Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
50.Saudara Selalu Peduli (Street Runner)


__ADS_3

Seminggu lebih Raffa berlatih bersama Rama.Tidak terlalu sulit untuk mengikutinya, karena Raffa sudah terbiasa berlatih keras.


Rama cukup terkesan karena Raffa punya modal dasar yang cukup kuat.Kekuatan,kelincahan juga kecepatan semua di milikinya.


"Al, karena kamu punya modal yang cukup bagus, mulai nanti kita masuk gerakan dasar.Saya yakin kamu akan cepat berkembang" ucap Rama memberi semangat.


"Baik, saya akan ikuti apapun yang Mas Rama bilang.Oh iya kabar Alena gimana? saya ingin sekali menemuinya" ucap Raffa terasa lama juga tak tahu kabar Alena.


"Saya sedikit kasihan, Alena bagai di penjara di rumahnya sendiri.Hanya keluar untuk kuliah saja" sahut Rama terlihat iba.


"Saya jadi merasa bersalah. Andai saat itu saya tidak menyetujuinya, mungkin Alena tidak akan mengalami semua itu" ucap Raffa merasa menyesal.


"Tapi kamu gak akan tega juga kalo Alena di jodohkan, terlebih dengan Leon kan? kita berdo'a saja Tn Harry segera menyadari tindakannya" balas Rama penuh harap.


"Semoga saja, emh Mas bisakah saya ikut ke tempat Om Harry? saya benar-benar ingin melihat keadaanya" ucap Raffa tak bisa berhenti khawatir.


"Kamu yakin mau menemuinya? apa kamu siap dengan respon Tn Harry nantinya" sahut Rama meragu.


"Saya siap, setidaknya saya sudah mencoba.Saya ingin mengurangi rasa bersalah saya padanya" ucap Raffa seakan memohon.


"Baik kalo begitu, kamu bisa ikut saya.Kita siap siap dulu" sahut Rama merasa tak tega.


Setelah cukup lama bersiap-siap


mereka pun berangkat menuju kediaman keluarga Adhitama.


sesampainya disana nampak Tn Harry sedang menikmati sarapannya.


"Selamat pagi Pak, maaf menggangu" sapa Rama dengan sopannya.


"Pagi, mari ikut sarapan Ram" sahut Tn Harry menawarkan.


"Terima kasih Pak, kebetulan sudah sebelum berangkat" ucap Rama sedikit gusar.


"Kenapa Ram, apa ada yang mau kamu sampaikan?" ucap Tn Harry saat melihat sikap Rama yang terlihat gusar.


"Maaf Pak, sebenarnya ada seseorang yang ingin menemui Bapak"


"Sepagi ini? memang siapa Ram?" tanya Tn Harry penasaran.


Setelah menerima kode dari Rama, ia pun masuk menemui Tn Harry,


"Assalamualaikum Om, maaf kalo kedatangan saya menganggu"


"Beraninya kamu datang ke hadapan saya! apa perkataan saya kurang jelas! Ram usir dia, saya tak sudi melihat anak tak tahu diri ini di sini!" ucap Tn Harry dengan nada tinggi.


"Om tolong jangan usir saya, saya hanya ingin melihat keadaan Alena.Jujur saya khawatir" ucap Raffa memohon.


"Cih, sudah saya bilang jangan pernah kamu berani mendekati putri saya.Sekarang pergi sebelum saya bertindak kasar sama kamu, Pergi!" bentak Tn Harry mulai emosi.


Teriakan Tn Harry yang cukup keras terdengar hingga kamar Alena, gadis itu pun keluar untuk melihat apa yang tengah terjadi,


Sementara Raffa sendiri terus memohon dengan penuh kerendahan hatinya,


"Om saya mohon izinkan saya menemui Alena, walau hanya semenit.Saya mohon Om"


"Percuma kamu memohon, saya tak akan tertipu sikap palsumu lagi.Enyah kamu sekarang juga!" bentak Tn Harry seraya menggebrak meja begitu keras.


Tiba-tiba Alena berlari menuruni tangga lalu menghambur ke dalam pelukan Raffa,


"Raffa, aku senang sekali melihatmu disini.Aku kangen sama kamu Raffa" ucap Alena seraya menangis sesenggukan.


"Aku pun senang bisa melihatmu, kamu baik-baik sajakan? aku khawatir sekali karena tak ada satupun kabar darimu" sahut Raffa begitu penuh rasa bersalah.


