Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
106.Syarat (Outro 8)


__ADS_3

Semua orang masih tak percaya dengan apa yang di ucapkan Bu Aisyah.Tanpa terkecuali Tn Harry nampak tertegun sekaligus senang.


"Bu, apa Ibu bersungguh-sungguh? Ibu bersedia menjadi nyonya di rumah ini!?" tanya Tn Harry memastikan.


"Insyaallah saya siap Tuan" balas bu Aisyah seraya tersenyum.


"Terima kasih Bu Aisyah, saya senang mendengarnya" ucap Tn Harry seraya menangkup tangan Bu Aisyah namun Bu Aisyah segera menarik tangannya.


Sedikit merasa malu Tn Harry tersenyum kecil seraya berucap, "Maaf Bu Aisyah saya mengerti, belum saatnya"


"Hehe Papa dah berani genit" ucap Alena seraya terkekeh lalu menghampiri Bu Aisyah dan memeluknya, "Alena juga senang mendengarnya, terima kasih ya Mah"


"Iya sayang, mungkin ini sudah rencana Allah, Mama juga senang berada di sini" sahut Bu Aisyah seraya mengecup kening Alena.


Namun suasana tiba-tiba kembali tegang saat Alisa yang sedari tadi diam menggebrak meja dengan keras.


"Braakkkkk!" dengan wajah dingin dan tampak menahan emosi Alisa berdiri lalu beranjak pergi dengan tergesa.


"Kakak!?" seru Alena keheranan.


Bu Aisyah pun terperanjat lalu menatap Alisa yang beranjak pergi menuju kamarnya.


"Alisa! jangan pergi begitu saja, bukankah ini yang kamu inginkan!? kenapa sekarang kamu seakan tak suka!?" seru Tn Harry tak mengerti.


"Alisa sudah tak perduli dengan semua itu, kenapa tak pergi saja selamanya dan tak perlu kembali!" ucapnya dengan nada kecewa.


"Alisa jaga nada bicara kamu!" seru Tn Harry lagi nampak emosi.


"Sudah Tn Harry biarkan saya bicara padanya, saya mengerti Alisa masih kecewa dengan kepergian saya kemarin.Permisi saya ke atas dulu" ucap Bu Aisyah berpamitan lalu menyusul Alisa.


"Hmmph! Papa tak mengerti dengan jalan pikirannya, kali ini apa masalahnya" ucap Tn Harry tak habis pikir.


Alena kembali duduk seraya menatap Bu Aisyah yang menyusul Alisa.Sementara Raffa pun di buat tak mengerti lalu berpamitan.


"Maaf semua saya duluan, yuk Nita ikut Kakak" ucap Raffa seraya mengajak Nita.


"Kamu mau kemana Al?" tanya Tn Harry tak enak hati.


"Saya cuma mau cari angin saja ke teras samping Om" balas Raffa lalu beranjak pergi dengan Nita.


Sementara Bu Aisyah sendiri segera mengetuk pintu yang tidak tertutup penuh.


"Alisa? boleh Ibu bicara sama kamu?" ucapnya seraya menghampiri Alisa yang duduk memeluk ke dua lutut di tempat tidurnya.


"Alisa, kamu masih gak mau maafin Ibu?"


"Menurut Ibu! seenaknya Ibu pergi lalu datang lagi, jangan pikir dengan keputusan Ibu, Alisa lalu senang! Ibu pasti terpaksa dan hanya kasihan sama kita, iya kan!?" ucap Alisa penuh penekanan.


"Hemhh" Bu Aisyah menarik nafas lalu kembali bersuara, "Sayang dengarkan Ibu akan jujur sama kamu, namun setelah Ibu cerita semua terserah padamu akan menerimanya atau tidak" balas Bu Aisyah tegas.

__ADS_1


"Ibu pulang untuk mencari jawaban sayang, sama seperti kamu saat itu, apa yang membuat kamu mau menerima Ibu?" ucap Bu Aisyah.


