Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
42.Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

Ibu Aisyah nampak tengah bersiap untuk berangkat mengajar.Ia pun segera menuju kamar putranya untuk sekedar berpamitan, namun melihat putranya yang termenung membuatnya menunda niatnya.


"Nak, masih memikirkan masalah kuliahmu itu ya?" ucap Ibu Aisyah seraya duduk di tepi ranjang putranya.


"Eh Ibu, enggak Bu, Al cuma memikirkan mau kuliah di mana nantinya kalo pindah" sahut Raffa berkilah.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini Nak?" ucap Ibu kembali seraya beranjak untuk membereskan tas putranya.


"Loh ibu kok membereskan pakain Al Bu?" Raffa balik bertanya saat melihat apa yang Ibu lakukan.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Ibu tahu kamu terus membohongi diri kamu sendiri, kamu sebenarnya masih ingin bersama Ryo dan yang lainnya kan?" ucap Ibu Aisyah mencoba membuka hati putranya itu.


"Bu, tapi Al sudah memutuskan untuk di sini bersama Ibu"


Ibu Aisyah tampak tersenyum penuh arti lalu kembali berucap,


"Kamu takut Ibu terluka atau kamu sendiri yang takut terluka?"


"Maksud Ibu?" tanya Raffa yang merasa tersentil oleh ucapannya.


"Nak,apa kamu pikir Ibu tak terluka melihat kamu terus menyiksa diri seperti ini"


Raffa yang tak mampu menjawab hanya bisa menghela nafas lalu duduk di tepi ranjang.


"Dengar Ibu, setiap masalah itu selalu ada jalan keluarnya dan menghindari masalah tidak menjadikan kita pribadi yang kuat" ucap Ibu Aisyah


Bagai di sambar petir ucapan Ibu meresap hingga relung hatinya,


"Nak, dimanapun kamu berada ujian itu akan selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya.Allah tidak pernah tidur Nak.Hemm andai saja Ayahmu masih disini" ucap Ibu lalu menghela nafas perlahan.


"Ya sudah Ibu berangkat dulu ya, takut terlambat udah jam6 lebih" Ucap Ibu seraya mengusap puncak kepala putranya itu.


"Eh, Al antar ya Bu, Sekalian mau ke makam ayah" sahut Raffa lalu dengan cepat berganti pakaian.


Jarak ke sekolah yang tidak terlalu jauh membuat mereka sampai dengan cepat.


"Makasih ya Nak, oh iya Al, kalau kamu berubah pikiran, tas kamu itu sudah Ibu siapkan, Ibu akan baik-baik saja kamu jangan khawatir lagi" ucap Ibu seraya turun setelah Raffa mencium tangannya.


Dengan tersenyum penuh ketenangan Ibu terus memperhatikan kepergian putra kesayangannya itu.


Tak lama berselang Raffa nampak selesai berdo'a di satu pemakaman.Tempat ayahnya beristirahat tenang untuk selamanya.


Sekilas momen indah dengan Sang Ayah kembali terbayang.


"Kalo Al sudah besar terus mau jadi superman, berarti Al harus pinter dan kuat"


Walau samar Raffa masih bisa sedikit mengingat perkatan Ayahnya.Ia pun tersenyum seraya berucap,


"Makasih ya Yah, Al memang manusia biasa tapi Al akan berusaha sekuat yang Ayah harapkan"


Selesai berucap Raffa nampak melihat jam di ponselnya "7:45" gumannya lalu ia segera mengirim sebuah pesan,


📨 "Assalamualaikum Bu, terima kasih atas semua nasihatnya, Al pamit dulu, Al sayang Ibu"


Dengan tergesa gesa Raffa meninggalkan pemakaman itu dengan senyum terkembang.


Sementara di tempat lain tepatnya kantin kampus, Ryo dan yang lainnya tengah beristirahat selesai jam kuliah pagi ini.


Dua hari setelah penjemputan Raffa yang gagal, nampak itu masih membekas untuknya.


"Hey Ryo, nih minum dulu.Mau sampai kapan lo terus bete gitu?" ucap Ryan merasa iba.


"Gue masih gak paham, kok bisa-bisanya dia ambil keputusan sepihak gitu" sahut Ryo terlihat kesal tak berujung.


"Udah sayank, aku tau ini berat.Kita semua juga sama merasa kehilangan.Kita hormati keputusannya ya" ucap Luna seraya mengusap rambut Ryo.


