Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
34.Super Girl Alena


__ADS_3

"Sebaiknya gue datang lebih awal, gak mungkin di tinggal di ruko biasa itu" guman Raffa khawatir.


Dalam perjalanan ke kampusnya, ia kembali terbayang semua perkataan Tn Harry padanya.


[ Flashback ]


Sepulangnya dari makan malam Raffa pun menginap, karena keesokan harinya ada banyak yang ingin Tn Harry bicarakan dengannya.


Dari Tn Harry Raffa mulai tahu tentang keluarga ini.Dari Alissa kakak Alena hingga kematian Ny Sofia akibat kecelakan.


Namun yang membuat Raffa terbebani saat Tn Harry menganggap serius hubungannya dengan Alena.


"Raffa Om tahu kamu anak yang baik, bersyukur Alena memilihmu.Berkat kamu Om bisa melihatnya kembali menjadi Alena seperti sebelumnya.Om minta, tolong jaga Alena sebaik mungkin.Jangan kecewakan kepercayaan Om.Apa kamu mengerti?" ucap Tn Harry begitu serius.


"Eh me ... mengerti Om" sahut Raffa yang tak menyangka akan seperti ini.


"Satu lagi, tolong jangan menolak, kunci mobil ini buat kamu dan bawa ini juga buat keperluan apapun," ucap Tn Harry seraya menyerahkan kunci mobil dan satu mastercard platinum.


"Ini apa Om?" tanya Raffa dalam keterkejutannya.


"Itu untuk apapun keperluan kamu, sepertinya tugas mendampingi Alena akan berjalan lebih lama, bukan begitu?" goda Tn Harry


Raffa hanya menganguk tak tahu harus berkata apa.Dalam hatinya ingin sekali menolak dan kembali ke kehidupan dia apa adanya,namun tidak bisa.


"Oh iya terakhir, jangan sungkan sama Om, anggap Om ini Papah kamu.Akan sangat menyenangkan memiliki seorang putra" Ucap Tn Harry terlihat terbawa perasaan.


"Deegghh" jantung Raffa berdegup kencang mendengarnya.Entah mengapa suasana menjadi begitu emosional buat mereka.


[ Flashback End ]


Sesampainya di parkiran dengan sedikit mengendap-endap Raffa segera masuk menuju Fakultasnya.


"Selamat belum banyak orang,aduh mau sampai kapan begini" keluh Raffa yang masih tak terbiasa membawa mobil.


Waktu berlalu dengan cepat.Tak lama setelah teman-temannya berdatangan jam kuliah pun di mulai hingga siang hari.


"Woy Bebh ngelamun mulu lo dari tadi,kenapa lagi?" ucap Ryo menepuk keras bahu Raffa.


"Ah rese lo bikin kaget aja, kantin yuk" ajak Raffa terlihat kusut.


Tanpa Raffa sadari entah mengapa dan bagaimana Alena sudah berada di kampusnya.Setelah beberapa kali bertanya Alena pun menemukan yang ia cari.


"Hei lo, gue mau bicara sama lo" ucap Alena ketus.


"Heh ngapain lo kesini? kita gak ada urusan lagi, lo pergi deh gue lagi ada urusan" sahut Leon yang terlihat kesal.


"Gue kesini cuma mau bilang, jangan pernah lo ganggu dia lagi, ngerti!?" ucap Alena menekankan.


"Apa sih gak ngerti gue, maksud lo bocah miskin itu?" sahut Leon begitu tengilnya.


"Stop lo hina dia,kalo lo bisa ngaca diri lo itu gak lebih baik, lebih gak berakhlak iya" balas Alena gak terima.


"Berani lo ya ngatain gue, gak tau lo siapa gue!?" ucap Leon mulai emosi.


"Harus gitu gue takut sama lo? gak peduli lo siapa, gue cuma mau lo turutin kata-kata gue" sahut Alena masih terus menekankan.


"Lo pikir diri lo siapa, datang datang terus ngancam gue.Ini urusan gue sama bocah miskin itu, Sebaiknya pergi sebelum gue kasar sama lo" ucap Leon dengan nada mengancam.


Tanpa mereka sadar telah banyak orang yang melihat ke arah mereka.Tak sedikit yang memuji keberanian Alena.


