
Lima jam sudah Alena menempuh perjalanan hingga akhirnya sampai di kota kecil dimana hari sudah berubah malam.
Dengan perlahan Alena menjalankan mobilnya, suasana malam membuatnya kesulitan mengingat.
"Gue rasa ini bener jalannya, tapi setelah ini belok kemana ya?" Alena terus berusaha mengingat.
Dua kali sudah Alena putar balik ia masih saja meragu.Hingga akhirnya menemukan SD yang ia yakini.
"Syukurlah ketemu juga, setelah SD ini lalu belok kiri kalo tak salah" guman Alena terlihat semringah.
Tak lama ia pun sampai di sebuah rumah yang belum lama ini ia kunjungi.Rasa gugup tiba-tiba menyelimuti dirinya.
"Assalamualaikum, permisi" ucap Alena seraya mengetuk pintu beberapa kali.
Cukup lama Alena menunggu belum juga ada yang membukakan pintu,
"Assalamualaikum, apa ada orang di dalam!?" ucap Alena dengan suara lebih keras.
"Waalaikumsalam, maaf tunggu sebentar ya" balas seseorang dari dalam.
Alena begitu senang saat tahu ada seseorang di dalam.
Perasaannya makin tak sabar tatkala pintu mulai terbuka,
"Maaf lama, Kakak mau ketemu siapa?" ucap Nita saat melihat Alena yang terlihat muram.
"Eh maaf, apa Adik sendirian di rumah?" tanya Alena penasaran.
"Iya, ibu sedang keluar.Maaf Kakak siapa ya? ada perlu apa?" Nita mulai terlihat was-was.
Alena sendiri terlihat kecewa saat tak menemukan apa yang di harapkannya.Hingga seseorang datang mengejutkannya.
"Eh ada tamu, kenapa gak di ajak masuk Nita"
Jantung Alena berdetak lebih cepat saat mendengar suara lembut tersebut.Saat Alena menoleh sontak tubuhnya terasa bergetar,
"Kamu gak apa-apa Nak?" ucapnya saat melihat Alena seperti menahan tangisnya.
Tak terasa air mata Alena mulai membasahi pipinya, saat sosok yang selama ini di impikannya ada di hadapannya.
"Ma, mamah!" seru Alena lalu memeluknya dengan tangis yang mulai pecah.
"Kamu kenapa Nak!? kenapa menangis?" ucapnya seraya mengelus punggung juga membelai rambut Alena begitu lembut.
"Alena kangen banget, jangan biarkan Alena sendirian lagi ya Mah" Alena terus menumpahkan semua perasaannya dalam pelukan itu.
Ibu hanya bisa saling menatap dengan Nita seakan sama-sama mengharap jawaban.Namun tangisan pilu Alena membuat Ibu begitu tersentuh,
"Sudah ya jangan menangis lagi, mamah di sini sayang" ucap Ibu Aisyah seraya mengangkat wajah Alena lalu mengusap air matanya.
"Mamah, boleh Alena tinggal di sini?" ucap Alena dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
"Iya, sudah ya anak cantik jangan nangis, sebaiknya kita masuk dulu sudah malam" ucap Ibu Aisyah lalu mengecup kepala Alena.
Mendapat perlakuan itu hati Alena menghangat dirinya merasa begitu tenang,
"Mari sayang kita masuk" ajak Ibu Aisyah.dengan tetap saling berpelukan mereka pun masuk.
"Nah sayang kamu bisa tidur disini, maaf kalau kurang nyaman" ucap Ibu Aisyah seraya menunjukan kamar untuk Alena.
"Tapi, boleh gak Alena tidur sama Mamah?" sahut Alena memelas.
"Kamu yakin mau tidur sama Mamah? gak apa-apa berdesakan?" ucap Ibu Aisyah seraya tersenyum, walau agak canggung dengan panggilan Alena padanya.
"Gak apa-apa kok, Alena seneng kalo bisa tidur sama Mamah" Alena terlihat begitu senang.
"Ya sudah kalo gitu kamu boleh tidur sama Mamah" ucap Ibu Aisyah seraya mengajak Alena ke kamarnya.
Di dalam kamar Alena seakan tak mau lepas dari Ibu Aisyah.Begitu damainya Alena tiduran di pangkuan Ibu Aisyah.
"Alena sayang, belum tidur?" tanya Ibu Aisyah yang dapat merasakan kegelisahannya.
