
Di pagi hari yang indah mentari bersinar menerangi, membawa secercah harapan dan semangat, tak terkecuali buat insan yang hilang asa.
Layaknya Raffa yang termenung di depan cermin menatap tubuhnya yang bertelanjang dada tanpa tertutup satupun pakaian.
Tangan kirinya yang terbalut hingga seakan menyatu dengan tubuhnya masih terus mengusiknya.Harapan terbesarnya tangan itu kembali bisa ia gerakan.
"Ya Allah yang Maha Kuasa, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sembuhkanlah aku.Tidak ada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit." pinta Raffa dalam doanya.
Dengan sedikit susah payah Raffa berpakaian.Selesainya merapikan diri ia pun segera keluar menuju ruangan tengah.
"Sudah siap Al?" tanya Rama.
"Sudah Mas" balas Raffa.
"Ya sudah sebaiknya kamu izin tak kuliah saja, hari ini kita ada janji ketemu dokter untuk pemeriksaan kondisimu" ucap Rama.
"Apa keadaan saya akan berubah Mas? sangat tidak enak hanya punya satu tangan" tanya Raffa terdengar sendu.
"Kita berdo'a saja hasilnya sesuai harapan" balas Rama penuh keyakinan.
"Mas gak berangkat kerja memang?" Raffa merasa tak enak.
"Itu sudah seizin Tn Harry kok lagian Vera juga bukan sekretaris biasa.Oh iya Tn Harry juga Alena sangat berharap bisa bertemu kamu" balas Rama seraya tersenyum.
"Mungkin nanti saya akan berkunjung Mas, kabar Alena sendiri gimana?" Raffa kembali bertanya.
"Dia baik walau banyak
mengkhawatirkan keadaan kamu tapi berkat kedekatannya dengan ibumu Alena jadi lebih kuat" balas Rama.
"Alena memang lebih butuh sosok seorang ibu sepertinya" ucap Raffa seraya tersenyum lega.
"Begitulah, satu yang harus kamu tahu, setiap Alena punya waktu atau libur dia selalu datang dan menginap di rumahmu disana hanya untuk berdekatan dengan Ibu Aisyah"
"Serius Mas!? tak sangka Alena begitu menyayangi Ibu.Syukurlah setidaknya Ibu makin tidak merasa kesepian" balas Raffa begitu bersyukur.
"Ya sudah kita berangkat sekarang supaya tidak terlalu siang nantinya" ucap Rama.
"Apa saya boleh ikut ke rumah sakit juga?" tanya Violet berharap.
"Tak perlu Vi kamu kuliah saja biar makin pinter" ledek Rama.
"Udah pinter juga kok, lagian gak pengaruh kalo sehari aja kan?" balas Violet terlihat kesal.
"Udah kamu berangkat sana, masih banyak benang kusut yang harus kamu urai" ucap Rama memperingatkan.
"Ok Boss laksanan" balas Violet tanpa membantah lagi.
Akhirnya mereka berangkat menuju tempat tujuannya masing-masing.
Tak butuh waktu lama Raffa juga Rama telah sampai di rumah sakit.Setelah bertemu dengan dokter yang menanganinya serangkaian pemeriksaan pun di lakukan.
Dengan begitu sabar Raffa mengikuti semua proses pemeriksaan juga tes tersebut.Hingga akhirnya saat konsultasipun tiba.
"Bagimana perasaan kamu sekarang" tanya dokter Albert.
"Saya baik Dok hanya saja apa memang saya akan kehilangan tangan saya ini selamanya?" tanya Raffa begitu serius.
"Apa! kehilangan tangan selamanya!?" Dokter Albert terkejut lalu menatap Rama.
"Sebenarnya apa yang kamu katakan padanya Ram?" tanya Dokter Albert seraya mengangkat satu alisnya.
"Aku tak bicara apapun Bert, sebelumnya kan sudah ku jelaskan padamu" balas Rama meminta pengertian.
"Ya tapi tak sampai membuat dia berpikiran jauh seperti itu juga Ram" ucapnya geleng-geleng.
"Tunggu sebenarnya ada apa ini? saya makin tak mengerti? tolong jelaskan yang sebenarnya?" tanya Raffa seraya menatap mereka bergantian.
__ADS_1
"Biar Albert yang jelaskan, kamu boleh tanya apapun padanya" ucap Rama pada Raffa.
"Kondisi tangan kamu memang belum membaik saat ini, sendi bahumu bergeser akibat benturan tapi tidak berati kamu akan kehilangan tanganmu untuk selamanya" jelas Dokter Albert.
