
Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Rama bisa sejauh ini keselamatan Raffa terancam.Sepertinya memang yang mengincarnya bukan orang biasa.
"Vi, bagaimana keadaannya?" tanya Rama.
"Dia baik, tidak ada luka serius, sendi bahunya bergeser tapi sudah di atasi.Dia berhasil menghindar dari tabrakan langsung, cukup pintar sepertinya melompat dan berguling mengikuti arah mobil" balas Violet seraya terus menutup wajahnya dengan majalah.
"Punya petunjuk untuk pelakunya?" tanya Rama kembali seraya terus berlaga layaknya sedang menelepon.
"Perlu menyelam lebih dalam untuk sang pemilik pesta, mereka hanya pelayan sewaan sepertinya" balas Violet.
"Hmmm, setidaknya apakah kamu punya data untuk pesta selanjutnya?" ucap Rama makin penasaran.
"Ada yang menarik dari jejak mobil disana, itu jenis ban untuk racing, sedikit orang yang memakainya untuk mobil harian" balas Violet kembali menjelaskan temuannya.
"Sepertinya saya bisa mengandalkanmu untuk berpesta lebih lama" ucap Rama tersenyum puas.
"Ok, tak sabar menunggu acara puncaknya" sahut Violet seraya membuka lembaran majalahnya.
"Ok Vi, saya harus nemuin dokter yang menanganinya.Ada sesuatu yang harus saya bahas bersamanya" tutup Rama lalu memasukan ponselnya dan beranjak pergi.
Setelah cukup lama Rama di ruangan dokter yang menangani Raffa.Akhirnya Rama pun menuju ruang perawatan.
"Siapa sebenarnya yang terusik sama orang sebaik kamu Al" guman Rama gundah sekaligus geram.
"Emmhhhh, akkhhhhh" Raffa melenguh.
"Raffa! Syukurlah kamu sudah sadar" ucap Rama sedikit terkejut.
"Eumhhh, di mana ini?" lirih Raffa terasa berat untuk bergerak.
"Kamu di rumah sakit Al, untung saja kamu segera di temukan"
"Mas Ram ... ma, euummhh kenapa tangan kiri saya Mas Rama!?" Raffa begitu terkejut saat tak bisa menggerakannya.
"Tenang Al jangan dulu panik" balas Rama berusaha menenangkan.
"Tapi Mas! tangan saya, tangan saya kenapa!? kenapa sulit di gerakan!" ucap Raffa mulai panik.
"Tenang Al Mas mohon kamu tenang, ini semua demi kebaikan kamu" balas Rama seraya menahan Raffa.
"Maksud Mas!? tangan saya hilang!? atau lumpuh!?" ucap Raffa makin memucat.
"Tenang Al, sebaiknya kamu istirahat dan jangan terlalu banyak berpikir agar kamu lekas sembuh"
"Tapi Mas, ada apa dengan tangan saya!?" desak Raffa.
"Sabar Al, semoga kamu bisa menerimanya.Semua demi kebaikan kamu, biarkan mereka menganggap rencananya berhasil"
"Tapi Mas, gak mungkin saya seperti ini" ucap Raffa gak terima.
"Mas ngerti Al, kamu yang kuat ya, percaya sama Mas, sekarang kamu fokus sama kesehatan kamu" balas Rama meyakinkan.
"Bagaimana mungkin saya menjalani kehidupan dengan kondisi seperti ini" ucap Raffa terlihat pilu.
"Mas yakin kamu mampu, segeralah sembuh, kamu tak mau membuat ibumu tambah sedih saat datang kesini dan melihatmu lemah seperti ini kan?" ucap Rama mencoba memberi semangat.
"Ibu!?" Raffa langsung tertegun mendengarnya.
"Benar Al Ibu kamu ada di sini, jangan buat dia bersedih, kamu yang kuat.Sekarang istirahatlah" ucap Rama lalu beranjak pergi.
"Vi, tetap di sini sementara waktu, saya pergi dulu" ucap Rama lalu menutup teleponnya.
"Dimengerti" balas Violet.
malam pun berlalu, terasa begitu panjang untuk semua orang di sekitar Raffa.Hingga pagi menjelang, dinginnya embun tak sedikitpun meredakan lara.
"Mah makan ya, dari semalam gak makan nanti sakit" ucap Alena berusaha menyuapi.
"Mamah gak mau, sebelum ketemu Raffa" sahut Ibu Aisyah menggelengkan kepalanya.
"Tapi Mah kalo sakit gimana Mamah mau nyari Raffa? bukannya kita mau nyari Raffa sama-sama?" ucap Alena begitu khawatir.