Alisa hanya terdiam tak paham maksud Bu Aisyah.Melihat Alisa yang terdiam Bu Aisyah melannjutkan pembicaraannya.


"Jujur, saat kalian memintanya Ibu tak tahu harus menjawab apa, Ibu sayang kalian tapi bila Ibu berkata iya, Ibu tak mampu menyakiti seseorang, Ayahnya Raffa" ucap Bu Aisyah nampak sendu.


Alisa terhenyak mendengarnya seakan mulai tahu arah ucapan Bu Aisyah.


"Makanya Ibu pulang, selain meminta petunjuk Allah, Ibu harus menemui Ayahnya Raffa" ucap Bu Aisyah dengan mata mulai berkaca kaca.


"Sama seperti yang kamu alami, sepulang Ibu dari makam dan banyak berdoa, Allah memberi petunjuk melalui mimpi sayang.Di mimpi itu Ayahnya Raffa Ibu mengikuti kata hati, ia ingin Ibu bahagia dan tak pernah merasa di khianati" ucap Bu Aisyah seraya menghapus air matanya.


Alisa yang seakan mengerti yang di alami Bu Aisyah begitu terkejut sedikit tak percaya.Semua benar benar begitu sama dengan apa yang di alaminya.


"Itulah sayang mengapa sekarang Ibu kembali, karena hati Ibu sudah semakin yakin untuk bersama kalian sampai sisa umur Ibu.Tidak ada sedikitpun Ibu berniat mempermainkan perasaan kalian, sampai kapanpun rasa sayang Ibu tak akan berubah" ucap Bu Aisyah lalu melangkah menuju pintu kamar.


"Masih ada yang mau Ibu bicarakan sama kalian semua di bawah, Ibu harap kamu mau kembali duduk bersama kami.Ibu turun ya sayang" ucap Bu Aisyah lalu meninggalan Alisa.


"Mama!" seru Alisa tanpa ragu mengejar Bu Aisyah lalu memeluknya, "Alisa sayang Mama, jangan pernah pergi lagi ya Mah" pinta Alisa begitu memohon.


"Mama akan selalu ada di samping kamu sayang dan tak akan pernah ninggalin kamu.Sudah jangan menangis lagi, Ibu ingin melihat kamu bahagia" bujuk bu Aisyah.


"Iya Mah" ucap Alisa seraya menghapus air matanya.


Alisa terus merangkul Bu Aisyah seraya berjalan kembali menuju ruang tengah.Tn Harry juga Alena begitu tercengang melihat kedatangan mereka.


"Loh, Raffa sama Nita kemana?" tanya Bu Aisyah.


"Oh, ya sudah tak apa-apa" ucap Bu Aisyah lalu mengambil posisi duduk berdekatan dengan Tn Harry.Alena juga Alisa pun lalu duduk di samping Papanya.


"Tuan Harry saya ingin menyambung soal keputusan saya tadi" ucap Bu Aisyah sedikit sungkan.


"Oh iya silakan, apa yang mau Ibu katakan, saya akan mendengarkannya" sahut Tn Harry.


Alisa juga Alena nampak berpelukan dalam suasana haru.Keduanya merasakan bahagia akan segera memiliki sosok seorang ibu


"Tuan Harry saya setuju menjadi Ibu dari anak-anak dan menjadi Nyonya rumah ini tapi dengan satu syarat" ucap Bu Aisyah nampak serius.


"Syarat!? syarat apa Bu Aisyah!?" sahut Tn Harry crmas.


"Mama!? kok pake syarat!?" ucap Alena juga nampak terkejut.


"Mama mau minta sesuatu!?" Alisa pun terkejut.


"Sebelumnya saya minta maaf Tuan Harry namun ini penting buat saya" ucap Bu Aisyah


"Katakan saja Bu, apapun pasti akan saya kabulkan" balas Tn Harry.