"Jadi tangan saya bisa kembali normal Dok!?" ucap Raffa penuh harap.
"Iya, tapi ingat sementara ini jangan paksakan bahumu untuk bergerak, masih ada sedikit bengkak namun untungnya tidak ada kerusakan di jaringan bahumu" ucap Dokter Albert menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin.
"Kira-kira berapa lama waktu yang di butuhkan untuk kesembuhan tangan saya ini Dok?" tanya Raffa kembali.
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar ya, kita lihat satu minggu ini.Selama kamu mengikuti saran saya tak lama lagi tangan kamu akan sembuh" balas dokter Albert seraya tersenyum.
"Tapi Dok mengapa dari pertama tangan saya sulit di gerakan? saya merasa tangan saya lumpuh"
"Hehe itu wajar Al, hasil dari tindakan medis juga obat membuat efek mati rasa tapi kamu tenang saja itu hanya sementara.Coba kamu gerakan jari dan pergelangan tanganmu" ucap Dokter Albert.
Raffa pun mengikuti semua perkataan Dokter Albert.Ia mencoba menggerakan jari, pergelangan juga sikunya.
"Akhhhh, sshheee" lirih Raffa sedikit menahan sakit.
Dokter Albert juga Rama tersenyum melihat perkembangan kondisi Raffa.Begitu juga Raffa yang mulai menemukan harapannya.
Sementara seseorang nampak begitu gundah sejak pagi ia tak menemukan sang pujaan hatinya.Hingga siang datang pun hanya membuatnya semakin galau.
"Kamu di mana sih sayang jangan buat aku khawatir dong" guman Aurel terlihat cemas.
"Kamu kenapa Aurel resah amat sih" tanya Luna.
"Raffa Lun, dia kemana coba di tambah gak ada kabar sama sekali, aku telepon gak di angkat di chat juga gak bales" balas Aurel terlihat sedih sekaligus cemas.
"Mungkin ada keperluan mendadak kali Aurel, tenang ya nanti juga pasti ngabarin.Duh yang lagi kasmaran sampai gak tahan nahan kangen ya?" ucap Luna mencoba menghibur.
"Ih Luna gak gitu, aku cuma takut kejadian kemarin terulang lagi.Cari kemana dong Lun?" balas Aurel penuh harap.
"Ya aku juga gak tahu sih Aurel, tapi moga ketakutanmu itu tak terjadi" ucap Luna.
"Sabar Aurel, sudah ya jangan mikir yang enggak-enggak, doa'in aja kesayangannya baik-baik aja" Luna mencoba menghibur.
"Emmm, kangen Lun" ucap Aurel seraya menangkup wajahnya.
"Ya ampun ampe segitunya, lucu kalo inget dulu lo sama si Al kaya gimana, perang dunia terus, sekarang malah bucin begini" guman Luna tesenyum geli.
"Aurel sorry gue mau nanya sesuatu" dengan tiba-tiba Leon mengagetkannya.
"Aduh ini apa lagi, bikin suasana makin gak enak aja" ucap Aurel bermonolog.
"Gue minta lo jawab yang jujur, apa bener lo pacaran ama bocah ini?" ucap Leon seraya memperlihat foto di ponselnya.
"Lo sebenernya siapa sih!? wartawan? harus banget gue ngasih tahu lo segala hal tentang gue, aneh banget" balas Aurel malas.
"Tapi ini jadi urusan gue juga karena ini menyangkut perasaan gue sama lo" ucap Leon menekankan.
"Perasaan!? sejak kapan lo punya perasaan? lagian mau gue pacaran atau tidak itu urusan gue dan gak ada satupun yang bisa ikut campur, apa lagi lo!" balas Aurel ketus.
"Tapi gue yakin lo gak beneran suka kan sama dia? palingan lo cuma kasihan apalagi sekarang dia cacat" ucap Leon menyindir.
"Plaakk" satu tamparan mendarat di wajah Leon.Aurel berdiri dengan tatapan begitu tajam.
"Denger lo! ini yang membuat gue muak, selain tak punya perasaan lo selalu menganggap diri lo lebih mulia.Salah dia apa sih sampai lo selalu saja mengusiknya!?" ucap Aurel mulai emosi, hingga Luna pun mengusap-usap pundaknya menenangkan tanpa bisa berkata apapun.
"Karena dia udah ngerebut lo dari gue!" balas Leon dengan sedikit berteriak.
"Ngerebut!? haha sejak kapan dia ngerebut gue? memang kita pernah sedekat apa heh! stop halusinasi lo.Siapapun dia lo gak bisa menyalahkannya begitu saja" balas Aurel terkekeh meledek.
