
[[ Flashback On ]]
Dalam ruangan yang tertutup Aurel begitu terkejut saat seseorang yang sangat tidak ingin ia temui datang.Dengan percaya diri Leon masuk lalu duduk seraya menatap Aurel penuh rasa puas.
"Akhirnya kita bisa berduaan" ucap Leon seraya tersenyum.
"Dasar manusia culas! bebasin gue dan Kakak gue sialan!" ucap Aurel dengan nada serius.
"Haha sabar cantik seharusnya lo senang kita bisa berduaan, gue akan bikin lo jadi cewek paling bahagia" balas Leon.
"Lo bawa kemana Kakak gue hah! cepat bawa gue ke tempatnya!" bentak Aurel tak sabar.
"Gak perlu khawatir, Kakak lo sedang berduaan dengan bocah kesayangan lo" balas Leon seraya mendecih.
"Raffa!? apa maksud lo Kakak gue sama dia, apa rencana lo sebenarnya! bawa gue ke sana cepat!" pinta Aurel sungguh-sungguh.
"Haha rencana gue!? sepertinya lo gak tahu, kalau semua ini justru rencana Kakak lo sendiri!" ucap Leon.
Sontak jantung Aurel berdetak lebih kencang mendengar ucapan Leon, "Apa! gak mungkin ini pasti akal akalan lo saja, cepat bawa gue ke sana!" balas Aurel memaksa.
"Heh! lo tenang saja Kakak lo sedang bersenang-senang dengan bocah itu, sebaiknya lo tak usah mengganggunya!" ucap Leon tengil.
"Bebasin gue sialan cepat bebasin gue! gue harus pergi kesana!" ucap Aurel lalu beranjak menuju pintu.
"Percuma saja lo gak akan bisa keluar dari sini" balas Leon dengan santai.
Setelah berusaha membukanya namun usahanya sia-sia, Aurel hanya bisa mengeluarkan makian padanya.
"Dasar manusia rendah, cepat buka! lo kira lo akan bebas setelah melakukan semua ini!" teriak Aurel semakin emosi.
"Setimpal! karena akhirnya kita bisa sedekat ini.Sebenarnya apa sih yang lo khawatirin soal bocah itu!? punya apa dia di banding gue!?" ledek Leon.
"Bener-bener tak tahu diri lo Leon! lo tuh gak sedikitpun bisa sebanding dengannya! paham lo!" balas Aurel begitu malas.
"Apa gak sebanding! lo buta!? dia yang gak sebanding sama gue! bocah kampung yang norak dan miskin mana bisa nandingin gue! kenapa bisa lo gak pernah nganggap gue! kenapa!?" seru Leon seraya berdiri menatap Aurel.
"Masih saja nanya, satu yang lo gak punya dan sepertinya gak akan sanggup lo punya, hati!" balas Aurel singkat, "Apa ada orang sayang ngelakuin hal sekeji ini, apa ada!?" lanjut Aurel.
"Karena lo gak pernah mau coba mengerti gue! kenapa lo gak pernah ngasih gue kesempatan untuk membuktikannya! kenapa!?" ucap Leon nampak emosi.
"Karena gue gak pernah suka sama lo apalagi dengan cara barbar lo! salahin diri lo sendiri jangan orang lain!" balas Aurel dengan dingin.
"Heh! keras kepala, jika gue gak bisa miliki lo! orang lain pun tak akan bisa" ucap Leon seraya mendekat dengan tatapan tajam.
Aurel nampak tergetar hatinya saat melihat aura wajah Leon yang nampak murka.
"Mau apa lo! jangan mendekat atau gue teriak!" ancam Aurel.
"Teriak saja semau lo! gue gak peduli, setelah lo gue miliki malam ini, apa bocah itu masih mau sama lo!" balas Leon begitu dingin.
Dalam ketakutan Aurel terus berusaha menghindar namun Leon yang sudah gelap mata dengan cepat mencengkram lengan Aurel dan menariknya.