"Belum Mah, belum ngantuk.Masih mau meluk Mamah" sahut Alena tak mau lepas.
"Sayang, kamu ada masalah? apa gak kasihan, mamah sama papah kamu pasti khawatir" Ibu Aisyah mencoba bertanya lebih dalam.
__ADS_1
Alena sedikit tersadar oleh perkataan Ibu Aisyah.Ia tahu, namun bersamanya Alena seakan menemukan sosok yang paling di rindukannya selama ini.
Alena pun bangun lalu duduk bersandar di samping Ibu Aisyah,
"Sebelumnya Alena minta maaf, sebenarnya Alena hanya punya papah.Mamah Alena sudah tiada" ucap Alena dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan Mamah sayang, Mamah gak tahu" balas ibu Aisyah kembali memeluk Alena seakan mulai mengerti kepedihannya.
"Alena mohon, gak keberatankan Alena panggil mamah?" pinta Alena.
"Tentu saja sayang, Ibu manapun pasti bangga punya anak secantik kamu" ucap Ibu Aisyah coba menghibur.
"Makasih ya Mah"
"Sama-sama sayang, sekarang kamu istirahat.Besok saja kita lanjutin ceritanya" ucap ibu Aisyah seraya mencium kening Alena penuh rasa sayang.
Malam itu pun Alena lewati dalam kehangatan sosok seorang ibu.Sosok ibu yang ia temukan dalam diri Ibu Aisyah yang tak lain ibunda Raffa.
Keesokan harinya di perusahaan keluarga Adhitama Tn Harry nampak tidak bisa bekerja dengan baik.
"Ram, apa sudah ada kabar soal Alena?" tanya Tn Harry terlihat khawatir.
"Maaf Pak, kami hanya menemukan ponsel Non Alena dekat sebuah mini market.Kami sedang mencoba mengecek cctv di sana semoga saja ada petunjuk lain yang bisa kita temukan" jelas Rama.
"Pokoknya terus cari sampai dapat dan jangan lupa urus masalah ini jangan sampai di ketahui siapapun termasuk media" ucap Tn Harry begitu serius, tak ingin orang menganggapnya gagal menjadi ayah yang baik.
"Siap Pak semua sudah saya jalankan sesuai perintah Bapak" sahut Rama.
"Satu lagi awasi terus anak itu, saya yakin ia tahu sesuatu" ucap Tn Harry penuh curiga.
"Baik Pak orang kita sudah mengawasinya kemanapun ia pergi" sahut Rama dengan hati terpaksa.
Ya semua itu Raffa rasakan semenjak insiden tadi malam.Semua gerak geriknya terasa di awasi.
Namun ia berusaha bersikap biasa saja.Akan lebih baik jika Tn Harry tahu kalau ia berkata jujur soal Alena.
"Hei Al, kenapa sih melamun mulu dari tadi" ucap Armand merasa aneh.
"Sorry ya, lo semua terusin latihan gue istirahat dulu" sahut Raffa tidak bisa berkonsentrasi.
Raffa hanya mengangguk lalu duduk beristirahat di tepi lapangan.Tak lama seseorang menghampirinya.
"Kok gak semangat gitu sih latihannya?" ucap Aurel seraya duduk di sampingnya.
"Eh Naurel, iya nih lagi gak bisa fokus.Sedikit ada masalah" sahut Raffa terlihat kusut.
"Masalah?" Alena?" ucap Aurel hanya menebak.
"Kok kamu tahu?" sahut Raffa begitu terkejut.
"Cuma nebak aja, berarti benerkan lagi mikirin dia?" balas Aurel terlihat cemburu.
"Iya, tapi bukan gitu juga, aku cerita tapi jangan ngambek lagi ya" ucap Raffa tak mau ada salah paham yang lain.
"Siapa juga yang ngambek, orang cuma tanya" sahut Aurel seraya membuang muka.
Raffa hanya tersenyum melihat sikapnya,
"Jadi gini, Alena pergi dari rumah dan papahnya curiga aku menyembunyikannya" ucap Raffa menjelaskan.
"Hah, maksud kamu kabur!?" sahut Aurel.
"Iya bisa di katakan begitu, gimanapun caranya aku harus mencari dan menemukannya" ucap Raffa.