Alena sendiri malah semakin berani


"Gue ingatkan sekali lagi jangan pernah lo ganggu dia lagi awas lo!" ucap Alena seraya menunjuk Leon


"Beraninya lo" ucap Leon lalu mengangkat sebelah tangannya.


"Apa, mau mukul, nampar, nih pilih tempat yang lo suka" ucap Alena menantang.


Sikap beraninya membuat Leon terdiam.Bagaimana pun ia tak mungkin memukul perempuan.


"Ingat baik baik ucapan gue,permisi" ucap Alena tersenyum puas lalu beranjak pergi.

__ADS_1


"Sialan kalo saja lo bukan cewek, habis lo" guman Leon menahan emosinya seraya menatap Alena yang menjauh pergi.


Alena sendiri lalu berjalan ke arah Fakultas Ekonomi.Tanpa di sangka di koridor ia berpapasan dengan seseorang yang menatapnya penuh selidik.


"Siapa nih cewek belum pernah gue lihat sebelumnya" guman Aurel yang begitu terusik.


Di tatap seperti itu Alena hanya tersenyum meragu,merasa tak mendapat respon ia kembali menatap lurus.


Sementara di kantin Raffa dan Ryo masih berbincang seraya menunggu pesanannya.


"Jadi kenapa lagi sih Behb, keliatan banget lo tuh stres, butuh pelukan?" tanya Ryo.


"Mbah lo butuh pelukan" balas Raffa kesal.


"Mbah gue dah meninggal Behb" lanjut Ryo asal.


"Susul sana" sahut Raffa makin kesal.


"Jirrrr dia pengen gue innalillah" ucap Ryo memutar bola matanya malas.


Perbincangan mereka pun teralihkan saat seseorang memanggil,


"Raffa!"


"Wah, siapa itu Bebh?" ucap Ryo terbengong.


"Alena!" seru Raffa yang begitu terkejut dengan kedatangan gadis itu.


"Ketemu juga, untung tadi ada yang kasih tahu kamu disini" ucap Alena seraya duduk di sebelah Raffa.


Ryo semakin terbengong ketika dengan jelas melihat gadis di depannya.


"Kok kamu bisa kesini Lena?" tanya Raffa yang masih tak percaya.


"Kenapa sih, gak boleh aku kesini?" sahut Alena lalu menggandeng Raffa seraya menatapnya manja.


"Bu bu ... bukan gitu, nakal ya kamu, emang gak kuliah?" ucap Raffa lalu mencubit pelan pipi Alena.


"Ehemm nasib kalo di dunia cuma ngontrak, gak keliatan" celetuk Ryo kesal.


"Eh Yo sorry gitu aja aborsi"


"Emosi! e-m-o-s-i,e m-o mo s-i si, bodo amat!" lanjut Ryo makin jadi.


"Jelek lo kalo bahagia hehe,mau di kenalin gak nih? jadi Ryo ini dia Alena" ucap Raffa


"Hehe akhirnya gak jadi nyamuk,maaf saya Ryo Bebebnya Al" canda Ryo seraya mengulurkan tangannya.


"Hihi kok Bebeb, salam kenal saya Alena" sahut Alena seraya merima uluran tangan Ryo.


Tidak lama Luna pun tiba di kantin lalu mendekati mereka.


"Say ... " ucapan Luna tertahan saat melihat Alena.


"Eh nyonya Ryo kok baru datang?" sambut Ryo terlihat bahagia.


Luna hanya tersenyum lalu tatapannya terus tertuju pada Alena.Raffa yang tak enak pun lalu memperkenalkan.


"Lun kenalin ini Alena, Alena ini Luna alias Ny Ryo"


"Hai Luna kenalin saya Alena"


Mereka pun berkenalan dengan tak lupa cipika cipiki terlihat begitu akrab.hingga tiba tiba,


"Eh lo tau gak tadi ada drama seru, ada yang ngelabrak Leon dah gitu cewek lagi" ucap salah satu mahasiwi yang baru tiba


"Masa sih? berani amat ya tuh cewek,baru kali ini ada yang berani" balas temannya lalu duduk di meja yang tak jauh dari meja Raffa.


"Iya, sepertinya itu cewek super deh" balas temannya lagi.


Terang saja obrolan mereka sedikit banyak terdengar Raffa.