"Aaaahhhkkkk! jangan! lepaskan gue!" jerit Aurel saat cengkraman Leon menyakitinya.
__ADS_1
[[ Flashback Off ]]
Sementara Adrian yang sudah nampak babak belur berusaha kembali ke tempat Raffa di sekap.Namun tanpa di duga satu orang tengah berjaga di luar.
"Sialan! gue gak bisa percaya seseorang lagi sekarang, situasi ini membuat gue sendirian!" gumam Adrian namun wajahnya tiba-tiba berubah serius dan nampak berpikir, "Kecuali!" sentak Adrian lalu berjalan mengendap-endap seraya meraih pipa besi pendek.
Dari arah belakang Adrian lalu mendekat dan melayangkan pukulan tepat di leher belakang,
"Bughhhhhh!"
Sontak penjaga itu pun di buat pingsan oleh pukulan Andrian.Dengan perlahan Andrian lalu masuk,
"Hei bocah! miris amat nasib lo, cewek lo di rebut orang karena Kakaknya yang membenci lo" ucap penjaga itu seraya mencengkram rahang Raffa.
Raffa hanya menatap tajam namun teralihkan oleh Adrian yang nampak berdiri di belakang penjaga itu dengan satu jari dia tempelkan di bibirnya.
"Lebih miris lagi nasib lo sialan!" tiba -tiba Andrian berteriak, saat penjaga itu terkejut lalu menoleh satu pukulan mendarat di kepalanya,
"Akhhhhh!" pekiknya lalu roboh tak sadarkan diri.
"Sepertinya omongan lo benar bocah, Leon terlalu brengsek untuk di percaya" ucap Andrian lalu dengan tergesa melepaskan ikatan Raffa.
Saat Raffa terlepas dengan cepat ia menerjang Adrian hingga menindihnya.
"Dasar bodoh! lo seharusnya lebih tahu sialan!" ucap Raffa seraya mengangkat kepalan tangannya.
"Lo boleh ngabisin gue, tapi tolong selamatkan Aurel di lantai atas dia di sekap Leon" balas Adrian pasrah.
"Apaaa! bawa gue ke sana, cepat!" seru Raffa tak ingin buang waktu.
"Gue masih sanggup bikin lo masuk rumah sakit! lagian pukulan lo kayak cewek!" balas Raffa meledek.
"Cih! cepat ikuti gue" ucap Adrian lalu menuntun Raffa menuju lantai dua.
"Cepat tunjukan diamana dia!" ucap Raffa tak sabar.
"Tenang bocah ruangan itu di jaga dua orang! apa lo sanggup ngeladenin mereka" balas Adrian seraya mencoba bersembunyi.
"Terlalu banyak basa basi lo, kalau lo takut diam saja lo di situ!" seru Raffa lalu berjalan tergesa-gesa.
Tak lama Raffa terfokus pada dua orang yang nampak berjaga di luar ruangan yang paling besar.Penuh percaya diri Raffa berjalan seraya membuka bajunya.
"Brengsek! bagaimana bisa lo kesini bocah!?" seru kedua penjaga itu.
Tanpa menjawab Raffa berlari lalu melayangkan dua tendangan kiri dan kanan membuat kedua penjaga itu terdorong.
Benar- benar ingin segera selesai Raffa menyerang tanpa berhenti.Secepat kilat ia meraih kursi lalu menghajarkan pada kedua penjaga tersebut bergantian.
Raffa lalu melempar kursi tersebut pada penjaga di arah kiri tanpa jeda ia melayangkan tendangan pada penjaga di kanan
"Saatnya diam lo sialan!" ancam Raffa seraya melayangkan tiga pukulan di akhiri satu tendangan tepat di wajahnya.Penjaga itu pun ambruk tak sadarkan diri.
"Tinggal lo bajingan!" ucap Raffa menghampiri penjaga di kiri yang berusaha bangun.
__ADS_1
Sementara di dalam ruangan Leon dengan kasarnya menarik Aurel kedalam dekapannya.