"Hiks hiks, aku kangen kamu, kangen yang lain.Ingin rasanya berkumpul dengan kalian semua seperti biasa lagi" ucap Alena dalam tangisnya.


"Dasar anak tak tahu diri! Hans, Rama pisahkan mereka berdua!" perintah Tn Harry.


"Tapi Pak" Rama yang meragu membuat Hans ikut terpaku, secara Hans bawahan Rama.


"Kalian sudah berani membantah saya! pisahkan mereka atau kalian pun akan saya enyahkan sekalian!" perintah Tn Harry penuh ancaman.


Dengan berat hati Rama juga Hans pun melakukan apa yang Tn Harry perintahkan,


"Hans bawa Alena ke kamarnya!" ucap Tn Harry dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Selesai berucap Tn Harry lalu menghampiri Raffa dengan wajah terlihat begitu murka,


"Plaaaakkk, ini untuk mengganggu waktu pagi saya!"


"Papah, jangan!" jerit Alena tak kuasa.


"Plaaaakkk, ini untuk kamu yang berani menyentuh putri saya!" dengus Tn Harry.


"Papah, cukup Pah!" jerit Alena terus meronta tapi tenaganya kalah jauh dari Hans.


Dua tamparan keras di kedua pipinya membuat wajah Raffa memerah namun sakitnya tak sesakit rasa bersalahnya,


"Om lakukan lagi Om, kalo itu bisa membuat Om puas, siksa saya tapi tolong jangan Alena.Dia putri Om, dia butuh kasih sayang Papahnya" ucap Raffa berusaha membuka hati Tn Harry.


"Heh anak kemarin sore berani ceramah, baik jika itu maumu jangan menyesal!"


"Plaaakkkk! plaaaakkk!" kembali dua tamparan keras Tn Harry layangkan.


"Papah jahaaaat, Alena benci Papah!" Jerit Alena yang tangisannya kembali pecah.


"Maaf Non Alena, mari saya antar ke kamar sebelum Tn Harry semakin marah" ucap Hans berusaha membujuk.


Sementara Raffa yang menerimanya dengan ikhlas terus menatap Tn Harry dengan tatapan lembut.


"Lagi Om, tapi setelahnya tolong jangan menyiksa Alena lagi" ucap Raffa kembali memohon.


"Pak, saya tidak seperti sedang melihat Bapak yang saya kenal" ucap Rama yang berusaha membela Raffa.


"Kamu!" sahut Tn Harry namun emosinya tiba-tiba tertahan saat menatap Rama.Tatapan Rama seakan menyalahkannya.


"Usir dia saya tidak ingin melihatnya disini.Kamu Hans bawa Alena ke kamarnya"


"Raffa, lepas, lepaskan" ucap Alena saat Hans terus memaksa membawanya.


Rama pun segera membawa Raffa menuju teras depan,


"Maaf Al, Mas gak bisa berbuat banyak" ucap Rama begitu menyesal.


"Gak apa-apa terima kasih, sudah banyak yang Mas Rama lakukan untuk saya.Saya permisi pamit" sahut Raffa seraya mengusap kedua pipinya.


"Tak perlu Mas, saya mau jalan sekalian menenangkan diri. Saya pamit Assalamualaikum" ucap Raffa seraya mencium tangan Rama.


"Waalaikumsalam" balas Rama yang terus menatap kepergian Raffa dengan perasaan iba.


Sementara Raffa terus berjalan menyusuri jalan raya hanya untuk sekedar menenangkan diri.


Cukup lama Raffa berjalan tanpa Arah.Hingga akhirnya ia duduk termenung di pinggir jalan yang mulai ramai.


Tak di duga selepas lampu merah satu motor berhenti tepat di depannya,


"Hei bocah sok kuat, lama tak bertemu" ucap Ivan seraya membuka helmnya.


"Bang Ivan!" seru Raffa begitu terkejut.


"Kebetulan gue nemuin lo, oh ya bocah, Bang Andre dari kemarin nyariin lo tapi beberapa kali ke tempat lo, gak pernah lo ada"


"Oh maaf bang kemaren saya sempat pulang kampung"


"Malam ini sebaiknya lo datang ke Blackhouse, ada hal penting yang Bang Andre mau omongin sama Lo"


"Ehh baik Bang, insyaallah saya datang" balas Raffa seraya tersenyum.


"Ok pastiin lo datang kalo lo gak mau nyesel, eh lo mau kemana sekarang? cepet naik, gak tega gue lihat lo luntang lantung gini"


"Eh, makasih Bang jadi ngerepotin" balas Raffa.


