papi" ucapnya seraya mencium papinya.
Ny Ariana yang ikut larut dalam kebahagiaan Aurel pun merangkul suaminya.Namun tak lama suara bel menghentikan kehangatan mereka.
"Ting tong!"
"Biar Aurel yang buka" ucap Aurel nampak semangat segera membukakan pintu.
Rasa bahagia Aurel semakin berlipat-lipat saat tahu siapa yang datang.
"Sayang! ahhhhh aku seneng kamu datang" ucap Aurel tanpa ragu langsung memeluk erat Raffa begitu manja.
"Ehh, sayang ada apa nih? kayanya lagi senang banget" balas Raffa seraya mengusap punggungnya.
"Ehem! ehem!" dehem seseorang yang membuat Raffa sedikit terhenyak.Sementara Aurel terus merangkul pinggang Raffa.
"Ehhh Om, Tante Assalamualaikum" ucap Raffa lalu mencium tangan keduanya.
"Waalaikumsalam" balas keduanya.
"Mari masuk, kebetulan ada yang mau Om bicarakan sama kamu" ucap Tn Hernand.
"Aurel? belum sah jangan di pegang terus" goda Ny Ariana.
"Ahh Mami gitu ahhh" balas Aurel merubah rangkulannya ke lengan Raffa seraya beranjak masuk.
Setelah duduk bersama, Raffa yang sedikit merasa salah tingkah makin di buat grogi saat melihat wajah serius Tn Hernand.
"Raffa, sesuai ucapan kamu, menikah memang hal yang serius dan saat ini kalian pasti belum siap, namun Om punya solusi untuk itu.Om putuskan kalau kamu dan Aurel untuk bertunangan, setujukan!?" ucap Tn Hernand nampak serius.
"Tunangan!? Om serius dengan keputusan ini!?" tanya Raffa seakan tak percaya.
"Tentu saja Om serius, ini keputusan terbaik untuk saat ini bukan begitu Raffa?" balas Tn Hernand kembali bertanya.
Raffa tersenyum penuh arti lalu mengangguk tanda mengiyakan.
"Bagus kalau begitu, tanpa berlama-lama kapan kamu bisa mempertemukan kami dengan orang tuamu?" tanya Tn Hernand.
Jelas saja permintaan Tn Hernand membuat Raffa terpaku karena tanpa Tn Hernand tahu Ibunya pun dalam kondisi kurang baik.
__ADS_1
[[ End ]]