"Jika lo maunya gue kasar ok, gue gak akan memperlakukan lo sesuka gue!" ucap Leon lalu membopong Aurel dengan paksa.
"Lepasin gue orang gila! lepasin!" Aurel berontak seraya memukul sebisanya.
"Tenang gue akan melepaskan lo dan akan gue rengut apa yang paling berharga di diri lo!" balas Leon lalu menghempaskan Aurel ke tempat tidur di ruangan itu.
"Berhenti! jangan pernah lo berani sentuh gue lagi! lepasin gue atau lo akan menyesal!" ancam Aurel sebisanya.
"Justru gue beruntung malam ini akan memiliki lo!" ucap Leon seraya membuka bajunya.
Lalu dengan kasar berusaha menindih Aurel seraya mencengkram kedua lengannya.Aurel terus berusaha melepaskan diri dengan menendang sebisanya namun sia-sia.
"Kamu hanya akan jadi milik gue sayang" ucap Leon lalu mulai berusaha mencium bibir Aurel.
"Tidaakkkk! jangan! apa yang mau lo lakukan! stop!" Aurel meronta seraya memalingkan wajah sebisanya untuk menghindar.
Leon yang gelap mata mulai menjelajah setiap senti leher Aurel dengan penuh nafsu.
"Emhhhh wanginya dirimu sayang" tanpa di duga Leon menarik baju Aurel hingga robek membuat dadanya terbuka menyisakan bra.
"Tolong lepasin gue! hiks hiks! jangaaannnn lakukan itu!" pinta Aurel begitu memohon dengan air mata mulai bercucuran saat Leon terus melepaskan bajunya yang koyak.
"Lo memang yang terindah sayang, mari kita nikmati malam ini berdua" racau Leon penuh nafsu kembali mencium leher Aurel seraya satu tangan mulai bergerilya di dadanya.
Sementara di luar ruangan Raffa yang sedikit mendengar jeritan Aurel semakin tak bisa menahan diri.
"Bangsat!" seru Raffa tanpa ampun menerjang dengan tendangan ke arah penjaga yang belum siap di susul beberapa pukulan telak di rahang membuat penjaga itu terkulai tanpa bisa bangun lagi.
Tanpa pikir panjang Raffa membawa satu buah kursi lalu berlari mendekat pada ruangan tempat Aurel di sekap.
"Hiaaaaaahhhh!" sekuat tenaga Raffa melempar kursi tersebut pada salah satu kaca.
"Praaaanggggg!" saat kaca itu pecah, tanpa peduli Raffa menerobos ke dalam.
Hatinya begitu panas saat mampu melihat suasana di dalam, begitu pedih melihat Leon tengah menindih Aurel dengan bagian tubuhnya terbuka di atas.
"Bajingannnnn! lo harus mati di tangan gue bangsaaaaattt!" teriak Raffa dengan penuh tenaga melayangkan tendangan ke arah wajah Leon.
"Bugggghhhhh! Aaakkkhhhhh!" pekik Leon yang terdorong hingga terjatuh.
Aurel yang nampak syok hanya menutup tubuh sebisanya seraya terus menangis.
Tak lama Adrian datang penuh rasa khawatir.Ia begitu menyesal dengan apa yang di lihatnya.
"Apa yang sudah gue perbuat! ya tuhan maafkan gue Aurel" rutuk Andrian seraya menghampiri Aurel dengan penuh penyesalan.
"Ini yang lo dapat jika percaya sama rubah macam dia, mulai hari ini jangan pernah lo bilang lo Abangnya lagi!" ucap Raffa tanpa menoleh dengan penuh penekanan.
Adrian hanya pasrah ia memang telah melakukan kesalahan fatal.Dengan sedikit ragu Adrian mendekati Aurel yang menangis tersedu meringkuk memeluk kedua lututnya.
"Gue memang Abang yang buruk!" ucapnya seraya berusaha membopong Aurel.
__ADS_1
[[ Bersambung ]]