"Orang baik seperti Raffa kenapa mesti kena masalah mulu sih" Ucap Arif memijat dahinya tak habis pikir.


"Dasar si Raffa brengsek, sejak kapan dia jadi pengecut begitu" Tiba-tiba Ryo menumpahkan kekesalannya.


"Sudahlah Ryo, kita hanya belum terbiasa aja gak ada dia" ucap Ryan coba menghibur.


"Ringan banget lo bilang begitu, segitu gak pentingnya dia buat lo hah!" seru Ryo emosi.

__ADS_1


"Loh, kok lo jadi nyolot sih, emang omongan gue ada yang salah!" Ryan tak mau kalah.


Kejadian itu pun sontak menjadi perhatian semua orang.


"Masih nanya salah enggaknya lagi lo bajingan!" bentak Ryo seraya berdiri lalu,


"Bruaakhh" Ryo menendang kursi kosong di sebelahnya.


"Mau lo apa sekarang brengsek!" Ryan yang terpancing pun berdiri menantang.


Melihat itu Luna menahan Ryo.Sementara Arif tersenyum sinis lalu berkata,


"Lo lakuin deh apa yang lo suka, bunuh-bunuhan sekalian gue gak peduli.Mending gue cabut" Arif pun beranjak pergi.


Yogi yang menahan Ryan hanya bengong tanpa tahu harus ngapain.


Tiba-tiba seseorang yang entah sejak kapan berada di meja dekat mereka meledek,


"Haha pertunjukan anak TK yang bagus" ucapnya seraya terus asyik membaca buku.


Ryo yang mendengar itu menoleh kearah asal suara.Nampak punggung seseorang dengan kepala tertutup hoodie dari sweaternya.


"Siapa maksud lo anak TK!" seru Ryo yang sudah begitu emosi.


"Haha gak usah sok jago deh lo, di tinggal cowok aja mewek apalagi sama cewek" sahutnya tengil dengan suara di beratkan dan sedikit di tutup tangan.


"Brengsek, lo belom tau gue, berani tengil lo!" bentak Ryo seraya melempar tas ke meja orang itu.


Beberapa orang yang terusik mulai meninggalkan kantin satu persatu.


"Cuma Ryo Varen Ravindra, apa yang mesti gue takutkan? cemen" ucap orang itu seraya meletakan bukunya.


"Siapa lo, bangsat.Cuma pengecut yang bicara tanpa berani menatap!" sahut Ryo seraya mendekatinya.


"Gede bacot doang ternyata anak Bunda Ratu Veronica ini.Sini lo sekarang banci!" sahutnya seraya memukul meja.


Membuat beberapa orang yang tersisa pun meninggalkan tempat itu.Sementara Luna yang ketakutan berlindung di dekat Ryan dan Yogi.


Ryo dalam emosinya sedikit terkaget nama ibunya di sebut,


Saat sosok itu berbalik menghadap, Ryo pun menerjangnya hingga keduanya menabrak meja lalu bergulingan,


Saat Ryo siap melayangkan tinjunya laki laki itu tiba-tiba tertawa begitu puas,


"Hahaha anak tuyul bego ngamuk" Ucap Raffa geli walau terasa berat karena Ryo menghimpitnya dari atas.


"Brengsek siapa lo anjing!" sahut Ryo seraya menarik hoodie juga kacamata hitam orang itu.


"Lama tak jumpa sahabat" ucap Raffa tersenyum seraya menahan tawa.


Ryo tentu saja kaget bukan kepalang, seakan tak percaya lalu mengucek kedua matanya,


"Lo, Al? gak mimpi kan gue ... Bibehkuhhhh!" seru Ryo lalu memeluk sahabatnya itu seraya terus mencium kepalanya.


Teriakan Ryo membuat Luna dan yang lain terkejut lalu mendekati mereka yang masih bergulat di lantai kantin.


"Al!" pekik semuanya berbarengan.


"Setan bener, kalo becanda bener-bener kelewatan, ada apa sih dengan orang-orang sekarang ini" ucap Ryan mengusap dadanya.


Kuduanya pun berdiri lalu Ryan juga Yogi memeluk Raffa bergantian.


"Selamat datang kembali ya Al" ucap Luna reflek memeluknya.


"Iya thank ya Lun" sahut Raffa.


"Woy, awas yang punya kebakaran nihh haha" ucap Ryan seakan lupa akan emosinya.


"Udah woy lepas, lo balik kesini main peluk istri orang aja" Ryo terlihat cemburu.