"Saya bersedia menikah dan untuk waktu saya serahkan pada Tuan tapi saya minta tak ada pesta besar-besaran, tak ada pemberitaan.Semua di laksanakan di rumah saya dengan tamu orang terdekat saja.Apa tuan bisa mengabulkannya!?" ucap Bu Aisyah nampak bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Tn Harry sesaat tercenung mendengarnya lalu menatap kedua putrinya yang sama saling pandang tak percaya.


"Jadi, itu syaratnya Bu!?" ucap Tn Harry benar benar tak menyangkanya.


"Cuma itu saja Tuan, mohon maklum saya tak terbiasa dengan hal terlalu ramai dan terlalu mewah" balas Bu Aisyah malu-malu.


"Bu Aisyah memang wanita luar biasa, di saat wanita lain mungkin meminta kemewahan beliau malah meminta sebaliknya.Beruntung keluarga ini memilikinya, seberuntung dulu saat ada Sofia" gumam Tn Harry dalam hati.


"Baiklah Bu saya akan mengikuti permintaan Ibu, saya akan menunggu Ibu siap karena tak mengkin saya tak memperkenalkan Ibu sebagai Nyonya Adhitama pada siapapun" ucap Tn Harry seakan meminta.


"Iya Tuan, tapi mohon bersabar ya, saya perlu membisakan diri" sahut Bu Aisyah.


"Tak apa saya mengerti kok Bu tapi apa bisa jangan panggil saya Tuan, harus di biasakan bukan?" goda Tuan Harry.


"Cieee Papa, ahahay" ledek Alena seraya mencolek pinggang papanya.


"Hihi Papa dah gak sabar di panggil sayang sama Mama" tambah Alisa tak ketinggalan.


"Hush kalian ini apa-apan sih, gak baik godain orang tua, pamali" ucap Bu Aisyah sedikit memerah pipinya malu.


"Pah tuh lihat Mama merona pipinya, sepertinya Mama udah konek sama Papa, ayo Pah kasih dong kata kata manisnya" goda Alena makin jadi.


"Heh kalian ini malah pada ngeledekin Papa sama Mama, dah sana pada tidur"


"Idih Papa genit pengen berduan tuh sama Mama, pangilnya dah mulai Mama" ucap Alisa cekikikan.


"Haha iya Kak, Papa dah gak sabar" sahut Alena lalu mendekat pada Bu Aisyah dan menyandar di bahunya.


"Hush kalian ini malah nambah ngaco, sudah sudah sebaiknya kalian itu mulai memikirkan baju apa yang mau di pakai nanti" pancing Tn Harry.


"Wah Papa bener juga, Kak kita carai referensi yuk di internet" ajak Alena.


"Boleh, yuk kita cari yang paling bagus"


Penuh semangat keduanya meninggalkan Tn Harry dan Bu Aisyah berdua.Keduanya salah tingkah saat tinggal berduaan.


Memberanikan diri Tn Harry berdiri lalu berlutut di depan Bu Aisyah seraya meraih tangannya.


"Tuan apa yang Anda lakukan!?" ucap Bu Aisyah semakin grogi.


"Bu Aisyah saya hanya ingin mengucapkan terima kasih sudah memberi saya kesempatan, saya berjanji akan menjadi suami yang Ibu harapkan" ucap Tn Harry lalu mencium tangan Bu Aisyah.


"Tu, Tuan Harry!?" ucap Bu Aisyah spontan dengan muka merona semerah tomat.


Tuan Harry tersenyum lalu mengambil posisi duduk di sebelah Bu Aisyah yang membuatnya semakin salah tingkah.


"Kita sama-sama berusaha yang terbaik untuk anak-anak dan keluarga kita ya Bu" ucap Tn Harry seraya memegang tangan Bu Aisyah.


"Iya Mas Harry, insyaallah semoga Allah selalu merahmati keluarga kita ini" sahut Bu Aisyah seraya membalas genggaman Tn Harry.

__ADS_1


Keduanya pun tersenyum penuh rasa bahagia sepertinya dalam waktu yang tak lama lagudua keluarga ini akan menjadi satu.


[[ End ]]


__ADS_2