"Lo bakal nyesel kalo beneran lo sama dia Rel, lo gak akan bahagia" ucap Leon mencoba meyakinkan.
"Heh! sepertinya lo perlu contoh.Kenapa lo gak kejar cewek cantik berbaju merah itu dia lebih anggun dari gue kan?" ucap Aurel menujuk seseorang yang agak jauh darinya.
__ADS_1
"Tapi gue gak suka sama dia Aurel, lo gak bisa maksa gue" balas Leon.
"Nah seperti itu juga gue, perasaan gak bisa di paksakan. Lo gak bisa maksa gue buat ngikutin apa mau lo.Gue minta lo pergi, lo bikin mood gue tambah buruk" ucap Aurel lalu kembali duduk dengan wajah yang makin kusut.
Tanpa bisa membalas apapun lagi Leon pun pergi dengan perasaan yang campur aduk.
"Ngebetein banget, ngapain juga sih tuh orang ngusik gue mulu" keluh Aurel.
"Sabar Aurel udah kamu tenang yah" ucap Luna.
"Dreeeetttt, dreeeettt" ponsel Aurel bergetar.
"Angkat aja Lun, gue lagi gak mood" ucap Aurel yang terus membenamkan wajahnya di atas meja.
"Lo aja deh yang ngangkat, gue gak mau di sebut pelakor" goda Luna.
"Apaan sih Lun, gak jel ... Raffa!" wajah Aurel berubah cerah saat tahu sang penelepon.
"Hallo sayang, kamu dimana? aku khawatir sama kamu" ucap Aurel.
"Assalamualaikum, maaf baru kasih kabar" balas Raffa mengerti perasaan Aurel.
"Hehe maaf sayang, waalaikumsalam.Kamu gak ke kampus emang kamu kemana?" ucap Aurel malu.
"Iya, karena aku harus ke rumah sakit, tapi tak perlu khawatir cuma pemeriksaan kesehatan aja, aku baik kok" balas Raffa.
"Rumah sakit!? beneran kamu gak apa-apa? aku nyusul kamu ya?" ucap Aurel kembali cemas.
"Udah, gak apa-apa ini juga lagi di perjalanan pulang, nanti aku telepon lagi ya" ucap Raffa.
"Ih gak mau, masih kangen.Masa cuma bentar doang" balas Aurel sedikit kecewa.
"Aku janji nanti aku telepon lagi kalau sudah di rumah ya" ucap Raffa dengan suara lembut.
"Ya sudah deh, awas kalau bohong" balas Aurel tak rela.
"Iya janji, Assalamualaikum sayang.I love you Aurel" ucap Raffa sedikit grogi.
"Waalaikumsalam sayang, love you too" balas Aurel dengan pipi mulai merona.
"Ahhh Raffa" guman Aurel menangkupkan kedua tangan di dadanya seraya menggoyang goyangkan tubuhnya.
Luna hanya mengusap wajahnya seraya menghela nafas melihat tingkah sahabatnya itu.
Sementara di dalam mobil Rama tersenyum mendengar percakapan Raffa.
"Gadis mana lagi yang takluk kali ini Al?" ucap Rama menyindir.
"Ahh Mas bisa aja, ini gadis yang sudah berkorban untuk melindungi saya kemarin" balas Raffa.
"Emm gadis itu.Oh iya Al besok bisa kamu atur pertemuan dengan Andre? untuk waktu dan tempat nanti Mas info lagi" ucap Rama.
"Maksudnya Bang Andre?" balas Raffa.
"Iya, genk motornya terus bergerak mencari informasi tentang siapa yang sudah menculikmu" ucap Rama terlihat khawatir.
"Serius Mas!?" tanya Raffa terkejut.
"Pergerakan mereka terlalu liar, takutnya menimbulkan masalah baru.Utamanya Mas khawatir pelaku sebenarnya makin waspada dan lebih sulit di temukan" ucap Rama menjelaskan.
"Baik kalau begitu, nanti saya hubungi Bang Andre" balas Raffa.
"Satu hal lagi, soal kondisi kamu maaf sekali lagi tolong jaga rahasia ini jangan sampai siapapun tahu termasuk orang terdekatmu, Mas sendiri hanya jujur pada satu orang.Dia Ibumu Al" ucap Rama begitu memohon.
Raffa hanya bisa mengangguk menyetujuinya, Ia paham benar apa yang di lakukan Rama semua demi kebaikannya.
[[ Bersambung ]]
__ADS_1