"Alena benar Ibu Aisyah, kalau tidak makan gimana ibu mau punya tenaga, jangan menyiksa diri sendiri Bu, saya janji akan mencari Raffa sampai dapat" ucap Tn Harry membujuk.
__ADS_1
"Iya Mah Alena juga janji, sekarang makan ya? gak apa sedikit juga" ucap Alena kembali menyuapi Ibu Aisyah.
Ibu Aisyah yang sedikit tenang lalu mengangguk seraya menerima suapan Alena.Membuat Tn Harry juga Alena merasa lega.
Saat Tn Harry keluar dari kamar ia di kejutkan Rama yang sudah menunggunya.
"Maaf Pak bagaimana kondisi Ibu Aisyah?" tanya Rama sedikit sungkan.
"Eh! kamu Ram, bikin kaget saja.Kondisi Ibu Aisyah baik gak baik, pasti berat untuknya menerima kenyataan ini"
"Apa gak sebaiknya di periksa dokter Pak?"
"Semalam sudah, hanya perlu istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran.Tapi sepertinya sulit ia begitu mengkhawatirkan putranya" sahut Tn Harry terlihat iba.
"Emh, maaf sebelumnya Pak sebenarnya saya ... " ucap Rama meragu.
"Sebenarnya apa Ram! apa kamu tahu sesuatu!?" desak Tn Harry.
"Sekali lagi saya minta maaf sebenarnya saya sudah menemukan Raffa" ucap Rama yang memang tak berniat menyembunyikannya.
"Apa! kamu sudah menemukannya!? kenapa baru sekarang kamu mengabari saya" seru Tn Harry begitu terkejut.
Alena yang mendengar suara keras papahnya lalu beranjak menuju pintu kamar dan mengintip keduanya.
"Maaf saya tidak bermaksud berbohong, saya hanya tidak ingin orang melihat Raffa dengan kondisi yang kurang baik" balas Rama beralasan.
"Memang bagaimana kondisinya sekarang Ram!?" tanya Tn Harry.
"Sekarang sudah lebih baik Pak makanya saya baru berani bilang, utamanya takut membuat Ibu Aisyah lebih syok" Rama kembali memberikan alasannya.
Alena yang mendengarnya begitu terkejut sekaligus senang karena itu mungkin salah satu berita baik yang paling di tunggu.
"Jadi Mas Rama sudah menemukan Raffa, syukurlah kalau benar.Mamah pasti senang mendengarnya" guman Alena lalu kembali menemani Ibu Aisyah.
Tak lama Tn Harry juga Rama terlihat memasuki kamar.Sedikit ragu Tn Harry akhirnya mulai buka suara,
"Maaf Bu Aisyah ini Rama membawa kabar baik, Raffa sudah di temukan" ucap Tn Harry dengan tersenyum.
"Apa! Raffa sudah di temukan!? benar itu Tn Harry? Nak Rama?"
"Kalau gitu tolong antar saya menemui anak saya.Saya mohon secepatnya" pinta Ibu Aisyah seakan kembali menemukan kekuatannya.
"Kita akan kesana tapi Ibu selesaikan makan dan minum vitaminnya.Saya akan bersiap-siap dulu" ucap Tn Harry.
Setelah cukup lama bersiap-siap akhirnya mereka pun berangkat menuju rumah sakit dimana Raffa mendapat perawatan.
Di tengah perjalanan Rama di kejutkan oleh segerombolan motor sport yang terus menghalangi perjalanannya.
Hingga akhirnya Rama dengan sengaja masuk ke sebuah bangunan gedung yang terbengkalai.
"Ini ada apa Alena?" Ibu Aisyah begitu panik.
"Tenang ya Mah kita akan baik-baik saja" balas Alena berusaha terlihat tenang.
"Semua tenang, biar saya yang menghadapi mereka" ucap Rama Lalu keluar dari mobilnya.
Setelah keluar Rama yang terlihat tenang berdiri menyandar seraya melipat tangan di dadanya.
Tak lama beberapa pemotor turun lalu mengepungnya.Terlihat sang ketua yang tak lain Andre pun menghampirinya.
"Ketemu juga lo sialan!" seru Andre terlihat penuh amarah.
"Apa mau lo kali ini heh!" balas Rama tak kalah sinis.
"Jangan belaga bego lo, apa peringatan gue kurang keras bajingan!" seru Andre lalu melempar helmnya.
Reflek Rama menepisnya namun ia di kagetkan satu pukulan yang mengarah pada wajahnya.Dengan cepat ia menunduk, namun satu tendangan menyusul.Rama segera menyilangkan tangannya.