"Kita cari sama-sama ya, semoga aja lebih cepat ketemu" sahut Aurel mencoba menyemangati.
"Makasih ya Naurel, ternyata kamu sebaik ini walau judes hehe" ucap Raffa terkekeh.
"Ish Raffa ngeseliinnn! nihh rasain" Aurel pun memukul mukul bahu Raffa.
"Aduhhhh! sakiittt! iya maaf maaf becanda doang Naurel" seru Raffa kesakitan.
"Apa apa, mau lagi!" ucap Aurel belum puas.
Dengan cepat Raffa menangkap tangan Aurel lalu berucap dengan lembut,
__ADS_1
"Maafin aku ya, emhhh gemes jadinya kalo lagi cemberut begini" Raffa pun mencubit ujung hidung Aurel.
Aurel sontak terdiam dengan wajah mulai terasa panas, sikap Raffa membuatnya semakin tak karuan.Ia pun lalu memalingkan wajahnya, tak mau Raffa melihat rona merah di pipinya.
"Kita pulang yuk, latihan hari ini cukup kayanya" ajak Raffa.
Aurel hanya mengangguk lalu mereka pun segera menuju parkiran.
"Bareng Aku yuk" tawar Aurel.
"Mungkin lain kali ya, aku bawa kendaraan juga" balas Raffa merasa tak enak hati.
Aurel yang mengerti lalu meninggalkan Raffa lebih dulu.Tak lama Raffa pun meninggalkan kampusnya.
Belum jauh Raffa berjalan tiba-tiba ia di hadang sebuah mobil.
"Berhenti! berhenti lo!"
"Siapa kalian?" tanya Raffa saat melihat dua orang itu mendekat.
"Gak usah banyak basa-basi, gue cuma minta lo jujur, dimana Alena!"
"Hmm, tolong sampaikan sama boss lo, gue gak pernah nyembunyiin siapapun.Gue gak tahu Alena di mana" balas Raffa.
"Sekali lagi gue tanya, dimana Alena!"
"Boss ama anak buahnya sama saja.Gue sendiri juga lagi nyari"
"Bener-bener gak bisa di ajak ngomong" Tanpa ampun orang tersebut melayangkan pukulan lurus ke arah wajah Raffa.
Dengan cepat Raffa menangkis lalu mencengkram tangannnya.
Namun dengan cepat orang tersebut menyusul dengan pukulan memutar.
Sedikit Kaget Raffa kembali menangkis dengan tangan lainnya, di barengi satu tendangan ke punggung orang itu,
"Sialan, licin juga lo bocah tengik.Noy sikat!" dengusnya begitu kesal.
Dua orang itu pun maju berbarengan.Di keroyok seperti itu Raffa hanya bisa bertahan dan menghindar.
Hingga akhir Raffa mulai terdesak, membuat ia mau tak mau mundur beberapa langkah.
Merasa di atas angin kedua orang itu kembali menyerang.Namun tiba-tiba mereka di kagetkan suara motor yang mendekat.
"Beraninya lo keroyokan bangsat!" Ucap Andre begitu emosi.
Ivan ,Ben juga Mike pun segera Menyusul Andre mengepung dua orang tersebut.
"SR, gasss!" seru Andre tanpa Ragu merangsek dua orang itu.
Andre seorang saja membuat keduanya kerepotan, belum tiga orang lainnya.Tak begitu lama mereka dengan mudah di pukul mundur.
Sadar kalah segalanya, mereka memilih ambil langkah seribu.Dengan terburu-buru mereka langsung tancap gas.
"Sudah guys gak usah di kejar!" perintah Andre.
Andre lalu menghampiri Raffa,
"Lo gak apa-apa bocah?" ucap Andre.
"Gak apa-apa Bang, terima kasih ya" sahut Raffa begitu bersyukur.
"Sesuai dugaan gue, seseorang ngawasin lo sejak urusan semalam"
"Iya Bang saya juga udah merasa di awasi" balas Raffa.
"Sebaiknya lo lebih hati-hati, hindarin jalanan sepi.Gue gak bisa ngawasin lo 24jam.Ngerti lo" ucap Andre penuh penekanan.
"Iya Bang saya mengerti" balas Raffa seraya mengangguk.
"Ok, yuk balik" ucap Andre tak ingin berlama-lama
Tak lama mereka pun meninggalkan tempat itu.
[ Bersambung ]
__ADS_1