Tak begitu lama mereka pun sampai di tempat Raffa,


"Setau gue lo biasanya bawa mobil?" Ivan merasa aneh.


"Bukan punya saya Bang, itu cuma titipan" balas Raffa diplomatis.


Ivan hanya menganguk lalu terlihat berpikir sesaat,


"Ya sudah gue cabut dulu, mau sekalian ke kampus gak lo?" ucap Ivan seraya berlalu.

__ADS_1


"Makasih Bang, nanti sore saja, sekarang sudah terlambat juga" sahut Raffa yang memang sudah telat.


Benar saja sore itu Raffa berangkat ke kampus hanya untuk berlatih basket hingga malam.Selesainya berlatih Raffa segera menuju blackhouse cafe,sesuai janjinya.


Entah mengapa tempat itu masih saja terasa tidak bersahabat.Baru beberapa langkah ia masuk tiga orang langsung mencekalnya,


"Apa-apaan ini!" seru Raffa begitu terkejut.Ini seperti kejadian lama yang terulang.


"Hei bocah kau ikuti saja maunya mereka, jika tak mau menyesal" ucap Ivan seraya menoleh dari balik bahunya.


"Bang, kamu menjebak saya? Bang ivan!"


Ivan hanya tersenyum sinis lalu nampak menghubungi seseorang.


"Hei bocah, masih berisik aja bacot lo.Seret dia ke belakang!" ucap Ben begitu serius.


Raffa pun kembali di seret menuju belakang kafe.Kondisi yang sama saat ia bermasalah dengan Ben.


"Sepertinya lo masih dendam ya?" ucap Raffa menyindir Ben.


"Cih, kalo iya lo mau apa bocah! kali ini gue gak akan lepasin lo!" ancam Ben seraya mencengkram rahang Raffa.


Tak lama satu motor datang dan berhenti tepat di depan Raffa.Silau lampunya membuat ia tak bisa melihat siapa yang datang.


"Ketemu juga lo bocah sok" ucap Andre dengan tersenyum sinis.


"Bang Andre!? ada masalah apa sebenarnya ini?"


"Heh! lo lupa pernah menyingung soal saudara? terus saudara macam apa yang lupa sama saudaranya! dasar pembual!" ucap Andre dengan penuh penekanan.


Sadar apa maksud perkataan Andre ia pun segera berucap,


"Maaf Bang, belakangan ini saya ada masalah dan harus pulang kampung"


"Perduli setan! hajar!" perintah Andre.


Raffa yang kaget hanya bisa bersiap.Namun aneh tak ada satupun serangan yang datang.


Malah ketiga orang yang mencekalnya mundur seraya melepasnya.


Tiba-tiba rasa dingin menyelimutinya saat Ben dari arah belakang menyiramnya dengan seember penuh air.


"Woy Ben air apaan sih ini? aneh banget baunya" keluh Indra.


"Bodo amat! namanya juga dadakan sedapatnya aja di belakang" sahut Ben beralasan.


Suasana berubah riuh penuh tawa, membuat Raffa semakin terheran.Dengan mengatur nafas seraya menyeka wajahnya, ia lalu menatap Andre,


"Sebenarnya apa yang terjadi Bang?" tanya Raffa mencoba memahami.


Andre hanya membalasnya dengan senyuman kecil lalu melempar kunci motornya,


Raffa pun menangkapnya seraya berucap,


"Ini maksudnya apa Bang!?" Raffa makin tak mengerti.


"Selamat datang di keluarga Street Runner bocah sok kuat.Ingat orang SR tak pernah jalan kaki, coba!" ucap Andre memberi kode.


"Tapi Bang" Dengan penuh keraguan Raffa pun mencoba motor tersebut.


Setelah beberapa saat ia mengitari jalanan sekitar, Raffa pun kembali.Disambut semua anggota SR yang sudah berkumpul,


"Jaga motor ini, sekarang ini milikmu, Little Bro" ucap Andre seraya memukul pelan bahu Raffa.


"Tapi Bang ini terlalu berlebihan" sahut Raffa.


"Kita satu keluarga sekarang, terima atau kita bukan saudara" ucap Ivan menambahkan.


Semua anggota pun menyalami Raffa sebagai tanda selamat.Malam ini pun menjadi kejutan besar mengharukan setelah insiden pagi yang menyesakkan.


[ Bersambung ]


Akan seberuntung apakah Raffa setelah mendapat saudara baru tak terduga itu?


See u Next gess 😁

__ADS_1


__ADS_2