Sadar dirinya di serang dengan niat membunuh, Rama lalu balas menyerang dengan tendangan memutar namun Andre dapat menangkisnya.
Keduanya pun terlibat pertarungan yang begitu sengit.Tanpa terlihat di antara mereka ada yang akan kalah.
"Masih mau di teruskan? atau lo mau mulai jelaskan ada apa ini?"
__ADS_1
"Kenapa!? mulai ciut nyali lo brengsek" ucap Andre lalu kembali menyerang.
Hingga keduanya kembali bertarung.Entah Andre yang tahan pukul atau memang Rama yang tak berniat menghabisinya.
Hingga pada satu gerakan Andre berhasil mengunci Rama dan memiting lehernya dari belakang.
"Habis lo sekarang brengsek!" ucap Andre dengan puas.
"Heh! jangan puas dulu, bergerak dikit lo gak bakal punya keturunan seumur hidup lo" balas Rama terlihat tenang.
Andre yang sedikit terkejut lalu menatap ke bawah perutnya.Benar saja satu pisau kecil sudah mengarah pada vitalnya.
"Apa maksud lo menguntit gue!" ucap Rama penuh penekanan.
"Heh! masih saja belaga bego, lo apain sodara gue! hingga rumahnya lo bikin hancur!" ucap Andre begitu emosi.
"Haha lo salah orang otak udang! lo kira cuma lo saudara si Al!" balas Rama.
"Maksud lo apaan sialan!" bentak Andre
"Lo cukup ikutin gue, tp dengan syarat tanpa krucil-krucil lo" sahut Rama dengan tegas.
"Permainan apa lagi yang lo coba mainkan bangsat!" ucap Andre seraya mengencangkan jepitannya.
Namun kembali Andre sedikit melepasnya saat pisau kecil Rama menekan lebih dalam.
"Tenang gue gak suka bermain licik, kalau lo saudara si Al pasti lo akan menghormati ibunya kan? kecuali lo emang bukan manusia beradab" ucap Rama dengan penuh penekanan.
"Lo ngomong apaan brengsek!" seru Andre makin tak sabar.
"Di mobil gue bawa ibunya Raffa, apa menurut lo gue pelakunya!?" ucap Rama dengan serius.
"Kalo lo bukan pelakunya lalu siapa!?" tanya Andre begitu tak habis pikir.
"Itu yang harus kita cari tahu, kita punya target yang sama" balas Rama.
Andre pun lalu melepaskan Rama,
"Ok gue ikuti mau lo, tapi kalau lo macem-macem gue habisin lo sama tua bangka itu" ancam Andre.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan Andre mengikuti tanpa satu anggota pun menemaninya.
"Itu tadi sebenarnya ada apa Nak Rama?" ucap Bu Aisyah ketakutan.
"Tenang ya Bu, percayalah sebenarnya orang itu baik, dia salah satu yang peduli sama Raffa" jelas Rama.
Bu Aisyah begitu tak percaya, bagaimana mungkin putranya bisa berhubungan dengan preman jalanan seperti itu.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit.Bu Aisyah yang tak sabar terlihat tergesa-gesa.Hingga akhirnya mereka semua sampai di ruangan Raffa.
"Raffa, Raffa!" ucap Bu Aisyah langsung memeluk putranya.
"Ibu!?" Raffa lalu membuka matanya.
"Raffa kamu baik-baik saja kan Nak? Ibu takut banget kehilangan kamu" ucap Ibu Aisyah namun terkejut saat sesuatu mengusiknya.
"Al kamu!? kenapa dengan tangan kamu!? jangan bilang ... " lalu Ibu menyingkap selimut yang menutup Raffa.
Sontak semua orang terkesiap saat melihat Raffa.Tangan kirinya nampak buntung dengan hanya menyisakan lengan bajunya yang kosong.
"Ya ampun!" Alena begitu terkejut lalu memalingkan wajahnya.
"Raffa!" Tn Harry hanya bisa mengusap wajahnya.
"Astagfirullahaladzim!" Bu Aisyah sontak gemetar lalu terlihat limbung.
Rama Lalu dengan cepat menahan Ibu Aisyah untuk tak terjatuh.
Sementara Andre langsung keluar kamar dengan penuh Amarah.
"Siapapun kalian akan gue balas berkali kali lipat" ucap Andre seraya memukul tembok.
Dari tempat duduk yang tidak jauh Violet terus menatap Andre dengan penuh selidik.
__ADS_1
[[ Bersambung ]]