"Dikit doang gak nempel juga Yo" goda Raffa terkekeh.


Luna yang merasa geli lalu mencubit kedua pipi Ryo saking gemas.Saat sadar Luna lalu melakukan video call,

__ADS_1


"Hallo Alena kamu lagi dimana? aku ada kejutan nih" ucap Luna.


"Masih di kampus, ada kejutan apa sih Na?" balas Alena terlihat tak bersemangat.


"Nih, tau gak siapa ini?" ucap Luna seraya mengarahkan HP nya pada Raffa sekilas.


"Ish apa sih Na, gak keliatan apa-apa" sahut Alena kesal.


"Iya, nih tebak siapa coba?" ucap Luna lalu mengarahkan HP-nya kembali ke arah Raffa.


"Ra, Raffa!?" pekik Alena terkejut sekaligus senang.


"Nah taukan itu si ... apa, ehh malah ilang" ucap Luna merasa aneh.


Setelah membereskan tempat itu mereka pun berjalan bersama menuju taman.Obrolan juga canda tawa melepas rindu menghiasi kehangatan mereka.


Tak berapa lama nampak seorang gadis berlari seraya menatap kesana kemari seakan mencari seseorang.Hingga akhirnya ia menemukan yang ia cari.


"Raffa, kamu beneran kembali, Itu beneran kamu kan?" gumannya dengan dada tak berhenti berdebar.


"Raffa! Raffa!" Alena berteriak hingga terdengar semua orang termasuk Aurel


Sementara Raffa yang mendengar teriakan Alena sontak berdiri mencari asal suara itu,


"Alena" ucap Raffa saat melihat gadis itu berlari mendekat.


"Raffa!" tanpa bisa menahan lagi Alena pun membenamkan wajahnya di dada Raffa lalu memeluknya seakan tak ingin lepas.


"Raffa, kamu kembali.Aku mohon jangan pernah tinggalin aku lagi" ucap Alena dengan air mata mulai bercucuran.


"Alena, Maafkan aku jika sudah membuatmu bersedih.Jangan nangis lagi ya" ucap Raffa mencoba menenangkan lalu membalas pelukan gadis itu.


"Kamu harus janji hiks, janji tak akan pernah pergi lagi, janji akan terus disini bersamaku"


Alena terus berucap dalam tangisnya yang semakin pecah.


"Iya aku tak akan pergi lagi Alena, aku akan terus disini" sahut Raffa dengan membelai lembut puncak kepala gadis itu.


"Hiks ,janji? aku ingin kamu berjanji" ucap Alena dengan menggoyang goyangkan tubuh Raffa laiknya anak manja.


"Iya, aku janji" balas Raffa tersenyum sekaligus salah tingkah.


Setelah beberapa saat, Raffa mencoba mengangkat wajah gadis itu namun pelukannya semakin erat.Ia pun membiarkan gadis itu tetap dalam pelukannya.


Luna yang mengerti perasaan Alena memeluknya dari belakang di ikuti Ryo.


Yogi pun mendekat seraya merentangkan tangannya, namun tertahan Ryan yang menjewer telinganya.


"Heh mau kemana? ngerusak suasana kalo lo ikutan teletubbies.Noh peluk si jomlo aja" ucap Ryan lalu mendorongnya ke arah Arif yang sudah datang bersama Vina tak lama setelah mendengar teriakan Alena.


"Sue kaya doi gak jomlo aja lo knalpot rombeng" sahut Arif gak terima.


"Eit jangan salah" balas Ryan lalu menggandeng bahu Vina.


"Ihh apaan sih! emang dikira gue cewek pelarian lo" sahut Vina judes.


"Yah,orang serius juga dianggap bercanda" goda Ryan


"Bodo!" balas Vina.


Yogi dan Arif hanya cekikikan melihatnya.


Dari tempat yang tidak jauh, Aurel terus menatap mereka dengan perasaan yang tak bisa di lukiskan,


"Aku telah bersalah padamu, seharusnya aku percaya Luna sahabatku.Tapi ... kenapa mesti gadis itu yang kamu pilih, kenapa Al?" guman Aurel sendu seraya menyandarkan kepalanya.


[ Bersambung ]


Apakah hari selanjutnya akan lebih baik setelah Raffa kembali?


Atau malah bertambah rumit?


Apa reaksi Leon saat tahu musuh abadinya kembali?

__ADS_1


see you next gess 😄


__ADS_2