__ADS_1


Ia dengan rasa was-was menatap Alena.


"Jangan bilang cewek itu ... " Ucap Raffa seraya menggoyangkan telunjuknya ke arah Alena.


"Hehe maaf," Alena hanya cengengesan.


"Astagfirullah Alena bisa-bisanya kamu ini, tapi kamu gak apa-apakan?" ucap Raffa menatap lekat Alena.


"Udah aku gak apa-apa, aku kan super girl" sahut Alena.


"Eh, serius lo yang labrak Leon Alena?" tanya Ryo begitu bersemangat.


"Ish udah deh jangan di bahas" Alena merasa malu


"Bener-bener super girl, mampus tuh tikus" seru Ryo tertawa puas.


"Ssttttt udah deh,Luna pesen makan yuk?" Ucap Alena mengalihkan lalu menarik Luna


"Luar biasa Ny Raffa, cantik, baik , ramah, kuat.Super girl banget" ucap Ryo memuji.


"Mulai mulai,mulai ngaco.Biasa aja tuh muka" kesal Raffa mengusap kasar muka Ryo.


"Apaan sih Behb orang liatin istri gue" sahut Ryo


"Ngeles, ngeles piano sana biar manfaat" ucap Raffa nyindir.


Sementara di sisi lain kampus.Tak terduga Leon tengah berbincang serius dengan Aurel.


"Rel, ok omongan gue kemaren salah tapi sekarang lo harus percaya gue, karena sekarang gue punya bukti" ucap Leon begitu yakin.


"Basi lo, gue gak percaya sama lo, buang waktu doang" ketus Aurel begitu malas.


"Hehh, lo bakal tau kalo bocah itu gak sebaik yang lo kira.Lo liat sendiri nih buktinya" ucap Leon dengan tawa liciknya seraya menyerahkan ponselnya.


Dengan sangat jelas Aurel melihat rekaman video saat Raffa makan malam.Termasuk momen saat Alena memperkenalkan Raffa sebagai pacarnya.


Emosi Aurel pun sontak memuncak terlihat dari tangannya yang meremas keras ujung bajunya.


Aurel tiba-tiba berdiri lalu berucap, "Kirim videonya ke gue"


Leon yang merasa berhasil membuat Aurel membenci Raffa pun segera mengirimkan video tersebut.


"Sudah gue kirim, lo percaya kan sekarang kalo bocah itu gak sebaik yang lo pikir, dia itu ular berbisa" ucap Leon terus menghasud Aurel.


Aurel yang sudah tak bisa menahan emosinya lalu terlihat hendak pergi


"Satu Hal yang gue mau tanya sama lo, dari mana lo dapat rekaman video ini?" tanya Aurel begitu serius


"Sial, kok dia malah nanya begitu? gak mungkin kalo gue jujur tar malah salah paham lagi" guman Leon dalam hati lalu kembali berucap,


"Gak penting gue dapat dari mana, yang terpenting ini bukti buat lo kalo omongan gue selama ini tuh benar" ucap Leon beralasan.


Tanpa ingin mendengar apa-apa lagi, Aurel pun meninggalkan Leon dengan wajah penuh rasa kecewa.


Sementara setelah makan siang bersama, Alena nampak bersiap untuk kembali ke kampusnya.


"Yakin tidak mau di antar? atau bawa saja mobilnya Alena" ucap Raffa merasa tak enak.


"Iya yakin banget tadi juga aku ke sini sendiri kan? Aku pergi dulu ya, taksinya sudah datang" ucap Alena berpamitan.


Namun baru beberapa langkah Raffa menahan tangannya,


"Jangan nekat seperti itu lagi ya? Aku takut kamu kenapa-napa"


"Iya maaf, aku hanya gak suka dia seenaknya sama kamu" sahut Alena seraya mengusap lembut tangan Raffa.


"Aku pamit dulu, bye Raffa" ucap Alena lalu menaiki taksinya.


Raffa hanya tersenyum dan terus menatap kepergian Alena.Ia tak menyangka gadis tersebut bisa seberani itu.......


"Salah gue juga terlalu banyak cerita.Hemhh super girl? ada ada saja kamu Lena." guman Raffa lalu tersenyum geli.

__ADS_1


[[ Bersambung ]]


__ADS_2